Senin, 25 April 2011

14 Tahun Menghilangnya Anarki


Seorang pria berkumis lebat dan berambut gondrong berdiri dengan gemetar. Perasaannya campur aduk. Saat itu tanggal 1 Januari 1982. Pria bernama Virgiawan Listianto itu merasakan perasaan aneh ketika menjadi ayah. Antara senang, heran, bangga punya keturunan, hingga munculnya tanggung jawab untuk merawat anaknya.

Pria yang berprofesi sebagai musisi itu lantas menamakan anaknya Galang Rambu Anarki. Nama itu juga dijadikan sebuah judul lagu dalam album Opini, yang dirilis pada tahun yang sama. Lagu ini masih terdengar begitu indah dan aktual hingga sekarang. Semacam ode ayah untuk sang anak tercinta yang dibumbui oleh kritik sosial. Kadar keindahan lagu ini mungkin bisa mengalahkan Tears in Heaven-nya Mr. Slowhand.

Galang Rambu Anarki anakku
Lahir awal januari menjelang pemilu
Galang Rambu Anarki dengarlah
Terompet tahun baru menyambutmu

Galang Rambu Anarki ingatlah
Tangisan pertamamu ditandai bbm
Membumbung tinggi (melambung)

Maafkan kedua orangtuamu kalau
Tak mampu beli susu
Bbm naik tinggi
Susu tak terbeli
Orang pintar tarik subsidi
Mungkin bayi kurang gizi (anak kami)

Galang Rambu Anarki anakku
Cepatlah besar matahariku
Menangis yang keras, janganlah ragu
Tinjulah congkaknya dunia buah hatiku

Doa kami di nadimu

Galang tumbuh menjadi anak yang cerdas. Juga tampan. Endi Aras, seorang kawan bapaknya, bercerita kalau ia sering bermain tembak-tembakan dengan Galang. Muhammad Ma'mun, karib lain bapaknya, berkisah kalau ia menciptakan sejenis imaginary friend bernama Gringgong, seorang jagoan seperti Tarzan, untuk Galang. Dan cerita itu selalu ditagih Galang ketika Ma'mun datang ke rumah bapaknya.

Waktu berjalan, Galang pun tumbuh dewasa. Meski anak seorang musisi terkenal, Galang tak pernah hura-hura. Ia hanya minta uang buat naik taksi ke sekolah saja.

"Untuk beli-beli dia nggak punya uang" ujar Iwan, panggilan akrab sang bapak.

Selayaknya remaja yang keras kepala, begitu pula Galang. Merasa memiliki bakat di bidang musik, Galang remaja memutuskan untuk berhenti sekolah dari SMP Pembangunan Jaya, sebuah sekolah swasta mahal di daerah Bintaro. Saat itu Galang masih berumur 14 tahun. Tapi dia sudah membuat rekamannya yang pertama bersama bandnya, Bunga.

Terlahir sebagai anak dari musisi terkenal ternyata tak membuat Galang serta merta bahagia. Pernah suatu kali ia kabur dari rumah. Semacam eskapis dari bayang-bayang sang bapak. Tapi dalam pelariannya, Galang merasa diawasi. Itu karena poster dan foto bapaknya ada dimana-mana. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke rumah.

Iwan yang berprofesi sebagai musisi pernah memakai narkoba. Kebiasan buruk itu ditiru Galang. Awalnya hanya rokok, lantas berlanjut ke obat. Iwan hanya bisa menghela nafas. Saat itu dia sudah insyaf dan berhenti memakai obat. Lah ini kok sekarang anak pertamanya yang gantian memakai. Tapi saat itu Galang bilang kalau ia hanya sekedar mencoba.

"Dia bukan pemakai. Dia sangat cinta pada keluarganya. Kontrol dirinya sangat kuat" terang Iwan.

Kebetulan juga saat itu Galang punya pacar bernama Inne Febrianti, seorang cewek gaul berparas rupawan yang usianya lebih tua 2 tahun dibanding Galang. Inne juga keberatan kalau Galang memakai obat-obatan. Ia mendorong Galang untuk berhenti. Dan sepertinya Galang memang berhenti memakai obat-obatan.

KAMIS malam 24 April 1997. Galang yang saat itu capai setelah latihan band, langsung pamit tidur setelah makan malam. Saat itu Rosana, sang ibu, sedang tidak enak badan.

Sekitar pukul 4.30 pagi hari, Kelly Bayu Saputra, sepupu Galang yang tinggal disana masuk ke kamar Galang. Bermaksud meminjam sisir, ia pun memanggil Galang. Tapi tak ada sahutan. Kelly lantas menghampiri Galang dan menggoyangkan badannya. Tak ada respon. Kelly kaget dan langsung mengetuk kamar Yos, panggilan akrab Rosana. Yos pun langsung bangun dan menuju kamar Galang. Saat itu badan Galang sudah dingin.

Galang meninggal dunia.

Iwan saat itu terpukul sekali. Pagi itu juga saudara-saudara berdatangan. Ma'mun masih tidak percaya kalau Galang sudah meninggal.

"Saya masih tidur, antara percaya dan tidak percaya" ujar Ma'mun.

Kepada Ma'mun lah Iwan berkesah.

"Jagain mas, jagain anak-anak mas" kata Iwan dengan lirih. Ia seperti terhantam kenyataan bahwa ia belum bisa jadi bapak yang baik. Ketika memandikan jasad Galang pun, ia kembali berujar pedih, "Galang, kamu sudah selesai, Papa yang belum... Lang, kamu sudah selsai, Papa yang belum..." Kalimat itu diujarkan berkali-kali.

Setelah pemandian jenazah selesai, muncul masalah. Iwan yang saat itu sedang emosional dan berada di titik teredah dalam hidupnya, ingin Galang dimakamkan di rumah. Ia pun menelpon Abdurrahman Wahid alias Gus Dur untuk menanyakan bagaimana hukum agama memakamkan orang di rumah. Gus Dur yang saat itu belum jadi presiden Indonesia pun menjelaskan bahwasanya dalam aturan Islam, diperbolehkan memakamkan jenazah di rumah. Pemakaman bergantung wasiat almarhum atau keinginan keluarga. Tapi saat itu Gus Dur menjelaskan kalau di Jakarta tidak bisa memakamkan jenazah di rumah sendiri karena lahan yang terbatas.

"Di Jakarta nggak boleh... Kalau Bogor boleh." ujar Gus Dur. Entah apa alasan Gus Dur menyebut Bogor.

Akhirnya Iwan memutuskan bahwa Galang akan dimakamkan di Leuwinanggung. Jenazah Galang disemayamkan terlebih dahulu di masjid Bintaro. Sekitar 2.000 orang jemaah yang shalat di masjid itu juga ikut menyembahyangkan Galang.

Kematian Galang yang mendadak dan misterius sempat menimbulkan desas desus tidak jelas. Ada yang bilang Galang meninggal karena overdosis. Gosip itu diperkuat dengan kondisi tubuh Galang yang kurus ceking. Tapi tak pernah ada yang tahu apa penyebab kematian Galang. Tapi Yos berkata bahwa Galang meninggal karena asma. Iwan sendiri mengatakan fisik Galang agak lemah dan ia lemah di pencernaan.

Yos berkata bahwa "pemberontakan" Galang adalah bentuk protes terhadap Iwan yang terlalu sibuk hingga sedikit mengabaikan keluarganya. Yos sendiri tampak lebih tabah menghadapi meninggalnya putra pertama mereka. Sedang Iwan lebih terpukul dan menyesal.

"Sampai sekarang masih ngimpi, terutama zaman manis-manisnya ketika Galang masih kecil" ujar Iwan di suatu wawancara medio 2002 silam.

Iwan mengatakan meninggalnya Galang seperti menjadi cermin instropeksi bagi dirinya. Ia selalu berkaca pada tragedi yang memilukan itu.

"Kematian Galang membuat saya lebih menghargai fungsi bapak, fungsi suami. Kalau saya dulu bisa lebih bersahabat, jadi gurunya, jadi lawannya, mungkin akan lain ceritanya" kata Iwan. Kehilangan itu lantas dijadikan semacam bara semangat untuk dirinya dalam bermusik.

"Dia pilih musik, bahkan dia keluar sekolah. Dia mau menikah waktu itu. Dia percaya musik bisa menghidupi istrinya. Masakan saya gak berani... rasanya disini senep... apalagi kalau kenangan itu datang" kisah Iwan.

Kehilangan memang tak pernah mudah.

BUNGA adalah nama band bentukan Galang. Band yang dibentuk pada tahun 1996 ini terpengaruh oleh warna musik Stone Temple Pilots, Suede, hingga Pearl Jam. Tipikal musik alternatif yang saat itu meraja. Formasi awalnya saat itu adalah Tony, Nial, Galang, Oka, dan Eri. Single mereka yang terkenal adalah Kasih Jangan Kau Pergi, sebuah balada romantis yang penuh pengharapan. Lagu cinta sederhana dengan denting piano dan suara Tony yang serak-serak basah.

