Tampilkan postingan dengan label Italia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Italia. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 November 2011

Once Upon A Time in Paris (1)

Dua perempuan paruh baya itu adalah dosen di jurusan kehutanan. Ibu Zuraida yang berperawakan lebih kecil namun ceriwis itu mengajar di Institut Pertanian Bogor. Sedang Ibu Rahma yang kalem itu mengajar di Universitas Sumatera Utara. Keduanya baru saja mengikuti simposium di Alba, Italia. Lalu mereka melangkahkan kaki menuju Paris. Jalan-jalan sekalian pulang, karena pesawat yang akan membawa mereka pulang berangkat dari Paris.

Ibu Zuraida (kiri) dan Ibu Rahma

Kami akan menaiki kereta yang sama menuju Paris. Kami banyak ngobrol sore itu sembari menanti kereta datang. Dua orang ibu ini bercerita bagaimana susahnya pergi berdua dengan membawa sekitar 6 koper berukuran raksasa.

"Tadi itu mau ke toilet sampai gak bisa, karena bu Rahma takut ditinggal" kata Bu Zuraida kocak. Yang dituding hanya bisa mesem-mesem. 

Tak berapa lama kereta pun datang. Kereta TGV kayaknya. Yang konon merupakan salah satu kereta tercepat di Eropa. Tapi saya juga ragu, jangan-jangan ini kereta EC 9248, salah satu varian kereta antar negara di Eropa.

Meski dunia sudah mengakui emansipasi, namun tetap saja kalau berurusan dengan barang berat, perempuan selalu menyuruh lelaki untuk mengangkatnya. Kalau tak mau, bisa-bisa dituding tak gentle. Oke, jadi saya berusaha mengangkat beberapa koper yang berat itu. Dua orang ibu itu menyemangati saya terus-terusan. Saya ngos-ngosan. Mengangkat koper ini sungguh berat dan tak praktis. Karena itu saya lebih suka traveling menggunakan ransel. Efektif dan efisien.

Setelah nyaris separuh nyawa tercerabut, semua koper pun berhasil diusung ke dalam kereta. Suasana kereta menyenangkan. Meski tak seberapa lapang, suasananya nyaman sekali. Dengan air conditioner yang bertugas sebagaimana mestinya, mengatur sirkulasi udara, bukan untuk mengeluarkan udara dingin. Jadi ingat kereta eksekutif di Indonesia yang kadang menyetel suhu ac terlalu rendah sehingga penumpang kedinginan. Di dalam kereta, kami duduk dengan tenang, berusaha menikmati pemandangan sepanjang Torino menuju Paris. Di perbatasan Italia-Perancis pemandangannya begitu indah.

Ada jejeran pohon cemara di lereng gunung yang berbatu. Lalu di sebelahnya ada sungai yang alirannya deras. Di pinggir sungai itu ada beberapa rumah dari kayu. Sangat cantik. Mata jadi malas untuk terpejam walau ngantuk sudah memanggil.


Tak berapa lama, datang seorang kondektur berkebangsaan Italia. Kelihatan dari namanya. Dia memeriksa tiket semua penumpang. Lalu ketika tiba giliran saya, saya menyodorkan tiket eurail. Ia melihatnya sejenak, lalu bercetus "so, the payment should be 17 euro". Saya pun bingung. Selain bahasa Inggris-nya tak jelas, saya bingung kenapa saya harus membayar lagi.

Saya pun ngotot tak mau bayar. Walaupun sebenarnya sia-sia, karena saya yakin sengotot apapun saya berargumen, saya pasti harus membayar. Tapi lebih baik gagal, daripada tak mencoba sama sekali. Ya itung-itung mengasah skill debat dalam bahasa Inggris, hahaha.

Si kondektur tampak bingung karena saya merepet cepat dalam bahasa Inggris. Si Italiano ini memang tak begitu menguasai bahasa Inggris. Lalu ia mencari penumpang yang bisa berbahasa Inggris, lalu menerjemahkan perkataan saya ke dalam bahasa Italia, lalu menerjemahkan perkataannya ke dalam bahasa Inggris.

Jadi intinya kereta yang saya naiki ini bukan kereta biasa. Intinya: tetap harus membayar 17 euro. Karena saya sudah puas mendamprat pak kondektur itu (walaupun ia tak salah, saya yang salah dan sok tau), akhirnya saya memutuskan untuk membayar.

Perjalananan kami isi dengan ngobrol. Sesekali tidur ayam. Kadang ngemil kentang dari Torino. Dari jadwal, diperkirakan kereta sampai pukul 23.34. Lama perjalanan sekitar 6 jam. 

Setelah berapa lama, kereta tampak berjalan melambat. Dari kejauhan tampak lampu berpendar-pendar riang. 

Paris!

Gare de Lyon

Selasa, 25 Oktober 2011

Lost in Torino! (2)

Saya berdiri di depan papan jadwal kereta dengan tatapan nanar. Kereta menuju Paris masih sekitar 7-8 jam lagi. Dengan perasaan kesal saya bergegas keluar dari stasiun, mencari pusat informasi untuk menanyakan jadwal kereta ke Paris. Saya lantas menemukan dua orang petugas yang sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris. Dengan bahasa tarzan, maka komunikasi pun terjalin. Dan benar, kereta menuju Paris baru ada sekitar 7 jam lagi. 

Akhirnya saya memutuskan untuk berkeliling Torino. Kemana? Entahlah. Karena perjalanan di kota ini benar-benar kecelakaan, tak ada dalam rencana. Berdasar insting, saya menuju arah utara. Dengan menggendong backpack ukuran 75 liter, saya berjalan terseok. 

Torino rupanya kota tua yang cantik. Banyak bangunan dengan ragam jenis arstitektur, mulai baroque, rococo, neo-classical, sampai art nouveau yang membuat mata jadi manja. Di persimpangan jalan, saya melihat banyak pengendara skuter, baik skuter klasik maupun skuter modern. Lalu di pojokan kios koran, orang-orang Italia yang terkenal ekspresif mengobrol. Aduh, saya suka sekali aksen mereka yang seksi dengan intonasi yang naik turun dan ekspresif. 

Saya tak tahu berapa lama berjalan mengikuti insting, tiba-tiba saja saya sampai di ruas jalan yang sangat lapang. Daerah lapang dengan lantai dari batu itu tepat terletak di tengah persimpangan 4 jalan. Karena itu daerah ini sangat ramai. Saya tak tahu apa nama daerah itu sampai saya googling beberapa hari kemudian.

Nama daerah itu Piazza Castello. Di daerah pusat kota ini terdapat banyak bangunan klasik nan megah. Sebut saja Palazzo Reale alias The Royal Palace yang jadi salah satu bangunan yang masuk dalam daftar UNESCO World Heritage Site. Nah, dihalaman istana itu lah saya menghabiskan sekitar 1-2 jam. Hanya untuk duduk menikmati hawa Turin yang saat itu sedang dingin karena mendung. Melihat anak-anak bermain di halaman istana yang luas dan sudah menjadi public area. Atau melihat merpati yang memamah biji-bijian dengan santai, tak takut pada orang yang melintas.

Stasiun Teramai Kedua di Turin


Salah Satu Ruas Jalan

Bahkan Langit-langit Pun Berukiran




Setelah puas menikmati Piazza Castello, saya beranjak lagi. Kembali mengikuti insting. Dan insting itu menuntun saya pada tempat yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Saya menelusuri lorong-lorong kecil yang banyak berisi kafe serta bar. Melihat lantai yang terbuat dari batu, saya seperti terlempar ke masa lalu. Dan lantai jalanan dari batu ini adalah saksi bisu yang dingin.

Saya masih terus berjalan ketika tiba-tiba saya berhenti. Saya sampai di ujung jalan yang panjang. Panjang sekali. Sampai ujung jalan satunya tak terlihat. Saya terbengong. Saya berada dimana? Di kanan kiri ada banyak toko baju, toko olahraga, pizzeria, kafe, bar, juga toko musik. Orang lalu lalang dengan tergesa, entah mau kemana. Ada juga beberapa kelompok orang yang ngopi di pinggir jalan, menikmati matahari yang baru saja menyembul. Saya terpatung, berdiri tepat di perempatan jalan yang ramai itu. Takjub.

Rasa penasaran saya terobati. Ternyata ruas panjang itu bernama Via Garibaldi. Konon ruas jalan ini adalah jalur pedestrian terpanjang di Eropa. Seperti jalannya yang panjang, sejarah jalan ini juga panjang. Ruas jalan ini dibangun pada tahun 1775 oleh arsitek bernama Gian Giancomo Plantery. Dulu ruas jalan ini bernama Via Dora Grossa. Baru pada tahun 1978 ruas ini dijadikan area pedestrian yang panjangnya mencapai 1.046 meter. Penyair De Amicis pernah melukiskan gambaran yang indah tentang ruas jalan ini,

 As one walks along via Dora Grossa from Piazza Castello in fine weather,
 one’s gaze is drawn to the white curtain of the Alps
 which borders the street on the west and not to the sequence of facades
 which cut out a long rectangle of sky between the two rows of uniform houses.

Tak terasa matahari semakin naik. Gegana menerang. Saya kelaparan. Tak susah untuk mencari makanan murah disini. Meski terkenal sebagai pusat belanja para Turinese, banyak kafe yang menawarkan paket makanan murah meriah. Mumpung di Italia, tak afdol rasanya kalau gak makan pizza atau pasta.

Akhirnya sembari berjalan kaki, saya mencari-cari pizzeria yang menarik. Aha, ketemu! Ada sebuah pizzeria mungil dengan papan nama berwarna hijau tua bertuliskan "Da Genova La Focacceria Pizza Al Taglio". Ada paket seharga 6 euro yang isinya seiris pizza, kentang goreng, dan juga segelas coke. Saya pun memesan dan menunggu pesanan di luar, sembari menyaksikan arus pejalan kaki yang deras.

Pizza di pizzeria ini ditaruh dalam loyang berbentuk persegi, dan dipanggang dalam oven. Lalu pizza akan diiris persegi panjang, dan disajikan di sebuah piring kertas. Sederhana. Ada banyak pilihan pizza. Mulai pizza bertopping plain keju mozzarella, lalu ada topping buah zaitun dan daun basil, hingga pizza salami pilihan saya.

Pizza salami kadang disebut juga dengan pizza capricciosa. Pizza ini toppingnya terdiri dari keju mozzarella, tomat, jamur, salami, dan juga olive oil. Ada juga taburan daun basil kering.

Setelah dihangatkan, saya membawa pizza itu ke meja makan di depan pizzeria. Pas di pinggir arus pejalan kaki yang deras di Via Garibaldi. Jadi saya bisa menikmati Turin dari dekat dan intim. Juga melihat betapa ekspresifnya orang Italia jika berbicara.

