Sabtu, 06 Agustus 2011

Kari Bebek Ala Passau


Sebelum memulai perjalanan panjang menuju Italia dan Perancis, saya terlebih dulu mampir ke Passau. Passau adalah sebuah kota kecil nan nyaman yang berbatasan dengan Austria. Kota ini dianggap sebagai kota suci bagi para Neo Nazi karena Hitler kecil bermigrasi dari Austria ke Jerman masuk melalui kota ini. Passau tersohor dengan sebutan "City of Three Rivers" karena ada perpaduan dari tiga sungai: Inn, Ilz, dan Danube.

Tujuan saya ke Passau adalah untuk sowan ke Fathun Karib, salah seorang penulis subkultur Punk yang begitu gigih. Saat ini ia sedang mengambil gelar master di Universitas Passau. Saya mengenal mas Fathun --begitu saya memanggilnya-- dari situs Jakartabeat. Kami berdua sama-sama sering menulis disana.

Saya dijemput di Passau Hauptbanhof pada sore menjelang senja. Saat itu hawa dingin menusuk. Hujan turun rintik. Mas Fathun lalu mengajak saya ke apartemennya. Setelah menaruh tas dan membersihkan diri sejenak, saya lantas diajak makan di sebuah restoran Jepang.

Ide bagus. Karena saya begitu rindu makan nasi. Di restoran kecil berkonsep open-kitchen ini, saya begitu menikmati aroma wangi masakan berempah. Saya memesan duck curry, sedang mas Fathun memesan sapi lada hitam.

duck curry alias kari bebek ala Passau ini begitu berbeda dengan kari Jepang yang pernah saya makan. Kari bebek ala Passau ini memakai santan dan irisan rebung. Mengingatkan saya pada masakan lodeh yang sering dimasak mamak di rumah.

Ketika mencicipi, saya bersorak kegirangan. Memang rasanya sangat sangat sangat mirip lodeh. Kulit bebek di luaran begitu renyah. Krenyes. Sedang daging bebeknya terasa begitu lembut ketika digigit dan ditarik. Irisan rebung yang segar sontak melunaskan kerinduan akan masakan pribumi. Kuah karinya yang berwarna campuran kuning dan oranya mirip lodeh tak henti-hentinya membuat saya menyeruput dengan sendok. Tak butuh waktu lama bagi saya untuk menandaskan kari bebek yang saya lupa apa istilah bahasa Jermannya.

Sore itu, rasa rindu saya terhadap nasi lunas terbayar. Juga rasa rindu saya akan lodeh rebung. Mission accomplished! Setelah makan saya dan mas Fathun keluar restoran. Cuaca sudah sedikit cerah. Mari jalan-jalan keliling Passau.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar