Kamis, 16 Mei 2013

Sayonara Kereta Ekonomi!


Ada kabar duka mampir beberapa hari lalu. Tentang kenaikan tiket kereta api. Ah, atau lebih tepatnya, dihapuskannya gerbong ekonomi di kereta api. Sekarang, nyaris semua gerbong ekonomi di kereta jarak jauh sudah dipasangi AC. Bahasa kerennya: Ekonomi AC. Karena sudah semakin necis, maka harga tiket  jadi harus naik. Imbasnya jelas ke para pelintas batas yang lebih suka naik kereta karena harga tiket yang murah.

"Sekarang tiket Logawa dan Sri Tanjung sudah 90 ribu, cuk!" maki teman saya lewat pesan pendek.

Sebelum kenaikan, harga tiket ekonomi Logawa dan Sri Tanjung hanya 40.500 dan 35.000. Dari Jogja hingga Jember. Murah meriah. Sekarang melonjak hingga 90 ribu. Naik 100 persen lebih. Sekarang, akan ada banyak pertimbangan sebelum orang akhirnya memilih kereta api. Dulu kereta api dipilih karena murah. Sekarang kalau bis lebih murah, apa konsumen masih memilih kereta api? Kenaikan ini memang kabar buruk bagi para pecinta kereta api. Juga bagi saya.

Sedari kecil, saya memang sudah jatuh cinta dengan moda kereta api, terutama kereta api ekonomi. Ayah yang menurunkan kecintaan itu. Hingga sekarang, saya lebih memilih naik kereta api ketimbang naik bis saat berpergian. Bagi saya, naik kereta api jauh lebih nyaman ketimbang bis. Kalau capek, tinggal berdiri lalu jalan-jalan. Meregangkan otot. Kalau beruntung, bisa beradu pandang dengan mbak-mbak manis di gerbong sebelah. Atau kalau ingin minum kopi, tinggal pergi ke restorasi, lalu duduk berlama-lama.

Di kereta api ekonomi pula, saya menemukan banyak sekali hal yang menarik. Dari orang beraneka ragam sifat dan latar belakang (Panjul, kawan saya itu, pernah bertemu dengan orang di kereta, dan ujug-ujug orang itu nanya apa agama Panjul), berdesak-desakan (saya pernah duduk di toilet kereta, dari Jogja hingga Jakarta. Atau naik di gerbong barang dari Bandung hingga Jogja), hingga jualan yang aneh-aneh (dulu waktu saya SMP, masih ada orang yang menjual musang atau kera di kereta).

Berbicara mengenai kereta, saya punya pengalaman lucu dikerjai oleh ayah. 

Suatu hari dari Surabaya, kami menaiki kereta malam (saya lupa, apa itu Mutiara Timur ya?). Saat itu hanya kereta eksekutif yang punya nomer tempat duduk. Bayar di atas masih lazim. Nah, karena hari sudah malam, ayah menyuruh saya duduk di salah satu kursi di gerbong eksekutif. Saya iyakan saja dengan sedikit ragu.

"Ayah ngopi dulu di restorasi. Kamu tidur aja."

"Lah kalau ada yang yang duduk di kursi ini?"

"Udah, gak bakalan ada. Tenang aja," kata ayah dengan tenang.

Dasar ayah iseng, ia pergi ke restorasi dan tidak kembali hingga lama sekali. Saya mau tidur lelap juga agak ragu. Hingga akhirnya ada sepasang suami istri datang, dan kebingungan karena salah satu kursinya saya duduki. Saya yang tidak punya tiket jelas malu. Akhirnya saya ngacir ke restorasi. Di sana, saya melihat ayah ketawa ngikik. Sialan.

"Kemampuan negosiasimu berarti masih kurang," kata ayah sembari cekikikan. Negosiasi gundulmu, maki saya dalam hati. Hahaha.

***

Saya tak tahu siapa yang bertanggung jawab atas kenaikan tiket kereta api ini. Konon katanya, KAI sendiri terpecah jadi dua kubu. Antara yang mengusulkan kenaikan tiket dan menghapus kelas ekonomi, dan kubu yang menolaknya. Saya tak akan mengambil pusing soal itu.

Sebenarnya tipikal penumpang seperti saya, yang lebih memilih murah ketimbang kenyamanan secara berlebihan, cukup lah diberi kursi dengan nomer. Itu sudah nyaman dan sangat manusiawi. Tak perlu lah  kami diberi AC. Belum lama kami menikmati kursi ekonomi dengan nomer, eh sudah dihapus. Para amteenar kereta api itu tak bisa lihat orang senang dikit sepertinya.

Menghapuskan kereta ekonomi juga berarti menghapuskan banyak hal menarik di dalamnya. Saya sedih, karena kelak saat anak-anak saya sudah mulai belajar berpergian sendiri, mereka tak akan pernah bisa merasakan menariknya naik kereta gerbong ekonomi. 

Mereka tak akan pernah menyaksikan penjual musang di atas kereta. Tak mungkin menemukan kambing atau ayam yang juga jadi penumpang. Atau tak bisa melihat getirnya wajah penumpang yang terpaksa duduk di dalam kamar mandi. Padahal, dari sana mereka akan belajar mengenai kehidupan dan makna perjalanan.

Duh!

Ayah dan Saya. Kereta Ekonomi Jember- Jogja

Senin, 13 Mei 2013

Selamat Tanggal 12 di Bulan ke 12


Aku ingat, aku marah sekali waktu kamu membunuh naga-naga peliharanku di akun facebook-mu. Iya, waktu itu kita sedang bertengkar hebat. Dan aku dengan cuek, bukannya meminta maaf dan berusaha akur kembali, malah main naga menggunakan dua akunmu. Akhirnya karena kesal, kamu membuang game Dragon City dari akunmu. Yang itu artinya: kamu membunuh naga-nagaku! How could you! Hiks.

Mungkin itu adalah salah satu hal absurd dalam hubungan kita. Hal absurd lain? Ada banyak.

Ingat gak waktu kita mau ke Bogor, pada 23 September tahun lalu? Saat itu kita sudah bersiap untuk berangkat. Tapi mendadak mukamu digelayuti mendung. Aku tanya kenapa. Dengan mata nyalang, kau malah menatapku, sembari pelan-pelan bulir air mata menetes di sudut matamu. Aku bingung. Ada apa? tanyaku pelan. Kamu dengan menahan marah bilang kenapa aku menginterupsi caramu bikin mie instan. Ha?

Saat itu, demi Toutatis, aku antara bingung dan ingin tertawa keras. Bagaimana mungkin hanya gara-gara aku menginterupsi caramu membuat mie instan, kau bisa menangis tersedu sedan. Padahal sejak pertama kali kita berpacaran, 12 Mei setahun lalu, aku menjulukimu dengan sebutan yang gahar: preman pengkolan. Air mata lantas melunturkan polesan eye liner-mu yang sudah kau sapukan beberapa menit lalu. 

Tapi toh akhirnya kita tetap ke Bogor setelah aku mengusap bercak eye liner-mu, menenangkanmu, mengadakan kesepakatan damai, dan aku berbesar hati meminta maaf. Saat itu aku tahu, salah satu cara terampuhmu dalam mengutarakan kejengkelan adalah dengan menangis. Sebelumnya aku sudah tahu kalau salah satu caramu menyirna marah adalah dengan... membersihkan kamar mandi. 

Dari tragedi "Interupsi Mie Instan" itu aku jadi tahu, kamu ingin mandiri. Kamu memang kurang cakap dalam memasak, tapi kamu ingin belajar agar suatu hari nanti kamu bisa memasak untukku. Dan dengan aku menginterupsimu memasak --padahal hanya memasak mie instan, oh betapa egoisnya aku untuk urusan dapur dan perut-- itu kamu anggap sebagai halangan untuk belajar.

Setahun menjalin kasih denganmu memang membuatku belajar banyak hal. Belajar bernegosiasi misalnya. Tentang selera musik yang tak sama, atau cara bercanda yang sering kali berbeda. Atau belajar tentang bersabar menghadapimu yang seringkali keras kepala. Aku yakin kamu juga belajar menghadapi aku yang pemalas. Atau sekuat tenaga menjinakkanku yang seringkali bersikap seenaknya sendiri.

Aku yakin kita saling belajar menyamakan langkah agar tak terantuk dan jatuh. Seperti analogimu, kita sedang belajar berdansa.

Sampai di tulisan ini, aku sudah bingung mau berucap apa. Aku kutipkan beberapa paragraf dari tiga tulisan pendek yang kutulis beberapa jam menjelang kita merayakan satu tahunan.

***
Kaliurang, 11 Mei 2013

"...Pada awalnya, jangankan merayakannya dengan euforia, aku bahkan terlalu takut untuk sekedar bilang selamat 1 tahun. Sebab panjangnya waktu seringkali tidak berbanding lurus dengan awetnya hubungan. Tak jarang aku menemukan orang yang sudah berpacaran begitu lama, pada akhirnya cintanya kandas. Apalagi kita, yang baru 12 bulan melewati masa pacaran.

Namun orang-orang bijak selalu berpesan agar kita percaya pada impian. Apalagi ada pepatah yang mengatakan kalau tuhan bersama orang-orang yang berani. Maka aku berani merayakan hubungan kita yang sudah melewati 48 minggu ini. Aku juga berusaha untuk berani mempertahankan mimpi-mimpi yang kita bangun dari puing-puing masa lalu.

Perkara nanti bangunan itu hancur berantakan kembali, semoga masih kamu yang ada disampingku untuk membangunnya kembali. Atau kalaupun kita sudah tidak bisa membangunnya bersama, setidaknya kita pernah berani bermimpi. Tapi aku yakin, jauh dalam hati terkecil kita masing-masing, kita sama-sama tak ingin rumah mimpi yang kita bangun dengan tabungan rindu dan kucuran air mata ini lebur begitu saja."

***

Condong Catur, 12 Mei 2013, 00.08

"...Malam ini berjalan cukup dramatis ya? Aku harus kerja 14 jam, masuk angin, dan dimarahi kamu. Sedang kamu maag, juga masuk angin, dan aku bawelin terus. Tapi untunglah berakhir bahagia.

Jam 12 dini hari kurang beberapa menit, aku sudah sampai di kamar kos. Beres-beres, lalu menelpon kamu. Duh, suara itu. Masih melenakan, sama seperti pertama kali saat kamu mau memberi nomer telponmu dan membiarkanku menghujanimu sms dan telpon tiap hari."

***

Sebelum menuliskan tulisan ini, aku sudah diancam saja olehmu. "Jangan tulis kata-kata flowery words!" Maka jadilah aku bingung menulis apa. Bagaimana kalau ucapan terima kasih?

Terima kasih karena sudah membersihkan kerak-kerak luka dan trauma, hingga bersih nyaris sepenuhnya. Kalaupun ada noktah-noktah noda yang tersisa, semoga kau mau menghapuskannya dengan sabar dan tulus.

Terima kasih karena menyediakan pundak, peluk, dan juga hati, untuk aku menaruh dan berbagi semua mimpi, cerita, maupun keluh kesah. Tak ada tempat yang nyaman selain tempat yang kau sediakan untukku.

Terima kasih juga karena selalu bersedia merepetkan kata dan mencerewetiku. Agar aku tak malas mandi. Agar aku rajin menyelesaikan tesis. Agar aku giat menabung. Agar aku rajin sholat. Pacapek lah Nuran! Meski aku sering membuang muka dan menggodamu saat cerewet, percayalah, I am blessed for receiving those kinds of care. 

Terima kasih juga telah menjadi teman bertengkarku. Dari pertengkaran-pertengkaran kita, aku jadi tahu apa yang harus aku lakukan agar tak silap oleh hal yang sama. Agar aku bisa menyesuaikan langkahku dengan langkahmu.

Terima kasih juga karena kembali menghidupkan perasaan takut dan cemburu yang menggebu-gebu. Aku pikir bahwa aku tak bakal lagi bisa merasakan cemburu. Ternyata aku salah. Dan karena itu pula aku jadi sadar kalau kehilanganmu bisa jadi adalah ketakutan dan nestapaku yang teramat besar. Semoga tak akan pernah terjadi.

Dan terakhir... terima kasih karena selalu memberikan tempat pulang untukku. Karena selalu menjaga api-api mimpi kita tetap menyala. Karena masih mau berbagi mimpi denganku. 

Selamat satu tahun Rani Wulandari Basyir. Stay with me forever, will you?

Kebun Raya Bogor, Beberapa Jam Setelah Insiden Interupsi Mie Instan

Kamis, 02 Mei 2013

Kepulangan Kelima Dan Orang-orang Terpilih

Saya selalu percaya, puisi sangat erat kaitannya dengan musik. Seorang guru semasa SD pernah berujar pada saya, "lirik lagu itu puisi yang diberi musik, atau musik yang diberi puisi." Saya mempercayainya sampai sekarang.

Ketika saya mengenal The Doors, saya semakin yakin kalau lirik musik itu sama saja dengan puisi. Puisi yang diberi musik. Apalagi saat saya terkesima dengan lagu "The End" (dari album The Doors, 1967). Di lagu sepanjang 10 menit lebih itu, Jim Morrison meracau seperti kerasukan arwah-arwah shaman. Di sana ia berkisah tentang bis biru, menaiki ular sepanjang 7 mil menuju danau purba, hingga bagian yang paling menggidikkan: tentang epos Oedipus yang membunuh ayahnya dan bercinta dengan sang ibu. Selain itu ada banyak lagu yang bertaburan metafora, layaknya sebuah puisi pada umumnya. Seperti "Break on Through" yang bercerita tentang kematian, atau "Light My Fire" yang bercerita tentang drugs dan seks secara implisit.

Kalau begitu, apa bedanya musik dengan musikalisasi puisi? Kebetulan saya tidak ahli puisi, apalagi ahli musik. Namun sepengamatan saya, entah ini benar atau tidak, perbedaannya ada pada proses penciptaan.

