Tampilkan postingan dengan label Tempat Keren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tempat Keren. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 April 2013

Bertualang Rasa di Gang Gloria


Sebut saja dia Budi (karena satu dan lain hal, ia minta namanya disamarkan). Dia berteman dengan saya semenjak SMP. SMA pun kami satu sekolah. Begitu pula ketika kuliah. Bahkan kami juga sering mengambil kelas Grammar yang sama, mengulang berkali-kali dan hanya berhasil mendapat nilai C. Menyedihkan.

Sejak dulu, Budi selalu jadi partner saya dalam petualangan rasa. Badannya yang besar nan tinggi, seakan membuktikan pada saya kalau lambungnya bisa diandalkan untuk menerima asupan makanan dalam jumlah yang cukup banyak. 

Namun betapa kecewanya saya ketika mengajaknya wisata kuliner ke Gang Gloria, dan ia hanya mendegut ludah sembari berkata, "jangan wisata kuliner lah. Wisata alam saja." 

Aduh, apa benar ini Budi kawan saya yang suka sekali makan itu? Jangan-jangan Jakarta dan korporasi tempatnya bekerja sudah sedemikian hebat mencuci otaknya dan menguras fisiknya. Hingga sekadar wisata kuliner pun ia enggan.

Namun penolakan itu rupanya hanya basa-basi. Ketika kemarin lusa saya mengajaknya untuk menelusuri Gang Gloria demi segelas es Kopi Tak Kie dan seporsi Kari Lam Medan, ia mengangguk dengan cepat. Sudah lupa dengan keluhan dan penolakannya beberapa hari lalu.

Maka jam 10 pagi tadi, Budi sudah nangkring di tempat saya menumpang selama di Jakarta. Tak perlu waktu lama, kami langsung membelah jalanan Jakarta yang sedang tobat: sepi. Maklum, akhir pekan. Para pengisi jalan reguler sedang memuaskan diri beristirahat seharian di rumah. Dari Harmoni kami meluncur ke Glodok. Di sebuah daerah padat itu, Gang Gloria berada.

Gang ini kecil saja. Cenderung sangat padat dengan penjual beraneka ria makanan dan camilan di kanan kirinya. Di masa kini, orang menyebutnya dengan Jalan Pintu Besar Selatan III. Namun Gloria masih nama yang terlalu seksi untuk diganti dan dilupakan. Jadilah hingga sekarang gang ini masih lebih dikenal dengan nama lamanya.

Di kanan kiri gang ini, para penjaja makanan akan menyambut anda dengan ajakan makan yang khas.

"Mau apa? Nasi campur? Nasi tim?"

"Berapa? Dua porsi ya?"

"Mie pangsit? Langsung dibuatin?"

"Ayo makan di sini saja kak"

Semua pekerja warung-warung kecil di kiri kanan gang itu begitu cekatan. Bahkan ada yang saking cekatannya, begitu saya sejenak menatap papan menu yang ditempel di kaca, sang penjual langsung menyiapkan dua piring sembari berujar, "makan di sini dua kan?"

Namun perut masih terlalu dini untuk diisi makanan berat. Kami melangkahkan kaki menuju kedai kopi Tak Kie. Bagi banyak pengunjung Gang Gloria, kedai kopi Tak Kie adalah pusat perhatian dari semua jenis kuliner yang ada di gang legendaris itu.

Tempatnya tak terlalu besar. Tak ada papan nama besar. Bagian depannya malah tertutupi oleh gerobak penjual nasi campur. Sangat sederhana untuk sebuah kedai kopi yang sudah berdiri sejak tahun 1927.

Segelas es kopi susu kami pesan. Tak perlu waktu lama bagi saya untuk menandaskan isi gelas hingga tersisa es batu saja. Panas terik sekali di luar.

"Ada camilan gak?" tanya Budi sembari berharap. Ia sudah mulai beraksi rupanya.

Saya bertanya pada pelayan. Namun sayang, camilan hanya tinggal Bakcang. Namun tawaran untuk mencoba seporsi pangsit rebus dan bakso sapi susah sekali ditampik. Jadilah kami memesan satu porsi pangsit dan bakso untuk disantap berdua. Isinya: 5 pangsit rebus dan 5 bakso sapi.

Dan aduhai, saya bersumpah demi Toutatis, itu pangsit rebus terenak yang pernah saya makan. Budi pun setuju. "9 dari 10 Ran," katanya pendek sembari menyeruput kuah pangsit terus-terusan.

Selagi matahari belum terlalu meninggi, kami meninggalkan sejenak Tak Kie.

Baru saja melangkah beberapa depa, kami sudah bingung. Pasalnya terlalu banyak makanan yang layak coba di Gang Gloria. Pilihan kali ini berujung di dua kubu: Gado-gado Direksi atau Karilam Medan.

Nama pertama yang disebut adalah merk gado-gado legendaris. Namanya sudah jaminan mutu. Namun tempatnya, alamak sempit sekali. Hanya cukup memuat 4 atau 5 orang saja. Sematan nama tambahan "direksi" karena gado-gado ini adalah langganan para jajaran direktur perusahaan yang berada di sekitar daerah ini.

"Gado-gado sih bisa ditemui dimana saja, kalau Kari Medan kan gak semudah itu" ujar saya memberi usul. Budi menimbang dengan singkat, lalu setuju dengan saya.

Maka tujuan kami berikutnya: Karilam Medan. Ini kari khas Medan. Sedikit berbeda dengan kari ala Aceh yang kuat sekali tendangan bumbunya. Kari Medan ini juga favorit Bondan Winarno, sang penikmat kuliner mahsyur itu. Seporsi Karilam (tinggal pilih, mau kari ayam atau kari sapi) biasanya disantap dengan nasi putih atau bihun. Tinggal pilih saja. Namun karena saya bersepakat dengan Budi untuk tidak terlalu memforsir kerja lambung, kami hanya memesan seporsi untuk berdua. Tanpa nasi ataupun bihun.

Budi juga mendecak kagum dengan sayatan rasa yang ditinggalkan oleh kari ini. Dengan kuah yang keruh, tak dinyana bumbunyaringan saja. Justru ini menarik bagi Budi. Karena ia terbiasa memakan kari dengan jejak bumbu yang kuat. Budi merem melek menyendok kuah kari ini, sementara saya menyuap sedikit saja. 

Kami lalu sepakat untuk mengistirahatkan kerja usus dan lambung barang sejenak. Kami kabur sebentar ke lapak penjual majalah dan buku bekas tak jauh dari Gang Gloria. Saya mencomot beberapa majalah bekas dengan harga yang murah meriah: 10.000/3 eksemplar.

Matahari makin tak tahu sopan santun. Panasnya meneriki kepala tanpa ampun. Kami yang bagai mahluk nokturnal, berlarian kembali menuju Gang Gloria. Karena petualangan ini belum selesai.

Bondan Winarno pernah merekomendasikan satu sajian favoritnya di Gang Gloria: Nasi tim A Ngo. 

"Nasi tim-nya harum dan sangat lembut. Mungkin yang terbaik di seluruh Indonesia" puji Bondan. 

Siapa yang tak tergiur dengan rekomendasi seperti itu? Maka kami berulang kali menyusuri Gang Gloria. Dari depan hingga ke belakang, lalu kembali ke depan lagi. Tapi tak kunjung kami temukan nasi tim A Ngo. Saking seringnya kami mondar-mandir, para penjual makanan di bibir gang sudah malas untuk sekedar menawarkan dagangannya pada kami. Toh kalian tak beli juga, mungkin begitu pikir mereka.

Akhirnya karena menyerah, kami memutuskan untuk makan nasi tim di salah satu warung yang menyediakan menu ini. Kami berpikir mungkin ini yang dimaksud oleh Pak Bondan --sapaan akrab Bondan Winarno. Karena di sepanjang Gang Gloria tak jua kami temukan penjual nasi tim dengan papan nama A Ngo.

Namun dugaan kami salah. Setelah nasi tim ini ludes --dan tak lembut seperti rekomendasi Bondan. Jelas saja, karena bukan ini rekomendasi Bondan-- kami baru tahu kalau A Ngo berjualan di belakang restoran tempat kami makan ini. Namun lapaknya sudah tutup sedari tadi. Ini kami ketahui dari penjual cakue yang berjualan di restoran nasi tim tempat kami bersantap.

A Ngo memang sudah berusia lanjut. Bondan mengatakan kalau sang maestro nasi tim itu hanya berjualan pada akhir pekan saja, dan dengan durasi yang tak terlampau panjang. Saya menengok jam. Sudah lebih dari jam 1. A Ngo mungkin sekarang sudah beristirahat di kamarnya sembari mengibaskan kertas koran di depan wajahnya untuk mengusir peluh akibat terik yang kurang ajar.

Akhirnya kami memutuskan untuk mengakhiri petualangan kuliner ini di... Tak Kie lagi. Pesona es kopinya memang agak susah ditolak di hari yang teramat gerah ini. Namun kali ini kami memesan es kopi saja, tanpa susu. Harganya murah untuk ukuran kedai kopi legendaris: hanya 10.000 rupiah saja. Tambah 1.000 rupiah jika memakai susu.

Siang ini saya pungkasi dengan mengobrol banyak dengan Latif, pengelola Tak Kie sekarang. Darinya saya mendapat banyak cerita menarik tentang Tak Kie. Tulisan tentang kedai kopi bersejarah ini akan saya tulis khusus nanti.

Suara klakson kembali menggedor gendang telinga. Dingin dari es kopi sudah mereda. Saatnya menerabas panas kembali. 

Pulang.

post-scriptum: karena koneksi internet sedang jahanam, maka foto-foto akan saya unggah belakangan. Sementara tulisan dulu saja. Sekedar agar tak hilang dikhianati ingatan. 

Kamis, 12 Juli 2012

In Search of Schnitzel in Sumber Hidangan

Susy Guese sedang pening. Penulis dari Lonely Planet ini  mendapatkan tugas yang teramat sulit: mencari Wiener Schnitzel terbaik di Austria.

"In search of schnitzel in Vienna, it’s a tough job but someone has to do it" ujarnya bersaksi.

Dia tidak sedang membual atau omong besar. Mencari Wiener Schnitzel terbaik di Austria sama saja dengan mencari jarum di tumpukan jerami: nyaris mustahil. Sama seperti kalau kamu pergi ke Madura dan mencari Soto Madura mana yang terbaik.

Wiener Schnitzel memang sudah menjadi makanan rakyat bagi orang Austria, terutama Wina. Jika diterjemahkan secara harfiah, Wiener Schnitzel adalah schnitzel orang Wina. Meskipun, masih ada perdebatan panjang nan tak kunjung usai mengenai asal mula makanan ini.

William Harlan Hale dalam buku Horizon Cookbook dan Illustrated History of Eating and Drinking Throught the Ages, menjelaskan bahwa Wiener Schnitzel adalah turunan dari makanan khas Italia, Cotoletta Milanese, daging yang dibalur dengan tepung dan digoreng hingga berwarna coklat keemasan. Makanan ini jadi populer di Austria saat Roman Apicus, pimpinan tentara Romawi saat itu, menginvasi Austria. Tapi beberapa literatur --seperti buku masak klasik Gebachene Schnitzeln-- juga mengatakan, daging goreng berbalut tepung itu sudah jamak ditemukan di khazanah kuliner bangsawan Austria sejak jaman baheula.

Hingga sekarang, perdebatan panjang mengenai asal muasal Wiener Schnitzel masih berlangsung dan sepertinya memang tak bakal usai.

Tapi apakah sebenarnya schnitzel itu?

Situs mengenai sejarah masakan, kitchenproject.com, menjelaskan bahwa definisi kasar schnitzel adalah "...a thin crumbed slice of veal (usually 3 to 6 ounces) fried in oil and served with lemon, and often ligonberry jam and Erdapfel potato salad (German Potato Salad) Pomme Frits (French Fries) or boiled potatoes with parsley and butter."

Tapi lain lubuk lain belalang. Begitu pula schnitzel. Makanan ini berdiaspora ke daerah lain dan mewujud dalam bentuk yang berbagai jenis pula. Jika biasanya schnitzel menggunakan daging sapi, sekarang ada pula yang memakai daging ayam, babi, hingga kalkun. 

Susy sendiri yang harus belusukan ke Austria untuk mencari schnitzel terbaik, menjelaskan terma konvensional tentang schnitzel, dimana makanan tradisional kebanggaan Austria ini adalah daging sapi muda yang diiris tipis, dicelupkan ke telur, lalu di balur dengan tepung. Beberapa di beri penyelesaian akhir berupa pembaluran tepung roti, sehingga warna golden brown semakin terang terlihat. Lantas daging sapi goreng ini diperasi air lemon. Sesederhana itu.

***

Bandung sedang terik siang itu. Saya baru saja memarkir motor di sebuah tempat parkir liar di sudut Braga, kawasan tersohor di Bandung yang berisi banyak galeri kesenian dan juga restoran klasik. Saya sedang bersama Rani siang itu. Usai menaruh helm, kami berdua menyusuri Braga yang tak pernah sepi itu.

Kami begitu penasaran dengan Sumber Hidangan, sebuah rumah makan yang sudah berdiri semenjak tahun 1929. Rumah makan itu konon menyajikan berbagai penganan klasik yang namanya pun masih klasik. Dan yang tak kalah menarik, ada wiener schnitzel yang menurut kabar angin, rasanya sungguh lezat dan harganya pun bersaudara --jauh lebih murah ketimbang harga yang bersahabat.

Sebelumnya, saya sudah puas mengejek Rani habis-habisan. Ia pernah menghabiskan sebagian masa hidup di Bandung dalam kurun yang cukup lama. Tapi ia sama sekali tak pernah mendengar nama Sumber Hidangan, apalagi masuk ke dalamnya. 

Tak cukup jauh saya berjalan, sampailah kami pada rumah makan yang dituju. Letaknya di kiri jalan kalau kau melangkahkan kaki melawan arus jalan. Tak tampak plang penanda rumah makan. Hanya ada seorang penjual lukisan kaki lima, dan juga penjual koran. Mereka berbincang di depan restoran yang catnya sudah lapuk dan kelabu itu.

Tanpa perlu menunggu waktu lama, saya masuk ke dalam gedung luas itu. Ada beberapa meja dan kursi klasik yang ditata agak berjauhan. Sedang lampu-lampu dari jaman pra-kemerdekaan menggantung bebas dari atap. Di sudut yang lain, tampak lumut berwarna hijau hasil dari kelembaban yang sudah ada semenjak lama.





Restoran ini dibagi dalam dua bagian. Bagian pertama adalah bagian roti, dan bagian lainnya adalah tempat untuk bersantap. Di bagian pertama, ada jejeran roti penggugah selera yang dipajang dalam lemari kaca. Nama-namanya unik, beberapa masih menggunakan nama Belanda. Harganya sungguh sangat murah untuk ukuran restoran yang sudah berumur lebih dari 10 windu. Untuk bagian bersantap, tersedia beberapa pasang meja dan kursi yang terbuat dari besi.

Sumber Hidangan tampak cukup ramai siang itu, tapi tidak di bagian restoran. Hanya ada saya dan Rani, juga sepasang opa-oma berumur kisaran 70 tahunan. Selain itu nihil. Segera setelah duduk, seorang pria paruh baya berkumis dan berkacamata menghampiri kami. Namanya Anton. 

"Nama udara saya Setioko" ujarnya pendek sembari tersenyum.

Di paruh waktunya, ia bercuap-cuap di sebuah radio khusus memutarkan lagu-lagu Campursari. Ia memang berasal dari Jogja, tepatnya di daerah Gunung Kidul. Ia hijrah dari sana karena Gunung Kindul saat itu sedang tandus dan tak memberinya harapan apa-apa. Maka ke Bandung ia pergi dan menetap hingga kini.

"Para pelayan di sini memang durasi kerjanya lama. Saya sih baru 20 tahunan. Ada yang dari muda hingga meninggal tetap kerja disini" katanya sembari menyerahkan selembar menu. 

Kertas menunya bukan jenis menu ala restoran modern yang di tata dan dibuat sedemikiran rupa. Menu di restoran ini hanya selembar kertas lusuh dengan laminating yang ujungnya sudah mulai mengelupas. Tak ada visual menarik, tak ada gambar berbagai jenis makanan yang menerbitkan liur, tak ada pula font yang mencolok mata dan berbentuk indah. Semua diatur dengan sederhana.

Saya memesan seporsi wiener schnitzel lengkap. Harganya tak sampai Rp.30.000. Sedang Rani memesan seporsi bestik sapi komplit. Harganya Rp.25.000. Untuk minum, saya memesan menu yang bernama aneh: Fosco Susu. Saya berjudi. Sedang Rani menunjukkan tabiat sebagai mantan warga penghuni tanah Sunda, memesan teh tawar hangat. Fosco Susu datang mirip seperti milkshake coklat. Rupanya memang tak jauh berbeda. Fosco ternyata adalah susu yang dicampur dengan es krim rasa cokelat. Kalau Fosco soda, es krim akan dicampur dengan soda, bukan susu. Lain kali saya akan mencoba itu.





Selain menjual menu yang kami pesan, Sumber Hidangan juga memberikan beberapa alternatif menu. Dari yang halal hingga yang haram. Mulai nasi goreng, hingga gado-gado. Dari Sate sapi hingga sate babi. Selain itu, berbagai varian es krim turut menggoda genit. Dari jenis arben hingga moorkus. Semua dijual --sekali lagi-- dengan harga yang bersaudara kental. Saya lantas membandingkan harga es krim disini dengan harga es krim di Tip Top, rumah es krim klasik di Jogja, yang harganya pernah membuat saya meringis sambil menengok pedih ke dalam dompet.

Selagi menunggu pesanan, saya berkeliling sejenak. Memesan beberapa roti. Sayang, kroket legendaris Sumber Hidangan sudah ludes sejak beberapa jam lalu. Sepertinya terlalu siang saya datang.

Pesanan datang, saya bersorak gembira. Seporsi Wiener Schnitzel datang dengan tampilan yang menggiurkan. Daging sapi berukuran tebal nun besar, dibalut dengan tepung roti, lantas digoreng hingga berwarna coklat keemasan. Bentuk wiener di rumah makan ini tebal, tak seperti wiener di daratan Eropa yang diiris tipis dan memanjang. Pun tak ada irisan lemon untuk disiramkan.

Wiener Schnitzel Lezat Itu

Tak hanya daging sapi, ada pula selembar telur mata sapi yang ditumpangkan ke atas daging. Untuk yang khawatir tak akan kenyang jika tidak makan dengan nasi, jangan takut, ada potongan potato wedges dalam jumlah yang generous sebagai asupan karbohidrat. Cukup membuat kenyang. Selain itu juga ada pasukan sayur segar: selada, tomat, timut, dan buncis. Semua kombinasi itu lantas diikat dengan saus home-made berwarna coklat tua yang beraksen manis. Resep makanan ini konon masih sama dengan resep dari tahun 1929.

Daging sapinya mungkin bukan daging sapi muda, seperti yang diisyaratkan oleh warga Austria. Terlihat dari serat yang cukup pekat dan erat, yang memerlukan sedikit perlawanan untuk melumatnya. Tapi dagingnya lembut. Baluran tepung roti menghasilkan tekstur crunchy di luar, dan juicy di dalam. Sausnya memberikan nuansa yang menyenangkan: manis dan gurih. Tak perlu saus botol sebagai penambah rasa. Kalau ingin sedikit pedas, silahkan taburkan merica bubuk yang juga turut disediakan. Sayang, menurut saya, sausnya kurang kental. Sedikit terlalu cair untuk ukuran saus.

***

Susy melakukan beberapa riset panjang dan berliku untuk menemukan restoran mana yang menyajikan wiener schnitzel terbaik di Austria. Tapi tanpa dinyana, masakan schnitzel terbaik ia temukan di tempat yang tak pernah ia duga.

Karena lelah dan kedinginan, serta lapar yang menjulur, ia pergi ke sebuah restoran bernama Zur Goldenen Glocke. Ia hanya sekedar pergi tanpa ekspektasi apapun. Alasan ia pergi kesana adalah karena restoran itu dekat dengan hotelnya dan mereka menyajikan schnietzel.

Disana ia menemukan suasana Austria yang sesungguhnya. Tempatnya tenang, menu makanan adalah makanan tradisional Austria, dan bahan-bahannya berasal dari petani lokal. Selain itu sang juru masak sering keluar dapur untuk menemui tamunya dan bertanya apakah masakannya memuaskan atau tidak. Perpaduan antara atmosfir dan schnitzel yang sedap, membuatnya menobatkan Zur Goldenen Glocke sebagai restoran terbaik untuk urusan schnitzel.

"The quality of veal was apparent, along with the breading. Not greasy or overly puffy, this Wiener Schnitzel and its atmosphere were just right" tulisnya pada artikel berjudul In Search of Schnitzel in Vienna --yang judulnya saya comot dan modifikasi untuk tulisan ini.

Ia jelas terkejut. Ia sudah pernah menunggu antrian meja hingga 4 hari di sebuah restoran untuk mencicipi menu schnitzel yang konon paling lezat seantero Austria. Tapi ia menemukan schnitzel terbaik di sebuah restoran kecil berumur tua (berdiri sejak tahun 1886) yang sama sekali luput dari risetnya.

"However, after such careful research, I would have to say it was the corner restaurant, the one I didn’t know or plan on that served up the best Wiener Schnitzel, from atmosphere to taste"

Siapa juga yang menyangka, di Bandung, di sebuah restoran yang jauh dari konsep modern, di restoran yang dindingnya berlumut,  yang menyajikan menu dalam sebuah kertas lusuh, terdapat Wiener Schnitzel terbaik yang mungkin pernah ada. []

Rabu, 16 Mei 2012

New Day Rising*

Ketika sedang berada dalam middle age, masa remaja yang labil, ada beberapa hal yang akan membuat langitmu serasa runtuh. Misalnya: kamu diselingkuhi? Atau pacarmu tiba-tiba meninggalkanmu untuk menikah dengan pria yang jauh lebih mapan? Atau diputus secara sepihak? Itu kemungkinan yang bisa terjadi kapan saja kalau kamu memilih untuk berpacaran. 

Lalu apa selanjutnya? Kalian bisa menangis merengek sembari berharap sang pacar tidak meninggalkan kalian. Bisa juga bunuh diri mumpung obat nyamuk murah harganya. Atau menulis racauan galau di socmed dan memelihara dendam tetap menyalang. Tapi untuk para pejalan, jika galau cinta melanda, wajib hukumnya untuk mengenyahkan galau via traveling.

Bermula dari perbincangan absurd di twitter, akhirnya tercetus ide mengenai destinasi yang pas untuk dijadikan tempat untuk move on. Tempat itu bisa kota, ataupun obyek daya tarik wisata. Ada 5 orang yang akan menulis destinasi favorit mereka untuk melarung duka dan galau. Tiap penulis mendapat jatah 2 tempat. Jadi total ada 10 tempat yang bisa jadi referensi ketika kamu terserang gundah karena cinta.

1. Gili Meno




Almanak 2012 baru saja berjalan 2 bulan, saya sudah mengalami salah satu periode berat dalam hidup. Ada beberapa pilihan bagi saya dalam menghadapi masalah ini. Tapi saya memilih yang membuat saya paling tenang: traveling. Dengan memanggul ransel berisi tenda, misting, kompor, dan sleeping bag, saya mengarahkan motor ke arah timur, pergi ke pulau Lombok.

Lombok dikenal punya banyak pantai bagus. Dan sekarang 3 Gili (Air, Meno, dan Trawangan) menjadi salah satu primadona destinasi wisata di Lombok. Bagi yang suka keramaian, hilangkan duka lara kalian di Gili Trawangan, pulau kecil yang mirip Ibiza. Ada bar, cafe, restoran, dan segala macam tempat yang menawarkan kenikmatan surgawi. Keramaian tak pernah lindap. Selalu ada, 24 jam sehari, 7 hari seminggu.

Tapi saya enggan membuang galau di tempat ramai. Membuang galau di tempat ramai itu hanya bersifat tentatif, sementara. Maka saya mengalihkan tujuan ke Gili Meno, pulau terkecil sekaligus yang tersepi diantara 3 gili itu. Saya mendirikan tenda di bibir pantai. Bermain bola dengan anak-anak lokal. Mengobrol dengan penduduk setempat. 

Ketika malam tiba, pantai gelap sekali. Tidak ada penerangan. Tapi untung saat itu sedang bulan purnama. Saya buka pintu tenda, dan jadi sedikit terang. Saat-saat sepi seperti itu , saya seketika langsung berpikir "asu, laopo aku nang kene cuuuk? Dewean maneh". Tapi sumpah, itu saat-saat paling menenangkan dalam hidup saya. Tak ada suara manusia, tak ada suara apapun. Di depan ombak berkejaran.  Di saat seperti itu lah, saya mulai berkontemplasi mengenai banyak hal tentang hidup. Juga tentu saja apa yang akan saya lakukan selepas pulang dari Gili Meno.

Ketika pagi datang, saya buka tenda: air laut yang biru menghampar. Tinggal buka baju, langsung nyemplung. Mandi sepuasnya. Kalau sudah capai, tinggal menyeduh air untuk kopi. Setelah kopi habis, hamparkan matras untuk tiduran di bawah pohon cemara udang. Siang, bangun, diajak makan di restoran yang dikelola oleh seorang penduduk lokal yang berkenalan dengan saya. Gratis. Setelahnya, snorkeling menjadi pilihan yang menyenangkan.

Total saya menghabiskan 3 hari 2 malam disana. Di malam terakhir, saya dan kawan-kawan baru disana minum bir sembari bermain gitar. Saya tidur nyenyak, dan bangun dengan hati yang jauuuh lebih lega. Galau sudah saya larung di lautan. Yeah.

2. Yogyakarta



Salah satu lagu pop terbaik tentang Indonesia adalah "Yogyakarta" milik Kla Project. Tentu sebelum lagu magis ini dirusak oleh band warna janda yang memainkan lagu ini tanpa penjiwaan sama sekali. Fakk yuu.

Yogyakarta selalu jadi tempat yang menyenangkan untuk saya. Selalu ada sudut dan lorong untuk melepas penat. Termasuk galau. Menghabiskan waktu di Kaliurang sembari melihat Merapi, menelusuri pantai-pantai di Gunung Kidul, menyelusup di Pasar Beringharjo, berburu kaset bekas di pojokan, berbelanja di Malioboro, menyantap gudeg tengah malam, ngopi di angkringan, berburu buku dan majalah bekas di Shopping, atau mencoba peruntungan di beringin kembar. Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk meleburkan galau di udara. Saya sendiri bersyukur sejak September tahun lalu, berkesempatan tinggal di kota berhati nyaman ini. Dan menjelajah Yogya adalah suatu kenikmatan tersendiri bagi saya.

Lagu "Yogyakarta" sendiri tidak hanya bercerita mengenai keindahan Yogya. Tapi juga tentang rasa kehilangan. Katon bernyanyi dengan lirih, getir, tapi sekaligus tak menangisi kehilangan. Sedang Lilo dan Adi meramu musik dengan bersahaja tapi tetap begitu nyaman di dengar. Mereka menunjukkan bahwa kehilangan tak harus disikapi dengan sedu sedan. Ada banyak cara untuk terus melangkah.

Percayalah...

Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja

Di persimpangan, langkahku terhenti
Ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri, di tengah deru kotamu

(Walau kini kau t’lah tiada tak kembali) Oh…
(Namun kotamu hadirkan senyummu abadi)
(Izinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi)
(Bila hati mulai sepi tanpa terobati) Oh… Tak terobati

Musisi jalanan mulai beraksi, oh…
Merintih sendiri, di tengah deru, hey…

Walau kini kau t’lah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Izinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi
(untuk s’lalu pulang lagi)
Bila hati mulai sepi tanpa terobati, oh…

Walau kini engkau telah tiada (tak kembali) tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu (abadi)
Senyummu abadi, abadi…

post-scriptum: Dua destinasi ini ditujukan untuk tulisan kolaborasi antara saya, Dhani, Awe, Kinkin, dan juga Farchan. Kami sepakat untuk masing-masing menulis dua destinasi yang pas untuk dijadikan tempat untuk move on. Melangkah dari masa lalu dan beranjak ke masa depan. Tulisan lengkapnya nanti bisa dilihat di situs Hifatlobrain.net.

*Baidewai, "New Day Rising" adalah judul lagu dari Husker Du, yang seakan memberi semangat bagi kita untuk memulai hari yang baru.

Kamis, 03 Mei 2012

Menyusuri Lorong Dunia: Joyce, Bir, dan Lumpia Babi

"Nuran, jam berapa kira-kira kamu sampe Bonn?" tanya suara dalam telpon.

Itu mas Andy Budiman, seorang kawan dunia maya yang sekiranya akan menampung saya di Bonn. Saya bilang mungkin sekitar 20 menit lagi. Kereta saya akan berangkat dari Koln. Saya baru saja sampai Koln beberapa menit lalu, dan akan segera naik kereta menuju Bonn. Koln- Bonn tak begitu jauh. Bisa ditempuh dengan kereta selama 15-20 menit saja.

Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Tapi langit musim panas di Bonn masih benderang. baru saja gerimis usai. Saya turun dari kereta dengan carrier yang tampak makin menggembung. Udara dingin. Saya merapatkan jaket jeans. Di saat seperti ini saya mengutuk kecerobohan diri. Mengira musim panas di Eropa adalah nihil hujan dan dingin.

Mas Andy gampang dikenali. Badannya tinggi, tegap, dan sedikit tambun di bagian perut. Wajahnya ceria. Senyumnya selalu terkembang. Matanya sedikit sipit, dan ia memakai kacamata. Saya kenal dia dari jejaring pertemanan antar kontributor di Jakartabeat. Mas Andy adalah kawan dekat mas Yus Ariyanto dan mas Philips Vermonte, yang juga dekat dengan saya. Begitu tahu saya sedang ada di Jerman, ia menawarkan mampir. Selain itu, sebagai pecinta makanan enak, ia juga memberi beberapa saran bertahan hidup di Jerman yang makanannya --konon-- merupakan makanan paling tidak enak sedunia.

"Hoiii Nuran" teriak mas Andy dari kejauhan. Ah, rupanya saya juga gampang dikenali.

Mas Andy tak sendiri. Ia membawa kawannya, dua orang perempuan yang sepertinya seumuran. Saya berkenalan dengan mereka. Yang berambut pendek dan memakai topi bernama Mbak Ayu. Ia suka sekali tertawa. Lalu yang gopoh ingin membeli tiket pulang ke Munich bernama Mbak Dina. Ia berambut panjang keriting. Malam itu ia kangen suaminya.

"Duh, pokoknya gue harus pulang besok. Gue udah kangen laki gue" katanya sembari sibuk membeli tiket pulang di mesin penjual tiket.

Saya hanya tersenyum. Apalagi setelah mendengar guyonan mas Andy dan Mbak Ayu yang memprovokasi Mbak Dina agar jangan buru-buru pulang.

"Mau kemana ini enaknya? Ngebir di Joyce?" tanya mas Andy. Mbak Ayu mengiyakan. Saya dan Mbak Dina yang tamu jelas ikut apa kata tuan rumah.

Lalu kami melangkahkan kaki menuju tempat minum bir yang disetujui. Bonn kota kecil. Penduduknya hanya sekitar 324 ribuan. Meski begitu, kota yang dibelah oleh sungai Rhine ini sempat menjadi ibu kota Jerman Barat mulai tahun 1949 hingga 1990.

Bonn memiliki beberapa objek wisata yang banyak dikunjungi turis. Yang paling banyak dikunjungi tentu rumah kelahiran musisi klasik besar, Ludwig van Beethoven. Rumah itu sekarang dijadikan museum.

"Eh, kayaknya penuh deh" celetuk mbak Ayu sembari celingukan di pintu Joyce yang tadi disebut.



Joyce yang dimaksud ternyata sebuah bar Irlandia. Irish Pub. Nama lengkapnya: James Joyce Irish Pub. Gambar di plangnya adalah seorang lelaki dengan kacamata bundar, memakai jas berkancing dua, bertopi, memakai sepatu pantofel, menyilangkan kaki, dan memegang tongkat di tangan kanannya. Sepertinya itu potret dari James Joyce, sastrawan yang masyhur dengan Ullyses.

Saya ikut melongok ke dalam. Benar, penuh. Orang-orang duduk sembari bercengkrama. Pelayan berseliweran membawa baki berisi gelas-gelas besar bir. Setelah memastikan bahwa tak ada tempat lagi, kami beranjak pergi ke pusat kota. Ada bir yang enak disana, kata mas Andy. Selaku tamu, lagi-lagi saya cukup mengiyakan.

Mas Andy tidak berdusta. Birnya enak. Rasa pahitnya tak begitu kentara. Dan yang paling penting: baru dua tiga teguk, kepala saya langsung sedikit pening. Saya merasa seperti terangkat-angkat. Kepala berasa goyang.

Sepertinya saya bakal tidur nyenyak malam ini...

                                                                                    ***

Dunia, atau mari bilang takdir, punya cara khusus untuk mengembalikan kenangan yang mungkin sudah lama minggat dari benak.

Beberapa jam lalu saya bertemu dengan Wana dan Kinkin, dua orang traveler dari Jogja. Wana adalah penggagas majalah Travelist, media traveling dua bulanan yang di share gratis di dunia maya. Sedang Kinkin adalah sahabatnya yang kebetulan suka traveling. Mereka sedikit banyak mengingatkan saya pada Ayos dan Putri, dua orang sahabat saya yang juga sama-sama pecandu jejalan.

Kinkin memberi saya buku "Menyusuri Lorong-lorong Dunia 2" karya Sigit Susanto. Buku ini menceritakan traveling dari sudut pandang yang berbeda. Sang penulis selain traveler, adalah pecinta sastra. Tujuan perjalanannya kebanyakan ke tempat yang berkaitan dengan dunia sastra.

Dalam buku jilid 2 itu, di bab pertama, ia bercerita kalau ia tanpa sengaja "tersasar" ke sebuah gedung di Zurich, Swiss, yang ternyata merupakan sekretariat Yayasan James Joyce.

Sang sastrawan legendaris itu ternyata meningalkan banyak kesan dan jejak. Bahkan ada sebuah pub di Zurich yang diberi nama sama dengan sang sastrawan asal Dublin, Irlandia itu. Dalam pub itu biasanya diadakan diskusi membahas karya-karya Joyce. Mungkin sama dengan James Joyce Pub di Bonn. Atau malah mereka adalah satu jaringan waralaba? Entahlah.

Membaca cerita petualangan Sigit ke gedung Yayasan James Joyce itu melanglangkan ingatan ke Bonn. Padahal sudah nyaris setahun saya meninggalkan Bonn. Di kota kecil itu pun saya tak tinggal lama. Hanya 3 hari 2 malam saja. Selain ingat Joyce Irish Pub, keramahan kawan-kawan baru: mbak Dina, Mbak Ayu, dan seorang kawan perempuannya (asal Indonesia juga) yang saya lupa namanya, saya tentu teringat dengan kebaikan mas Andy.

Dan juga keisengannya...

                                                                                        ***

Suatu sore yang hangat di beranda apartemen mas Andy, pria lulusan Unpad itu menyodorkan sepiring lumpia hangat berukuran kecil. Uap masih mengepul. Warna lumpianya sempurna, emas kecoklatan.

"Baru beli kemarin dari bazaar" katanya singkat.

Tanpa babibu, saya sikat lumpia itu. Dengan cocolan saus berwarna coklat, lumpia itu makin menjadi rasa lezatnya. Kulitnya garing. Isi dalamnya berupa cacahan daging dengan rasa gurih. Daging sapi sepertinya. Seingat saya, 4 potong lumpia masuk dalam perut dengan tenang dan nyaman.

Beberapa menit setelahnya, sembari mengaso, mas Andy bertanya, "Nuran, kamu gak masalah kan makan lumpia tadi?".

"Ha? Maksudnya?" saya balik bertanya. Tidak paham dengan maksud pertanyaan mas Andy.

"Iya, lumpia tadi itu isinya daging babi" kata mas Andy tenang.

Saya terperanjat kaget! Tapi lumpia sudah tergilas oleh usus, masuk dalam lambung. Saya hanya bisa mengumpat sembari tertawa-tawa. Sialan. Hahaha.

"Aku pikir kamu gak ada masalah sama halal haram" sambung mas Andy, lebih tenang dari sebelumnya. Mukanya jahil sekali. Saya hanya bisa tertawa lebih keras.

Ah, lumpia babi dan bir? Dosa saya di Bonn tampaknya jauh lebih banyak ketimbang dosa saya selama 10 tahun di Indonesia. Hahaha. Kelak tragedi lumpia babi ini akan diceritakan ulang pada mas Yus dan mas Philips. Dengan segera, kisah ini menjadi klasik.

Sama klasiknya seperti Ullyses atau A Potrait of The Artist as a Young Man mungkin?

Sabtu, 17 Maret 2012

Banyuwangi, Bali, Chili, Gili (Part 4)

Ugh! Saya menggeliat malas. Sudah pagi tampaknya. Matahari menerobos dari balik tenda. Gerah! Saya memicingkan mata, duduk dan meregangkan tangan. Lalu membuka tenda.

Sreeetttt.

Lalu tampaklah pemandangan itu. Pasir yang putih. Air laut yang berwarna biru tosca. Langit yang biru cerah. Dan awan yang berarak manja. Ah, bagaimana bisa saya menolak godaan ini?




Saya langsung melompat keluar tenda, langsung menerkam air laut yang bergerak genit. Plassshh! Segar!

Oh ya, apa saya sudah cerita saya sedang ada dimana?

***

Saya melompat ke perahu kayu yang akan menuju Gili Meno. Gili Trawangan terlalu riuh dan terlampau padat. Cukuplah dilihat saja, tak untuk ditinggali. Karena sepertinya sunyi disini merupakan harga mahal. Jauh lebih mahal ketimbang sebatang korek api gas merk Tokai seharga 5000 yang saya beli disana.

Kapal melaju tenang. Awalnya saja. Karena 5 menit kemudian pasukan hujan menghunjam turun. Saya menengok ke atas, awan mendung sudah berarak. Sial. Dan benar saja, kapal sudah mulai goyah. Awalnya pelan. Lalu keras. Terbanting ke kanan dan kiri. Saya mulai sedikit tegang. Beberapa penumpang juga ikut tegang.

Tapi kalau mau tahu apakah sebuah kapal dalam kondisi bahaya atau tidak, tengoklah nahkodanya. Selama muka nahkodanya tenang-tenang saja, berarti kapal akan aman. Tapi kalau muka sang nahkoda jadi pucat, maka itu saatnya anda merapal istighfar sebanyak mungkin.

Dari balik bahu seorang ibu berkerudung, saya mengintip muka sang nahkoda di belakang. Ia tenang saja, menghisap rokok dengan nyaman. Ah saya tenang, berarti semua akan baik-baik saja. Eh tunggu, atau jangan-jangan ia sengaja menikmati rokok itu seakan itu rokok terakhirnya karena ia tahu kapal akan karam? Oh, I'm fucked up!

Untuk ketakutan saya tidak terkabul. Kapal berlabuh dengan aman di dermaga Gili Meno. Setelah menenangkan lutut yang agak gemetar karena diombang-ambing perahu, saya berjalan ke arah selatan pelabuhan. Mencari tempat untuk mendirikan tenda, lalu memasak mie. Saya lapar.

"Looking for room mister?" sapa seorang pria berbadan gempal.

Ah, tidak lagi. Saya kadang suka heran. Kenapa saya selalu disangka turis? Saya menduga mata saya penyebabnya. Saya sendiri baru sadar beberapa tahun lalu kalau mata saya ini ternyata termasuk sipit. Seorang teman perempuan bilang kalau saya mirip orang China. Apalagi kalau saya tertawa. Setelah saya kasih tahu, dengan bahasa Indonesia,  kalau saya mau bikin tenda, ia menunjuk satu area kosong di depan sebuah bungalow.

Maka saya bergegas ke sana. Lalu mengeluarkan isi tas. Mulai membongkar tenda dan tetek bengek lain. Tapi tiba-tiba seorang pemuda datang dan mengatakan kalau saya tak boleh bikin tenda disana. Alamak. Kok jadi gini? Tapi benar juga, saya baru sadar kalau saya berdiri pas di depan bungalow. Apa jadinya kalau tamu buka pintu, yang dilihatnya malah saya, bukan pantai, hehehe.

Akhirnya saya pergi sedikit lebih ke selatan lagi. Dan saya disadarkan kalau mendirikan tenda sendirian itu bukan pekerjaan yang mudah. Apalagi saya sudah lama tidak kemping, jadi sedikit kaku dalam mendirikan tenda. Ditambah angin yang kurang tahu adat. Jadinya berkali-kali saya terbungkus tenda sendiri. Huasu!

Tapi tiba-tiba seorang bule datang menghampiri saya.

"Looks like you need help my friend" katanya ramah. Saya hanya bilang yeah yeah sembari berusaha melepaskan diri dari kain tenda yang membelit saya.

Dibantu Marco, nama bule asal Australia itu, tak seberapa lama tenda pun sudah berdiri. Horay. Sebagai bukti kalau saya sudah pernah bikin tenda bareng bule, saya mengajak dia foto bersama, huehehe.

Tenda saya didirikan di atas pasir yang lembut. Dibawah pohon cemara udang. Pas menghadap timur, ke arah lautan lepas. Kalau matahari terbit, pasti ia akan terlihat gagah. Di depan saya tampak daratan, itu adalah Gili Air.










Gili Meno sepi sore itu. Hujan baru saja minggat, mendung baru saja mencelat. Hanya ada sepasang bule yang sedang terkena panah cupid. Mereka berpelukan, sesekali berciuman. Di kejauhan ada segerombolan anak-anak lokal bermain bola sembari tertawa riang. Di atas ranting cemara udang, burung-burung gereja bercicit riang. Sore yang menyenangkan.

Saya mengeluarkan kompor dan gas, misting, lalu menyeduh air. Menuangkan kopi, lalu mencampurnya dengan air mendidih. Apakah ada yang lebih menyenangkan ketimbang suasana sore yang tenang, kopi hangat, serta menunggu senja yang tak lama lagi akan datang?

***

"Wah, ada anak Jember yang kerja di tempatku, nanti ku kenalkan kau dengan dia" ujar Bang Togar semangat. Bang Togar adalah pria kisaran 40-an yang datang menghampiri saya ketika saya sedang asyik menyeruput kopi hangat di depan tenda. Kami berkenalan dan mengalami sesi obrolan yang menyenangkan.

Pria asli Medan ini sudah 10 tahun kerja di sebuah resort di Gili Meno. Resort tempatnya bekerja adalah salah satu resort pertama di pulau kecil dan sepi ini. Bang Tagor bekerja sebagai tenaga ahli elektronik.

"Selepas SMA aku langsung merantau. Ke Bali dulu lalu kesini. Nikah sama orang sini, sudah punya 3 anak" ujar pria berambut cepak ini. Istri dan anaknya tinggal di Lombok. Sesekali Bang Tagor pulang untuk menjenguk mereka. 

"Mumpung kau masih bujang, puas-puasin main lah. Nanti kalau kau sudah punya istri dan anak, tak bisa kemana-mana, hahaha" katanya menasehati sembari tertawa. Saya jadi ingat prinsip lama yang sampai saat ini sepertinya masih berusaha saya jalankan. Berusaha melihat dunia sepuas-puasnya selagi muda dan belum terikat. Nanti kalau sudah punya keluarga, jalan-jalan harus mengalah pada keluarga. Kalaupun jalan-jalan pasti harus ke tempat liburan keluarga. Karena kehidupan pria memang sudah berhenti ketika ia menikah.

***

Malam menjelang. Cuaca cerah. Bintang bergerombol di langit yang hitam. Angin pantai yang hangat menyapa. Saya sedang duduk di baruga --sebutan untuk gazebo di Lombok-- bersama Bang Togar dan Johan.

Nama terakhir yang saya sebut adalah orang Jember yang tadi disebut oleh bang Togar. Ia bermata sipit tapi berkulit gelap, hasil dari tanning di Gili Meno. Rumah Johan ada di daerah Jenggawah. Keluarganya membuka bengkel dan toko onderdil disana. Tapi semenjak senjakala orde baru, keluarganya yang dari etnis minoritas, pergi mengungsi ke Surabaya. Johan sendiri akhirnya memilih untuk kos. Ketika terjadi peristiwa 1998, Jember memang tak terlampau panas.

"Sampe sekarang rumahku masih ada mas. Tapi udah gak pernah ditempati, cuma sesekali aja diliat. Dijaga sama tetangga. Dulu kata tetangga, pas ada kerusuhan, bengkel sama tokoku malah dijarah sama polisi, hehehe" ujarnya sembari terkekeh.

Johan jago bermain gitar klasik.

Johan baru 4 bulan kerja di Gili Meno. Sebelumnya ia kerja di Bali, jadi juru masak di berbagai tempat. Ia mengaku sempat lama menjadi seorang hedonis. Nyaris seluruh waktunya --di luar waktu kerja-- dihabiskan untuk menjadi bar crawler, melompat dari satu bar ke bar lain. Mabuk dan menghabiskan uang hasil kerja. Tapi lalu ia jenuh. Kebetulan ia ditawari oleh sang bos untuk pindah di resort miliknya, di Gili Meno. Johan setuju. Ternyata setelah 4 bulan kerja di pulau berpenghuni sekitar 300 orang ini, ia sangat betah.

"Kerja disini enak mas. Suasananya tenang. Saya bisa mancing tiap hari, snorkeling, dan kerjanya pun santai" katanya girang. Setiap pagi ia menyiapkan sarapan untuk para tamu. Sedang untuk makan siang dan malam, resort tidak menyediakan karena restorannya sedang mengalami pemugaran. Praktis, Johan memiliki banyak waktu kosong. Waktu kosongnya itu ia habiskan untuk bersenang-senang. Renang, snorkeling, hingga mancing.

"Kapan hari saya dapat ikan segini" katanya sembari merentangkan tangan kirinya, menunjukkan ukuran dari ujung jari hingga pangkal lengan. Biasanya ikannya dibakar di pinggir pantai, lalu dimakan ramai-ramai bersama pekerja lainnya yang jumlahnya hanya 10 orang saja.

Bisa jadi Johan adalah gambaran anak pantai dalam lagu Imanez: hidup santai dan cinta damai.

A Man With Dragon Tattoo

Pria itu terkekeh pelan. Wajahnya unik. Seperti perpaduan antara Keith Richard dan Izzy Stradlin. Tirus, dan pipinya kempot, membuatnya tampak ompong. Rambutnya lumayan panjang, sebahu dengan gaya awut-awutan mirip rambut Keith, sang gitaris Rolling Stone di masa mudanya. Siang itu, menjelang saya snorkeling, Johan mengenalkan saya dengan pria ini. Pria yang memakai baju Jimi Hendrix berwarna putih kusam. Yang ketika dibuka, tampak tato naga berukuran besar di dadanya.

Namanya Ivan, sudah tinggal di Lombok sejak 1989. Dari Bandung --kampung halamannya-- ia menuju Senggigi. Sebelumnya ia 7 tahun tinggal di Bali. Disana ia belajar main gitar hingga masuk taraf mahir. Ia tak pernah bermain dalam sebuah band. Ia hanya bermain di sebuah kursi di pinggir jalanan Legian. Banyak bule-bule tertarik pada permainan gitarnya, berhenti dan memberikan applaus. Serta uang tentunya. Kumpulan penonton ini juga mengundang copet.

"Pernah ada orang datang ke saya, tiba-tiba ngasih duit, trus ngomong 'maaf Van, cuma bisa ngasih segini'. Ternyata dia copet yang kerja pas saya lagi maen gitar, hahaha" ujarnya terkekeh. 

Kisah hidup Ivan bagaikan novel petualangan panjang. Ia nyaris pernah menginjak semua daerah di Indonesia. Awalnya saya nyaris tak percaya. Tapi ketika ia dengan fasih menyebutkan daerah-daerah di Flores, Sulawesi, hingga Papua, saya terhenyak. Ia juga dengan lancar menceritakan bagaimana rute menuju daerah yang pernah dijelajahinya. Ia tak bohong. Setiap melakukan perjalanan, ia nyaris tak pernah bawa uang tunai. Ia membawa pernak pernik khas dari kayu, seperti gelang atau kalung, yang akan dijualnya di sepanjang perjalanan. Ia tidur di masjid, menumpang di rumah orang, dimanapun ia bisa berteduh. 

"Kalau kamu jalan-jalan cuma buat foto-foto, itu percuma. Gak akan tahu masyarakatnya. Tinggallah lebih lama. Paling gak dua bulan. Baru kamu bisa tahu, oh masyarakat disini itu seperti ini, masyarakat disitu itu seperti itu" ujarnya pendek sembari menyulut rokok.

Hari kedua di Gili ini sungguh menyenangkan. Ivan senang bercerita sembari terkekeh mengingat kenangan masa mudanya. Ia sekarang sudah nyaris masuk kepala 4. Sekarang ia hidup santai, tak memiliki pekerjaan tetap. Ia hanya sesekali menjual mushroom pada para turis.

"Mushroom mister" teriaknya kepada sepasang bule yang kebetulan melintas. Mereka menggeleng sembari tersenyum.

"Mushroom itu mabuk yang bikin inget tuhan. Kalo saya sadar, gak pernah saya ngucap astagfirullah. Tapi pas mabuk mushroom, liat geledek aja saya langsung teriak astagfirullah. Ngerasain angin, saya langsung subhanallah, hehehe" katanya sembari terkekeh. Ia juga bercerita banyak mengenai mushroom dan segala jenis drugs. Dulu ia memang pecandu. Hal yang membuat ia sempat dipenjara selama beberapa lama. Masuk dalam bui rupanya membuat ia sedikit trauma dan paranoid. Ia juga tidak mau difoto. Ketika saya bertanya banyak mengenai mushroom dan drugs, dia juga agak curiga.

"Ini nanya-nanya buat apa mas? Masnya wartawan ya? Ato dibuat skripsi?" katanya tersenyum. Saya berkali-kali merayunya buat mau dipotret. Tapi ia kukuh tak mau diambil gambarnya. "Waduh, jangan lah, hehehe" tolaknya halus sembari terkekeh. 

Langit memerah seperti anggur. Layaknya potongan lirik dari Payung Teduh. Matahari turun, tampak terlihat dari sudut selatan pulau. Johan sedang asyik di dapur, memasak terinjang --salah satu varian ikan teri yang digoreng kering dengan bumbu bawang putih dan garam. Konon lebih sedap lagi kalau dicampur dengan asam. Sayang dapur Johan tak memiliki persediaan asam.

Ivan bangkit, lalu berpamitan setelah makan malam usai. Entah mau kemana. Mungkin mencari mushroom untuk dijual pada para bule. 

"Nanti malam beli bir yuk, ini kan malam terakhir sampeyan disini, harus dirayakan" ujar Johan.

Saya mengangguk gembira. Bir dingin dan pantai. Ah sungguh perpaduan yang eksotis nian.

***



Pagi datang. Matahari seperti biasa, suka usil menyembul dari celah tenda. Membuat saya memicingkan mata dan kegerahan. Tapi itu yang membuat saya bangun. Menyadari bahwa kapal menuju Bangsal akan berangkat jam 8 pagi. Jadi mau tidak mau saya harus bangun, merubuhkan tenda, mengemasi barang bawaan dan pulang. Pulang menuju kehidupan nyata, setelah beberapa hari melarikan diri darinya.

Johan tersenyum menyapa saya. Ia akan menumpang motor saya menuju Mataram. Ia ditugaskan bosnya untuk survey tanah yang kelak akan dijadikan resort di daerah Bangsal. Ia lalu membantu saya mengemasi barang bawaan. Kami berjalan menuju dermaga. Membeli tiket, lalu ngopi sembari menunggu.

Tak lama kemudian kapal siap berangkat. Saya meloncat ke dalam kapal. Duduk di sebelah bule yang menggendong anaknya. Kami saling menukar senyum. Mesin kapal lalu dinyalakan. Brmmm. Kapal bergerak perlahan. Meninggalkan kawanan buih yang menggumpal-gumpal di belakang. Saya menatap Gili Meno yang tampak semakin kecil dengan pandangan nanar dan juga kebahagiaan. Beberapa serpihan hati saya sengaja saya tinggalkan di tempat yang damai ini. Siapa tahu saya berkesempatan balik lagi kesini.

So long Meno!

Sabtu, 14 Januari 2012

Hamburg Part 1: The Beatles Were Here!

Kanal, pasar loak, distrik merah, dan kisah-kisah grup musik legendaris asal Inggris. 
Hamburg menawarkan sensasi city tour yang sulit ditemukan tandingannya di Jerman.
Inilah pesona kota pelabuhan di utara Jerman.

***

Baru saja saya keluar dari stasiun bawah tanah St.Pauli, seorang pemuda setengah mabuk menghampiri. “The Beatles masih hidup Bung!” katanya sambil melenggang pergi. Saya tak mengerti apa maksudnya, sebab grup musik kondang itu sudah bubar sejak 1970. Seolah bisa membaca pertanyaan saya, si pemuda tadi menoleh, lalu mengatakan: “Di Hamburg Bung.”

Ia setengah mabuk, tapi tidak setengah gila. Kata-katanya ada benarnya. The Beatles, band legendaris asal Liverpool, sempat berlabuh di Hamburg sebelum kemudian merajai dunia. John Lennon dan kawan-kawan eksodus ke Hamburg pada 1960, saat kota pelabuhan di utara Jerman ini sedang giat berbenah selepas Perang Dunia II. Banyak pengamat musik bahkan mengklaim justru Hamburg, dan bukan Liverpool, yang berperan dalam membentuk karakter musik The Beatles. Dan di kota ini pula John, Paul McCartney, serta George Harrison, pertama kalinya bertemu Ringo Starr sang penabuh drum.

Pangsa pasar utama The Beatles adalah kaum pelaut yang haus hiburan usai menjelajahi samudra. Mereka biasa manggung di distrik St. Pauli yang mengoleksi beragam klub malam, diskotek, juga kasino. Layaknya grup perantauan yang sedang membangun reputasi, The Beatles rajin tampil di banyak tempat, mulai dari yang terkenal seperti Kaiserkeller, Top Ten, dan Mambo, hingga klub kecil semacam Indra, Chugs, dan Sacha’s.

The Beatles memang sudah bubar, tapi Hamburg belum merelakannya pergi. Di St. Pauli, persisnya di persimpangan Reeperbahn dan Große Freiheit, terdapat tempat wisatapopuler bernama Beatles-Platz. Daya tarik utamanya adalah patung-patung para personel The Beatles. Tak jauh dari Beatles-Platz ada Beatlemania Hamburg Museum (www.beatlemania-hamburg.com) yang dibangun pada 2009 dan menyimpan memorabilia seputar The Beatles, terutama dari masa-masa awalnya meretas karir di Hamburg. Beatlemania Museum mematok tarif masuk 12 Euro (setara Rp145 ribu). Usai membeli tiket, saya menerima“The Beatles Passport” berwarna cokelat yang memuat data pribadi saya.


