Tampilkan postingan dengan label Perancis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perancis. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 November 2011

Once Upon A Time in Paris (1)

Dua perempuan paruh baya itu adalah dosen di jurusan kehutanan. Ibu Zuraida yang berperawakan lebih kecil namun ceriwis itu mengajar di Institut Pertanian Bogor. Sedang Ibu Rahma yang kalem itu mengajar di Universitas Sumatera Utara. Keduanya baru saja mengikuti simposium di Alba, Italia. Lalu mereka melangkahkan kaki menuju Paris. Jalan-jalan sekalian pulang, karena pesawat yang akan membawa mereka pulang berangkat dari Paris.

Ibu Zuraida (kiri) dan Ibu Rahma

Kami akan menaiki kereta yang sama menuju Paris. Kami banyak ngobrol sore itu sembari menanti kereta datang. Dua orang ibu ini bercerita bagaimana susahnya pergi berdua dengan membawa sekitar 6 koper berukuran raksasa.

"Tadi itu mau ke toilet sampai gak bisa, karena bu Rahma takut ditinggal" kata Bu Zuraida kocak. Yang dituding hanya bisa mesem-mesem. 

Tak berapa lama kereta pun datang. Kereta TGV kayaknya. Yang konon merupakan salah satu kereta tercepat di Eropa. Tapi saya juga ragu, jangan-jangan ini kereta EC 9248, salah satu varian kereta antar negara di Eropa.

Meski dunia sudah mengakui emansipasi, namun tetap saja kalau berurusan dengan barang berat, perempuan selalu menyuruh lelaki untuk mengangkatnya. Kalau tak mau, bisa-bisa dituding tak gentle. Oke, jadi saya berusaha mengangkat beberapa koper yang berat itu. Dua orang ibu itu menyemangati saya terus-terusan. Saya ngos-ngosan. Mengangkat koper ini sungguh berat dan tak praktis. Karena itu saya lebih suka traveling menggunakan ransel. Efektif dan efisien.

Setelah nyaris separuh nyawa tercerabut, semua koper pun berhasil diusung ke dalam kereta. Suasana kereta menyenangkan. Meski tak seberapa lapang, suasananya nyaman sekali. Dengan air conditioner yang bertugas sebagaimana mestinya, mengatur sirkulasi udara, bukan untuk mengeluarkan udara dingin. Jadi ingat kereta eksekutif di Indonesia yang kadang menyetel suhu ac terlalu rendah sehingga penumpang kedinginan. Di dalam kereta, kami duduk dengan tenang, berusaha menikmati pemandangan sepanjang Torino menuju Paris. Di perbatasan Italia-Perancis pemandangannya begitu indah.

Ada jejeran pohon cemara di lereng gunung yang berbatu. Lalu di sebelahnya ada sungai yang alirannya deras. Di pinggir sungai itu ada beberapa rumah dari kayu. Sangat cantik. Mata jadi malas untuk terpejam walau ngantuk sudah memanggil.


Tak berapa lama, datang seorang kondektur berkebangsaan Italia. Kelihatan dari namanya. Dia memeriksa tiket semua penumpang. Lalu ketika tiba giliran saya, saya menyodorkan tiket eurail. Ia melihatnya sejenak, lalu bercetus "so, the payment should be 17 euro". Saya pun bingung. Selain bahasa Inggris-nya tak jelas, saya bingung kenapa saya harus membayar lagi.

Saya pun ngotot tak mau bayar. Walaupun sebenarnya sia-sia, karena saya yakin sengotot apapun saya berargumen, saya pasti harus membayar. Tapi lebih baik gagal, daripada tak mencoba sama sekali. Ya itung-itung mengasah skill debat dalam bahasa Inggris, hahaha.

Si kondektur tampak bingung karena saya merepet cepat dalam bahasa Inggris. Si Italiano ini memang tak begitu menguasai bahasa Inggris. Lalu ia mencari penumpang yang bisa berbahasa Inggris, lalu menerjemahkan perkataan saya ke dalam bahasa Italia, lalu menerjemahkan perkataannya ke dalam bahasa Inggris.

Jadi intinya kereta yang saya naiki ini bukan kereta biasa. Intinya: tetap harus membayar 17 euro. Karena saya sudah puas mendamprat pak kondektur itu (walaupun ia tak salah, saya yang salah dan sok tau), akhirnya saya memutuskan untuk membayar.

Perjalananan kami isi dengan ngobrol. Sesekali tidur ayam. Kadang ngemil kentang dari Torino. Dari jadwal, diperkirakan kereta sampai pukul 23.34. Lama perjalanan sekitar 6 jam. 

Setelah berapa lama, kereta tampak berjalan melambat. Dari kejauhan tampak lampu berpendar-pendar riang. 

Paris!

Gare de Lyon

Minggu, 07 Agustus 2011

Notre Dame dan Before Sunset


Jesse:
I heard this story once about when the Germans were occupying Paris and they had to retreat back. They wired Notre Dame to blow, but they had to leave one guy in charge of hitting the switch. And the guy, the soldier, he couldn't do it. You know, he just sat there, knocked out by how beautiful the place was. And then when the allied troops came in, they found all the explosives just lying there and the switch unturned, and they found the same thing at Sacre Couer, Eiffel Tower. Couple other places I think...

Celine:
Is that true?

Jesse:
I don't know. I always liked the story, though.

Sabtu, 06 Agustus 2011

Ciabatta dan Setangkup Sandwich Keju



Paris adalah kota yang sangat cantik. Saking cantiknya, ia berhasil membuat saya terbius, terus berjalan kaki, walau nyeri sudah terasa di bagian betis dan dengkul. Bahkan gedung perkantoran pun dibuat begitu elok. Membuat saya betah berlama-lama melangkahkan kaki.

Dari kastil Notre Dame, saya ingin berjalan kaki menuju Musee du Louvre alias museum Louvre. Di tengah perjalanan, saya kelaparan. Tak terisi sejak pagi, membuat para cacing dalam perut memainkan musik keroncong.

Saya tak perlu khawatir. Ada banyak jejeran penjual makanan di Paris. Tinggal memilih saja mana yang sesuai selera.

Akhirnya saya memilih satu toko roti yang terletak hanya beberapa meter di sebelah selatan Notre Dame. Banyak jenis roti disana. Termasuk Ciabatta. Roti ini adalah roti khas Italia yang bertekstur sedikit keras dan dalamnya berongga. Roti panjang ini lantas diisi berbagai topping. Mulai daging ayam, daging sapi, hingga ham. Ada juga Ciabatta sayuran untuk para vegetarian. Tapi harga yang terlalu mahal untuk sepotong roti (4 euro) membuat saya memilih roti lain.

Saya memilih cheese sandwich biasa. Dua lembar roti tawar dengan daging asap dan keju mozzarella di tengahnya. Ketika dihangatkan, keju mozzarella kembali meleleh, lumer di hard palate alias dinding atas tenggorokan. Begitu lezat dan menimbulkan liur. Tekstur roti tawar ini begitu lembut dan empuk, tapi tetap krispi karena dipanggang.

Ah, hari di Paris menjadi tambah renyah.

Minggu, 26 Juni 2011

Makam Tuhan Dan Hal Lainnya


Akhirnya saya berhasil mencentang salah satu dari banyak daftar mimpi saya: mengunjungi makam Jim Morrison.

Ketika sampai di depan makamnya, melihat nisan sang rock star dengan mata kepala saya sendiri, saya merasakan perasaan yang aneh. Saya tak pernah lupa perasaan itu. Saya datang, duduk, mengelus nisan, mengeluarkan pemutar musik, memutar lagu Riders on the Storm sembari duduk di makam entah punya siapa yang terletak pas di depan makam Jim. Ketika itu hari sedang cerah. Angin pun ramah disana. Seperti mendukung suasana syahdu yang temaram.

Saya duduk dan mendengarkan lagu-lagu The Doors maupun lagu-lagu dari album An American Prayer selama hampir 1,5 jam. Pas di depan makam pria bernama asli James Douglas Morrison itu. Makam Jim sendiri berbeda dengan makam yang selama ini ada di gambaran saya. Total 3 jam lebihsaya berada di kompleks permakaman Pere La Chaise. Termasuk kesasar ketika berusaha mencari makam Chopin dan Wilde.

Kisah perjalanan menuju makam ini akan sangat panjang. Nanti saya cicil pelan-pelan. Saya punya hutang banyak sekali tulisan untuk blog ini. Mulai dari suasana pasar loak di Altona, Hamburg; dunia malam yang gempita di Repperbahn, perjalanan ke Venezia, Roma, hingga Torino; sampai perjalanan ke Paris yang menyenangkan.

Nanti dulu ya. Tadi saya baru sampai di Bonn sekitar jam 9 malam. Langsung diajak nongkrong oleh tuan rumah, Mas Andy Budiman. Nanti semua akan saya tulis dan aplot kalau saya sudah sampai di Hamburg. Sementara ini saya mau istirahat dulu. Ngantuk.

Selamat pagi semua...