Kalau musik, kebanyakan liriknya akan dibuat menyesuaikan dengan musik. Kebanyakan musisi menciptakan musik terlebih dulu, lalu baru membuat liriknya. Itu yang terjadi pada, misalnya, Guns N Roses yang membuat lagu "Sweet Child O Mine." Slash dan Izzy Stradlin membuat dulu musiknya, jam session, lantas Axl datang dan menambahkan lirik yang teramat puitis sekaligus romantis.

Sedang musikalisasi puisi seringkali lebih rumit ketimbang membuat lagu biasa. Hal ini disebabkan oleh musik yang harus "tunduk" pada kalimat. Seringkali juga, musikalisasi puisi muncul dalam wujud seperti ini: puisi lebih dulu ada, musik menyusul. Musik dalam musikalisasi puisi harus bisa menyesuaikan dengan jumlah kata atau bait dalam puisi. Hal ini masih ditambah rumit dengan cara pembacaan. Seringkali dalam musikalisasi puisi, ada keluputan antara ritme musik dengan cara pembacaan ataupun dengan pemenggalan kata dan bait. Teramat susah. 

Dalam hemat saya, orang yang bisa melakukan musikalisasi puisi dengan baik adalah orang-orang yang terpilih. Kalau sekedar memainkan musik lalu ada orang yang membaca puisi dengan serampangan, itu hal yang biasa. Yang susah adalah menyatukan dua elemen: puisi dan musik.

The Doors pernah melakukannya dengan baik (dan hei, mereka memang orang-orang terpilih!). Saat Jim Morrison memasuki fase senjakala, ia ingin kembali ke habitatnya sebagai penyair. Maka ia membuat karya terakhirnya sebagai penyair, An American Prayer (direkam tahun 1969 dan 1970). Setelah ia meninggal, para anggota The Doors yang tersisa langsung membuat aransemen lagu berdasar rekaman Jim saat membacakan puisi-puisi An American Prayer. Dan hasilnya adalah sebuah album musikalisasi puisi yang teramat dahsyat. Musik dan puisi berhasil menyatu dengan padu. Selain itu, jika ditilik lebih lanjut, musiknya sendiri dibuat dengan sangat serius. Ibaratnya, tanpa puisinya pun, musik itu bisa berdiri dengan tegak, mandiri, enak didengar dan seringkali menyusupkan aura magis. 

Coba simak "Ghost Song" yang sarat aura funk dan psychedelic, atau "Newborn Awakening" yang timpalan gitar dan synth-nya akan membuat kita bergoyang. Dan sekali lagi, musiknya begitu padu dengan puisi yang dibacakan oleh Jim. Juga "Black Polished Crome" yang kental aura blues, atau "Latino Chrome" yang menyisipkan permainan bongo ala musik latin. Aduhai indahnya!

Di Indonesia, musikalisasi puisi bukanlah genre yang baru dalam dunia musik ataupun puisi. Pada warsa 70-an, Franky Sahilatua dan adiknya, Jane Sahilatua bekerja sama dengan penyair Yudistira Aan Nugroho. Atau Iwan Fals beserta Swami dan Kantata Takwa yang pernah beberapa kali memusikalisasi puisi karya-karya W.S Rendra. Leo Kristi, sang flaneur itu, juga sering membuat musikalisasi puisi berdasar karya puisi-puisinya sendiri. Harry Roesli juga acap membuat musikalisasi puisi yang megah dan mencengangkan. Ingat Opera Ken Arok kan? Jogja Hip Hop Foundation juga pernah merekam puisi-puisi berbahasa Jawa Sindhunata dalam balutan hip-hop. 

Saya juga pernah terkesima dengan duet Ari Malibu dan Reda Gaudiamo yang terkenal berkat musikalisasi puisi-puisi Sapardi Djoko Damono. Berdua mereka memberi nyawa baru pada puisi-puisi Sapardi. Ada kesyahduan yang baru. Ada kesenduan lirih yang baru. Ada keceriaan yang memabukkan. Dan ada pula kata-kata romantis yang menjadi lebih indah walau dengan iringan gitar akustik saja. Reda dan Ari adalah dua orang terpilih yang berhasil meniupkan ruh baru ke dalam puisi, ruh bernama musik. Musikalisasi puisi itu lantas dijadikan sebuah album musik, Becoming Dew. Sebelumnya mereka sempat ikut dalam kompilasi musikalisasi puisi Sapardi yang bertajuk Hujan Bulan Juni pada tahun 1989.

***

Namun saya jarang melihat ada buku kumpulan puisi yang sekaligus jadi satu dengan album musikalisasinya. Lebih jarang lagi penyair muda yang melakukannya. Hingga saya bertemu dengan Irwan Bajang.

Sebagai penyair muda, pemuda asal Lombok ini terkenal produktif. Pada tahun 2006 ia sudah menerbitkan buku puisi "Sketsa Senja," yang lantas disusul dengan novel Rumah Merah Kita (2008). Pada tahun 2009 ia sudah mulai menulis puisi untuk antologi yang kelak akan dinamainya Kepulangan Kelima. Namun ia mendadak bosan.

"Aku merasa bosan menulis puisi. Bagiku puisi tak lagi menarik. Entah kenapa. Akhirnya aku menulis cerpen," kata Bajang, panggilan akrabnya. Ia menegaskan bahwa mendadak itu bersinonim dengan tanpa alasan. Ia memang tak tahu kenapa ia bosan menulis puisi.

Namun selama hiatus menulis puisi itu ia  tetap berkarya. Menulis cerpen, esai, dan sibuk menjadi direktur di sebuah rumah penerbitan independen yang didirikannya beserta sang pujaan hati. Karena kesibukan itu pula, ia sering diledek (dalam konteks bercanda tentunya) dengan sebutan Pak Dir, alias Pak Direktur, jabatan  mentereng yang ia emban. Namun untuk buku, ia sudah lama tak menerbitkan. Hingga akhirnya pada tahun 2011 Bajang kembali menarik tuas gas. Ia sudah menemukan alasan untuk mulai kembali rutin menulis puisi dan menerbitkan buku. Alasannya sederhana, "...saat itu aku sudah selesai bikin skripsi. Kalau sebelumnya kan gak enak, bikin buku tapi skripsi gak selesai."

Hingga akhirnya pada April 2013 anak ideologis terbaru Bajang lahir juga: Kepulangan Kelima

Angka lima, bagi Bajang, mempunyai banyak filosofi. Salah satunya adalah rentang waktu penerbitan karya terakhirnya (novel Rumah Merah Kita, 2008) dengan karya terbarunya ini. Kurun itu menandakan fase vakum yang membuat ia menggelari dirinya sendiri dengan sebutan "penulis tidak produktif." Lima juga melambangkan Rukun Islam. Meski saya sangsi kalau Bajang adalah muslim yang baik, ia tetaplah anak muda dari Lombok yang besar dengan kultur Islam yang kental. "Lima juga melambangkan Pancasila," sahutnya sambil berkelakar. Lengkap dengan tawanya yang khas.

Apapun dibalik makna angka lima, saya merasakan kalau Kepulangan Kelima adalah memoar tentang rindu kampung halaman.

Bajang sebagai putra asli Lombok, pergi merantau keluar dari kampung halamannya pada tahun 2005, 8 tahun yang lalu. Kerinduan pada kampung halaman adalah hal yang absolut baginya. Karena itu, Bajang banyak menuliskan puisi-puisi tentang kerinduan akan rumah, masa kecil, ataupun pulang. Sebagai seorang perantau, Bajang paham bahwa sejauh-jauhnya pengembara melangkahkan kaki, hatinya selalu akan tertinggal di rumah. Tempat dimana masa kecil dihabiskan dan kenangan masa remaja ditakik.

"Kenapa aku banyak membahas tentang rantau, karena aku melihat kampung halaman dari jauh. Dan itu sangat berbeda. Hal itu membuat detail-detail kecil yang dulunya tidak penting, menjadi penting," kata Bajang, kali ini dengan muka serius. Sejenak menepikan kebiasaannya bercanda dan tertawa.

Bajang yang ceria memang seringkali jadi melankolis kalau ingat rumah dan kenangan sebelum merantau. Ia bisa betah lama-lama bercerita mengenai sang bapak yang hobi mengkoleksi lagu-lagu rock lawas, atau sang ibu yang sering mengomeli suaminya yang hobi jajan kaset rock.

Dalam Kepulangan Kelima, Bajang menuliskan semua memori-memori itu dalam warna yang beraneka ria. Ia bisa berkisah romantis mengenai kenangan ciuman di kebun tebu milik tetangga atau kawan-kawan yang mengadu nasib di negeri seberang (Kepulangan Kelima), tentang kampung halaman yang berubah drastis semenjak modernisasi masuk (Rumah Yang Terbakar), nestapa tentang cinta pertama yang gagal diselamatkan (Pada Resepsi Pernikahan Itu), hingga kenakalan masa kecil di "Bocah Pencuri Buah." Semuanya penuh semangat rindu kampung halaman.

Semua puisi itu lantas menemui bentuk barunya, kolaborasi dengan musik. 