Pizza ini sungguh begitu enak. Dough-nya tipis, tak tebal seperti dough ala American pizza. Beberapa bagian yang over-cooked malah memberikan aksen renyah yang unik. Lalu olive oil memberi aksen basah dan lengket yang menyenangkan. Keju mozzarella yang leleh begitu lumer di lidah dan dinding tenggorokan. Rasa asinnya begitu pas. Daging salaminya juga renyah dan gurih. Superb! Walau sebenarnya saya agak ragu apakah daging ini halal atau tidak, hahaha.

Saya lalu percaya satu hal. Carilah pizzeria manapun di Italia. Pizza yang mereka jual pasti sama enaknya. Tak ada pizza tak enak di Italia. Saya telah membuktikannya siang itu. Oh ya, tulisan saya tentang pizza Italia ini bisa dibaca disini.

Pizzeria Itu


Via Garibaldi




Tak terasa, beberapa jam sudah berlalu. Saya kembali berjalan kembali menuju Torino Porta Susa. Hari kembali mendung. Menebar aroma galau. Saya galau karena dua hal. Yang pertama adalah ketinggalan kereta menuju Paris dan menghabiskan waktu saya untuk menunggu. Yang kedua adalah galau karena ternyata Torino sangat indah dan waktu 7 jam itu berlalu begitu cepat. Tapi ya sudahlah, mungkin lain kali saya bisa kesini lagi. Saya ingin belajar memasak makanan Italia, untuk bekal mendirikan restoran Italia di Jember, hehehe.

Saya cepat melangkahkan kaki sebelum hujan turun. Secepatnya saya turun ke ruangan bawah tanah, menanti kereta di jalur 3. Ketika berjalan, saya mendapati dua orang perempuan berkerudung yang membawa banyak koper berukuran besar. Saya pikir mereka dua orang Melayu yang entah mau pergi kemana. Tapi saya memutuskan untuk menunda rasa penasaran dan keramahan saya, melalui mereka, mencari tempat duduk yang kosong, lantas larut membaca.

Tak berapa lama kemudian, salah seorang dari mereka menghampiri saya sembari menyeret koper besar berwarna merahnya.

"Excuse me, can you speak English" tanyanya.

"Ibu orang Indonesia?" saya malah balik bertanya.

"Lhooo, mas orang Indonesia? Syukur deeehhh!" teriak ibu itu girang. 

Tuhan telah membuka bab perjalanan yang baru untuk saya. Dan dua orang ibu-ibu paruh baya berkebangsaan Indonesia ini akan menjadi teman perjalanan baru saya nantinya...

Torino's Little Girl

Ketika membunuh waktu di Torino, saya pergi ke pusat kota. Melongok bangunan klasik nan megah Palazzo Della Legione. Juga pergi ke Palazzo Reale, sebuah bangunan yang dulunya adalah tempat tinggal raja. Saya banyak menghabiskan waktu dengan duduk di bangku halaman Palazzo Reale. Kebetulan pagi itu satu rombongan anak-anak SD yang sedang kunjungan wisata. Saya begitu senang melihat tingkah polah anak-anak polos itu. Selain itu juga ada beberapa balita yang menggemaskan, tak takut bermain dengan burung merpati, atau naik otopet.

Murung

Tetap Murung

Akhirnya Senyum!

Dengan Mario

Gadis Kecil Berotopet

Namanya Marta

Rabu, 19 Oktober 2011

Lost in Torino! (1)

Saya terbangun tiba-tiba keesokan harinya. Sudah pagi. Kawan satu kompartemen saya sudah bangun. Oh ya, saya punya 3 orang kawan kompartemen. Satu orang pria paruh baya yang tak banyak cakap, satu orang pemuda backpacker asal Kanada bernama Mike, dan satu orang pria berambut necis yang tengah malam kabur karena paspornya hilang. Jadi ketika saya bangun, kawan kompartemen saya tinggal 2 orang saja.

Mike
Stasiun Milan ramai hari itu. Mungkin seperti ini keadaan tiap hari. Sebenarnya, lagi-lagi, kalau tak dikejar waktu, saya begitu ingin menghabiskan waktu keliling kota Milan. Mengunjungi San Siro atau Giussepe Meazza, sekedar untuk berfoto dan mengimingi Panjul, Yandri, atau Dafi yang fans A.C Milan, atau Didik dan kak Rizal yang fans dari Inter Milan. Tapi apa lacur, waktu begitu pendek dan sangat berharga. Jadilah saya hanya menumpang kentut di kota fashion Italia ini.

Milan Central Yang Selalu Riuh
Menurut itenerary yang sudah saya buat, jam 7 pagi saya harus naik kereta menuju Torino. Lama perjalanan sekitar 1 jam. Nanti saya akan lanjut naik kereta dari Torino Porto Susa menuju Paris Gare de Lyon pada pukul 8 lewat 10 menit.

Tepat jam 7 kereta datang. Saya meloncat ke dalam kereta, menaruh tas, lalu bersender pada kursi yang empuk. Membaca buku selama perjalanan, tertidur ayam, menikmati pemandangan, lalu tertidur ayam lagi, begitu seterusnya. Entah karena apa, saya tak sadar kalau 1 jam sudah lewat. Ketika saya menengok jam di handphone, sudah jam 7 lewat 30 menit. Walah, rupanya kereta ini terlambat. Benar saja. Saya baru sampai jam 9 pagi. Terlambat 1 jam dari jadwal. Kalau begini apa bedanya dengan kereta Logawa atau Sri Tanjung?

