Sabtu, 06 Agustus 2011

Bananenweizen

nitestar.de

Ketika sedang berada di Bonn, saya dijamu oleh seorang sahabat, Andy Budiman. Mas Andy --begitu saya memanggilnya-- mengajak saya berkeliling kota Bonn yang kecil dan tenang. Pria humoris ini juga mencekoki saya dengan berbagai jenis bir tradisional Jerman.

Suatu hari ketika kami ke Koln, beberapa kilometer ke selatan Bonn, saya diajak ngafe. Mas Andy bercerita ada bir Koln yang sangat enak. Namanya Bananenweizen, alias bir pisang. Bir pisang? Seperti apa rasanya? Karena penasaran, saya seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, memesan bir ini atas rekomendasi mas Andy.

Ketika pesanan keluar, alamak! Gelas birnya panjang dan besar. Masih ada titik-titik embun di gelas yang terbuat dari kaca itu. Dingin dan tampak menyegarkan. Ada endapan berwarna kuning di bagian bawah gelas. Itu adalah jus pisangnya. Ada buih busa diatas.

Apa saya sanggup menghabiskannya? Selama ini saya jarang sekali minum alkohol. Paling banter minum bir, lain tidak. Itupun hanya satu botol kecil, maksimal. Makanya saya sedikit shock melihat porsi bir ala orang Jerman ini.

Tegukan pertama. Glek. Segar! Ada kombinasi rasa pahit ala bir dan rasa manis unik dari jus pisang. Tegukan pertama yang kecil dan pendek jelas tidak memuaskan. Langsung saya menuju tenggakan kedua yang panjang. Gleeekkk. Ah, rasanya memang nikmat! Dingin dan menyejukkan di tengah hawa yang gerah dan sinar srengenge yang terik. Saat itu ada piala dunia wanita yang kebetulan diadakan di Jerman. Suasana kafe sangat riuh. Saya, mas Andy, dan seorang temannya juga ikut terpengaruh. Mendukung Jerman yang saat itu melawan Kanada. Tentu kami tak ingin ditimpuki pengunjung kafe.

Belum usai babak pertama, licin tandas sudah gelas panjang berisi bir pisang itu...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar