Minggu, 14 Agustus 2011

Banyak Jalan Menuju Roma (2)

Villach Hauptbanhof, Dari sini saya naik kereta menuju Venezia

Hawa semakin menyengat. Saya merapatkan jaket berwarna coklat yang saya beli di pasar loak Altona. Kereta menuju Venezia sudah datang. Orang berkerumun, menyemut menuju kereta. Sebenarnya kereta ini bukan kereta yang langsung menuju Venezia, melainkan menuju Austria dan Slovenia. Saya akan turun di stasiun Villach, Austria. Dari sana saya baru naik kereta menuju Venezia.

Setelah mencari kompartemen yang kosong, dan tak ada, saya akhirnya duduk satu kompartemen dengan Chufta, seorang hippy asal Ljublana, Slovenia; yang kisahnya sudah pernah saya tulis disini.

Yang belum saya ceritakan adalah Sulaiman. Seorang pria keling yang baru saja kecopetan. Ia naik di tengah perjalanan, tepatnya di Salzburg. Ia datang dengan satu koper berukuran raksasa. Katanya ia baru saja dari Turki, pergi ke Munchen, lalu kecopetan. Semua dokumen penting dan uang hilang semua. Pria gundul ini akan turun di Villach, tempat tinggalnya.

Begitu mengetahui saya dari Indonesia, Sulaiman kegirangan. "Kakak saya pernah bekerja di Jakarta", ujarnya, "Dan rencananya saya akan kerja di Jakarta bulan depan".

Sulaiman ini begitu ceriwis. Saya dan Chufta yang sudah sama-sama teler karena ngantuk (dan Chufta teler karena menenggak banyak bir), harus mendengarkan cerita tentang kecopetannya. Tapi Sulaiman ini mukanya ceria. Bahkan dalam kesusahan pun ia masih bisa memasang tampang yang berbinar.

Sekitar jam 4 pagi, kereta sampai di Villach Hauptbanhof. Saya berpamitan dengan Chufta, mengambil tas, dan beranjak turun. Begitu juga Sulaiman.

"Kamu tinggal di Indonesia mana? Boleh saya minta kontakmu?" tanyanya sembari mengambil kertas dan bolpoin di tasnya. Saya ngobrol dengannya sembari mencari toilet. Kelenjar kemih sudah penuh, menyebabkan rasa nyeri di selangkangan.

Ternyata toilet di stasiun ini rusak. Sial. Masa saya harus menunggu kereta menuju Venezia yang masih 45 menit lagi datangnya? Mengetahui saya yang gelisah menahan kencing, Sulaiman menggandeng saya.

"Ayo, saya tahu toilet terdekat" katanya sembari memegang pundak saya. Saya ikut saja. Ternyata ia menuju bar yang terletak di bawah stasiun. Lampunya gemerlap, meriah. Ada pria mabuk yang menelungkupkan kepala di meja bar. Di sebelahnya ada satu gelas panjang berisi bir yang sudah nyaris tak bersisa, hanya buih. Saya sedikit segan kencing di bar. Bukan apa, setahu saya bar itu tempat untuk nongkrong atau minum bir. Bukan tempat untuk numpang pipis. Tapi Sulaiman bilang tak apa. Ya sudah saya masuk dan melaksanakan hajat.

Selepas saya pipis, saya melihat Sulaiman tampak kebingungan. Ia mengeluarkan serenteng kunci yang isinya begitu banyak. Benar-benar banyak.

"Kenapa man?" tanya saya.

"Ini lagi nyari kunci rumah saya, hehehe" jawabnya sembari cengengesan.

"Aha, untung kunci rumah saya cuma ada satu" jawab pria mabuk yang tadi saya lihat sembari menunjukan satu buah kunci. Lalu dengan tolol, ia menggoyang-goyangkan kunci itu, seakan meyakinkan saya dan dirinya kalau kuncinya benar-benar cuma satu. Mukanya sudah merah. Ia cengar-cengir macam orang bego. Mabuk berat. Berdiri saja sudah seperti berdiri di kapal, oleng tak karuan.

Akhirnya kunci rumah Sulaiman ketemu. Saya pun memutuskan pamit. Tiba-tiba si pria mabuk berwajah tolol itu memeluk saya, erat.

"Katanya kamu mau jalan-jalan jauh. Jaga diri ya saudaraku. Semoga selamat sampai tujuan, hiks" ujarnya sendu sembari ditingkahi cegukan. Saya tak kenal pria ini. Tapi ia memeluk saya erat, seolah saya adalah saudaranya yang akan pergi jauh. Entah karena dia ramah atau karena dia sedang mabuk. Saya yang pertama kali dipeluk oleh orang mabuk hanya bisa ketawa-ketiwi sendiri.

Pria mabuk itu melambaikan tangan. Saya membalasnya. "Hoyyy, tunggu aku" ujar pria mabuk itu sembari mengejar Sulaiman yang berjalan ke pintu keluar. Sulaiman juga tak kenal pria itu. Tapi ia juga cengengesan melihat polah si pria mabuk aneh ini.

Setelah menunggu tak begitu lama, terlihat kereta yang datang dari kejauhan. Dari cepat, lalu melambat, hingga berhenti penuh seluruh.

"Kereta menuju Venezia?" tanya saya pada petugas. Ia mengangguk pelan. Saya langsung melompat menuju kereta. Hup!

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar