Tampilkan postingan dengan label Meransel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Meransel. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Februari 2015

Kereta Menuju Antah Berantah di Siberia


Stasiun Kereta Severobaikalsk (Getty Images)

Dibangun di sebuah daratan-tak-bersahabat dengan musim dingin yang ekstrim, jalur Baikal-Amur Mainline sepanjang 3.140 kilometer dengan hebat membuka jalan di beberapa daerah Rusia yang kurang diakses.

Oleh: Anna Kaminski

Aku terbangun saat kereta yang bergerak lambat dan membuat ngantuk, tiba-tiba tersendat dengan kasar. Aku sedang berada di sebuah daerah entah apa namanya, di Baikal-Amur Mainline (BAM), jalur kereta api sepanjang 3.140 kilometer yang berada di Siberia bagian utara. Aku sedang menuju barat, pulang menuju rumah.

Jam masih menunjukkan pukul 8 pagi, dan para penumpang lain di platzkartny, alias kereta kelas tiga, juga mulai bangun. Ada dua penumpang baru di kompartemen tidur, yang naik di tengah malam, dari sebuah tempat di barat Komsomolsk-on-Amur. Andrei, yang mirip George Clooney ala Rusia, baru tuntas menenggak sekaleng bir Baltica ukuran satu liter, dan ia sedang menuju utara, di luar kota Neryungri, untuk bekerja di sebuah tambang.

Yura kembali ke Tynda, kampung halamannya, karena bekas tempat kerjanya --sebuah tambang di dekat Khabarovsk menunggak gajinya selama empat bulan. "Beberapa orang teman menghubungiku, katanya ada pekerjaan di kampung," katanya.

BAM berawal pada dekade 1930-an, sebagai proyek  besar nan ambisius, yang akan membuka jalan di areal-areal Rusia yang kurang terjamah, memudahkan akses ke tambang-tambang mineral di Siberia, sekaligus mendukung migrasi ke daerah itu.

Berada sejajar dengan jalur rel Trans Siberian --dari persimpangan Tayshet di barat, hingga Sovetskaya Gavan di pantai Pasifik-- salah satu tujuan BAM adalah mengalihkan lalu lintas kereta Trans Siberian yang terlampau sibuk. Tapi meskipun menelan biaya miliaran rubel --dan konstruksinya belum jua rampung hingga 1991-- jalur Baikal-Amur Mainline masih kurang terpakai.

Tidak seperti kota-kota sibuk di jalur Trans-Siberian, yang mengalami perubahan drastis selama beberapa tahun terakhir karena meningkatnya lalu lintas kereta dan datangnya para pelancong asing, kota-kota di sepanjang jalur BAM masih merupakan bagian dari daerah yang terlupakan. Arsitektur warisan era Soviet pun masih tak berubah.

Jalur BAM hanya berjarak 400 kilometer di utara jalur Trans-Siberian, tapi perbedaannya begitu mencolok: penumpang BAM cenderung didominasi oleh orang lokal dan miskin --dan dengan pengecualian di daerah Severobaikalsk (tempat naiknya penumpang dari Danau Baikal), sangat sedikit orang asing yang menaiki kereta BAM.

"Kamu sudah pernah coba makan kaviar?" tanya Valera, seorang pria blonde dengan bekas luka di pipi. Dia sedang menuju tempat kerjanya, tambang emas di utara Tynda, dan saudara perempuannya membekalinya satu kaleng kaviar. Kami memakan kaviar itu dengan sendok besar, lalu membanjurnya dengan teh hitam yang panas dan legit.

Tanya, seorang perempuan berumur 21 tahun dari desa Fevralskoye, yang terletak di antara Komsomolsk-on-Amur dan Tynda, menolak halus Andrei yang sedang mabuk dan sibuk menggodanya.

Semua orang ingin tahu bagaimana kehidupan di kampung halamanku, Britania Raya. Berapa biaya sewa apartemen satu kamar? Berapa harga sekerat roti? Bagaimana cuacanya? Mereka tertawa sewaktu aku bilang kalau, selama berpuluh tahun, cuaca paling dingin di Britania Raya adalah -12 celcius. Yura bilang kalau sedang musim dingin, suhu di Tynda mencapai -47 celcius.

Saat Yura sekeluarga pindah ke Khabarvosk, di mana cuacanya tak pernah lebih dari minum -30 celcius, anak lelakinya bertanya, "Ayah, kapan musim dingin datang?"

Di luar, pemandangan hutan yang rapat seperti tidak akan berakhir. Kami berhenti di kampung kecil bernama Etryken, salah satu perkampungan yang dibangun untuk melayani lalu lalang kereta barang. Tapi keinginan itu tak pernah terwujud, meski jalur ini begitu kaya akan potensi tambang. Sejumlah proyek pertambangan yang direncanakan pada masa senjakala Uni Soviet, tak pernah terwujud. Hal itu mengubah perkampungan menjadi kota hantu, karena generasi muda di sana bermigrasi ke kota-kota lain untuk mencari kerja.

Menjelang malam, Aku ngobrol dengan Nikita, yang berasal dari Khabarovsk. Meski berhasil lulus kuliah, dia tetap mencari kerja di tambang guna menghidupi keluarganya. "Keinginanku cuma ingin hidup dan kerja dengan bermartabat, menghasilkan uang yang cukup untuk membesarkan anakku, sesekali pergi berlibur, dan hidup tenang karena pekerjaanku stabil," ujarnya. Dia menambahkan kalau dia lelah melihat korupsi, birokrasi, ketidaksopanan, dan kurangnya patriotisme. "Semua orang mengambil untuk diri mereka sendiri. Rusia terbagi menjadi 'golongan-golongan', dan jika kamu bukan bagian dari mereka, maka sulit untuk mendapat apapun."

Keesokan paginya, kami turun di Tynda, ibukota tidak resmi BAM, sekitar 7.000 kilometer di timur Moskow. Stasiunnya diselimuti banyak poster tua nan pudar berukuran besar, yang merayakan ulang tahun ke 35 stasiun itu, pada tahun 2009 silam: "Jalan ini dibangun dengan cinta." Jalur kereta ini adalah kejayaan umat manusia atas alam, dibangun di daratan yang tak bersahabat, dingin bukan kepalang kala musim dingin datang, dan langit musim panas selalu dipenuhi komplotan nyamuk.

Tapi para anggota idealis Komsomol (Liga Komunis Muda) yang dianggap berjasa menyelesaikan BAM, sebenarnya hanya tinggal menyelesaikan bagian akhir saja; sebelumnya, di antara tahun 1930-an hingga 1950-an, jalur kereta api ini dibangun dengan darah dan air mata setidaknya setengah juta orang, termasuk para tahanan di gulag dan tahanan perang dari Jepang.

Meski telah berusaha keras, aku tak bisa menemukan daya tarik utama di Tynda: patung pekerja BAM, digambarkan sebagai seorang lelaki berotot yang memegang godam. Ini adalah monumen yang paling terkenal di BAM, sebagai simbol usaha keras membangun jalur kereta api dan seharusnya juga menjadi contoh spektakuler tentang gagrak realisme sosial. Aku berjalan di sepanjang jalan utama, melewati patung palu arit, Hotel Yunost –tempat tinggal penulis perjalanan Dervla Murphy saat menyelesaikan buku Through Siberia By Accident-- beberapa blok apartemen identikit, dan beberapa gerai shashlik (daging tusuk, mirip kebab). Malah, secara tak sengaja aku mendapati Museum Sejarah BAM, yang terletak di samping replika barak para pekerja BAM di masa pembangunan jalur kereta api.

Anna Nikolayevna, seorang kurator paruh baya, dengan bangga mengajakku berkeliling dan menunjukkan koleksi kebanggaan museum, termasuk artefak Evenki (sebutan untuk penggembala rusa kutub yang berpakaian mirip shaman, dan mengenakan sepatu berbulu); telepon era 1980-an yang digunakan sebagai alat komunikasi antar kota BAM; dan foto para pekerja rel yang sudah mulai buram. Dengan was-was, ia berbisik, memberi tahu kalau patung pekerja BAM sudah dipindah di tengah malam, beberapa tahun lalu. Tidak ada yang tahu patung itu dipindah ke mana.

Saat kembali naik kereta menuju Severobaikalsk, kontur bumi menjelma pegunungan, dan kami melewati hutan lebat yang dialiri  sungai-sungai lebar dan gletser. Halimun turun perlahan menutupi lereng pegunungan yang terjal. Tetanggaku kali ini adalah Galya, pensiunan induk semang yang pindah dari Pegunungan Urals ke Siberia di 1970-an untuk bekerja sebagai relawan liga komunis muda di BAM, tergoda oleh bayaran tiga kali lipat; lalu ada Valera dan Nastya, pasangan pramuwisma kereta api yang sedang cuti. Galya memberitahuku kalau kehidupan di era komunis "seperti di surga", dan dia bisa menabung guna membeli apartemen untuk dia dan anak-anaknya. Dia memberiku sosis dan tomat yang ditanam di lahannya sendiri, menolak menerima apapun sebagai timbal baliknya.

Valera balik dari tongkrongannya di gerbong lain, mabuk dan bersimbah darah. Dia minum terlalu banyak vodka, kehilangan telepon selulernya dan menuduh teman minumnya mencuri ponselnya. "Kasian Nastya, dia pasti menderita punya suami seperti itu," kataku. Galya tak setuju: "Mereka cocok satu sama lain; Nastya meninggalkan suaminya untuk bersama dengannya." Lalu, dengan gaya orang tua Rusia yang sok akrab berlebihan, Galya menceramahiku kalau perempuan seumurku seharusnya sudah punya anak. Aku lega saat sampai di Severobaikalsk dan berpisah dengannya.

Jika Galya menjadi perlambang keteraturan dan kekakuan ala Soviet kuno, lantas Anya, yang juga turun di Severobaikalsk, adalah yang terbaik dari generasi baru Rusia. Mengabdikan diri pada konservasi, dia adalah anggota Great Baikal Trail, sebuah lembaga nirlaba yang punya visi mengenalkan ekowisata di area Baikal. Setiap musim panas, relawan lokal dan luar negeri berkumpul di Danau Baikal, danau tertua, terdalam, dan terbesar di dunia, untuk membuat dan meletakkan papan penunjuk arah, juga memperbaiki jalur pendakian yang menyusuri danau. Jennifer dan Joy, sukarelawan Amerika yang menemani Anya, berasal dari area dekat Danau Tahoe di California, merupakan bagian dari pertukaran pelajar antara Rusia dan Amerika Serikat, yang belajar tentang konservasi dan ekologi.

Sebelum kembali ke BAM dan menuju Rusia Barat, aku mengucapkan salam perpisahan ke Danau Baikal. Malam itu dingin dan hujan sedang turun, dan kami berempat berendam di pemandian air panas Goudzhekit --firdaus bagi para pelancong yang belum mandi selama berbulan-bulan. Aku mengapung dengan ringisan bodoh di wajahku. "Di musim dingin, saat suhu mencapai minus 40 celcius, rasanya bahkan jauh lebih baik," kata Anya sembari tersenyum. []

Post-scriptum: diterjemahkan dengan kasual dari artikel "A Train to Nowhere in Siberia" oleh Anna Kaminski. Artikel aslinya dimuat di situs BBC, bisa dibaca di: http://www.bbc.com/travel/story/20140113-russias-rails-less-travelled

Jumat, 23 Januari 2015

Pelindung Datuk-Datuk Terakhir



"Namanya Mul," kata Rahmad Wahyudi memulai ceritanya.

Berdasarkan cerita masyarakat di sekitar Taman Nasional Bukit Tiga Puluh, Mul berasal dari Palembang. Kerjanya masuk dan keluar hutan mencari burung langka. Terutama Murai. Sekali masuk, ia bisa berminggu-minggu tinggal dalam hutan. Kalau perbekalan habis, atau butuh sesuatu, Mul akan turun di desa terdekat untuk belanja.

Menurut Rahmad, Mul dikenal sebagai pemburu Murai hutan. Tiap ekor yang ditangkap, Mul mendapat Rp 1 juta. Biasanya, saat keluar hutan, Mul membawa hingga 10 ekor murai hutan. Dulu, banyak penangkap murai tak mau menangkap murai betina. Alasannya: murai betina akan bertelur dan menghasilkan murai baru. Sekarang, karena semakin banyaknya permintaan, murai betina pun turut ditangkap.

"Gara-gara itu, sekarang tiap saya masuk hutan, sudah jarang ada suara Murai. Dulu kan nyaring banget," kata Rahmad gemas.

Suatu hari, Rahmad mendapat laporan dari warga sebuah desa. Mul sedang singgah di desanya. Rahmad pun buru-buru pergi ke desa yang dimaksud. " Tapi pas saya sampai, dia sudah hilang," kata Rahmad yang merupakan pimpinan Yayasan Penyelamatan dan Konservasi Harimau Sumatera (PKHS).

Mul menghilang dengan cepat. Namun Mul selalu meninggalkan jejak yang macam ejekan kepada para awak PKHS maupun polisi hutan: coretan namanya di pohon. Mul sudah lama dianggap sebagai residivis rimba.

Kelicinan Mul dan hilangnya berbagai satwa di Taman Nasional Bukit Tiga Puluh hanya beberapa cerita saja yang dialami oleh para anggota PKHS. Ia adalah lembaga nirlaba yang berfokus pada perlindungan dan konservasi harimau Sumatera. Lembaga ini resmi dibentuk pada tahun 2007. Sebenarnya lembaga ini adalah terusan dari lembaga Sumateran Tiger Project yang lantas berubah nama.

Penyandang dananya adalah Sumateran Tiger Trust yang bermarkas di Inggris. Namun sejak tahun 2012, PKHS mendapat hibah dari Tropical Forest Conservation Action Sumatera (TFCA Sumatera). Ini adalah skema pengalihan hutang untuk lingkungan antara Pemerintah Amerika Serikat dan Indonesia. Hibah ini adalah mekanisme untuk mengurangi hutang luar negeri bagi negara-negara yang punya kekayaan hutan tropis, termasuk Indonesia. PKHS dianggap sebagai salah satu lembaga yang secara konsisten melakukan restorasi dan perlindungan spesies.

Sejak mendapat tambahan dana hibah dari TFCA Sumatera, PKHS pun berlari semakin kencang. Salah satu kegiatan rutin mereka adalah pemantauan harimau sumatera dalam jangka panjang. Cara yang selama ini dipakai adalah memasang camera trap, alias kamera jebakan, di pohon untuk memantau harimau Sumatera. Kamera ini tersebar di berbagai titik.

Memasang kamera ini bukan pekerjaan mudah. Para awak PKHS harus mengetahui lebih dulu jalur yang dilewati oleh harimau.

"Tahunya ya dari tanda sekunder. Mulai jejak kaki, sampai kotoran. Lalu menentukan kordinat. Dari sana kita bisa memperkirakan jalur yang dilewati harimau," kata Rahmad.

Setelah kamera dipasang, bukan berarti masalah selesai. Kamera yang dipasang oleh PKHS adalah kamera dengan tingkat sensitivitas gerak yang tinggi. Bahkan daun yang bergerak kena angin pun bisa otomatis terekam. Karena dianggap benda aneh, banyak orang lokal yang memandangi kamera ini lama-lama.

"Mereka merokok di depan kamera. Seharian. Dan itu kamera terus merekam," kata Rachmad sembari terbahak.

"Yang paling lucu ya anak-anak dari Talang Mamak atau Anak Dalam. Mereka joget-joget di depan kamera. Tapi mereka gak pernah merusak kamera. Mereka hanya penasaran. Yang berusaha merusak itu biasanya pemburu ilegal."

Masalah klise lain adalah beratnya medan yang harus dilalui. Punggungan buki di Taman Nasional Bukit Tigapuluh memang kejam luar biasa. Ada yang menanjak nyaris 90 derajat. Lalu turun dengan tajam. Medan berat seperti ini rawan bikin rontok fisik maupun mental.

Burhan Lahai adalah salah satu awak PKHS yang pernah jalan dengan 'empat kaki'. Alias merangkak, saking tak kuat menahan lelah.

"Dulu pas awal tes, saya sangat percaya diri," kata Burhan.

Lelaki berusia 24 tahun ini memang atletis. Maklum, pemain futsal antar kecamatan. Betisnya keras dan penuh otot. Fisiknya jelas bisa diandalkan. Apalagi waktu tes fisik untuk masuk PKHS, Burhan berhasil lolos dengan gemilang. Rasa percaya diri itu bertahan. Hingga akhirnya tiba misi pertama Burhan melakukan pemeriksaan kamera.

"Aduuuh, ampun mak. Gak mau lagi mak," kata Burhan menirukan erangannya waktu pertama kali naik bukit.

"Rasanya mau berhenti langsung waktu itu."

Tapi akhirnya Burhan bisa bertahan. Sekarang mantan supir truk pengangkut sawit ini sudah terbiasa dengan medan yang kejam. Ibaratnya, jalan dua-tiga bukit belum membuatnya berkeringat.

Selain memasang, pemeriksaan kamera juga merupakan kegiatan rutin awak PKHS. Dalam pemeriksaan itu, mereka mengganti memori kamera, hingga mengecek pelindung kamera yang terbuat dari besi. 



Sekali tim PKHS masuk hutan, mereka bisa bertahan seminggu, atau lebih. Mereka membawa perbekalan sendiri. Memasak sendiri. Digigit lintah sudah biasa.

Yang membuat mereka tersiksa adalah kehabisan air. Kalau masa sulit itu datang dan sungai tak kunjung ditemukan, mereka memotong akar pohon yang mengandung air. Kalau lebih apes tak dapat akar pohon, mereka terpaksa minum air dari kubangan.

"Air itu sebenarnya bersih di permukaannya. Makanya harus pelan-pelan ngambilnya. Kalau buru-buru, wah lumpurnya kecampur sama air," kata Burhan.

Yang paling ditunggu oleh tim patroli ini adalah penghujung hari. Waktunya mereka beristirahat. Memasak, makan, lalu tidur. Tempat tidur mereka beralas tanah dan beratap terpal. Mereka memang membuat tenda sederhana berbahan terpal. Tenda ini terbuka. Kalau kena hujan air bisa tempias.

"Yang paling gak enak ya kalau hujan ditambah angin. Enak-enak tidur, hujan. Eh dikasih angin kencang. Bubar semua," kata Burhan cengar-cengir.

***

Harimau menempati posisi paling atas dalam rantai makanan di hutan. Juga, menempati posisi terhormat dalam kultur masyarakat Melayu. Suku Talang Mamak, suku asli yang masih banyak mendiami Taman Nasional Bukit Tigapuluh, menyebut harimau dengan sebutan Datuk (kakek). Mereka bahkan mengajari anak-anak dan cucu mereka: tak boleh menyebut kata "harimau". Harus "datuk".

"Kami percaya kalau harimau itu tak akan mengganggu kalau tidak diganggu," kata Ahmadsyah, Kepala Dusun Sadan.

Dusun Sadan bisa dibilang dusun terpencil. Masih dikelilingi hutan hujan yang lebat, habitat utama harimau Sumatera. Dusun ini punya 6 sub-dusun yang semuanya dipimpin oleh Ahmadsyah. Di Sadan, mayoritas penghuninya adalah suku Talang Mamak. Sisanya adalah suku Melayu Tua.

Menuju ke Sadan memerlukan usaha yang berat. Kalau dari Pekanbaru, masih harus naik kendaraan darat ke kelurahan Pematang Reba selama 5 jam. Dari sana, perjalanan berlanjut dengan kendaraan berpenggerak 4 roda (4WD) menuju desa Tolangsat. Dari sana, masih harus naik perahu kayu selama 5 jam.



"Tapi kalau orang sini ya jalan kaki mas," kata Ahmadsyah sembari tersenyum.

Jalan kaki dari Tolangsat menuju Sadan memang lebih cepat. Hanya sekitar 2 jam saja. Tapi medannya, alamak. Bisa bikin betis bengkak. Ahmadsyah sudah terbiasa jalan kaki melintasi bukit sejak kecil. Otot kakinya liat. Betisnya kekar. Jalan Ahmadsyah pun cepat dan lincah.

Karena itu, penduduk yang ia pimpin memanggilnya dengan nama Pak Kijang. Tapi Ahmadsyah buru-buru menambahkan, 2 jam itu waktu yang ditempuh oleh penduduk lokal.

"Kalau bukan orang sini, ya bisa seharian dan nginap di jalan," kata pria berkepala empat ini sembari tertawa iseng.

Suatu malam, saat sedang masuk hutan, Ahmadsyah pernah berpapasan dengan harimau dewasa. Ukurannya besar. Mata sang datuk nyalang. Namun Ahmadsyah berusaha tak gentar. Ia hanya membalikkan badan dan berjalan kembali ke arah desa. Saat menengok ke belakang, harimaunya sudah hilang.

"Ya itu tadi, asal kita gak ganggu, ya gak akan diganggu sama Datuk," kata Ahmadsyah.

Tapi pernah, satu dua kali dalam jangka waktu yang lama, harimau memangsa manusia. Itu pun, masyarakat tak mau menyalahkan harimau. Manusia yang dianggap bersalah karena memasuki habitat harimau. Atau dianggap punya dosa besar.

Ahmadsyah menceritakan soal pedagang kemenyan yang menipu penduduk desa. Pulangnya, pedagang menyan itu dimakan harimau. Atau juga kisah tentang remaja perempuan yang dimangsa harimau. Usut punya usut, selain ia melanggar aturan jam mencari kayu --yang artinya harimau sedang turun dari hutan untuk mencari mangsa--, ayah anak itu ternyata poligami sedarah, yakni mengawini dua orang perempuan sedarah. Ini adalah aib bagi masyarakat lokal.

Suatu hari di dekat dusun Sadan, ada seorang yang dimangsa harimau lalu diseret menuju bagian dalam hutan. Para penduduk desa yang berjumlah sekitar 50 orang bermaksud mengevakuasi jenasah korban. Evakuasi ini harus menempuh jarak yang normalnya ditempuh selama 8 jam. Tapi kali ini hanya ditempuh dalam 2 jam saja!

"Soalnya pada lari semua, gak ada yang mau di belakang," kata Ahmadsyah sembari tertawa lantang.

***

Suku Talang Mamak dan Melayu Tua memegang teguh prinsip bahwa harimau adalah datuk, dan hutan adalah rumah mereka bersama. Tak seharusnya saling mengganggu. Andai keyakinan serupa juga dipegang oleh para perambah hutan, pasti habitat harimau tak akan menghilang.

Saat ini laju deforestasi Indonesia semakin kencang. Berdasarkan riset dari Universitas Maryland, laju deforestasi di Indonesia merupakan yang tertinggi di dunia. Antara tahun 2000 hingga 2012, Indonesia sudah kehilangan hampir 16 juta hektar hutan. 

Di Sumatera, rusaknya hutan turut andil dalam mengurangi populasi Harimau Sumatera. Berdasarkan data yang dirilis oleh Center for International Forestry Research, populasi Harimau Sumatera turun drastis. Dari awalnya 500 ekor pada 1997, jadi 400 ekor saja pada 2007.

"Kebanyakan harimau Sumatera ada di Aceh, Riau, Jambi, dan Lampung," kata Rahmad.

Menurut penuturannya, di Taman Nasional Bukit Tigapuluh sendiri, diperkirakan ada sekitar 54 ekor harimau Sumatera yang tersisa.  Tiga ekor diantaranya masih anak-anak.

Hilangnya hutan ini membuat banyak binatang turun ke pemukiman warga untuk mencari makan. Hewan-hewan itu lantas dianggap hama. Seperti nangui, sebutan penduduk lokal untuk babi hutan berjanggut yang biasanya hidup berkelompok. Dulu, dimana ada koloni nangui, bisa dipastikan ada harimau di sekitarnya. Sekarang nangui dan spesies babi hutan lain sudah semakin sedikit karena ditumpas oleh manusia. Padahal babi hutan adalah mangsa utama harimau Sumatera.

"Di beberapa tempat yang sudah dirambah, harimau sudah kehilangan makanan. Harimau di daerah itu kurus- kurus. Saya sedih kalau melihat mereka," kata Rahmad.

Saat ini, berdasarkan pantauan dari camera trap, ada sekitar 8 ekor harimau yang menempati hutan sekunder. Alias hutan yang dekat dengan hunian manusia.

"Ini artinya, habitat mereka rusak. Sampai harus mencari makan di sekitar tempat tinggal manusia," kata Rahmad.

Karena itu, visi utama PKHS adalah konservasi harimau dengan melindungi habitat harimau. "Ya kalau melindungi suatu spesies, ya harus lindungi juga habitatnya. Wajib itu," kata Rahmad.

Menurut Rahmad, masyarakat dari suku lokal, seperti Talang Mamak atau Melayu Tua tak pernah merusak hutan. "Mereka punya tanah ulayat yang masih sangat luas."

Masyarakat adat ini sebenarnya sudah sadar konservasi sejak dulu tanpa perlu diberi penyuluhan. Menurut Rahmad, hanya para pendatang yang suka merambah hutan untuk membuat hunian atau menebang pohon secara ilegal. Dan sedikit merepotkan berbicara soal konservasi dengan para pendatang itu. Mereka biasanya tak perduli dengan konservasi.

Masalah semakin bertambah kala tak ada tapal batas yang jelas. Mana daerah konservasi, mana daerah desa. Padahal tapal batas ini sangat penting agar tak terjadi lagi konflik antara penduduk di sekitar taman nasional dengan orang balai Taman Nasional Bukit Tigapuluh.

"Ini mungkin karena taman nasional ini masih muda. Butuh bantuan. Karena itu kami jadi mitra mereka," kata Rahmad.

Selama PKHS berdiri, usaha konservasi ini termasuk lumayan berhasil. Mereka tak sekedar melindungi harimau dan habitatnya saja. Tapi terus menerus memberikan penyuluhan kepada penduduk di sekitar Taman Nasional mengenai pentingnya konservasi dan melindungi alam. PKHS juga berkali-kali melakukan penanganan konflik antar manusia dan harimau Sumatera. Tapi tentu usaha itu belum cukup.

"Konservasi harimau Sumatera sudah lumayan berhasil. Walau sebenarnya tak signifikan jika dibandingkan dengan laju perambahan," kata Rahmad gamang. []

Rabu, 17 September 2014

Penjaga Harimau-harimau Terakhir




"Namanya Mul," kata Rahmad Wahyudi memulai ceritanya di sebuah sore yang damai di Pematang Reba, Riau.

Berdasarkan cerita masyarakat di sekitar Taman Nasional Bukit Tigapuluh, Mul berasal dari Palembang. Kerjanya masuk dan keluar hutan mencari burung langka. Terutama Murai. Karena itu, ia diburu oleh para polisi kehutanan. Sekali masuk, Mul bisa berminggu-minggu tinggal dalam hutan. Kalau perbekalan habis, atau butuh sesuatu, Mul akan turun di desa terdekat untuk belanja. 

"Nah saya dapat laporan dari warga sekitar, suatu hari Mul keluar dari hutan dan berhenti di desa. Pas saya ke sana, dia sudah hilang," kata Rahmad yang merupakan pimpinan Yayasan Penyelamatan dan Konservasi Harimau Sumatera (PKHS).

Mul memang licin macam belut. Mampu hilang dengan cepat macam angin. Yang bikin Rahmad dkk gregetan, Mul selalu meninggalkan jejak yang jadi macam ejekan kepada para awak PKHS maupun polisi hutan: coretan namanya di pohon. Mul sudah lama dianggap sebagai residivis rimba.

Menurut Rahmad, Mul punya reputasi mentereng sebagai pemburu murai hutan. Tiap ekor yang ditangkap, Mul mendapat Rp 1 juta. Biasanya, saat keluar hutan, Mul membawa hingga 10 ekor murai hutan. Dulu, banyak penangkap murai tak mau menangkap murai betina. Alasannya: murai betina akan bertelur dan menghasilkan murai baru. Sekarang, karena semakin banyaknya permintaan, murai betina pun turut ditangkap.

"Gara-gara itu, sekarang tiap saya masuk hutan, sudah jarang ada suara Murai. Dulu kan nyaring banget," kata Rahmad gemas.

Kelicinan Mul dan hilangnya berbagai satwa di Taman Nasional Bukit Tigapuluh hanya beberapa cerita saja yang dialami oleh para anggota PKHS.

Ini adalah lembaga nirlaba yang berfokus pada perlindungan dan konservasi harimau Sumatera. Lembaga ini resmi dibentuk pada tahun 2007. Sebenarnya lembaga ini adalah terusan dari lembaga Sumateran Tiger Project yang lantas berubah nama.

Penyandang dananya adalah Sumateran Tiger Trust yang bermarkas di Inggris. Namun sejak tahun 2012, PKHS mendapat hibah dari Tropical Forest Conservation Action Sumatera (TFCA Sumatera). Ini adalah skema pengalihan hutang untuk lingkungan antara Pemerintah Amerika Serikat dan Indonesia. Hibah ini adalah mekanisme untuk mengurangi hutang luar negeri bagi negara-negara yang punya kekayaan hutan tropis, termasuk Indonesia. PKHS dianggap sebagai salah satu lembaga yang secara konsisten melakukan restorasi dan perlindungan spesies.

Sejak mendapat tambahan dana hibah dari TFCA Sumatera, PKHS pun berlari semakin kencang. Salah satu kegiatan rutin mereka adalah pemantauan harimau Sumatera dalam jangka panjang. Cara yang selama ini dipakai adalah memasang camera trap, alias kamera jebakan, di pohon untuk memantau harimau Sumatera.

Memasang kamera ini bukan pekerjaan mudah. Terlbih dulu, para awak PKHS harus mengetahui lebih dulu jalur yang dilewati oleh harimau.

"Tahunya ya dari tanda sekunder. Mulai jejak kaki, sampai kotoran. Lalu menentukan kordinat. Dari sana kita bisa memperkirakan jalur yang dilewati harimau," kata Rahmad.

Setelah kamera dipasang, bukan berarti masalah selesai. Kamera yang dipasang oleh PKHS adalah kamera dengan tingkat sensitivitas gerak yang tinggi. Bahkan daun yang bergerak kena angin pun bisa otomatis terekam. Karena dianggap benda aneh, banyak orang lokal yang memandangi kamera ini lama-lama.

"Mereka merokok di depan kamera. Seharian. Dan itu kamera terus merekam," kata Rachmad sembari terbahak.

"Tapi yang paling lucu ya anak-anak dari Talang Mamak atau Anak Dalam. Mereka joget-joget di depan kamera. Tapi mereka gak pernah merusak kamera. Mereka hanya penasaran. Yang berusaha merusak itu biasanya pemburu ilegal."

Masalah klise lain adalah beratnya medan yang harus dilalui. Punggungan buki di Taman Nasional Bukit Tigapuluh memang kejam luar biasa. Ada yang menanjak nyaris 90 derajat. Lalu turun dengan tajam. Medan berat seperti ini rawan bikin rontok fisik maupun mental.

Burhan Lahai adalah salah satu awak PKHS yang pernah jalan dengan empat kaki. Alias merangkak, saking tak kuat menahan lelah.

"Dulu pas awal tes, saya sangat percaya diri," kata Burhan.

Lelaki berusia 24 tahun ini memang pantas percaya diri. Ia atletis. Maklum, pemain futsal antar kecamatan. Betisnya keras dan penuh otot. Fisiknya jelas bisa diandalkan. Apalagi waktu tes fisik untuk masuk PKHS, Burhan berhasil lolos dengan gemilang. Rasa percaya diri itu bertahan. Hingga akhirnya tiba misi pertama Burhan melakukan pemeriksaan kamera.

"Aduuuh, ampun mak. Gak mau lagi mak," kata Burhan menirukan erangannya waktu pertama kali naik bukit.

"Rasanya mau berhenti langsung waktu itu."

Tapi akhirnya Burhan bisa bertahan. Sekarang mantan supir truk pengangkut sawit ini sudah terbiasa dengan medan yang kejam. Ibaratnya, jalan dua-tiga bukit belum membuatnya berkeringat.

Pemeriksaan kamera adalah kegiatan rutin awak PKHS. Dalam pemeriksaan itu, mereka mengganti memori kamera, hingga mengecek pelindung kamera yang terbuat dari besi. Kamera ini tersebar di berbagai titik.

Sekali tim PKHS masuk hutan, mereka bisa bertahan seminggu, atau lebih. Mereka membawa perbekalan sendiri. Memasak sendiri. "Digigit lintah sudah biasa bang," kata Burhan.

Yang membuat mereka tersiksa adalah kehabisan air. Kalau masa sulit itu datang dan sungai tak kunjung ditemukan, mereka memotong akar pohon yang mengandung air. Kalau lebih apes tak dapat akar pohon, mereka terpaksa minum air dari kubangan.

"Air itu sebenarnya bersih di permukaannya. Ada seninya. Harus pelan-pelan ngambilnya. Kalau buru-buru, wah lumpurnya kecampur sama air," kata Burhan.

Yang paling ditunggu oleh tim patroli ini adalah penghujung hari. Waktunya mereka beristirahat. Memasak, makan, lalu tidur. Tempat tidur mereka beralas tanah dan beratap terpal. Mereka memang membuat tenda sederhana berbahan terpal. Tenda ini terbuka di bagian sampingnya. Kalau kena hujan air bisa tempias ke dalam.

"Yang paling gak enak ya kalau hujan ditambah angin. Enak-enak tidur, hujan. Eh dikasih angin kencang pula. Bubar semua," kata Burhan cengar-cengir. (Bersambung)

Kamis, 24 April 2014

Antara Pempek Asiong dan Pempek Selamat

Rampai Pempek di Asiong


Masih ingat perseteruan antara Jambi dan Palembang beberapa waktu lalu? Bagi yang lupa, atau bahkan belum tahu, mari saya ingatkan lagi.

Dua daerah dalam satu pulau ini bertikai perkara sepele: pempek. Namun, banyak pertikaian besar berawal dari hal sepele. Seperti perang antara Troya dan Akhaia yang bermula dari perempuan bernama Helen.

Pempek memang bukan lagi sekedar makanan. Ia adalah identitas tersendiri. Bagi banyak orang, makanan yang terbuat dari ikan ini adalah simbol kota Palembang. Namun yang harus disadari, pempek yang konon dibuat sejak abad ke 16 sudah ada semenjak belum ada negara bernama Indonesia.

Pempek konon berasal dari bentala Swarnadwipa --istilah kaum India untuk menyebut Sumatera kuna, sebelum Masehi-- yang sudah ada sebelum nama Sumatera diberikan. Dan kerajaan Sriwijaya sebagai kerajaan terbesar di butala Swarnadwipa, punya kekuasaan yang luas merentang. Dari Jawa, Semenanjung Malaya, Kamboja, Thailand, hingga daerah yang kini dikenal sebagai tanah Sumatera.

Karena berinduk kerajaan yang sama pula, orang Jambi dan Palembang sekarang, bisa disebut berasal dari akar yang sama. Karena itu, tak perlu heran kalau ada beberapa makanan khas dua daerah itu yang sama. Mie celor, misalnya. Mie yang kaldunya terbuat dari udang ini bisa ditemukan baik di Palembang maupun di Jambi. 

Pempek sebenarnya juga demikian. Namun karena nama besar pempek sudah menjadi simbol tersendiri, maka Palembang dan Jambi pun sampai berebut. Duh! Sewaktu saya berkunjung ke Palembang beberapa tahun lalu, saya sempat menyicipi pempek di sana. Sayang, saya lupa apa nama warung pempek itu. 

Saya belum sempat mencoba pempek khas Jambi. Kebetulan menjelang pernikahan, saya punya waktu untuk jalan-jalan di Jambi. Rani pun mengajak saya untuk mencicipi pempek khas Jambi.

Di Jambi, ada banyak sekali penjual pempek. Nyaris di tiap sudut jalan ada penjual pempek. Dari kelas ruangan berpendingin udara, hingga bangunan kecil berdinding papan kayu.

Secara garis besar, ada tiga mazhab pempek di Jambi yang acap dijadikan rujukan utama: Pempek Asiong, Pempek Selamat, dan Pempek Sumsel. Di luar tiga nama beken itu, ada puluhan, bahkan ratusan pempek yang bisa dicoba. Semua punya pelanggan setia masing-masing.

Makanan sebenarnya sama seperti agama. Itu adalah pilihan personal. Dan, sama seperti agama pula, selera pada makanan tak bisa dipaksakan. De gustibus non est disputandum.

Rani mengajak saya pergi ke Pempek Asiong dulu. Ini langganan keluarganya sejak masa lampau. Pempek Asiong memang sudah punya nama besar, sekaligus menjadi pempek tertua yang ada di Jambi. Mereka berjualan semenjak tahun 1974.

Dulu pempek ini menempati bangunan kecil nan sempit berdinding papan di daerah Talang Banjar. Namun baru-baru ini, mereka pindah ke sebuah ruko di seberang jalan, yang berukuran lebih besar dengan suasana yang lebih nyaman. 

Daerah Talang Banjar sendiri sudah dikenal sebagai ruas pempek, macam Wijilan yang dikenal sebagai sentra gudeg di Yogyakarta. Di Talang Banjar, kalian bisa menemukan Pempek Selamat, hingga Pempek Sumsel. Tinggal pilih yang sesuai selera.

Penyajian pempek di Asiong cukup asyik. Mereka mengeluarkan semua pempek jenis kecil, mulai lenjer sampai kulit. Juga otak-otak dan pempek keriting. Kita tinggal memilih mau mengambil yang mana. Dihitung belakangan. Untuk pempek ukuran besar seperti pempek kapal selam, harus memesan dulu.

Saya sendiri memesan pempek kapal selam, dan mengambil beberapa pempek kecil. Pempek kapal selamnya standar saja, nothing special. Saya malah suka pempek kulit mereka yang renyah. Pempek panggang Asiong juga patut diacungi jempol. Ini adalah pempek yang dibelah tengah, lalu diisi campuran rebon berbumbu pedas manis, kemudian dipanggang. Teksturnya liat, dengan aroma panggang yang raksi.

Keesokan harinya saya mencoba Pempek Selamat. Beda dengan Asiong yang populer namun tetap tak membuka cabang, Pempek Selamat membuka cabang dimana-mana. Bahkan mereka ekspansi sampai Jakarta.

Di Pempek Selamat saya mencoba pempek lenggang. Ini adalah potongan pempek yang dicampur dengan kocokan telur lalu digoreng. Ya telur dadar isi pempek lah. Hidangan ini disajikan bersama mie kuning, bihun, serpihan halus rebon, dan cacahan timun.

Di tempat ini, pempek disajikan berdasar apa yang kita pesan. Jadi agak berjudi. Jangan memesan terlalu banyak, sayang kalau tak habis. Tapi di Selamat, cuko disajikan dalam teko kaca berukuran besar. Jadi kita bisa bebas menambah cuko. Keunggulan Selamat juga ada pada tambahan sambal yang disajikan di meja, andai cuko kurang pedas. Ini tak ditemukan di Asiong.  

Keluarga besar saya, yang rata-rata pecandu rasa pedas, menambahkan sambal yang membuat cukonya jadi lebih membakar.

Untuk rasa, sebenarnya nyaris tak berbeda. Begitu pula rasa cukonya. Sama-sama enak. Hehehe. Tapi saya menyarankan anda membeli mentah lalu menggoreng sendiri di rumah. Kerenyahanya lebih terasa. Di kedua kedai itu, kadang pempek yang disajikan sudah dingin, dimana hal itu mengurangi drastis tingkat kerenyahan. 

Saya membungkus satu kotak pempek Asiong untuk kawan-kawan kantor. Baru saja, beberapa menit lalu, kami menggoreng pempek itu. Rasa pempek yang baru diangkat dari penggorengan memang jauh lebih enak ketimbang pempek yang sudah dingin. Oh ya, barusan kami makan pempek itu dengan cuko yang sudah didinginkan. Jadi ada kesan segar yang mengasyikkan. 

Hingga tulisan ini saya posting, saya belum sempat mencicipi pempek Sumsel yang sama terkenalnya. Mungkin lain kali lah, toh saya bakal sering mengunjungi Jambi. []

Post-scriptum: Sudah sejak lama saya menaruh kagum dengan kedai makan berumur panjang. Rasa kagum itu makin berlipat waktu menemukan penjualnya masih hidup dan bugar. Untuk itu, di beberapa kesempatan, saya seringkali berfoto dengan penjual yang berumur senja itu. Di gurat kulit renta mereka, tersimpan banyak jejak cerita gastronomi dan keuletan yang mengagumkan. 

Asiong, sang pendiri Pempek Asiong, masih hidup dan sehat. Saya menebak usianya sudah lebih dari 70 tahun. Tapi ia masih rock n roll. Setiap sore menjelang petang, lelaki berambut putih itu duduk di depan warung, hanya memakai celana pendek dan kaos singlet, dan dengan santai menghisap rokok. Seakan sisa waktunya di dunia tinggal dibuat bersenang-senang dan menikmati hidup belaka. Momen itu jadi terasa sangat puitis bagi saya.

Karena itu saya meminta foto bareng dia. Sayang dia menolak dengan halus permintaan saya. Rani tertawa-tawa melihat Asiong menolak permintaan saya sembari malu-malu. Katanya itu berkaitan dengan fengshui. Entah itu benar atau tidak. Semoga Koh Asiong terus diberkati kesehatan.

Rabu, 13 Februari 2013

Catatan Kecil Dari Lombok I: Baling-baling


Pada akhir 90-an, ayah dan mamak saya dapat kabar mengejutkan. Adik ayah yang nomer 4 mengabarkan kalau ia akan menikah. Mengejutkannya adalah kabar itu datang mendadak. Namun yang lebih mengejutkan lagi, om saya itu akan menikahi gadis dari Kupang. Dan si om yang sudah memasuki penghujung kepala 2 ingin pernikahan buru-buru dilangsungkan. 

Dengan tergopoh-gopoh akhirnya ayah, mamak, dan beberapa anggota keluarga lain bersiap-siap menuju Kupang. Setelah menimbang efisiensi waktu dan biaya, pilihan transportasi dijatuhkan pada pesawat.

Saat itu, jarang sekali ada pesawat dari maskapai besar yang terbang menuju Kupang. Yang ada hanyalah beberapa pesawat baling-baling. Kalau gak salah istilahnya adalah pesawat perintis. Yakni pesawat berukuran kecil yang rute-nya menuju daerah-daerah terpencil. Akhirnya dengan pesawat itulah rombongan keluarga berangkat.

Seru sekali mendengarkan cerita dari mamak. Pada dasarnya, mamak adalah orang yang gampang panik dan histeris. Dibonceng motor sedikit ngebut saja beliau bisa histeris. Bisa dibayangkan kalau orang seperti mamak naik pesawat baling-baling. Saya bisa pastikan, mamak merapal istighfar lebih banyak ketimbang biasanya, hihihi.

Saya jarang sekali naik pesawat. Apalagi naik pesawat perintis. Dari dulu saya ingin sekali merasakan pengalaman menegangkan itu. Tapi belakangan saya meralat keinginan itu. Cukup dengan menonton adegan pesawat terbang di film Almost Famous, saya bisa membayangkan bagaimana menegangkannya diguncang-guncang dalam pesawat kecil  Menakutkan. Saya merutuk kenapa saya dulu pernah punya keinginan bodoh macam itu.

Tapi toh keinginan lama itu akhirnya terpenuhi juga. Ketika berangkat ke Lombok beberapa hari lalu, saya akhirnya naik pesawat baling-baling dari maskapai berlogo singa. Dua kali pula, karena saya harus transit di Surabaya.

Pesawat ini memang berukuran kecil. Hanya ada sekitar 50 penumpang saja. Formasi kursinya 2-2. Itupun tak penuh terisi. Jarak antar deret pun sempit.

Tapi setelah pesawat mengudara, saya jadi agak heran. Saya tidak merasakan guncangan yang berarti di udara. Hanya sesekali saja. Itu pun sering saya alami di pesawat-pesawat besar. Dan yang bikin saya kembali heran, pesawat itu mendarat dengan sangat mulus. Namun di penerbangan dari Surabaya- Lombok, cara mendaratnya lumayan kasar dan mengguncang. Mungkin pilotnya baru saja bertengkar dengan sang istri. 

Teknologi pesawat zaman sekarang memang jauh lebih canggih ketimbang akhir 90-an dulu. Mungkin karena itu pula, pesawat berukuran ramping pun bisa meminimalisir guncangan ketika berada di udara. Dan saya bersyukur karena hal itu. Jadi tak perlu merasakan jantung melompat karena terlonjak-lonjak di udara. 

Mataram, 13 Februari 2013 
22. 25 WITA

Selasa, 29 Januari 2013

Kami Penulis, Bukan Peneliti: Tanggapan Untuk Arman Dhani Perihal Travel Writer

Beberapa hari lalu, kawan baik saya, penulis hebat alumnus Pantau, Arman Dhani, menuliskan sebuah artikel berjudul "Responsible Travel Writer." Tulisan itu bernas sekali. Lebih berisi dan layak dibaca ketimbang tulisan "5 Buku Tidak Layak Terbit" yang menghebohkan itu.

Dalam "Responsible Travel Writer," Dhani mengkritik para penulis perjalanan. Baginya, mereka ikut andil dalam memberikan ekses negatif pada sebuah destinasi. Ia lantas memberikan beberapa contoh hal-hal yang tak sepatutnya dilakukan, tapi ditulis dengan bangga oleh para penulis perjalanan. Misalnya, berwisata ke Sempu, padahal itu daerah Cagar Alam dimana kawasan itu seharusnya tak boleh dimasuki manusia. Atau menuliskan kegiatan yang melanggar hukum seperti mengganja di sebuah daerah wisata.

Dalam tulisan panjangnya itu, Dhani menuliskan banyak keluhan. Saya sendiri agak bingung apa saja inti kritik dari Dhani. Kebingungan ini muncul karena beberapa sebab. Yang pertama, Dhani tampak terlalu emosi dalam menuliskan keluhannya. Tulisannya terkesan berapi-api sehingga melebar kesana kemari, lupa pada inti permasalahan. Lalu kedua, Dhani terlalu sibuk mengutip sana-sini ucapan para pemikir maupun para pejalan, tanpa terlebih dahulu menyatakan dimana sebenarnya posisi Dhani atau apa yang ingin Dhani sampaikan. Karena terlalu banyak mengutip itu lah, saya jadi merasa kutipan itu bukan sebagai penguat argumen Dhani. Melainkan argumen Dhani yang didasarkan pada ucapan para pesohor itu.

Terlepas dari dua faktor itu, Dhani memang memulai tanpa tedeng aling-aling. Ibarat sebuah pertandingan bela diri, Dhani tak memberikan salam hormat dulu. Ia langsung melepaskan jurus dengan cepat pada awal mula tulisan: kritik terhadap acara "Hidden Paradise" di Kompas TV. Sembari mengkritik, Dhani juga bertanya, "...Para traveler tanah ini sedang sibuk berburu mencari tempat eksotis dan perawan untuk ditampilkan. Sampai kapan tindakan ini akan terus terjadi? Apakah mereka tidak akan berhenti sampai surga terakhir dieksploitasi?"

Kalau Dhani bertanya pada saya, saya dengan tegas akan menjawab: pencarian tempat-tempat yang tersembunyi dan eksotis itu TIDAK AKAN pernah berhenti sampai kapan pun. Manusia adalah mahluk yang diberkahi otak. Dengan otak pula, muncul imajinasi. Bukankah Ibn Battuta, Marcopolo, atau Colombus mengelilingi dunia karena berimajinasi? Mereka berimajinasi bahwa dunia ini tidaklah datar. Mereka juga berimajinasi tentang tanah surga, tempat dimana kamu melempar kayu akan jadi tanaman.

Bayangkan kalau manusia hidup tanpa imajinasi, atau hidup tanpa ada keinginan untuk mencari sesuatu yang baru (dalam hal ini, destinasi perjalanan). Hidup akan monoton. Bahkan hingga sekarang, ratusan tahun sejak era pejalan itu, orang masih saja ingin mencari tempat yang mereka beri label eksotis, tersembunyi, atau tanah surga. Tentu motivasinya berbeda-beda. Ada yang melakukan untuk kepuasan pribadi, ada pula yang melakukan itu untuk tujuan ilmu pengetahuan.

Selain itu, pada dasarnya, melakukan perjalanan itu adalah hal pertama yang dilakukan oleh manusia pertama. Iya, nabi Adam adalah pencetus perjalanan. Ia yang --mengutip Duo Kribo dalam lagu "Neraka Jahanam"—dihukum dengan cara diturunkan dari surga ke dunia, harus mencari Hawa yang terpisah darinya. Maka ia melakukan perjalanan, mencari tulang rusuknya yang terpisah, menuju tempat yang sama sekali asing baginya. Adam memang tidak menuliskan catatan perjalanannya. Namun kisahnya itu termaktub pada kitab suci.

Selepas Adam dan Hawa, para manusia purba juga melakukan perjalanan. Mereka bermigrasi. Mencari makanan. Mencari daerah yang subur. Mencari daerah yang hangat. Ini semakin menegaskan bahwa melakukan perjalanan adalah sebuah keharusan.

Pada masa posmodern (saya memakai istilah ini biar terdengar intelek, he-he-he), perjalanan menjadi semakin vital. Perjalanan menjadi sebuah bentuk pelarian paling ideal dari rutinitas dan segala macam kesibukan dunia modern lainnya. Perjalanan menjaga manusia modern agar tetap waras.

Dengan adanya internet dan jejaring sosial, para pejalan itu bisa dengan mudah mengabarkan perjalanannya pada dunia. Internet dan social media menjadi sarana ideal untuk memuaskan naluri dasar manusia: narsis. Foto dipajang, kisah dituliskan.

Dhani mengkritik mereka. Ujarnya, "...Di Indonesia para pegiatnya sibuk pamer eksotisme dan promosi daerah-daerah terpencil. Saya pikir ada yang salah di sini. Banyak pelancong negeri ini lebih sibuk mengunggah foto panorama via Instagram daripada memotret realitas kemiskinan di daerah destinasi wisatanya."

Pada poin ini, Dhani melakukan kesalahan fatal. Dengan menuliskan, "...Di Indonesia para pegiatnya sibuk pamer eksotisme dan promosi daerah-daerah terpencil," ia sudah terjebak pada generalisasi. Ia berpikir semua pelancong atau pejalan seperti itu. Sebuah bentuk kesesatan berpikir? Bisa jadi. Dari argumennya itu, saya yakin kalau Dhani kekurangan referensi para penulis perjalanan yang menuliskan sisi lain dari sebuah perjalanan.

Di Indonesia, ada banyak penulis perjalanan yang tak sekedar bergenit-genit ria memaparkan keindahan sebuah destinasi. Norman Edwin misalnya. Dia bercerita tentang asyiknya naik gunung, tapi ia juga tetap memberikan edukasi tentang pentingnya unsur safety dalam kegiatan alam bebas. Atau Don Hasman yang sangat peduli terhadap kehidupan Suku Baduy di Banten. Baru-baru ini, Wiwik Mahandayani bahkan menuliskan buku berjudul "The Green Traveler," sebuah buku tentang ekowisata dan juga pentingnya menjadi pejalan yang bertanggung jawab.

Namun seakan tak belajar dari kesalahannya itu, Dhani kembali melakukan kesalahan fatal ketika menuliskan "...Banyak pelancong negeri ini lebih sibuk mengunggah foto panorama via Instagram daripada memotret realitas kemiskinan di daerah destinasi wisatanya." Kenapa saya sebut fatal? Karena penulis perjalanan itu harusnya memang menuliskan tentang perjalanan, bukan tentang kemiskinan.

Ketika seorang penulis perjalanan berbusa-busa menuliskan tentang kemiskinan, saya takut ia bukan lagi seorang penulis perjalanan. Ia lebih pantas disebut sebagai peneliti ekonomi. Kalau kamu lebih sibuk menuliskan kemiskinan ketika melakukan perjalanan, saya rasa kamu lebih cocok menjadi peneliti ekonomi yang lantas menuliskan proposal pada bank dunia untuk mengentaskan kemiskinan.

Dalam pikiran saya, perjalanan adalah sebuah perjalanan. Ia tidak melulu berisi tentang kemiskinan, sama halnya perjalanan tak terdiri dari hedonisme belaka. Tulisan perjalanan bisa berisi banyak hal. Seni, budaya, atau kuliner, misalnya.

Jika ada kemiskinan yang dilihat mata ketika melakukan perjalanan, memang hal itu sebaiknya dituliskan. Tapi tak perlu dalam setiap tulisan perjalanan harus ada tentang kemiskinan. Tak perlu juga perihal kemiskinan mengambil porsi banyak dalam tulisan. Bayangkan jika seorang penulis perjalanan sedang melancong di negara dunia ketiga macam Indonesia, Ethiopia, atau India, dan terpaku pada konsep penulis pejalan ideal ala Dhani. Bisa-bisa yang dituliskan adalah tentang kelaparan, anak putus sekolah, anak jalanan, angka harapan hidup, atau orang yang hidup di bantaran sungai, bukan lagi tentang perjalanannya.

Para penulis perjalanan memang seharusnya lepas dari beban moral nan mulia tentang menuliskan kemiskinan dalam setiap perjalanan. Karena penulis perjalanan bukanlah seorang peneliti. Apalagi peneliti kemiskinan.

Tentang Perdebatan Nan Tak Kunjung Usai

Ada beberapa hal dalam dunia pariwisata yang memang memicu debat tak berkesudahan. Salah satunya tentang efek dari pariwisata itu sendiri. Saya pernah beberapa kali menanyakan pada beberapa pakar pariwisata: bagaimana cara menanggulangi dampak negatif yang diakibatkan oleh pariwisata? Saya melihat, dampak negatif pariwisata ini paling kentara dalam kerangka sosial budaya.

Tak pernah ada jawaban yang memuaskan bagi pertanyaan itu. Hanya ada jawaban-jawaban yang normatif. Namun saya paham, berbicara mengenai manusia dan perubahannya itu teramat pelik. Perubahan, entah itu disebabkan pariwisata atau hal lainnya, adalah hal yang nisbi. Mungkin itu sebabnya, belum ada solusi konkrit untuk mengatasi perubahan sosial budaya yang diakibatkan oleh pariwisata. Saya malah berpikir, sedikit mustahil untuk mencegah dampak negatif pariwisata. Pariwisata, sama seperti uang koin, selalu mempunyai dua sisi yang berbeda. Yang bisa kita lakukan bukan menihilkan dampak negatif pariwisata, melainkan berusaha mencegah agar dampak negatif itu tak teramat buruk atau tak berkembang menjadi lebih buruk.

Salah satu poin penting dalam dalam tulisan Dhani adalah kritik tentang perubahan ekologis yang terjadi di Sempu. Bagi yang belum tahu, Sempu adalah cagar alam di daerah Malang. Untuk menuju kesana, para pengunjung harus menyewa perahu untuk menyeberang dari Sendang Biru. Setelah itu mereka masih harus berjalan kaki sekitar 2-3 jam dengan medan yang amat berat.

Di Sempu ada sebuah danau alam yang indah dan sepi. Namanya Segara Anakan, sebuah danau yang langsung terhubung dengan Samudera Hindia. Banyak orang menyebut Sempu sebagai surga tersembunyi. Entah dimulai sejak kapan, Sempu lebih dikenal sebagai destinasi wisata, bukan cagar alam. Akibatnya jelas, Sempu berubah. Ia tak lagi sunyi, tak lagi bersih seperti dulu.

Dhani menulis, "...kerusakan Cagar Alam Pulau Sempu dan menjamurnya tiket pesawat murah adalah bukti terkini dan paling nyata akibat travel writer yang kurang riset dan tak mau tahu."

Dhani bisa jadi benar dalam hal ini. Namun pernyataan itu masih bisa diperdebatkan.

Pengertian mengenai cagar alam yang disebutkan oleh Kementerian Kehutanan adalah, "...suatu daerah hutan suaka alam yang di terapkan sebagai daerah perlindungan bagi keadaan alamnya yang khas, termaksud flora, fauna, dan factor abiotik yang perlu di lingdungi untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan kebudayaan."

Saya sengaja menebalkan kalimat "dilindungi untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan kebudayaan." Dalam hemat saya, kalimat itu berarti manusia boleh masuk asal untuk tujuan ilmu pengetahuan dan  kebudayaan.

Di negara maju seperti Amerika Serikat, cagar alam dan taman nasional sudah dijadikan kawasan wisata. Tentu dengan batasan-batasan yang teramat tegas. Nah, disini harusnya pemerintah bekerja. Mereka harus mengatur dengan jelas --atau lebih tegas-- tentang keberadaan, fungsi, dan juga ketentuan cagar alam atau taman nasional. Namun saya tidak akan berbicara banyak tentang hal ini karena saya tak punya kapasitas untuk membicarakan hal ini.

Mengenai sampah? Itu bukan hal yang tidak bisa ditanggulangi kok. Mungkin ini terdengar normatif, tapi Departemen Kehutanan harusnya sudah mulai mengatur perjalanan ke pulau Sempu. Misal: Wisatawan boleh datang, namun harus ditemani oleh pemandu lokal atau petugas dari Kementerian Kehutanan.

Guna pemandu lokal, selain mencegah kemungkinan tersesat, adalah untuk memberikan ilmu pengetahuan tentang flora dan fauna kepada para wisatawan. Bukankah itu tujuan utama cagar alam? Para pemandu maupun petugas itu juga bisa mencegah para wisatawan berbuat sesuatu yang dapat membahayakan ekosistem cagar alam Sempu.

Selain itu bisa dibuat aturan tambahan semisal para wisatawan tidak boleh menginap di Segara Anakan. Jika demikian, biasanya para wisatawan akan menginap di masjid atau rumah penduduk di sekitar Sendang Biru. Hal ini jelas bisa bermanfaat bagi penduduk lokal. Selain tenaga diserap untuk jadi pemandu, penduduk juga bisa dapat tambahan penghasilan dari penginapan, warung makan, atau fasilitas amenitas lain. Ini jelas lebih bermanfaat ketimbang menutup total Sempu untuk para wisatawan bukan?

Selain itu Dhani mungkin juga lupa kalau kita hidup di negeri sulap. Saking ajaibnya, bahkan beberapa perusahaan tambang mendapatkan izin usaha di kawasan cagar alam. Kawasan Cagar Alam Seluma, Bengkulu, sudah lama jadi kawasan penambangan pasir besi. Begitu pula cagar alam Morowali, Sulawesi Tengah, yang dijadikan sebagai lokasi penambangan nikel.

Kalau ini jelas-jelas salah, karena pemanfaatannya bukan untuk ilmu pengetahuan maupun kebudayaan.

Namun Demikian...

Seperti yang saya tulis diatas, kelemahan fatal dalam tulisan Dhani adalah ia terlalu terburu-buru dalam mengambil kesimpulan. Ia terlalu sering melakukan gebyah uyah (menggeneralisir). Mungkin itu disebabkan oleh emosinya yang meledak-ledak ketika menulis kritik. Dalam tulisannya itu, Dhani seakan-akan merasa bahwa perjalanan maupun pariwisata itu adalah monster yang bisa melahapmu ketika kamu lengah. Padahal tidak demikian adanya.

Di Indonesia sendiri, belakangan marak gerakan wisata hijau, green tourism. Atau sering juga disebut eco tourism. Pemerintah juga sadar akan pentingnya eco tourism ini. Karena itu mereka membuat konsep besar pariwisata Indonesia sebagai pro poor (bisa membantu rakyat miskin), pro job (memberikan lapangan kerja), pro growth (bermanfaat bagi perkembangan suatu daerah), dan pro environment (menjaga lingkungan).

Lebih lanjut lagi, empat konsep ini adalah purwarupa dari konsep sustainable tourism development, alias pembangunan pariwisata yang berkelanjutan. Dimana pariwisata tak lagi sekedar melancong, berfoto ria, atau bersenang-senang. Melainkan pariwisata seharunya bisa memberikan edukasi atau manfaat, baik untuk wisatawan maupun masyarakat lokal. Karena itu dikenal pula yang namanya community based tourism (CBT), alias pariwisata berbasis masyarakat. CBT ini turut melibatkan penduduk lokal dalam mengelola pariwisata, jadi mereka bisa turut merasakan langsung efek positif pariwisata.

Meski saya tidak setuju beberapa hal pada tulisan Dhani, tapi saya juga menganggukkan kepala kepada beberapa kritiknya. Antara lain tentang penulis perjalan yang harusnya lebih dewasa dalam menulis.

Penulis perjalanan harusnya tidak lagi sekedar mengedukasi pembaca, melainkan juga harus bisa mengedukasi dirinya sendiri. Dengan cara apa? Ya membaca dan mencari tahu.

Penulis perjalanan adalah turis, terlepas dari cara mereka melakukan perjalanan. Mau backpacking kek, flashpacking kek, numpang truk kek, naik pesawat kek, ngesot kek, tetap saja mereka harus sadar satu hal: mereka adalah turis! Jangan sampai, mentang-mentang kamu adalah backpacker atau travel blogger terkenal, lalu bersikap seenak udel seperti merokok ganja atau mabuk di tempat yang tak seharusnya.

Mereka, para turis itu,  haruslah membekali diri dengan informasi. Mereka harus sadar dan mawas diri. Harus tahu apa yang boleh dilakukan, dan apa yang tidak boleh dilakukan. Bersikap seenaknya sendiri dan tak tahu aturan itu bukan cerminan wisatawan yang dewasa dan bertanggung jawab. Kritik Dhani adalah sebuah tamparan yang bagus  dan diperlukan bagi para penulis perjalanan.[]

Sabtu, 30 Juni 2012

Melanglang Via Musik


Dalam sebuah kisah perjalanannya, Jack Kerouac, sang flaneur itu, berkali-kali bercerita mengenai kegilaannya terhadap jazz. Dalam kisah perjalanannya melintasi Amerika, ia mengalami kecanduan jazz. Ia bercerita mengenai kultur jazz di New Orleans, jam sessions, pesta jazz liar, dan segala imajinasi tentang jazz.

Salah satu pasase yang paling saya ingat adalah ketika Jack menceritakan sebuah jam session yang liar, yang ia gambarkan sebagai "...Slim sits down at the piano and hits two notes, two Cs, then two more, then one, then two, and suddenly the big burly bass-player wakes up from a reverie and realizes Slim in playing C-Jam Blues  and he slugs in his big forefinger on the string and the big booming beat begins and everybody starts rocking and Slim looks up just as sad as ever, and they blow jazz for half an hour, and then Slim goes mad and grabs the bongos and plays tremendous rapid Cubana beats and yells crazy things in Spanish, in Arabic, in Peruvian dialect, in Egyptian, in very language he knows, and he knows innumerable languages..."

Dari kalimat panjang itu, kita tahu bahwa Jack sedang berpergian di Amerika, tapi musik yang dimainkan mengajak imajinasinya melanglang ke seluruh dunia. Dari irama Kuba, teriakan orgasmik dalam berbagai bahasa: Spanyol, Arab, Peru, bahkan Mesir. Dalam adegan gila itu, tampak jelas bahwa musik bisa menerabas segala sekat kebangsaan. Bahwa ternyata semua jenis manusia bisa dijadikan satu dalam irama musik?

Jack Kerouac menggambarkan kisah perjalanannya yang memikat itu dalam On the Road. Disana ia juga menceritakan tentang traveling through music. Jack sadar bahwa musik --bisa jadi-- adalah salah satu pencapaian peradaban tertinggi suatu bangsa. Karena itu, berbicara musik adalah juga berbicara  mengenai manusia dan segala peradaban yang melingkupinya.

Musik juga melangkahi ruang dan waktu. Dalam banyak literatur, diceritakan bagaimana babad musik blues bermigrasi dari daratan Afrika menuju Amerika. Dari panasnya gurun pasir dan dataran tandus, menyebrang ke hilir sungai Mississippi yang teduh dan sepoi. Musik itu dibawa dan dimainkan oleh para budak kulit hitam. Blues menceritakan tentang penderitaan, kepedihan, juga rindu akan kampung halaman.

Blues lantas bergerak lagi ke segala arah. Ke New Orleans menjadi jazz. Lalu bergerak lagi ke Chicago, menjadi electric blues. Lalu berdiaspora ke tempat lain. Menjadi anak yang kelak bertumbuh besar dan punya identitas sendiri.

Lalu kenapa Jack juga menuliskan tentang musik jazz dalam kisah perjalanannya? Apakah tak cukup ia becerita saja mengenai birunya langit atau hijaunya daun? Atau tips traveling murah dan hidup menggembel?  Bisa jadi, karena Jack sadar bahwa traveling bukanlah melulu dongeng tentang keindahan. Traveling juga (seharusnya) berkisah tentang peradaban, manusia, dan juga kebudayaan. Dalam kasus ini, kebudayaan jelas diwakili dengan musik. 

Lalu kenapa jazz? Karena jazz adalah Amerika. Ia dianggap sebagai musik identitas Amerika. Hasil peleburan antara budaya Afrika dan Eropa yang lahir dan tumbuh di Amerika. Ditambah lagi, Jack menyukai jazz. Semua itu lantas diramu menjadi karya yang kelak jadi legendaris dan dianggap sebagai salah satu travelogue terbaik sepanjang masa, On the Road.

***

Saya lupa sejak kapan mulai mengamati musik ketika sedang melakukan perjalanan. Seingat saya, ketika pertama kali berjalan sendirian, saya sudah menikmat dan mengamati musik. Apalagi kalau anda sama seperti saya, yang lebih sering menggunakan moda transportasi murah seperti bis ekonomi dan kereta kelas kambing. Moda transportasi macam itu memang secara naluriah selalu mengundang para musisi jalanan untuk beraksi. Entah itu yang benar-benar bermain musik, atau sekedar genjrang genjreng plus mumbling.

Semenjak saya punya handphone dengan fitur musik, saya tak pernah melepaskan barang itu dari gengggaman. Ditambah dengan headset, maka saya menikmati musik yang seringkali saya pilih dengan seksama agar pas dengan suasana ketika traveling. Pada tahun 2009, saya pernah menuliskan sebuah e-book bersama seorang kawan. Selain kisah perjalanan, saya juga menambahkan rubrik "Backpacker Tunes" disana. Isinya adalah lagu-lagu yang menemani kami di sepanjang perjalanan.

Sayangnya, saya tak memasukkan lagu daerah disana. Pun, saya asing dengan musik daerah. Ini adalah kesalahan saya.

Kalau saja saya mau sedikit jeli, Indonesia juga punya identitas musik daerah. Lupakan sejenak mengenai lagu-lagu daerah tradisional. Mari kita berbicara musik tradisional kontemporer sejenak.

Kalau anda berpergian ke daerah pantai utara, kuping anda pasti --iya, pasti-- akan dijejali oleh musik-musik dangdut koplo. Kalau anda pergi ke daerah Banyuwangi, anda akan sering mendengar musik Using kontemporer. Kalau mengemasi ransel dan melangkah ke Madura, anda akan menemukan kisah-kisah manusia dan segala permasalahannya dalam lagu berirama dangdut modern yang dinyanyikan dalam bahasa Madura.

Saya pernah pergi ke Madura  beberapa tahun silam. Di sebuah pasar malam dadakan di alun-alun Sumenep, kawan saya ngotot mencari lapak VCD bajakan. Ternyata dia ingin membeli rekaman khas musik Madura. Sekali lagi, bukan musik Madura tradisional. Melainkan musik Madura kontemporer. Musik yang diberi sentuhan dangdut pop, dan dinyanyikan dengan bahasa daerah mereka.

Salah satu penyanyi yang saya ingat dari VCD yang dibeli oleh kawan saya itu, adalah seorang penyanyi bernama Sukkur. Ternyata ia cukup kondang, terutama di kawasan Madura dan sekitarnya. Ia mempunyai banyak lagu yang cukup digemari. Sebut saja "Alenklenk", "Marlena" dan beberapa yang lainnya.

Lagu Madura ternyata cukup nyaman didengar. Apalagi liriknya sangat dekat dengan keseharian. Saya tak tahu apakah sudah ada peneliti yang mengamati eratnya kaitan antara musik dan cerita keseharian. Tapi dari pelajaran semasa kuliah di Fakultas Sastra, saya memahami bahwa ada reciprocal, sebuah hubungan yang tak bisa dielakkan dan saling mempengaruhi, antara sastra dan dunia nyata. Karya sastra pasti dipengaruhi oleh lingkungan tempat sang pengarang hidup, dan karya sastra itu juga bisa mempengaruhi lingkungan para pembaca.

Mungkin sama kasusnya dengan musik-musik Madura yang dibeli oleh kawan saya itu (dan sepertinya hal yang sama terjadi di musik lain). Ada sebuah hubungan erat antara hidup keseharian dan musik lokal. 

Simak saja lagu "Marlena" dari Sukkur. Disana ia berkisah dengan romantis dan sedikit merayu, Marlena/dika mace' raddina/eabasa dari dimma/dika cek sampornana. Disana mungkin kita bisa lihat bagaimana kultur merayu masyarakat Madura yang sepertinya tak jauh beda dengan kultur masyarakat Melayu, sedikit mendayu dan hiperbolis. 

Atau simak juga lagu "Abini Due", yang dalam arti harfiahnya adalah "Beristri Dua". Disana ada dua penyanyi: laki dan perempuan. Sang lelaki mengeluh, kenapa hanya beristri satu. "padana mano' le' e dalam korong" katanya. Lalu sang istri membalas dengan ketus "pajhat reng lake', ngalak nyamanna dibi'".

Disini kita bisa melihat bagaimana --ini dugaan iseng saya semata-- kisah beberapa pria patriarkis --yang kebetulan berbahasa Madura-- yang ingin beristri dua dan ditentang oleh sang istri yang menganut falsafah Madura "lebbi bagus pote tollang, atembang pote mata", yang artinya lebih baik putih tulang ketimbang putih mata. Peribahasa ini dimaknai sebagai lebih baik mati ketimbang hidup menanggung malu. 

Falsafah itu memang lebih sering diasosiasikan dengan budaya carok. Tapi keyakinan "lebih baik mati ketimbang hidup menanggung malu" juga layak disematkan terhadap para perempuan yang dengan keras menolak poligami. Mereka menolak untuk dimadu. Bagi mereka, dimadu adalah sebuah aib. 

Selain contoh yang saya ceritakan diatas, jelas masih banyak lagi contoh lain yang bisa kalian temukan di daerah yang  kalian kunjungi. Kalau kalian berpergian ke suatu tempat, usahakan cari VCD musik lokal. Cari musik tradisional kontemporer, musik yang bercerita mengenanai kekinian, tapi dinyanyikan dalam bahasa daerah. Biasanya, musik-musik macam ini erat dengan ritus keseharian masyarakat lokal.

***

Singkat cerita, VCD berisi lagu-lagu Madura itu pun diboyong pulang ke Surabaya, tempat sang kawan tinggal. Ketika saya iseng-iseng menengok back-sleeve, saya melihat sebuah logo label. "Ainun Aula Records". Saya merasa pernah melihatnya. Saya mengingatnya dengan keras, dimana saya pernah melihat logo itu.

Sial! Itu adalah logo perusahaan rekaman di kota Jember, kampung halaman kami berdua! Dan kami tak pernah sadar akan hal itu. Ah, kami memang bukan pejalan dan pengamat yang baik... []


Post-scriptum: beberapa kalimat dalam bahasa Madura memang sengaja tidak diartikan. Jika ingin tahu apa artinya, silahkan mencari tahu sendiri. Tulisan ini dibuat dalam rangka menulis untuk majalah The Travelist edisi 6 yang bertema Traveling Through Music. Majalah keren ini bisa diunduh cuma-cuma di sini. Oh ya, majalah kece ini juga baru saja merayakan hari lahir yang pertama. Sukses terus buat kalian, let's get lost!