***

Alkisah, tahun 2008 hingga 2009 adalah puncak euforia jejaring sosial bernama Facebook. Dari sana Bajang bertemu dengan orang-orang baru. Orang dengan gairah berkarya yang sama, dan berbicara dengan bahasa yang sama: seni. Melalui Facebook pula, ia mencari seseorang bernama Ari KPIN, seorang musisi yang pernah memukaunya dengan musikalisasi puisi "Di Negeri Pohon Pohon Kastanya" di Youtube.  Setelah bertatap muka visual, mereka berdua pun banyak berdiskusi tentang puisi dan musik. 

Sampai suatu hari, Ari membuat Bajang girang. Pasalnya, Ari mengirimkan sebuah musikalisasi puisi milik Bajang, "Merah Padam Wajahmu." 

"Itu perasaan yang menyenangkan, karya kita diapresiasi oleh seniman lain, dalam bentuk yang berbeda," kata Bajang.

Berangkat dari kegirangan itu, akhirnya tercetus keinginan Bajang untuk membuat puisinya bertransformasi ke bentuk seni yang lain. Idenya berangkat dari pendapat Bajang kalau puisi tidak selalu bisa dinikmati oleh banyak orang. Karena itu Bajang ingin mengawinkannya dengan bentuk seni yang lain. Entah itu musik, ilustrasi, fotografi, atau bahkan seni instalasi. Akhirnya bentuk baru yang dipilih ada dua: musik dan ilustrasi.

Musik dipilih karena ini bentuk seni yang akrab dengan semua orang. Nyaris tak ada orang yang tak pernah mendengarkan musik. Lalu ilustrasi dipilih semata karena Bajang sedikit jenuh dengan tren fotografi. Kebetulan, kawan baiknya, Oktora Guna Nugraha, bersedia menggambar beberapa ilustrasi untuk Kepulangan Kelima. Ari KPIN juga sudah setuju untuk membuatkan musik bagi puisi-puisi Bajang.

Namun semua tak semudah bayangan. Karena memang untuk membuat musikalisasi puisi yang baik dan lebur, adalah sesuatu hal yang susah. Seperti yang saya bilang, yang bisa melakukan itu adalah orang-orang terpilih.

Ide awalnya adalah Bajang merekam suaranya ketika membaca puisi, lalu dikirim via surel. Namun ide ini menemui tembok tinggi karena tempat tinggal Bajang yang terlalu bising, banyak sekali distorsi. Akhirnya mau tidak mau Bajang kembali merantau sejenak ke Bandung, kota tinggal Ari, untuk merekam proses musikalisasi puisi ini. Kebetulan Ari yang juga adalah dosen di berbagai perguruan tinggi, punya sanggar seni dengan peralatan lengkap, termasuk studio dan alat-alat musik. 

Namun kesusahan masih membayangi. Antara lain karena kesulitan-kesulitan klasik nan primer dalam musikalisasi puisi: Bajang harus mengatur kapan puisi mulai dirapal, kapan ia harus mendaki, kapan ia harus membaca dengan intonasi yang pelan, dan dimana ia harus memenggal kata. Rumit dan berbelit.

Namun akhirnya toh semua hasilnya terbayar. Ketika track pertama, "Kepulangan Kelima," diperdengarkan, saya langsung tersenyum. Dari sana tampak hasil kerja keras Bajang dan Ari. Track pembuka ini macam bait doa pembuka dalam ritus-ritus nan magis. Nyaris sama dengan ritual Jim yang berujar, "Is everybody in? The ceremony is about to begin," dalam track pembuka An American Prayer.

Lalu track-track seperti "Berputar Dalam Mimpi," "Bangun Tengah Malam," hingga track favorit saya "Pagi Insomnia," berhasil membuat saya sedikit terkejut. Mereka kembali mengingatkan saya akan amboinya peleburan musik dan puisi. Sesuatu yang sudah lama tidak saya dengar. Suara Ari --ia adalah penyanyi utama dalam album ini-- mengingatkan saya pada suara Iwan Fals muda yang bertenaga dan masih belum sibuk kampanye iklan kopi.

Tak perlu memutar album ini secara berulangkali,  untuk membuat saya berujar pendek: para punggawa buku dan album ini adalah orang-orang terpilih. []

post-scriptum: Tulisan pendek ini untuk pemantik diskusi Parade Obrolan Sepuluh Karya Sastra dalam hajatan Apresiasi Sastra, Yogyakarta, 2 Mei 2013. Ini pertama kalinya saya diajak jadi partner diskusi dalam acara obrolan serius. Saya tersanjung. Terima kasih untuk Irwan Bajang atas kesempatannya. Shalom!

Minggu, 28 April 2013

Bertualang Rasa di Gang Gloria


Sebut saja dia Budi (karena satu dan lain hal, ia minta namanya disamarkan). Dia berteman dengan saya semenjak SMP. SMA pun kami satu sekolah. Begitu pula ketika kuliah. Bahkan kami juga sering mengambil kelas Grammar yang sama, mengulang berkali-kali dan hanya berhasil mendapat nilai C. Menyedihkan.

Sejak dulu, Budi selalu jadi partner saya dalam petualangan rasa. Badannya yang besar nan tinggi, seakan membuktikan pada saya kalau lambungnya bisa diandalkan untuk menerima asupan makanan dalam jumlah yang cukup banyak. 

Namun betapa kecewanya saya ketika mengajaknya wisata kuliner ke Gang Gloria, dan ia hanya mendegut ludah sembari berkata, "jangan wisata kuliner lah. Wisata alam saja." 

Aduh, apa benar ini Budi kawan saya yang suka sekali makan itu? Jangan-jangan Jakarta dan korporasi tempatnya bekerja sudah sedemikian hebat mencuci otaknya dan menguras fisiknya. Hingga sekadar wisata kuliner pun ia enggan.

Namun penolakan itu rupanya hanya basa-basi. Ketika kemarin lusa saya mengajaknya untuk menelusuri Gang Gloria demi segelas es Kopi Tak Kie dan seporsi Kari Lam Medan, ia mengangguk dengan cepat. Sudah lupa dengan keluhan dan penolakannya beberapa hari lalu.

Maka jam 10 pagi tadi, Budi sudah nangkring di tempat saya menumpang selama di Jakarta. Tak perlu waktu lama, kami langsung membelah jalanan Jakarta yang sedang tobat: sepi. Maklum, akhir pekan. Para pengisi jalan reguler sedang memuaskan diri beristirahat seharian di rumah. Dari Harmoni kami meluncur ke Glodok. Di sebuah daerah padat itu, Gang Gloria berada.

Gang ini kecil saja. Cenderung sangat padat dengan penjual beraneka ria makanan dan camilan di kanan kirinya. Di masa kini, orang menyebutnya dengan Jalan Pintu Besar Selatan III. Namun Gloria masih nama yang terlalu seksi untuk diganti dan dilupakan. Jadilah hingga sekarang gang ini masih lebih dikenal dengan nama lamanya.

Di kanan kiri gang ini, para penjaja makanan akan menyambut anda dengan ajakan makan yang khas.

"Mau apa? Nasi campur? Nasi tim?"

"Berapa? Dua porsi ya?"

"Mie pangsit? Langsung dibuatin?"

"Ayo makan di sini saja kak"

Semua pekerja warung-warung kecil di kiri kanan gang itu begitu cekatan. Bahkan ada yang saking cekatannya, begitu saya sejenak menatap papan menu yang ditempel di kaca, sang penjual langsung menyiapkan dua piring sembari berujar, "makan di sini dua kan?"

Namun perut masih terlalu dini untuk diisi makanan berat. Kami melangkahkan kaki menuju kedai kopi Tak Kie. Bagi banyak pengunjung Gang Gloria, kedai kopi Tak Kie adalah pusat perhatian dari semua jenis kuliner yang ada di gang legendaris itu.

Tempatnya tak terlalu besar. Tak ada papan nama besar. Bagian depannya malah tertutupi oleh gerobak penjual nasi campur. Sangat sederhana untuk sebuah kedai kopi yang sudah berdiri sejak tahun 1927.

Segelas es kopi susu kami pesan. Tak perlu waktu lama bagi saya untuk menandaskan isi gelas hingga tersisa es batu saja. Panas terik sekali di luar.

"Ada camilan gak?" tanya Budi sembari berharap. Ia sudah mulai beraksi rupanya.

Saya bertanya pada pelayan. Namun sayang, camilan hanya tinggal Bakcang. Namun tawaran untuk mencoba seporsi pangsit rebus dan bakso sapi susah sekali ditampik. Jadilah kami memesan satu porsi pangsit dan bakso untuk disantap berdua. Isinya: 5 pangsit rebus dan 5 bakso sapi.

Dan aduhai, saya bersumpah demi Toutatis, itu pangsit rebus terenak yang pernah saya makan. Budi pun setuju. "9 dari 10 Ran," katanya pendek sembari menyeruput kuah pangsit terus-terusan.

Selagi matahari belum terlalu meninggi, kami meninggalkan sejenak Tak Kie.

Baru saja melangkah beberapa depa, kami sudah bingung. Pasalnya terlalu banyak makanan yang layak coba di Gang Gloria. Pilihan kali ini berujung di dua kubu: Gado-gado Direksi atau Karilam Medan.

Nama pertama yang disebut adalah merk gado-gado legendaris. Namanya sudah jaminan mutu. Namun tempatnya, alamak sempit sekali. Hanya cukup memuat 4 atau 5 orang saja. Sematan nama tambahan "direksi" karena gado-gado ini adalah langganan para jajaran direktur perusahaan yang berada di sekitar daerah ini.

