Tampilkan postingan dengan label The Doors. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label The Doors. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Mei 2012

Tentang Morrison Hotel

Januari 1970. Amerika sedang panas meradang. Ribuan tentara yang kebanyakan adalah anak muda dikirim ke Vietnam. Nyaris sebagian besar dari mereka tumpas. Tewas sia-sia untuk perang yang mereka bahkan tidak tahu untuk apa.

James Douglas Morrison, seorang penulis puisi asal Amerika, menuliskan kudos untuk para anak-anak muda dari tanah kelahirannya itu. Lebih mirip sebuah doa miris: American boy, american girl/ most beautiful people, in the world.

James, baru saja merilis buku kumpulan puisinya secara rahasia. Antologi bertajuk An American Prayer itu seringkali dianggap sebagai puisi-puisi anti militer. Sedikit ironis. Sebab ayah James adalah seorang petinggi di Angkatan Laut. Tapi jadi masuk akal ketika James membenci sosok ayahnya yang keras dan otoriter.

Selain itu James juga sedang menuliskan puisi panjang yang akan diberi judul "Anatomy of Rock". Puisi yang dalam buku Life, Death, Legend karangan Stephen Davis disebut sebagai 'a surreal, misogynistic meditation on a psychotic high school featuring images of crashed school buses and raped cherleaders'.

James sedang dalam kondisi lembut ketika buku puisinya dirilis. Ia sedang dalam bentuk seorang penyair. Bukan Jim Morrison sang vokalis The Doors yang flamboyan. Bukan pula Jimbo yang destruktif dan gemar membuat onar. Tidak pula Lizard King yang magis dan seolah terasuki arwah Indian tua. James adalah James, seorang penulis puisi dengan cambang yang tumbuh dan badan yang subur, dengan tatapan mata yang seringkali menunduk ke bawah: ia pemalu.

Tapi siang itu, masih tetap di bulan Januari tahun yang sama, James bosan dengan cambangnya yang lebat. Ia memangkas habis semuanya. Ia tampak lebih bersih, klimis. Sang pria pemalu ini sedang akan memasuki sesi foto bersama sang pasangan kosmiknya: Pamela Courson, seorang perempuan riang dengan rambut merah yang terang menyala.

Para kru manajemen The Doors senang dengan keputusan James memotong cambang dan brewok. James dengan tampilan bak seniman itu tak bisa dijual pada massa. Kumpulan penggemar The Doors butuh Jim Morrison, pria rupawan nun flamboyan yang cocok sekali menjadi simbol seks. Dengan segera, para kru menjadwalkan sesi pemotretan untuk album baru The Doors. Album kelima mereka.

"Jim tidak banyak bicara" kenang Henry Diltz, musisi yang juga merangkap sebagai fotografer yang bertugas memotret The Doors sore itu. "Dia hanya duduk dengan santai, mengangguk pada orang yang mengenalinya, mengamati orang yang lalu lalang" lanjutnya.

Ray Manzarek, sang keyboardist The Doors, menemukan spot foto yag menarik. Di South Hope Street 1246, teronggok sebuah bangunan kumuh bernama Morrison Hotel, sebuah penginapan kecil bertarif 2,5$ per malam.

Tapi alih-alih menyambut mereka dengan senang, sang manajer tak perduli dengan The Doors, salah satu band terbesar Amerika saat itu. Ia melarang pengambilan foto di lobi hotel. Semua bingung. Ketika manajer hotel dipanggil oleh seseorang, para anggota band segera menghambur dengan lekas ke dalam lobi hotel. Diltz memotret mereka dari luar.


Bagi para pecinta semiotika, foto yang kelak menjadi kover album Morrison Hotel ini menandakan sesuatu: The Doors pernah mencapai puncak ketenaran. Lalu terjatuh hingga titik paling bawah akibat semua keonaran yang ditimbulkan oleh sang vokalis mereka. Juga album keempat mereka; Soft Parade, gagal secara penjualan maupun kualitas. Hotel Morrison adalah lambang dari titik terendah mereka. Tak ada lagi titik terendah bagi sebuah band besar selain hotel murahan yang hampir ambruk . Maka jalan satu-satunya bagi mereka adalah: segera kembali naik ke atas.

Hal itu benar terjadi.

                                                                                  ***

Bill Siddons, sang manajer The Doors, menganggap Morrison Hotel adalah album yang membunuh The Doors. Tapi penjelasannya nyaris tidak dapat diterima secara logis. Secara penjualan, album ini memang tak bisa melampaui mahakarya album pertama s/t. Namun secara musikalitas, 4 orang pria asal Los Angeles ini berhasil kembali pada trek yang benar. Berakar pada blues dan R&B, musik yang menemani kuartet ini tumbuh bermusik. Selain itu, angka penjualannya sebenarnya cukup lumayan, terjual 500 ribu keping dalam waktu hanya dua hari saja.

Dalam majalah Jazz & Pop, Jim menyebut album ini sebagai "album tentang Amerika". Selain itu, ia berseloroh bahwa album ini adalah Doors yang baru. Album ini dibagi jadi 2 sisi. Sisi A diberi tajuk "Hard Rock Cafe" dan Sisi B diberi tajuk "Morrison Hotel".

Ada banyak lagu yang kelak jadi klasik. Di sisi A, ada "Roadhouse Blues" yang didedikasikan terhadap para manusia jalanan: para supir truk, biker, hitchiker, dan manusia-manusia yang seluruh hidupnya di jalan. Lagu ini benar-benar magis. Dengan riff rockabilly dan bluesy harmonica, Jim meliuk-liuk dengan liar. Ia bernyanyi dengan energi yang meletup-letup. Dengan kalimat yang akrab bagi para orang-orang jalanan "I woke up in the morning and get my self a beer". Ode untuk para eksistensialis "The future is uncertain and the end is always near". Juga seruan bacchanalian "You gotta beep a gunk a chucha. Honk konk konk. You gotta each you puna. Each ya bop a luba. Each yall bump a kechonk. Ease sum konk" yang tak jelas maksudnya. Dan dipungkasi dengan "let it roll baby!".

Ganas!

Di sisi B, ada "The Spy" yang judulnya diambil dari judul novel Anais Nin, A Spy in the House of Love. Lagu ini adalah lagu blues bertempo lambat dan bernuansa misterius, lengkap dengan honky-tonk piano, paranoia, juga ketakutan-ketakutan yang tersembunyi.

Juga ada "Queen of the Highway", lagu yang komplit: lirik elegiac yang dibuat oleh Jim (take us to Madre), permainan piano elekrik Ray yang menggunakan Fender Rhodes --perangkat yang sama dengan yang digunakan band Miles Davis saat itu--, dan melodi gitar nan indah dari Robbie. Lengkap dengan ketukan drum yang pelan tapi eksplosif ala John Densmore.

Meski secara penjualan tidak mampu mencapai angka yang sangat memuaskan, album ini sering dianggap sebagai salah satu album terbaik The Doors, selain album pertama mereka tentu saja. Para kritikus mencintai musik mereka di album ini. Bahkan beberapa dari mereka menganggap Morrison Hotel adalah album terbaik dari The Doors, bukan album pertama mereka.

Dave Marsh, seorang kritikus musik sekaligus editor Creem mengatakan bahwa album ini "Album rock n roll paling mengerikan yang pernah aku dengar. Ketika The Doors dalam performa terbaiknya, tak ada yang bisa mengalahkan mereka. Aku yakin, ini adalah album terbaik yang pernah aku dengar di hidupku hingga saat ini..."

                                                                            ***

The Doors memang tidak berumur panjang. Terhitung sejak merilis album pertama mereka pada tahun 1967, Band ini bubar seiring meninggalnya sang vokalis, Jim Morrison pada tahun 1971. Selama kurun 4 tahun, The Doors mengeluarkan 6 album. L.A Woman menjadi album terakhir mereka sebelum Jim terbang ke Paris bersama Pamela, untuk kemudian hidup dan meninggal disana.

Mengingat album ini, seperti mengingat seorang James Douglas Morrison: seorang penyair pemalu yang kebetulan menjadi vokalis di sebuah band rock. Ketika menjalani tur Roadhouse Blues, sosok James muncul pada tanggal 7 Februari 1970. Saat itu mereka bermain di sebuah konser yang tiketnya terjual habis di Long Beach Arena.

Jim, eh maksud saya James, bermain dengan sadar. Ia sanggup bernyanyi belasan lagu. Sesuatu yang jarang, karena biasanya konser The Doors selalu terhenti di tengah karena ricuh. Ketika lagu ke 18, "Soul Kitchen" memasuki bagian akhir lagu, para penonton sudah berdiri. Bersiap untuk pulang.

Tapi James mencegah mereka, dengan sopan ia berkata "Hey, dengar. Apakah kalian harus pulang cepat malam ini? Jangan pulang dulu. Kalian ingin dengar lebih banyak lagu lagi, iya kan?". Para gerombolan penonton yang nyaris bubar kembali bersemangat dan menyemangati The Doors untuk terus bermain. Konser lantas berjalan 1 jam lagi. Salah satu konser terpanjang The Doors. Dan selama konser berjalan, tak satupun kata "fuck" yang terlontar dari mulut sang vokalis.

Malam itu Jim Morrison berlaku sebagai penyair yang kebetulan menjadi vokalis The Doors. Bukan lagi vokalis The Doors yang kebetulan menjadi penyair.

Malam itu ia adalah James Douglas Morrison, the American Poet...

Sabtu, 07 Januari 2012

Jim Yang Nyaris Terlupakan


Saya sudah nyaris melupakan siapa itu Jim Morrison. Sampai saya melihat folder "When You're Strange". Itu adalah judul film dokumenter mengenai The Doors. Entah roh Indian mana yang menggelitik saya untuk membuka folder itu. Seakan ada yang membimbing tangan untuk menggerakkan tetikus, menekan dua kali file When You're Strange.

Semua seperti kebetulan. Ketika berada di Jember beberapa waktu lalu, saya menemukan kaos bergambar Jim Morrison yang sempat hilang beberapa saat. Kaos putih ini adalah pemberian Maya Wuysang, seorang karib. Saya memakainya nyaris setiap saat. Setelah dicuci, saya pakai lagi, cuci lagi, begitu seterusnya. Hingga warna putihnya memudar dan berganti dengan warna putih kelam. Atau bisa disebut kelabu.

Selepas menemukan kembali kaos kesayangan saya itu, saya membawanya ke Jogja, dan kembali melakukan ritual suci: menggunakan kaos putih itu setiap saat, selepas dicuci.
***

Seorang pria brewok keluar dari mobil yang ringsek, dengan kaca yang pecah. Ia terhuyung. Rambut panjang berombaknya melambai-lambai. Ia memakai jaket kulit lengkap dengan bulu. Pakaian yang tak lazim digunakan di padang pasir. Ia memakai kaos tye-dye berwarna biru tua dengan beberapa lingkaran putih. Celana kulit ketat berwarna hitam membungkus kakinya yang jenjang dan pantatnya yang padat.

Ia berdiri di tepi jalan. Menggoyangkan jempolnya, isyarat untuk menumpang. Tapi tak ada yang perduli dengan pria kumal ini, kecuali sebuah mobil sedan hitam.

Layar berganti.

Pria gondrong tadi sudah mengendarai mobil American muscle itu. Terdengar suara radio di mobil, memberitakan kabar buruk bagi penggemar musik rock: kematian Jim Morrison, vokalis flamboyan dari The Doors.

Matahari tenggelam dari kejauhan.
***

Saya selalu merinding dan juga penasaran.  Bagaimana caranya lelaki gondrong di awal film "When You're Strange" itu --Ia adalah Jim Morrison-- bisa mendengarkan berita tentang kematiannya sendiri? Ataukah saya yang tak tahu apapun soal Jim? Jangan-jangan itu memang potongan film yang dibuat oleh Jim sendiri? Tapi bagaimana mungkin ada manusia yang begitu sakti hingga ia bisa meramalkan sendiri kematiannya dengan cara yang --terlalu-- tepat?

Film "When You're Strange" adalah antitesis dari "The Doors", film fiksi mengenai The Doors, garapan Oliver Stone yang membuat saya jatuh cinta pada band asal California ini untuk pertama kalinya.

Dalam "The Doors", Jim digambarkan sebagai seorang yang destruktif. Ia suka menyakiti dirinya sendiri, berbuat kekacauan yang sepertinya tak mungkin dilakukan seorang manusia.

Ray Manzarek, sang keyboardist The Doors, menganggap Oliver melupakan sisi manusiawi Jim Morrison yang kocak, cerdas, dan juga pemalu. Karena itu Ray begitu mendukung fim "When You're Strange" yang dianggap  sebuah representasi tepat mengenai sosok Jim Morrison. Film ini bertambah tinggi "derajat-nya" karena menyertakan beberapa footage montage mengenai The Doors yang selama ini belum pernah di pubikasikan.

Perhatian saya teralih pada suara pintu dibuka. Itu Arys, kawan saya. Ia datang membawa tas plastik berwarna putih. Isinya rokok, camilan, dan sekaleng bir.

"Kan gak enak curhat-curhatan lek gak ono bir-e" ujarnya dengan senyum nakal.

Saya tersenyum balik. Ini berarti akan ada sesi curhat semalam suntuk. Dan ya, bir paling enak diminum dengan musik The Doors sebagai pengiring. Sebelum saya mengganti "When You're Strange" dengan lagu The Doors, saya biarkan kata-kata terakhir di film garapan Tom DiCillio itu berkumandang pelan.

To some, Jim was a poet, his soul trapped between heaven and hell.
 To others, he was just another rock star who crashed and burned.
 But this much is true - you can't burn out if you're not on fire.

Selasa, 12 Juli 2011

Tuhan Bersemayam di Pere La Chaise

2 Juli 1971. Jim Morrison sedang duduk sendirian di sebuah kafe di tengah kota Paris yang hiruk pikuk. Seorang teman yang bernama Alain Ronay baru saja meninggalkannya. Sore itu Alain mempunyai janji kencan dengan pacarnya, Agnes Varda, dan ia sudah sangat terlambat. Seharian ia menemani Jim, sang vokalis band rock paling terkenal dan paling kontroversial itu berkeliling kota Paris. Melanglang rue Tournelle, mencari film 16-mm Fritz Lang, hingga pergi ke toko boots.

Jim sedang tak beres hari itu. Alain dengan sangat jelas merasakan ketidakberesan itu. Sebermulanya adalah kesepian. Hari itu Jim sedang merasa kesepian. Sehari sebelumnya ia sedang bertengkar dengan Pamela. Sebenarnya bagi pasangan kosmik ini, pertengkaran adalah menu harian. Tapi entah kenapa hari itu Jim merasa berbeda. Karena itu ia merajuk, merayu Alain agar mau menemaninya seharian.

Selain kesepian, kondisi badan Jim sedang payah. Kemungkinan besar hal ini adalah hasil rapelan gaya hidupnya yang begajulan semenjak dulu. Siang itu peluhnya mengalir lebih deras dari biasanya. Jim kesakitan dan berusaha melawan rasa sakit itu. Kelak dokter mengatakan kalau Jim ternyata menderita hiccuplike spasm (semacam kejang otot) pada dadanya. Jim dengan susah payah berusaha bernafas. Nafasnya memburu kencang. Alain yang khawatir segera memaksa Jim untuk pergi ke rumah sakit. Tapi Jim sang kepala batu menolaknya.

Jim lantas mengajak Alain untuk menenggak bir di sebuah kafe. Disana sebenarnya Alain sudah ingin meninggalkan Jim. Ia teringat Agnes yang kemungkinan besar menahan murka. Tapi Jim merajuk, tak ingin sendirian. Ia sedang benar-benar rapuh sore itu.

"Ayolah Alain. Temani aku minum beberapa botol bir. Jangan pergi dulu, demi persahabatan kita" ujar Jim memelas.

Tapi di sana, Jim kambuh lagi. Ia tampak kesusahan bernafas. Jim berusaha bernafas, dengan mata yang tertutup karena menahan rasa sakit. Alain tiba-tiba seperti melihat sesuatu yang mengagetkan: muka Jim yang pucat seperti mayat.

Setelah nafasnya normal, Jim meminta tambahan bir. Tapi akhirnya Alain tak tahan lagi. Terbayang muka Agnes yang geram karena disuruh menunggu lama hanya karena Alain menemani seorang rock star kadaluarsa berpesta bir. Maka dengan bergegas dan bersikeras, Alain meninggalkan tempat itu. Akhirnya Jim membiarkannya. Ketika berjalan menuju stasiun, Alain menengok ke belakang, ia melihat sosok Jim yang sedang duduk di kursi. Tampak rapuh dan kesepian. Tapi sekali lagi, wajah gusar sang kekasih membuat Alain meneguhkan kaki untuk pergi.

Alain tak tahu bahwa hari itu adalah hari terakhir ia bisa bercengkarama dengan Jim Morrison.

***
3 Juli 1971. Pamela Courson terbangun di tengah malam yang dingin. Jim dan Pamela sudah rujuk kembali. Di luar angin berhembus, membuat tirai melambai-lambai di kamar yang ia tempati bersama Jim. Saat itu Pamela sadar bahwa Jim tak ada disampingnya. Ia bangun, memanggil Jim.

Tak ada jawaban.

Lalu ia pergi ke kamar mandi. Jim-nya ada disana. Menyandarkan diri di bathtub porselen dengan rambut tergerai.

Pamela mendekati Jim sembari memanggil Jim. Tapi pria yang bernama lengkap James Douglas Morrison ini tak menoleh. Pamela lantas terdiam ketika berhadapan dengan Jim. Muka pria ini sudah pucat pasi. Wajahnya bersih tanpa brewok. Wajahnya tirus, menonjolkan karakter tegas pada wajah yang kerap kali disamakan dengan wajah rupawan Alexander the Great. Bibirnya terkatup, tersenyum simpul. Matanya terbuka, menatap nanar ke depan. Pandangan yang kosong.

Jim Morrison sudah meninggal.

Pamela terduduk sendu sembari duduk bersimpuh di depan bathtub tempat terakhir Jim mengembuskan nafas. Ia terduduk cukup lama. Sebelum akhirnya "lagu A Feast of Friends" terlantun.

Do you know how pale and wanton thrillful
Comes death on a strange hour
Unannounced, unplanned for
Like a scaring over-friendly guest you've
Brought to bed
Death makes angels of us all
And gives us wings
Where we had shoulders
Smooth as raven's claws

Adegan diatas adalah peratapan akan kematian yang dramatik dan fiktif. Adegan melankolis itu ada pada film The Doors garapan Oliver Stone. Layaknya film drama, ending haruslah mencekat banyak penonton. Di film yang dicerca oleh Ray Manzarek karena banyak mengumbar kebohongan itu, digambarkan Jim Morrison meninggal dengan tersenyum dan muka bersih. Lalu Pamela menangisi kematian Jim.

Tapi yang terjadi sebenarnya sungguh berbeda.

Dalam buku Jim Morrison: Life, Death, Legend karya Stephen Davis, digambarkan suasana kematian Jim yang menimbulkan chaos. Setidaknya bagi Pamela.

Ketika Pamela bangun 3 Juli, pada hari yang tak terlampau dini, ia merasa Jim memanggilnya. Tapi ia mengira hanya bermimpi. Ketika matahari kemudian tandang, Pamela mencoba mencari Jim yang tak ada di kasurnya. Lalu gadis berambut merah ini mendatangi kamar mandi. Ruangan itu dikunci dari dalam. Lantas ia berteriak dan menggedor kamar mandi.

Karena tak kunjung berhasil membuka pintu kamar mandi, dengan panik ia menelpon Jean de Breteuil, pacar gelapnya, yang saat itu tengah tidur di ranjang bersama Marianne Faithfull. Ketika Jean bangun dan memberitahu bahwa yang menelpon adalah Pamela, Marianne merengek ingin ikut dan bertemu Jim Morrison.

"Not possible baby. Not cool right now, OK? Je t'explique later. I'm right back" larang Jean sembari tergesa.

Dalam setengah jam, Jean sudah sampai di kamar yang ditinggali oleh Jim dan Pamela. Pam yang saat itu mengenakan djellaba sutra sudah tak bisa berpikir, dan omongannya melantur. Jean dengan segera memecahkan kaca kamar mandi, membuka kenop, dan masuk ke dalam kamar mandi. Saat itulah mereka menemukan pemandangan yang mengenaskan.

Jim Morrison sudah meninggal, masih berada dalam bathub porselen. Ada darah kering yang membekas di hidung dan mulutnya. Lalu ada dua lingkaran besar berwarna ungu di dadanya (yang semakin meneguhkan hipotesa bahwa Jim meninggal karena gagal jantung atau hiccuplike spasm, bukan karena overdosis). Air di bathub sudah berwarna keruh karena darah yang terus mengucur sampai jantung Jim berhenti berdetak. Tapi Pam berkata, itulah wajah terdamai Jim Morrison yang pernah ia lihat. Kepalanya terkulai ke sebelah kiri, dan ada senyum tipis tersungging.

"He had such a serene expression, if it hadn't been for all that blood..." ujar Pam dalam suatu wawancara.

Pam lantas menelpon Bill Siddons, manajer The Doors yang saat itu sedang ada di Amerika. Keesokan harinya Bill datang dan segera mengurus sertifikat kematian, menulis nama sang jenazah dengan nama lahirnya: James Douglas Morrison: seorang penyair. Setelah semua urusan administrasi selesai, peti mati itu dibawa ke Pere La Chaise, tempat persemayaman beberapa orang terkenal macam Edith Piaf, Oscar Wilde, hingga Fredric Chopin, yang ironisnya pernah dikunjungi oleh Jim di awal kedatangannya di Paris. Jim tentu tidak bakal menyangka kalau akhirnya ia dikebumikan di tempat yang sama.

7 Juli 1971, Jim Morrison dikuburkan. Hanya ada lima orang yang menghadiri pemakaman rock star terbesar sepanjang masa itu: Pamela, Alain Ronay, Agnes Varda, Robin Wertle, dan Bill Siddons. Tak ada pendeta, tak ada doa layaknya pemakaman lain. Semua lindap dalam sepi yang bergemuruh di dalam hati masing-masing. Dengan pandangan berkaca, Pamela melaksanakan wasiat Jim yang ingin agar ada beberapa patah kata yang diucapkan ketika ia mati.

Pamela berdehem dan berucap dengan pelan. Baris terakhir dari puisi "The Celebration of the Lizard".

Now night arrives with her purple legion
Retire now to your tents and to your dreams
Tomorrow we enter the town of my birth
I want to be ready

***

24 Juni 2011. Saat itu musim panas. Semua wajah orang Paris mendadak cerah menebar senyum, walau tetap saja membuat saya jengkel karena setiap ditanya dalam bahasa Inggris, mereka menjawab dengan bahasa Perancis. Saya sedang berada di metro bernomer 3, menuju Pere La Chaise. Seorang pengamen keliling memainkan klarinet dengan merdu. Saya teringat adegan pembuka di video klip People Are Strange, dimana ada seorang tua yang memainkan klarinet sebelum ditimpali suara petikan gitar dan Jim bernyanyi liris, “people are strange, when you’re a stranger. Faces look ugly when you’re alone”.

Selepas stasiun Rue Saint Maur saya bersiap. Stasiun Pere La Chaise ada di depan. Lazimnya, wisatawan yang ingin menuju Pere La Chaise berhenti di stasiun Gambetta, lalu berjalan sebentar menuju pintu utama kompleks pepusaraan ini, menuju pusara Oscar Wilde yang terletak di divisi 89, dekat dengan pintu utama. Tapi saya pergi ke kompleks pepusaraan seluas lebih dari 48 hektar ini bukan untuk sowan ke pusara Wilde. Maka saya berhenti di stasiun Pere La Chaise, berjalan sebentar ke luar stasiun, voila, saya langsung bertatapan dengan pekuburan itu.





Setelah membeli peta seharga 2,5 euro, mulailah saya menerka dimana tepatnya divisi 6, tempat pusara Jim Morrison berada.

Setelah berjalan sesuai direksi peta selama hampir 20 menit, sampailah saya di divisi 6. Tapi pencarian saya masih belum selesai. Saya masih harus mencari pusara Jim diantara jejeran pusara-pusara tua yang berlumut. Cahaya matahari hanya mengintip malu dari rimbun pepohonan besar yang rindang. Sesekali terdengar suara kaok gagak yang berisik. Semua kombinasi itu mengingatkan saya pada film horor klasik, The Omen.

Saya berpatokan pada ingatan lama mengenai pusara Jim Morrison. Yang masih terdapat patung Jim buatan Mladen Mikulin. Ternyata saya tak bisa menemukannya. Hampir 15 menit saya mengitari divisi 6, sebelum saya menemukannya. Teronggok tersembunyi diantara makam lainnya.






Akhirnya saya melihatnya dengan mata kepala sendiri. Pusara James Douglas Morrison, vokalis yang saya idolakan semenjak saya berseragam putih biru. Mimpi untuk berkunjung ke pusara vokalis idola saya ini tak pernah saya koarkan. Hanya terucap dalam hati saja. Seusai saya kebingungan menerka cerita film The Doors ketika masih ingusan. Sekarang saya melihatnya dengan mata kepala saya sendiri. Cukup membuat bulu roma saya bergidik.

Pusara Jim Morrison tak sama dengan yang saya bayangkan. Tak ada lagi patung, tak ada lagi coretan-coretan vandal di nisannya. Pusara sang pesohor yang mengundang puluhan ribu orang tiap tahun untuk berziarah itu hanya berupa pusara kecil dan sederhana. Tak jauh beda dengan pusara di sebelahnya, malah lebih kecil. Hanya ada beberapa bunga yang ditaruh di atas pekuburannya, dan beberapa "sesajen" yang ditaruh diatas nisan. Pada nisan, tertulis kalimat berbahasa Yunani, ΚΑΤΑ ΤΟΝ ΔΑΙΜΟΝΑ ΕΑΥΤΟΥ yang secara literal dapat berarti "true to his own spirit."





Saya tak pernah lupa perasaan saya siang itu. Saya duduk bersimpuh di sebelah pusara Jim, mengusap nisannya, lalu berdoa dengan cara lain: memutar "People Are Strange" secara kontinyu. Perasaan saya aneh, susah untuk ditulis. Suasana cukup syahdu walau ada beberapa orang yang riuh, memotret, mencoretkan spidol di pohon depan pusara (karena tak bisa mencorat-coret pusara), hingga memutar lagu The Doors, sama seperti saya.

Saya sendiri merasa diberkahi. Pasalnya adalah saya bisa berfoto di sebelah pusara Jim. Berkali-kali pula. Ketika saya selesai berfoto, muncullah seorang satpam yang lantas marah-marah karena pagar pelindung pusara Jim dibuka. Ia pun mengusir orang-orang yang saat itu sedang asyik berfoto. Ternyata pusara itu dipagari untuk mencegah ulah vandalisme beberapa orang. Ulah vandalisme itu bisa berupa pencongkelan batu nisan Jim, atau corat-coret, tanah makam dikeduk, bahkan patung Jim pun dibawa kabur.



Sejak ulah vandalisme itu semakin menggila, maka pihak Pere La Chaise perlu memasang pagar dan menempatkan satpam. Setelah satpam itu datang, tak ada yang boleh berfoto di sebelah pusara itu. Beberapa orang merengek agar pagar dibuka, tapi sang satpam tak bergeming.

Betapa beruntungnya saya.

Setelah itu saya masih duduk di depan pusara. Selepas 60 menit, saya bangkit dan beranjak pergi. Baru berjalan sekitar 200 meter, ada satu rombongan keluarga dari Amerika bertanya dimana pusara Jim. Daripada saya bingung menjelaskan, saya pun mengantar mereka ke pusara itu. Sepertinya setelah ini saya bakal ditawari pekerjaan sebagai guide di Pere La Chaise.

"Kami dari Florida. Jim Morrison lahir di Florida lho" ujar sang bapak dengan bangga. Saya hanya menimpali dengan senyum.

Perkataan bapak tadi (juga beberapa fans Jim yang saya temui di Pere La Chaise) menyadarkan saya akan sesuatu. Jika kita berbicara tuhan (tuhan konvensional yang biasa disembah), maka kita berbicara ia yang bersifat mono, alias tiap agama punya tuhannya masing-masing. Tapi ketika kita berbicara "tuhan" alias figur yang dipuja layaknya tuhan, maka ia menerobos semua sekat. Baik itu ras ataupun agama.

Jim Morrison adalah salah satunya. Bahkan ketika sudah 40 tahun meninggalkan dunia, masih banyak orang yang datang ke pusaranya, masih banyak pula orang yang menyembahnya.

Dengan diiringi "People Are Strange", saya berjalan pelan meninggalkan tempat “tuhan” disemayamkan pada 3 Juli, 40 tahun yang lalu. Sore itu musim panas yang hangat. Angin bergemerisik pelan. Pere La Chaise lalu kembali sunyi seiring langkah saya yang semakin jauh…

Selasa, 17 Mei 2011

I'm Lizard King, I can do anything!


I'm Lizard King, I can do anything!

Jim Morrison adalah sebuah sosok yang kompleks. Pemikirannya seperti labirin yang rumit nun tak berujung. Sikapnya layaknya cuaca yang tak bisa tertebak, bahkan oleh para weather man. Pria berambut ikal dengan rahang kokoh ini juga punya beberapa kepribadian.

Jimmy yang kecil, chubby, dan ketakutan karena melihat sosok Indian tua yang "bleeding to death". James Douglas Morrison; sang pemberontak yang romatis, yang pergi ber-hitchiking keliling Amerika dan menganggap sosoknya sebagai "killer on the road". Jim Morrison; seorang vokalis tentatif pemalu berwajah rupawan dari band bernama The Doors, juga merupakan penulis puisi yang romantis. Jimbo; sang rock star yang telah terjauhkan dari ketenaran dan spotlight, berperut buncit, brewokan, dan pembuat onar. Mr. Mojo Rising; seorang misterius yang entah datang dari mana, yang begitu menyukai rasa sakit dan sangat mendambakan kematian, ia terasuki konsep Übermensch Nietzsche dan menganggap semua orang adalah budak. Hingga Lizard King yang magis, terasuki roh Indian, sosok totem yang melindungi para ksatria Indian.

Semua berkelindan dalam satu sosok.

PADA tahun 1955, Jimmy remaja menonton film berjudul Rebel Without A Cause yang dibintangi oleh James Dean . Film yang disutradarai oleh Nicholas Ray ini adalah tipikal film yang menyulut darah muda, menunjukkan sisi pemberontakan yang romantis dan begitu heroik. Dean yang memerankan tokoh bernama Jim Stark mendapatkan julukan Jimbo oleh sang ayah yang pemabuk. Akhirnya nama inilah yang dipakai untuk menandai Jim Morrison yang pemabuk dan pembuat onar.

Say hi to Jimbo.

Pada tahun yang sama, Jimmy pindah ke Albuquerque, New Mexico. Pada circa yang sama ini, Jim mulai menunjukkan sisi pemberontakannya. Dia berhenti les piano, menolak melanjutkannya, dan menolak untuk menghabiskan waktu bersama keluarganya. Rumah keluarga Morrison yang berada di daerah gurun, membuat Jim begitu bahagia. Ia sering menghabiskan waktu dengan menjelajah gurun di sekitar rumahnya, mengagumi reptil gurun bertampang prehistoric. Ia mulai menyukai kadal, ular, hingga armadillo. Jim mulai membaca banyak literatur tentang hewan padang pasir ini. Hingga akhirnya ia sangat jatuh cinta dengan kadal (lizard). Ia lantas membaptis diri menjadi sang raja kadal. Dengan persona ini, ia merasa bisa melakukan segalanya, membuat kematian menjauh, dan membuat bumi berhenti berputar.

Magis sekaligus eksotis.

I can make the earth stop in its tracks. I made the blue cars go away.

Kamis, 02 Desember 2010

Happy Psychedelic Birthday, John!




Suatu sore di sebuah ruang tamu rumah pinggir pantai di Venice. 4 orang pria dan 2 orang perempuan berada disana. Para pria itu memainkan musik yang terdengar aneh. Tak ada pemain bass dalam band mereka. Musiknya terdengar liar, dengan suara vokalis yang berat.

Sang drummer matanya tampak nyalang, dengan rambut yang berombak, dia memukul drum dengan penuh penjiwaan. Tiba-tiba dia berhenti memainkan drumnya.

"Ada apa?" tanya pemain synth yang memakai kacamata itu.

"Kedengarannya jelek" keluh sang pemain drum itu.

"Tak apa, tetap mainkan musik seperti itu. Kita mainkan bossanova" lanjut sang pemain synth.

Melihat suasana yang tidak enak itu, dua perempuan yang ada di ruangan itu segera keluar, diikuti dengan tatapan dan helaan nafas para pemain band.

"Aku punya ide, dari nada a minor dan f " kata sang pemain gitar memecah keheningan dan lantas mengeluarkan sobekan kertas dari sakunya. Dia memainkan gitar sembari bersenandung pelan.

"You know that it would be untrue..." gumamnya sembari terus memainkan gitar Gibson SG berwarna merah itu.

"Hei, itu bagus" kata pemain synth.

"Aku kasih judul Light My Fire" sahut pemain gitar yang tak pernah memakai pick gitar ketika bermain.

"Seperti musiknya Byrds, tapi aku suka, mungkin perlu sedikit sentuhan latin" kata sang drummer tampak senang.

"Ada lanjutan liriknya?" tanya sang vokalis sembari menatap si gitaris. Yang ditatap menggeleng pelan.

"The time to hesitate is through. No time to wallow in the mire..." nyanyi sang vokalis berimprovisasi.

"Oke, kasih aku waktu buat memikirkan intro lagunya" kata sang pemain synth lagi. Dia sepertinya otak dari band ini. Lantas dia kembali menekuni jejeran tuts synthesizer-nya.

"John, hitung sampai empat" pemain synth itu memberikan perintah pada si drummer.

John yang dimaksud adalah John Densmore. Mereka berempat adalah The Doors.

***

Lahir di Maine pada tanggal 1 Desember 1944, John menghabiskan masa kecilnya di California Selatan.

John belajar musik sedari kecil. Awalnya ia memainkan piano ketika berumur 8 tahun. Setelah bisa memainkan piano, ia mencoba untuk memainkan alat musik lain. Pilihannya jatuh pada clarinet. Tapi seorang dokter gigi melarang John untuk memaikan alat musik tiup, karena itu akan mempengaruhi pertumbuhan giginya yang sedang diberi kawat gigi.

Dunia musik seharusnya berterimakasih pada sang dokter gigi tersebut. Karena sejak itu, John meneguhkan niat untuk belajar drum.

John remaja menggemari jazz. Dia menggemari permainan drum Elvin Jones, yang terkenal sebagai pemain drum John Coltrane. Hal itu menjelaskan kenapa permainan John sangat powerful, menyentak, sekaligus mengejutkan, penuh improvisasi, seperti sang idolanya.

Lantas dia bertemu dengan Robby Krieger, seorang gitaris bergaya flamengo yang juga ahli bermain bottle-neck slide guitar. Keduanya mulai menulis lagu bareng dan membuat band dengan nama Psychedelic Rangers. Saat itu lah John bertemu dengan pemain keyboard yang berasal dari Chicago, Ray Manzarek. John dan Ray saat itu bermain dalam sebuah band bernama Rick and the Ravens. Anggota band itu terdiri dari John, Ray dan para saudaranya, serta seorang pemalu berwajah rupawan bernama Jim Morrison, yang dikenal Ray dari sekolah film UCLA.

Suatu ketika, saat saudara Ray meninggalkan band, John mengajak Robby untuk mengisi posisi gitaris. Empat orang formasi The Doors terbentuk sudah. Sayangnya, mereka masih belum menemukan pemain bass.

"Saat itu kami tidak bisa mendapatkan pemain bass. Kita sudah mencoba satu atau dua kali, tapi kita malah terdengar seperti Rolling Stones. Band blues kulit putih. Ah, perduli setan dengan pemain bass. Kita ingin jadi berbeda" kenang John dalam suatu wawancara.

Maka selanjutnya terjadilah apa yang disebut dengan sejarah. The Doors terbentuk, dan mereka tercetak dengan tinta emas dalam sebuah buku besar bernama Rock N Roll.

Aksen permainan John membuat The Doors lebih berwarna. Permainan jazz dan bossanova yang diperagakannya membuat nuansa musik Doors menjadi lebih kaya, tidak melulu blues dan psikedelik.

"Saat kita memainkan Break on Through, aku memasukkan beat dari Girl from Ipanema. Hasilnya adalah beat bossanova dengan rasa rock n roll. Terdengar sangat rileks, tapi aksennya rapat. Sensual sekaligus membebaskan" kata John mengenai lagu yang dimainkan di awal terbentuknya The Doors. Sebuah lagu yang awalnya dia bilang tidak bagus.

Kekuatan John terletak pada kedinamisan permainan drumnya. Dia bukanlah tipikal pemain drum yang bermain dengan kecepatan dan double pedal yang menghentak. Baginya itu semua tidak penting. Dia adalah tipikal pemain drum yang tidak kagok dengan improvisasi.

Seperti yang kita tahu, improvisasi itu sangat diperlukan untuk bisa bermain dengan Jim Morrison yang liar dan tak dapat ditebak.

John juga meneguhkan peran drummer sebagai bagian penting dalam musik, sangat penting malah.

"The drum was the first fucking instrument. The reason people move and dance is that they're trying tho get back to that hearbeat." katanya tegas.

Dalam film The Doors yang disutradarai Oliver Stone, diperlihatkan bagaimana dinamisnya John. Ketika bermain di Whisky A Go Go dan membawakan The End, tiba-tiba saja Jim merepet, meracau. John tampak bingung, berusaha menoleh ke Ray, tapi ia sedang asyik bercinta dengan syntesizernya sembari memejam mata dan menggelengkan kepala. Akhirnya John bermain mengikuti arus, mengikuti gejolak Jim yang menggeliat kesana kemari.

"Yang paling penting itu adalah dinamik. Hal itu berasal dari penggabungan antara fortissimo (beat yang sangat keras) dan pianissimo (beat yang sangat pelan), dan semua yang ada diantara dua beat itu. Itulah musik. Seperti di The End, ketukan drum bisa sangat pelan, lantas bam-bam! Aku menghantam tom-toms" kenang John ketika memainkan drum di lagu The End, sebuah lagu kematian bernuansa purba nun fantastis yang berdurasi hampir 12 menit. Di lagu ini, tampak sekali permainan drum John yang mengalir mengikuti arus yang dibawa oleh Jim dan menghantam semua tembok tebal bernama metode bermain drum yang baik dan benar.

Sayang, persona magis Jim Morrison rupanya terlalu kuat dan mengubur semua kejeniusan 3 pemain Doors yang lain. Ketika Jim meninggal, maka Doors pun ibarat kapal yang ditinggal nahkodanya. Oleng, dan lantas karam pada tahun 1973.

Bubarnya Doors tidak menghalangi John untuk tetap bermain musik. Pada tahun 1973, setelah bubarnya Doors, John membentuk band beraliran reggae bernama The Butts Band bersama Robby Krieger. Mereka bermain reggae sebelum genre musik itu membawa dampak kultural pun sosial di Amerika.

"Saat itu kita sedang berada di Jamaika sebelum Reggae datang kesini (Amerika)" kata John.

"Para jenius reggae seperti Marley dan Jimmy Cliff membawa reggae ke Amerika setelah kita, barulah setelah itu mereka menciptakan dampak besar. Kita bahkan sudah memainkan musik reggae di Amerika sebelum Clapton memainkan ulang "I Shot the Sherrif" dan The Police (juga bermain reggae)" kenangnya.


Sayang, setelah dua album, band "pantat" ini bubar pada tahun 1975.

Tahun 1978, tujuh tahun setelah kematian Jim dan lima tahun setelah bubarnya The Doors, tiga anggota Doors yang tersisa bereuni untuk album An American Prayer, album yang berisikan pembacaan puisi oleh Jim. Aslinya pembacaan puisi itu direkam pada tahun 1969 dan 1970. Musik di album ini diisi oleh Ray, John, dan juga Robby.

Setelah itu selamat tinggal pada Rock N Roll, karena setelah itu John beralih pada dunia dansa dan teater. Dia bergabung dengan Bess Snyder and Co, lalu berkeliling Amerika Serikat selama dua tahun.

Dunia barunya ini ternyata menyenangkan. Pada tahun 1985, dia memenangkan penghargaan LA Weekly Theater Award saat bermain di Methusalem yang disutradarai oleh Tim Robbins.

"Hal itu sungguh menyenangkan. Ada aura teater jalanan. Aku merasa kembali ke era 60-an" ujarnya bersemangat.

Setelah perpindahan dunia yang dramatis itu, John kembali ke dunia yang membesarkan namanya, rock n roll. Dia mengerjakan biografi berjudul Riders on the Storm: My Life With Jim Morrison and The Doors, yang lantas diterbitkan pada tahun 1990. Buku itu mendapatkan apresiasi yang bagus dari berbagai media, termasuk The New York Times Book Review dan USA Today.

John dan Robby lalu menjadi penasihat tekhnis untuk film The Doors. Mereka berdua terkesan dengan akting Val Kilmer yang memainkan Jim. Tapi mereka tidak suka filmnya secara keseluruhan.

Tahun 2006, John kembali ke akar musik jazz yang ia tekuni semenjak muda. Ia dan band barunya, Tribaljazz, merilis album pertama mereka.

Tahun 2010, tanggal 1 Desember, John Densmore berusia 66. Usia yang sudah cukup tua untuk menggebuk drum. Tapi sepertinya ia tak pernah lelah. Kerut di mukanya bertambah banyak, begitu pula ubannya. Tapi John tetap saja man of the heartbeat.

Beberapa waktu lalu, saya menonton film dokumenter mengenai The Doors yang berjudul When You're Strange yang disutradarai oleh Tom Di Cillio. Saya menyukai gaya John ketika keluar dari pintu bandara untuk menuju pesawat.

Seorang bertanya padanya. Name, age, dan occupation.

"John Densmore, 23, percussion" katanya tersenyum. Sebuah angka yang disebutnya 43 tahun lalu. Siapa yang menyangka ia masih bisa menghantam tom-tom dengan keras hingga sekarang.

Selamat ulang tahun John Densmore!


Sembari mendengarkan semua album The Doors
Saya resmi mabuk The Doors (lagi) sore ini