Sayang, sebelum Bunga merilis album, Galang keburu berpulang. Tapi Bunga tetap jalan terus. Album pertama mereka keluar pada tahun 1997. Bertajuk "Untukmu Galang", album ini dipersembahkan untuk almarhum Galang. Album debut ini berhasil terjual sebanyak 500.000 keping, angka yang cukup banyak untuk sebuah band baru.

Album kedua yang berjudul "Ojo Ngono" dirilis pada tahun 2000 dan berhasil terjual sebanyak 60.000 keping. Lagu Ojo Ngono, bahasa Jawa yang artinya \ Jangan Begitu, sendiri sempat masuk ke berbagai tangga lagu. Lagu dengan intro yang memorable dan lirik yang mudah diingat, berhasil membuat Bunga kembali muncul ke permukaan. Tidak lagi dianggap sebagai, "Oh, bandnya Galang Rambu Anarki, anaknya Iwan Fals itu toh." Formasi Bunga saat itu sudah berubah. Galang, Oka, dan Eri keluar. Mereka digantikan oleh Anda, Deden, dan Arthur.

Belakangan Anda jadi jauh lebih terkenal karena menjadi salah satu pengisi OST Ada Apa Dengan Cinta dan jadi cameo di film yang mengorbitkan Nicholas Saputra dan Dian Sastro itu. Tahun 2009 dia malah membuat album solo yang dipuji banyak kritikus, In Medio.

Bunga lantas merilis album ketiga bertajuk Bunga 3. Saat itu Tony sedang menjalani rehabilitasi. Tampuk vokalis lantas diserahkan pada Anda. Sayang, album Bunga 3 ini tidak begitu terdengar gaungnya.

Tahun 2008, Bunga berencana membuat album baru. Tapi hingga sekarang album itu belum juga keluar. Hanya ada beberapa single yang pengerjaannya dibantu oleh Didit Saad.

Sepertinya nasib Bunga tak sebagus Anda.

***

TADI siang seorang teman mengingatkan bahwa ulang tahun blog saya bertepatan dengan tanggal kematian Galang. 25 April. Tak butuh waktu lama bagi saya untuk membaca dan menekuni kembali tulisan Andreas Harsono mengenai Iwan Fals yang berjudul Dewa Dari Leuwinanggung. Pada tulisan sastrawi nan memukau ini, ada sebuah bagian dimana Andreas menulis mengenai Galang. Bagian itulah yang menjadi sumber tulisan ini. Saya semacam membaca tulisan itu, menambahkan imajinasi saya, lantas menuliskannya lagi. Bagian kecil di tulisan itu ternyata jauh lebih membantu ketimbang sumber manapun mengenai Galang. Tak ada sumber lain yang kompeten jika berbicara mengenai Galang. Yang ada malah kesimpang siuran. Malah beberapa ada yang mengatakan Galang itu meninggal tahun 1996.

Sedang mengenai Bunga, saya hanya punya sedikit kenangan mengenai band ini. Tadinya saya berusaha membongkar memori kolektif saya mengenai band berumur pendek ini. Tapi gagal. Akhirnya saya memutuskan mencari di internet, dan menemukan blog Bunga serta fans page di Facebook. Sepertinya cukup untuk menjadi bumbu penyedap obituari singkat ini.

Di luar sore sedang mendung. Sudah 14 tahun berlalu, apa kabarmu Galang?

11 komentar:

  1. anjrit! obituari paling keren! lebih keren daripada obituarinya Linda Crishtanty soal Hasan Tiro!

    BalasHapus
  2. kereeen, aku baru tau ceritanya ternyata begini..

    BalasHapus
  3. salute... saya nggak habis pikir... bagaimankah sebuah memori itu tersimpan rapi disini...

    BalasHapus
  4. entah, tp saya merinding bacanya..

    BalasHapus
  5. sedih bacanya :(

    btw udah lama banget ya ternyata, gak kerasa udah 14 tahun

    BalasHapus
  6. cerita`y keren ... jangan menyerah bang iwan

    BalasHapus
  7. Sumpah! Ini tuh keren banget!

    BalasHapus
  8. mantap.. keren bgt gan, mrinding ane bacanya

    BalasHapus
  9. lekaslah besar mataharikuuu.

    BalasHapus
  10. semoga bisa menjadi inspirasi bagi semua anak muda dan org tua...

    BalasHapus
  11. Dari dulu mpe skrg kalau aku dengar nama galang rambu anarki, ada sesuatu dihati :-(
    Ada yg punya album fotonya galang gak?

    BalasHapus