Saya jelas kelimpungan. Begini ini tak enaknya jalan-jalan dengan menggunakan itenerary. Selama ini saya tak pernah menggunakan itenerary ketika melakukan sebuah perjalanan. Saya berusaha untuk menikmati setiap kejutan yang terjadi, yang nantinya ia akan melahirkan yang namanya improvisasi. Dan improvisasi itulah hal yang paling menyenangkan, juga menegangkan, dalam sebuah perjalanan.

Tapi karena waktu yang pendek, juga skala prioritas harus disusun, maka mau tak mau saya memakai itenerary. Menyusun jadwal kereta, memutuskan naik kereta apa, lalu biayanya berapa. Perencanaan yang lantas menurut saya menghilangkan kejutan dalam perjalanan. Jadi benar saja, ketika satu rencana gagal, maka saya seperti kehilangan daya untuk berimprovisasi. Saya cek jadwal kereta di Torino Porto Susa. Ternyata kereta menuju Paris hanya ada dua kali dalam sehari. Jam 8 pagi, dan jam setengah 5 sore.

Alamak!

Lalu saya berusaha memeras otak. Melupakan semua jadwal dan rencana, berusaha melakukan improvisasi seperti biasa. Ada dua ide yang terlintas. Pertama adalah rencana kebut waktu. Rencana ini berupa naik bis dari Torino hingga Paris. Lalu rencana kedua adalah membunuh waktu. Rencana ini berupa berjalan-jalan keliling kota Torino untuk menghabiskan waktu menunggu yang lumayan lama.

Ah, pilihan yang mudah. Dan pilihannya jelas sudah.

Bersambung...

Jumat, 07 Oktober 2011

Banyak Jalan Menuju Roma (6)

Ternyata gelap itu berasal dari tidur. Iya, saya ketiduran. Sesekali bangun, lalu tidur lagi. Begitu seterusnya sampai Roma sudah dekat dan saya siap-siap turun. Perut saya keroncongan karena belum diisi apapun sejak kemarin malam. Rencananya saya akan mencari sarapan sebelum keliling kota Roma.

Beberapa menit kemudian, Roma nampak di depan mata. Saat itu sudah sore, tapi panas masih menyengat. Saya turun di stasiun Roma Termini. Stasiun yang beroperasi sejak tahun 1862 tampak begitu riuh. Sesuai saran dari Viera, saya mencari penitipan tas terlebih dahulu. Ketemu. Setelah menitipkan carrier yang berat minta ampun itu, saya mencari sarapan (atau makan siang?).

Tanpa banyak pikir, saya mencari tempat makan yang paling murah: Mc Donald. Oke, buat kalian yang berkoar anti kapitalisme. Saya tak pernah memikirkan apa-apa bahaya makanan kapitalis itu. Yang saya tahu adalah, McD adalah makanan yang paling murah disini. Dan sudah takdir alam kalau para pejalan dengan budjet cekak selalu berusaha mencari apa yang termurah. Jadi disinilah saya, mengantri, lalu berusaha ngobrol dengan pelayan yang tak bisa bahasa Inggris. Saya memesan paket murah untuk anak kecil, Happy Meal. Karena dengan 4 euro lebih sedikit, saya bisa dapat burger keju, kentang goreng, apel, juga mainan, hehehe. Itu paket lengkap bukan? Murah pula.

Ketika masih di Hamburg beberapa waktu lalu, saya banyak bertanya pada Viera mengenai cara paling asyik (dan tentu murah) untuk keliling Roma. Ia bilang mending keliling Roma menggunakan tour bus. Saya sebenarnya mencoret bis tur itu dari moda transportasi pilihan saya. Apalagi saya harus membayangkan kemana-kemana diantar dan ditentukan oleh pihak tour. Tapi setelah menimbang kondisi badan yang kurang mengenakkan untuk berjalan kaki, juga efisiensi waktu (karena saya hanya punya waktu kurang dari 8 jam di Roma), maka saya memutuskan untuk keliling Roma dengan bis tur.

Akhirnya dengan menenteng sebungkus Happy Meal, saya keluar stasiun Roma Termini. Di luar tak ada bedanya dengan stasiun Gambir atau Senen. Ramai. Banyak orang menawarkan suvenir, juga paket tur. Saya mencari bis tur yang sepertinya milik pemda Roma. Biaya untuk tur keliling Roma sekitar 20 euro.

Oh ya, saya mau cerita. Jadi saya punya waktu hanya kurang dari 8 jam di Roma. Karena saya sampai sekitar jam 3 sore, dan harus pergi dari Roma menuju Milan pada pukul 11 malam. Nanti saya akan beristirahat di kereta. Karena waktu yang singkat itu, maka saya memprioritaskan Colloseum sebagai tujuan utama. Walau sebenarnya saya ingin melihat stadion sepak bola Roma dan Lazio. Sebagai penggemar bola, rasanya saya merugi kalau tak bisa menuju kesana. Tapi ya sudahlah, anggap saja itu hutang yang harus dibayar suatu saat nanti.

Dengan naik bis double deck berwarna merah, saya pun memulai keliling Roma. Saya memilih duduk di atas supaya leluasa melihat Roma. Sesuai perkiraan saya, bis ini penuh dengan turis-turis yang berisik. Saya hanya sesekali memotret sembari melongok-longok.

Roma memang cantik dengan banyak arstitektur klasik. Banyak patung dengan ukiran yang membutuhkan presisi tinggi. Juga gedung-gedung megah yang desainnya sempat booming di Indonesia sebelum desain minimalis datang. Juga banyak pohon jeruk dengan buahnya yang menyembul riang diantara dedaunan yang berwarna kelam. Banyak pula vespa, baik yang lalu-lalang di jalan atau diparkir di pinggir jalan. Maklum, Italia dikenal sebagai produsen vespa terbesar di dunia. Saya jadi ingat Alfien, sobat saya saya begitu menggemari vespa.



 
 



15 menit dari Roma Termini, saya pun sampai di Colloseum. Saya turun dan bis pun melaju lagi. Nanti saya akan kembali ke stasiun dengan naik bis yang sama, di halte yang sama.

Colloseum memang megah seperti banyak kisah dan legenda yang tertutur. Bangunan ini adalah bangunan terbesar yang pernah dibangun di Roma. Gedung yang dibangun sejak tahun 72 Masehi ini terkenal sebagai arena pertarungan para gladiator. Kisah mengenai gladiator ini pernah difilmkan dengan judul yang sama, dibintangi oleh Russel Crowe sebagai Maximus, sang komandan tentara kaisar yang lantas beralih menjadi gladiator.


      

Ketika berdiri di depan bangunan tua ini, saya terdiam sejenak. Memejamkan mata, lalu menghirup nafas panjang. Saya berusaha merasakan getaran magis dari bangunan ini, yang lantas menarik saya ke dalam pusaran waktu. Saya merasa berdiri di tengah ribuan penonton yang berbondong antri masuk ke dalam Colloseum. Berduyun ingin menonton pertarungan hidup mati para gladiator. Saya pun merinding dibuatnya. Roma memang digdaya pada saat itu.

Tapi lantas saya tersenyum simpul ketika sadar kebesaran Roma tidak ada apa-apanya dibanding penduduk Galia rekaan Rene Gosciny dan Albert Uderzo. Asterix dan Obelix dengan mudahnya mengkocar-kacirkan para tentara Romawi yang selalu digambarkan dengan muka bloon dan bertubuh mungil.

Setelah berusaha merasakan kemagisan Colloseum, saya berkeliling lagi. Banyak wisatawan sore itu. Musim panas ini rupanya begitu dinikmati oleh para wisatawan yang sepertinya kurang asupan sinar matahari. Melimpahnya wisatawan ini dimanfaatkan oleh para pelaku pariwisata. Ada orang-orang yang berdandan seperti pasukan Romawi, lengkap dengan pedang dan zirahnya. Mereka menawarkan jasa berfoto bareng. Mereka laris manis. Juga ada pedagang suvenir dan kartu pos. Mereka juga menangguk banyak uang. Saya hanya membeli beberapa magnet kulkas dan kartu pos. Sekedar untuk kenang-kenangan.


 

Setelah berkeliling, saya duduk sebentar. Tiba-tiba kepala pusing, badan kembali meriang. Sialan. Maka setelah mengambil beberapa foto diri, maka saya pun kembali ke halte. Setelah bis datang, saya langsung melompat ke dalamnya. Ketika leyeh-leyeh itulah saya ketiduran lagi.

ROMA termini masih saja ramai. Senja sudah menguning di luar sana. Matahari mulai ingin rebah. Saya antri untuk bertanya mengenai tarif kereta dari Roma menuju Milan. Kereta yang akan saya naiki adalah kereta malam. Biasanya kereta malam mengharuskan penumpang untuk membayar tarif tambahan. Saya melonjak kaget ketika tahu tarif tambahannya sebesar 33 euro. Ini diluar perhitungan saya. Harga segitu sebenarnya cukup untuk makan 4 atau 5 hari. Atau bahkan bisa 7 hari.

Tapi saya tak jadi bayar. Maunya bayar di kereta, siapa tahu harga tiket di kereta ternyata lebih murah. Dasar mental  Indonesia, hehehe.

Jarum jam terus berdetak. Jam 11 pun tiba. Kereta datang. Saya berbicang dengan kondektur. Bla bla bla. Ternyata memang tak bisa menawar. Harga 33 euro itu harga mati. Yah mau gimana lagi. Mau menunggu besok pagi, sayang waktu yang terbuang. Akhirnya dengan berat hati saya naik kereta tidur itu. Setelah membayar, saya diantar ke kompartemen. Ada 4 buah kasur. Dua di kanan, dua di kiri. Kasur tingkat. Ada selimut dan bantal, serta tiap kasur dapat satu botol air soda.

Badan masih sedikit meriang. Tanpa banyak omong saya langsung menaruh tas, merebahkan badan, menarik selimut, lalu tidur. Milan masih jauh. Saya mau menyimpan tenaga buat besok, karena besok saya sudah menuju Paris. Yihaaa!

Kamis, 06 Oktober 2011

Banyak Jalan Menuju Roma (5)


Kereta bergerak perlahan. Meninggalkan kota Venezia di belakang saya. Ketika duduk di kursi, saya sudah merasa tak nyaman. Ada hawa aneh yang menjalar. Merambat dari kaki, lalu naik ke lutut, ke pinggang, ke punggung, lalu hingga ke kepala. Alamak, saya tahu perasaan ini. Ini adalah kondisi yang disebut dengan: meriang.

Badan tiba-tiba sedikit menggigil. Meski hawa panas, tapi tubuh saya merasa kedinginan. Saya jadi ingat pesan mas Andy via telpon beberapa waktu lalu. Ketika tahu saya menghabiskan malam di jalan, ia berkata agar saya mencari hostel saja, biar bisa beristirahat dengan tenang di kasur. Karena keliling negara itu beda dengan keliling kota. Ternyata benar. Saya merasa tidak enak badan sekarang. Entah karena apa. Bisa jadi karena terlalu lelah menempuh perjalanan maraton ini. Masih ditambah hawa yang berbeda-beda di tiap negara.

Tak berapa lama kemudian ada sepasang adik kakak masuk ke kompartemen saya. Dua-duanya sepertinya atlit. Sama seperti para Italiano yang ketinggalan kereta itu (baca: Banyak Jalan Menuju Roma edisi sebelumnya). Mereka memancing senyum simpul saya dengan tingkah polah yang lucu. Saling berebutan buku, kadang saling mengusili. Sang kakak rupanya jahil juga. Melihat mereka, saya jadi kangen menjahili dua adik perempuan saya.

Karena ingin fit ketika sampai Roma, maka saya memutuskan untuk tidur. Sebenarnya sayang sekali jika waktu traveling langka ini dipakai untuk tidur. Jalan masih panjang terbentang, jadi saya tak ingin seluruh agenda traveling ini terganggu karena sakit. . Maka saya paksakan dan relakan tubuh agar beristirahat. Walau begitu, sesekali saya masih membuka mata, melongok keluar jendela. Sekedar melihat pemandangan, atau sudah sampai mana.

Entah berapa lama saya tertidur. Saya terbangun ketika pengeras suara melaporkan kalau kereta sudah sampai stasiun Firenze Rifedi. 

Firenze adalah kota yang indah. Ibu kota Tuscany ini dibelah oleh sungai Arno, sungai yang dianggap terpenting di Italia setelah sungai Tiber. Saya sih kenal kota ini dari klub sepak bola Fiorentina, pada masa saya begitu menggemari Gabriel Omar Batistuta. 

Pada tahun 1982, pusat kota Firenze dideklarasikan sebagai World Heritage Site oleh Unesco. Dari beberapa literatur yang saya baca, Firenze punya beberapa tempat yang indah nun bersejarah. Sebut saja Ponte Vecchio yang klasik, Santa Croce yang megah, hingga kapel Medici yang suci. Andai saja saya punya waktu banyak, tentu saya tak akan berpikir dua kali untuk singgah dan berkeliling kota ini. Lain kali, semoga!

Ketika terbangun, saya membuka peta Eurail. Disana terpampang selected scenic routes, yakni rute-rute pilihan yang menyajikan pemandangan elok. Italia memiliki satu rute pilihan. Rute itu terhampar dari Firenze hingga Assisi. Saya jadi penasaran. Penasaran itu akan terpuaskan karena kereta akan melewati rute ini.

Diantara tubuh yang melemah, mata yang ingin menutup lama, saya berusaha memaksakan diri untuk terjaga. Kali ini saya ingin menikmati pemandangan saja, tak ingin memotretnya. Saya yakin, kalau saya memotret pemandangan, maka saya tak bisa benar-benar menikmati pemandangan itu. Karena saya berada dalam objek yang bergerak, lain halnya kalau saya diam di tempat.

Dan benar. Jalur Firenze- Assisi memang indah. Ia merupakan lekuk-lekuk pegunungan yang hijau. Kadang pemandangan itu diselingi dengan hutan pohon cemara (atau pinus?). Pemandangan itu kadang diselingi oleh sungai kecil yang berbatu. Lalu ada rumah-rumah kayu khas pedesaan. Pemandangan cantik itu membelai mata saya. Menyadarkan bahwa dunia benar indah adanya. Saya memang harus melihat dunia lebih banyak lagi.

Dari pemandangan cantik yang hijau, muncul perlahan bayangan yang kabur. Blur. Tampak garis-garis menggurat di depan pelupuk mata. Lalu tiba-tiba semua berganti warna hitam.

Bersambung...

Minggu, 02 Oktober 2011

Banyak Jalan Menuju Roma (4)


Stasiun Venezia Santa Lucia ramai pagi itu. Walau stasiun ini bukan stasiun central di Venezia, tapi stasiun yang terletak di daerah Cannaregio ini cukup ramai. Stasiun pusat Venezia ada di Metre. Bagi turis yang ingin menikmati kanal Venezia yang tersohor itu, biasanya turun di stasiun Venezia Metre.

Setelah turun dari kereta, saya langsung mencari pusat informasi. Saya ditemui oleh seorang bapak baya yang ketus. Beliau lantas menunjukkan line kereta menuju Roma. 

Perjalan dari Venezia menuju Roma ditempuh dalam waktu sekitar 3,5 jam. Kalau telat, biasanya bisa molor hingga 4 jam. Nanti saya akan turun di stasiun pusat Roma, Roma Termini. Dalam mengumpulkan info mengenai Italia, saya banyak dibantu oleh Viera si ratu boker. Gadis asal Cibinong ini sekarang sedang menempuh S2 di Italia. Oh ya, kalau kalian masih asing dengan gadis kembaran Nikita Willy Dozan ini, dia adalah gadis kecil yang tampil di iklan Indomie, yang menceritakan pengalamannya pergi ke Belanda hanya untuk beli Indomie. Gelo.

Sembari menunggu kereta menuju Roma yang berangkat pukul 10.27, saya membaca peta Eropa lagi. Perjalanan saya masih panjang, dengan Paris sebagai tujuan utama saya. Di depan saya tampak seorang gadis seumuran saya sedang mondar mandir sembari menelpon seseorang. Dari tampilannya, ia sepertinya seorang atlit. Ia membawa travel bag merk Nike berukuran besar. Ia mengenakan training berwarna biru gelap dengan jaket bertuliskan "Italy" di bagian belakang. Ia tampak kebingungan. 

Tak lama kemudian sebuah kereta datang. Entah menuju kemana. Perempuan itu gamang. Lalu kemudian memutuskan naik kereta itu. Sebentar saja lalu kereta itu bergerak pelan, berangkat menuju entah kemana.

"Hoooyyyy!!!" tiba-tiba terdengar teriakan dua orang pemuda. Mereka berlari menaiki tangga, mengejar kereta yang masih bergerak lambat. Dilihat dari pakaian yang seragam, sepertinya mereka teman sang gadis yang sedari tadi kebingungan itu. 

Seperti kisah yang dituturkan oleh beberapa teks, Italiano memang ekspresif. Ketika tahu ketinggalan kereta, mereka berlagak seperti pemain opera. Menengadahkan tangan ke depan dada, menggoyangkannya ke depan berkali-kali, sembari berucap kata Italia yang saya tak paham artinya. Mimik mukanya tampak sedih dan kecewa betul, lagaknya seperti pria yang baru diputus ceweknya dengan sangat sadis. Pria yang berambut klimis sedikit menekuk lututnya, sembari tangannya tetap menengadah ke depan dada, mengomel dengan bahasa Italia. Yang satunya lagi, pria brewok, menelpon, dengan suara marah-marah ia lantas menendang kereta yang belum usai berlalu itu. Setelah kereta melaju penuh, mereka masih berlagak seperti pemain opera. Mengacungkan tangan ke udara.

Saya terhibur dengan adegan opera dadakan itu. Walau saya tahu kalau terhibur diatas penderitaan orang lain itu adalah kurang ajar, tapi saya begitu menikmati ekspresi dua orang pria Italia itu. Mereka sadar kalau kereta sudah berangkat. Jadi walaupun mereka berakting salto; kayang; lompat harimau; berdiri dengan satu kaki; atau malah berdiri dengan kepala; kereta tak akan berhenti. Walau sudah tahu hal itu, toh mereka tetap saja berakting, sendu, seakan ketinggalan kereta adalah kiamat. Impressionante! Grande!

Setelah adegan opera yang ditanggapi biasa saja oleh orang lain dan ditanggapi dengan takjub oleh saya, pemuda itu berlalu dengan kepala terkulai. Lemas. Sepertinya mereka akan mencari kereta lain. Sementara itu saya nyaris mengalami hal yang sama dengan dua pemuda itu.

Kereta menuju Roma yang harusnya ada di line 4, tiba-tiba saja berubah menuju line 3. Tak ada pemberitahuan dalam bahasa Inggris. Mereka pikir semua orang di Venezia itu orang Italia? Mereka pikir semua turis bisa bahasa Italia? Untung saya membaca papan pengumuman. Disitu terpampang kalau kereta menuju Roma Termini pindah ke jalur 3. Langsung saja saya tergopoh-gopoh pindah jalur, turun menuju ruang bawah tanah, lalu naik lagi ke atas, menuju line 3. 

Setelah menunggu sekitar 15 menit, kereta menuju Roma datang. Saya masuk menuju kereta, mencari kompartemen yang kosong, menaruh tas, lalu duduk tenang. Kemudian dengan mendadak, ada hawa aneh menjalar dalam tubuh saya. Entah apa. Yang jelas saya merasa tak nyaman.

Bersambung...

Banyak Jalan Menuju Roma (3)



Dingin masih saja menggigit ketika kereta menuju Venezia datang. Setelah memastikan kereta itu benar menuju Venezia, saya pun melompat ke dalamnya. Huupp. Kereta ini merupakan kereta kompartemen. Hal ini lazim untuk kereta malam. 

Ketika saya masuk dan melihat-lihat, semua kompartemen sudah terisi. Penuh. Para penumpang sudah bergelimpangan. Menyelonjorkan kaki. Mirip dengan suasana di kereta Gaya Baru Malam Selatan atau Kahuripan, minus homo homini lupus. Meski penuh, suasana kereta masih nyaman. Tak tampak raut ketidaknyamanan pada muka mereka, raut yang selalu saya lihat ketika naik kereta ekonomi di Indonesia. Terutama mereka yang dengan terpaksa tidur di lantai atau duduk di toilet.

Tak berapa lama kemudian kereta bergerak. Pergi menuju Italia. Selamat tinggal Wina, semoga kita bisa berjumpa lagi kapan-kapan.

Karena kompartemen yang penuh, maka saya menggelar badan di lantai dekat pintu. Menjadikan tas sebagai bantal. Saya rebah, lalu tertidur. Sampai saya mendengar suara omelan beberapa orang.

Ternyata mereka penumpang yang tak kebagian kursi. Mereka mengomel. Memaki kerja perusahaan kereta yang mereka anggap tak becus. Alamak, belum pernah datang ke Indonesia atau India rupanya.

Saya cuek aja, berusaha memejamkan mata. Berhasil, walau cuma sekejap. Karena seorang kondetur datang untuk memeriksa tiket saya. Saya keluarkan tiket sakti bernama Eurail. Dia lantas memeriksanya. Saya pikir semua akan beres. Tapi saya salah.

"Karena ini kereta malam, anda harus menambah biaya. 7 euro." ujarnya pendek. Saya kebingungan. Masih belum tahu kalau naik kereta malam harus menambah biaya. 

"Maaf pak, kalau misalnya saya duduk di lantai saja, tapi gak usah bayar, boleh gak?" tanya saya. Kondektur itu memandang saya dengan pandangan aneh. 

Sepertinya kebiasaan saya duduk di lantai kereta terbawa hingga kesini.

Setelah ngobrol barang sejenak, saya masih tak dibolehkan duduk di lantai dan harus bayar. Saya pikir itu pungli, tapi saya salah. Cerita lengkap mengenai "pungli" ini nanti akan berujung panjang ketika saya naik kereta menuju Paris. Kondektur bilang 7 euro itu memang biaya tambahan untuk kereta malam dengan kompartemen. Karena saya membayar biaya 7 euro itu, saya akan dapat kursi. Oke, saya setuju.

Sebelum saya sempat mengeluarkan dompet, petugas mengajak saya ke sebuah kompartemen. Kompartemen itu gelap. Ketika pintu dibuka, lampu menyala. Hanya ada 5 orang disana, seharusnya isinya 6 orang. Satu orang tidur selonjor, membuat kompartemen itu penuh. Setelah kondektur membangunkan satu orang penumpang, ia lantas menyilahkan saya duduk. Saya lega, bisa mengistirahatkan badan dengan tenang.

Saya terbangun ketika terdengar suara tirai dibuka. Sinar matahari langsung menerobos. Silau euy. Tampak tebing-tebing menjulang. Sepertinya saya sudah memasuki Italia. Kalau melihat di peta, sepertinya sudah memasuki Udine. Venezia sudah tinggal sepenanakan nasi.

Mata sudah tidak mengantuk. Saya lantas menikmati daerah pegunungan Udine yang sesekali dilukis dengan jejeran pohon cemara. Aih, indah sekali. Mengingatkan saya pada lekuk Gumitir, daerah pegunungan perbatasan Jember- Banyuwangi yang berkelok dan banyak pohon cemara. Membuat saya kangen rumah.

Tak lama kemudian, pemandangan berganti jadi daerah pedesaan. Lengkap dengan rumah-rumah mungil yang sering saya baca di dongeng-dongeng. Ada sapi memamah rumput. Ada pula kuda. 

Lamunan saya terhenti. Suara dari speaker meneriakkan lantang kalau kereta sudah sampai di Venezia Santa Lucia. Saya harus turun, lalu berganti kereta untuk pergi menuju Roma. Sampai saya turun, kondektur itu tak mendatangi saya. Syukurlah, 7 euro tak jadi keluar.

Matahari bersinar terik. Saya menggendong ransel saya, membuka pintu kereta, lalu melompat keluar...

Bersambung...


Post-scriptum: Saya selalu suka dengan adegan pria beransel meloncat turun dari kereta. Kegemaran saya itu dibentuk oleh sosok Roy yang suka avonturir dengan menggunakan moda kereta. Ketika ia meloncat keluar dari kereta, itu tak berarti petualangan berakhir. Justru awal dari petualangan baru. Karena itu saya banyak menggunakan fragmen meloncat keluar dari kereta. Biar berasa jadi sosok Roy, hahaha.

Sabtu, 06 Agustus 2011

Da Genova La Focacceria Pizza Al Taglio


Saya tak tahu apa arti kalimat yang saya pakai untuk judul tulisan ini. Kalimat itu terpampang di sebuah tempat kecil di ruas jalan Segusina Gate, Turin. Setelah saya berkeliling Turin sejenak, saya meneruskan berjalan di ruas Segusina Gate, yang menjadi awal dari Via Garibaldi, jalur pedestrian terpanjang di Eropa. Di Segusina inilah saya bertemu dengan Da Genova La Focacceria Pizza Al Taglio.

Tak susah untuk tahu bahwa tempat ini adalah sebuah pizzeria. Pizza ala Genoa tepatnya, karena ada Genova tercantum. Genova adalah bahasa Italia untuk Genoa. Sama seperti Torino untuk menyebut Turin.

Karena perut yang keroncongan, saya memutuskan masuk dan memesan seiris pizza. Pizza di pizzeria ini ditaruh dalam loyang berbentuk persegi, dan dipanggang dalam oven. Lalu pizza akan diiris persegi panjang, dan disajikan di sebuah piring kertas. Sederhana. Ada banyak pilihan pizza. Mulai pizza bertopping plain keju mozzarella, lalu ada topping buah zaitun dan daun basil, hingga pizza salami pilihan saya.

Pizza salami kadang disebut juga dengan pizza capricciosa. Pizza ini toppingnya terdiri dari keju mozzarella, tomat, jamur, salami, dan juga olive oil. Ada juga taburan daun basil kering.

Setelah dihangatkan, saya membawa pizza itu ke meja makan di depan pizzeria. Pas di pinggir arus pejalan kaki yang deras di Via Garibaldi. Jadi saya bisa menikmati Turin dari dekat dan intim. Juga melihat betapa ekspresifnya orang Italia jika berbicara.

Pizza ini sungguh begitu enak. Dough-nya tipis, tak tebal seperti dough ala American pizza. Beberapa bagian yang over-cooked malah memberikan aksen renyah yang unik. Lalu olive oil memberi aksen basah dan lengket yang menyenangkan. Keju mozzarella yang cair begitu lumer di lidah dan dinding tenggorokan. Rasa asinnya begitu pas. Daging salaminya juga renyah dan gurih. Superb!

Saya lalu percaya satu hal. Carilah pizzeria manapun di Italia. Pizza yang mereka jual pasti sama enaknya. Tak ada pizza tak enak di Italia. Saya telah membuktikannya siang ini.