"Gado-gado sih bisa ditemui dimana saja, kalau Kari Medan kan gak semudah itu" ujar saya memberi usul. Budi menimbang dengan singkat, lalu setuju dengan saya.

Maka tujuan kami berikutnya: Karilam Medan. Ini kari khas Medan. Sedikit berbeda dengan kari ala Aceh yang kuat sekali tendangan bumbunya. Kari Medan ini juga favorit Bondan Winarno, sang penikmat kuliner mahsyur itu. Seporsi Karilam (tinggal pilih, mau kari ayam atau kari sapi) biasanya disantap dengan nasi putih atau bihun. Tinggal pilih saja. Namun karena saya bersepakat dengan Budi untuk tidak terlalu memforsir kerja lambung, kami hanya memesan seporsi untuk berdua. Tanpa nasi ataupun bihun.

Budi juga mendecak kagum dengan sayatan rasa yang ditinggalkan oleh kari ini. Dengan kuah yang keruh, tak dinyana bumbunyaringan saja. Justru ini menarik bagi Budi. Karena ia terbiasa memakan kari dengan jejak bumbu yang kuat. Budi merem melek menyendok kuah kari ini, sementara saya menyuap sedikit saja. 

Kami lalu sepakat untuk mengistirahatkan kerja usus dan lambung barang sejenak. Kami kabur sebentar ke lapak penjual majalah dan buku bekas tak jauh dari Gang Gloria. Saya mencomot beberapa majalah bekas dengan harga yang murah meriah: 10.000/3 eksemplar.

Matahari makin tak tahu sopan santun. Panasnya meneriki kepala tanpa ampun. Kami yang bagai mahluk nokturnal, berlarian kembali menuju Gang Gloria. Karena petualangan ini belum selesai.

Bondan Winarno pernah merekomendasikan satu sajian favoritnya di Gang Gloria: Nasi tim A Ngo. 

"Nasi tim-nya harum dan sangat lembut. Mungkin yang terbaik di seluruh Indonesia" puji Bondan. 

Siapa yang tak tergiur dengan rekomendasi seperti itu? Maka kami berulang kali menyusuri Gang Gloria. Dari depan hingga ke belakang, lalu kembali ke depan lagi. Tapi tak kunjung kami temukan nasi tim A Ngo. Saking seringnya kami mondar-mandir, para penjual makanan di bibir gang sudah malas untuk sekedar menawarkan dagangannya pada kami. Toh kalian tak beli juga, mungkin begitu pikir mereka.

Akhirnya karena menyerah, kami memutuskan untuk makan nasi tim di salah satu warung yang menyediakan menu ini. Kami berpikir mungkin ini yang dimaksud oleh Pak Bondan --sapaan akrab Bondan Winarno. Karena di sepanjang Gang Gloria tak jua kami temukan penjual nasi tim dengan papan nama A Ngo.

Namun dugaan kami salah. Setelah nasi tim ini ludes --dan tak lembut seperti rekomendasi Bondan. Jelas saja, karena bukan ini rekomendasi Bondan-- kami baru tahu kalau A Ngo berjualan di belakang restoran tempat kami makan ini. Namun lapaknya sudah tutup sedari tadi. Ini kami ketahui dari penjual cakue yang berjualan di restoran nasi tim tempat kami bersantap.

A Ngo memang sudah berusia lanjut. Bondan mengatakan kalau sang maestro nasi tim itu hanya berjualan pada akhir pekan saja, dan dengan durasi yang tak terlampau panjang. Saya menengok jam. Sudah lebih dari jam 1. A Ngo mungkin sekarang sudah beristirahat di kamarnya sembari mengibaskan kertas koran di depan wajahnya untuk mengusir peluh akibat terik yang kurang ajar.

Akhirnya kami memutuskan untuk mengakhiri petualangan kuliner ini di... Tak Kie lagi. Pesona es kopinya memang agak susah ditolak di hari yang teramat gerah ini. Namun kali ini kami memesan es kopi saja, tanpa susu. Harganya murah untuk ukuran kedai kopi legendaris: hanya 10.000 rupiah saja. Tambah 1.000 rupiah jika memakai susu.

Siang ini saya pungkasi dengan mengobrol banyak dengan Latif, pengelola Tak Kie sekarang. Darinya saya mendapat banyak cerita menarik tentang Tak Kie. Tulisan tentang kedai kopi bersejarah ini akan saya tulis khusus nanti.

Suara klakson kembali menggedor gendang telinga. Dingin dari es kopi sudah mereda. Saatnya menerabas panas kembali. 

Pulang.

post-scriptum: karena koneksi internet sedang jahanam, maka foto-foto akan saya unggah belakangan. Sementara tulisan dulu saja. Sekedar agar tak hilang dikhianati ingatan.