Tur dimulai di lantai paling atas yang diberi nama “Port of Entry”. Area ini seolah menarik saya setengah abad ke belakang. Koleksinya mencakup data pribadi para personel The Beatles, artefak klub-klub di Hamburg yang pernah menampilkannya, hingga koleksi video yang dapat diputar menggunakan kartu khusus. Lantai empat yang tak kalah atraktif memajang beragam instrumen musik, amplifier, kostum, hingga ruang karaoke kecil. Dindingnya dihiasi foto-foto keseharian The Beatles yang sebagian diambil oleh fotografer Klaus Voorman. Lantai tiga menampilkan replika interior kapal selam yang diberi tajuk“Yellow Submarine” (judul album yang dirilis pada 1969), sementara lantai dua cenderung mengeksplorasi sisi musikalitas The Beatles.

Port Entry

Replika Jejeran Klub Malam

Tembok Coretan


Replika Drum dan Gitar The Beatles

 


The Beatles Ketika Masih Berlima




Yellow Submarine
 

Semua kenangan itu tak cuma bisa dilihat, tapi juga dibawa pulang dalam bentuk cenderamata. Di lantai dasar terdapat toko suvenir yang menjajakan pernak-pernik bertema The Beatles, mulai dari kaus, syal, cangkir, piring, poster, kalender, hingga cakram digital. Tur ziarah menggali memori The Beatles di museum telah memikat banyak orang dari penjuru bumi. Bersama saya, hadir pengunjung dari kota-kota di Jerman seperti Munich dan Bremen, serta dari luar negeri seperti Belgia dan Swiss. Wajah-wajah mereka umumnya terlihat antusias. Ucapan si pemuda mabuk di gerbang stasiun kian terasa kebenarannya.

Di Hamburg, The Beatles memang masih hidup...

(Bersambung)

Minggu, 18 Desember 2011

Apakah Saya Berada di Italia Atau Nanamia Pizzeria?


Kalau sedang berkunjung ke Yogyakarta dan ingin makan pizza khas Italia, silahkan berkunjung ke Nanamia Pizzeria. Restoran pizza ini sudah terkenal seantero Yogya. Pizza-nya tipis, crunchy, berbeda dengan pizza khas Amerika yang "gemuk" dan mengenyangkan. Ciri khas lain pizza Italia adalah dibakar dalam tungku berbahanbakar kayu pohon buah. Sehingga rasanya pun berbeda, ada harum yang khas yang menyeruak samar-samar. Tapi efek samping dari proses memasak tradisional ini adalah kita harus menunggu lebih lama. Terlebih lagi, Nanamia hanya punya satu tungku saja. Tungku ini diletakkan di depan restoran. Penerapan konsep open kitchen ini termasuk jarang di Yogya.

Arsitektur Nanamia yang khas arsitektur Mediterania membuat saya betah berlama-lama di tempat ini. Walau begitu, tempatnya terlalu sempit. Kalau makan berdua saja sih gak papa, tapi agak kurang nyaman kalau makan rame-rame. Untuk menanggapi keluhan itu, beberapa saat lalu pizzeria ini diperluas. Bagus deh.
 
Oh ya, bagaimana menunya? Ada banyak. Mari kita dedah satu-persatu.

Untuk antipasti (makanan pembuka), ada "Pane Aglio" yang merupakan 4 potong roti baguette dengan topping saus bawang putih. Ada juga "Bruschetta" yang merupakan 4 potong roti baguette dengan topping tomat, basil, dan minyak zaitun. Harganya antipasti berkisar antara 10-18 ribu.

Pada pasta, ada "Sphagetti Napoletana" yang merupakan spaghetti dengan campuran tomat, bawang bombay, zaitun hitan, dan juga basil segar. Coba juga "Spaghetti Marinara" yang merupakan spaghetti dengan saus tomat yang bercampur dengan aneka hasil laut. Untuk yang agak pedas, silahkan coba "Penne al Arrabbiata" yang merupakan penne (sejenis pasta berbentuk silinder) yang berpadu dengan saus tomat bercampur bawang bombay, cabai, dan basil segar. Lalu ada pula  "Lasagne Classica" yang merupakan lasagna home-made yang bercampur dengan daging cincang, saus tomat, basil, mozarella, dan juga krim keju. Untuk harga pasta, kisarannya antara 25-29 ribu.

Untuk pizza, ada banyak sekali pilihannya. Mulai "Mexicana" (pizza dengan topping saus tomat, mozarella, cabai jalapeno, bawang bombay, parika, jagung, dan kacang merah), "Quattro Stagioni" (pizza dengan toping saus tomat, mozarella, jamur, paprika, peperono, dan daging cincang) hingga "Nanamia Speciale" (pizza dengan topping saus tomat, mozarella, bawang bombay, nanas, cabai, dan ayam pedas). Semua tersedia dalam ukuran sedang dan besar. Harganya berkisar antara 35-59 ribu.

Untuk dolci (makanan penutup), ada "Gelato Con Cioccolato" (es krim dengan topping lelehan coklat), "Piatto Di Fruta" (seporsi potongan berbagai buah), hingga "Tiramisu". Banderolnya berkisar antara 15-17 ribu.

Siang itu saya ingin memesan "Diavola", pizza dengan rating 3 cabai yang berarti pedas, yakni pizza dengan topping saus tomat, mozarella, daging asap, paprika, cabai, dan juga jalapeno. Sayang, hari itu stok jalapeno di Nanamia sedang kosong. Akhirnya saya mengalihkan pesanan ke "Capriciossa." Pizza ini merupaan pizza dengan topping saus tomat, keju mozarella, jamur, daging asap, dan capers (pucuk bunga dari Capparis Spinosa, tanaman yang sering dijumpai di daerah Mediterania. Rasanya sedikit asam dan pahit. Buahnya kecil berwarna hijau, mirip cersen kalau di Indonesia).

Selain itu, saya memesan "Spaghetti al Tonno Picante", sphagetti saus pedas dengan campuran paprika, bawang bombay, dan juga tuna.

Kami memang menunggu agak lama untuk pesanan kami. Seperti yang saya bilang tadi, itu efek dari proses masak khas Italia yang memasak pizza dengan tungku, bukan oven listrik.

Spaghetti datang dulu. Tanpa banyak babibu, kami bertiga langsung menyantap. Satu porsi dibagi bertiga. Sphagetti licin tandas dalam waktu singkat. Walaupun memiliki dua tanda cabai, rasanya tak begitu pedas. Rasanya? Ya standar spaghetti lah :) Sausnya enak, ada campuran rasa pedas dari paprika dan rasa agak manis dari bawang bombay.


Setelah menunggu selama nyaris 30 menit, pizza pesanan akhirnya datang. Ukurannya besar. Tampilannya menggiurkan. Lelehan keju mozarella nyaris menutupi permukaan pizza. Diatas lelehan keju itu bertaburan potongan daging asap. Selain itu beberapa buah capers menyembul dari lelehan keju itu. Dan sama seperti spaghetti, nasib pizza ini tak jauh beda. Ludes dalam waktu singkat dimakan oleh 3 orang barbar yang kelaparan.


Pizzanya sendiri bercita rasa unik. Pinggiran pizzanya crispy. Selain itu buah capers memberikan aksen asam pahit yang unik, mengimbangi rasa asin dari keju dan gurih dari daging asap.

Oh ya, pizza ini memang harusnya dimakan pakai tangan. Di Italia, orang memakan pizza dengan tangan, bukan dengan pisau dan garpu. Dan finger licking seusai makan itu memang nikmat tiada tara :)


p.s Selain Nanamia, ada lagi sebuah pizzeria di daerah Gejayan. Namanya Mondo. Saya juga pernah mencobanya beberapa waktu lalu. Nanti akan saya tulis reviewnya.