Minggu, 14 Agustus 2011

Banyak Jalan Menuju Roma (1)

Depan Munchen Hauptbanhof Yang Ditingkahi Gerimis


Munchen Hauptbanhof ramai sekali malam itu. Banyak orang berseliweran di stasiun salah satu kota terbesar di Jerman ini. Tampak juga beberapa kelompok pemuda yang memanggul backpack berukuran besar. Setelah turun dari kereta IC yang membawa saya dari Passau, saya mencari toko yang menjual kopi. Hawa dingin sekali, dan segelas kopi panas pasti bisa sedikit meredam hawa tak sopan itu.

Selesai membeli kopi, saya ingin keluar stasiun. Sejenak berkeliling Munchen sepertinya menyenangkan. Tapi begitu sampai di pintu stasiun, olala, ternyata sedang gerimis. Pantas saja hawa begitu dingin. Akhirnya saya bergabung dengan beberapa orang traveler, duduk di tangga pintu stasiun sembari menyeruput cappucino yang asapnya masih mengebul.

Kereta menuju Venezia masih sekitar 1 jam lagi. Saya berencana menghabiskan 3 hari di Italia. Kota tujuan utama saya adalah Roma. Roma yang tua dan klasik itu tak pernah terlihat dan terdengar biasa. Roma adalah sinonim untuk kata luar biasa. Lalu saya juga akan ke Milan. Mungkin berfoto di stadion Giuseppe Meazza atau San Siro dan mengimingi foto itu ke Miko dan Niko yang Internisti atau ke Panjul dan Yandri yang Milanisti. Rencananya juga saya akan melanglang ke Sicilia, tanah suci para mafia.

Mafia juga selalu menarik perhatian saya. Ayah mengoleksi banyak film tentang mafia. Mulai Godfather, Scar Face, Carlito's Way, hingga Good Fellas. Lalu saya juga baru tahu kalau ada penggolongan mafia, klasik dan modern. Kata beberapa sumber, mafia klasik tak pernah menjual obat bius. Mereka hanya menjadi tenaga keamanan, mengambil iuran dari para pedagang, dan menekankan hidup mereka pada kehormatan. Sedang mafia modern lebih ke kebalikannya. Saya sendiri tahu awal kata Mafia dari komik Master Keaton. Keaton suatu ketika menjelaskan bahwa ketika ada perang antara Perancis dan Italia, seorang wanita terbunuh oleh tentara Perancis. Sang calon suami yang mengetahui hal itu, menangis menggerung dan menyumpahi tentara Perancis, "Morte Alla Francia, Italia Anela", yang kalau diterjemahkan menjadi "Death to France, Italy cries!". Kata Mafia diambil dari huruf depan sumpah serapah itu.

Tapi semua rencana itu berubah ketika saya menelpon seorang teman. Katanya, 3 hari di Italia itu terlalu lama. "Apalagi", lanjutnya, "kamu bakal menempuh perjalanan jauh dan lama. Mending 3 hari di Paris aja ketimbang 3 hari di Italia."

Segera setelah telpon ditutup, saya langsung mengambil peta, juga kalender, beserta notes. Saya mencorat-coret, mengotak-atik lagi itenerary saya. Sret sret sret! Akhirnya saya mendapatkan itenerary yang pas. Sepertinya bakalan cocok.

Jadi malam ini saya pergi ke Venezia. Hanya untuk transit saja. Entah kenapa, kanal-kanal Venezia yang tersohor itu tak menggoda saya sama sekali. Mungkin karena saya sudah tahu bentuk rupa wisata air di Venezia. Juga karena saya sudah mengalami wisata air yang menakjubkan di Hamburg.

Nah, dari Venezia, saya akan mengambil kereta menuju Roma. Di Roma saya akan berjalan-jalan hingga malam. Malamnya saya akan mengambil kereta menuju Milan. Dari Milan saya akan menuju Turin. Dari Turin saya langsung naik kereta menuju Paris.

Sepertinya rencana itu akan sempurna :)

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar