Tampilkan postingan dengan label Austria. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Austria. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Oktober 2011

Banyak Jalan Menuju Roma (3)



Dingin masih saja menggigit ketika kereta menuju Venezia datang. Setelah memastikan kereta itu benar menuju Venezia, saya pun melompat ke dalamnya. Huupp. Kereta ini merupakan kereta kompartemen. Hal ini lazim untuk kereta malam. 

Ketika saya masuk dan melihat-lihat, semua kompartemen sudah terisi. Penuh. Para penumpang sudah bergelimpangan. Menyelonjorkan kaki. Mirip dengan suasana di kereta Gaya Baru Malam Selatan atau Kahuripan, minus homo homini lupus. Meski penuh, suasana kereta masih nyaman. Tak tampak raut ketidaknyamanan pada muka mereka, raut yang selalu saya lihat ketika naik kereta ekonomi di Indonesia. Terutama mereka yang dengan terpaksa tidur di lantai atau duduk di toilet.

Tak berapa lama kemudian kereta bergerak. Pergi menuju Italia. Selamat tinggal Wina, semoga kita bisa berjumpa lagi kapan-kapan.

Karena kompartemen yang penuh, maka saya menggelar badan di lantai dekat pintu. Menjadikan tas sebagai bantal. Saya rebah, lalu tertidur. Sampai saya mendengar suara omelan beberapa orang.

Ternyata mereka penumpang yang tak kebagian kursi. Mereka mengomel. Memaki kerja perusahaan kereta yang mereka anggap tak becus. Alamak, belum pernah datang ke Indonesia atau India rupanya.

Saya cuek aja, berusaha memejamkan mata. Berhasil, walau cuma sekejap. Karena seorang kondetur datang untuk memeriksa tiket saya. Saya keluarkan tiket sakti bernama Eurail. Dia lantas memeriksanya. Saya pikir semua akan beres. Tapi saya salah.

"Karena ini kereta malam, anda harus menambah biaya. 7 euro." ujarnya pendek. Saya kebingungan. Masih belum tahu kalau naik kereta malam harus menambah biaya. 

"Maaf pak, kalau misalnya saya duduk di lantai saja, tapi gak usah bayar, boleh gak?" tanya saya. Kondektur itu memandang saya dengan pandangan aneh. 

Sepertinya kebiasaan saya duduk di lantai kereta terbawa hingga kesini.

Setelah ngobrol barang sejenak, saya masih tak dibolehkan duduk di lantai dan harus bayar. Saya pikir itu pungli, tapi saya salah. Cerita lengkap mengenai "pungli" ini nanti akan berujung panjang ketika saya naik kereta menuju Paris. Kondektur bilang 7 euro itu memang biaya tambahan untuk kereta malam dengan kompartemen. Karena saya membayar biaya 7 euro itu, saya akan dapat kursi. Oke, saya setuju.

Sebelum saya sempat mengeluarkan dompet, petugas mengajak saya ke sebuah kompartemen. Kompartemen itu gelap. Ketika pintu dibuka, lampu menyala. Hanya ada 5 orang disana, seharusnya isinya 6 orang. Satu orang tidur selonjor, membuat kompartemen itu penuh. Setelah kondektur membangunkan satu orang penumpang, ia lantas menyilahkan saya duduk. Saya lega, bisa mengistirahatkan badan dengan tenang.

Saya terbangun ketika terdengar suara tirai dibuka. Sinar matahari langsung menerobos. Silau euy. Tampak tebing-tebing menjulang. Sepertinya saya sudah memasuki Italia. Kalau melihat di peta, sepertinya sudah memasuki Udine. Venezia sudah tinggal sepenanakan nasi.

Mata sudah tidak mengantuk. Saya lantas menikmati daerah pegunungan Udine yang sesekali dilukis dengan jejeran pohon cemara. Aih, indah sekali. Mengingatkan saya pada lekuk Gumitir, daerah pegunungan perbatasan Jember- Banyuwangi yang berkelok dan banyak pohon cemara. Membuat saya kangen rumah.

Tak lama kemudian, pemandangan berganti jadi daerah pedesaan. Lengkap dengan rumah-rumah mungil yang sering saya baca di dongeng-dongeng. Ada sapi memamah rumput. Ada pula kuda. 

Lamunan saya terhenti. Suara dari speaker meneriakkan lantang kalau kereta sudah sampai di Venezia Santa Lucia. Saya harus turun, lalu berganti kereta untuk pergi menuju Roma. Sampai saya turun, kondektur itu tak mendatangi saya. Syukurlah, 7 euro tak jadi keluar.

Matahari bersinar terik. Saya menggendong ransel saya, membuka pintu kereta, lalu melompat keluar...

Bersambung...


Post-scriptum: Saya selalu suka dengan adegan pria beransel meloncat turun dari kereta. Kegemaran saya itu dibentuk oleh sosok Roy yang suka avonturir dengan menggunakan moda kereta. Ketika ia meloncat keluar dari kereta, itu tak berarti petualangan berakhir. Justru awal dari petualangan baru. Karena itu saya banyak menggunakan fragmen meloncat keluar dari kereta. Biar berasa jadi sosok Roy, hahaha.

Minggu, 14 Agustus 2011

Banyak Jalan Menuju Roma (2)

Villach Hauptbanhof, Dari sini saya naik kereta menuju Venezia

Hawa semakin menyengat. Saya merapatkan jaket berwarna coklat yang saya beli di pasar loak Altona. Kereta menuju Venezia sudah datang. Orang berkerumun, menyemut menuju kereta. Sebenarnya kereta ini bukan kereta yang langsung menuju Venezia, melainkan menuju Austria dan Slovenia. Saya akan turun di stasiun Villach, Austria. Dari sana saya baru naik kereta menuju Venezia.

Setelah mencari kompartemen yang kosong, dan tak ada, saya akhirnya duduk satu kompartemen dengan Chufta, seorang hippy asal Ljublana, Slovenia; yang kisahnya sudah pernah saya tulis disini.

Yang belum saya ceritakan adalah Sulaiman. Seorang pria keling yang baru saja kecopetan. Ia naik di tengah perjalanan, tepatnya di Salzburg. Ia datang dengan satu koper berukuran raksasa. Katanya ia baru saja dari Turki, pergi ke Munchen, lalu kecopetan. Semua dokumen penting dan uang hilang semua. Pria gundul ini akan turun di Villach, tempat tinggalnya.

Begitu mengetahui saya dari Indonesia, Sulaiman kegirangan. "Kakak saya pernah bekerja di Jakarta", ujarnya, "Dan rencananya saya akan kerja di Jakarta bulan depan".

Sulaiman ini begitu ceriwis. Saya dan Chufta yang sudah sama-sama teler karena ngantuk (dan Chufta teler karena menenggak banyak bir), harus mendengarkan cerita tentang kecopetannya. Tapi Sulaiman ini mukanya ceria. Bahkan dalam kesusahan pun ia masih bisa memasang tampang yang berbinar.

Sekitar jam 4 pagi, kereta sampai di Villach Hauptbanhof. Saya berpamitan dengan Chufta, mengambil tas, dan beranjak turun. Begitu juga Sulaiman.

"Kamu tinggal di Indonesia mana? Boleh saya minta kontakmu?" tanyanya sembari mengambil kertas dan bolpoin di tasnya. Saya ngobrol dengannya sembari mencari toilet. Kelenjar kemih sudah penuh, menyebabkan rasa nyeri di selangkangan.

Ternyata toilet di stasiun ini rusak. Sial. Masa saya harus menunggu kereta menuju Venezia yang masih 45 menit lagi datangnya? Mengetahui saya yang gelisah menahan kencing, Sulaiman menggandeng saya.

"Ayo, saya tahu toilet terdekat" katanya sembari memegang pundak saya. Saya ikut saja. Ternyata ia menuju bar yang terletak di bawah stasiun. Lampunya gemerlap, meriah. Ada pria mabuk yang menelungkupkan kepala di meja bar. Di sebelahnya ada satu gelas panjang berisi bir yang sudah nyaris tak bersisa, hanya buih. Saya sedikit segan kencing di bar. Bukan apa, setahu saya bar itu tempat untuk nongkrong atau minum bir. Bukan tempat untuk numpang pipis. Tapi Sulaiman bilang tak apa. Ya sudah saya masuk dan melaksanakan hajat.

Selepas saya pipis, saya melihat Sulaiman tampak kebingungan. Ia mengeluarkan serenteng kunci yang isinya begitu banyak. Benar-benar banyak.

"Kenapa man?" tanya saya.

"Ini lagi nyari kunci rumah saya, hehehe" jawabnya sembari cengengesan.

"Aha, untung kunci rumah saya cuma ada satu" jawab pria mabuk yang tadi saya lihat sembari menunjukan satu buah kunci. Lalu dengan tolol, ia menggoyang-goyangkan kunci itu, seakan meyakinkan saya dan dirinya kalau kuncinya benar-benar cuma satu. Mukanya sudah merah. Ia cengar-cengir macam orang bego. Mabuk berat. Berdiri saja sudah seperti berdiri di kapal, oleng tak karuan.

Akhirnya kunci rumah Sulaiman ketemu. Saya pun memutuskan pamit. Tiba-tiba si pria mabuk berwajah tolol itu memeluk saya, erat.

"Katanya kamu mau jalan-jalan jauh. Jaga diri ya saudaraku. Semoga selamat sampai tujuan, hiks" ujarnya sendu sembari ditingkahi cegukan. Saya tak kenal pria ini. Tapi ia memeluk saya erat, seolah saya adalah saudaranya yang akan pergi jauh. Entah karena dia ramah atau karena dia sedang mabuk. Saya yang pertama kali dipeluk oleh orang mabuk hanya bisa ketawa-ketiwi sendiri.

Pria mabuk itu melambaikan tangan. Saya membalasnya. "Hoyyy, tunggu aku" ujar pria mabuk itu sembari mengejar Sulaiman yang berjalan ke pintu keluar. Sulaiman juga tak kenal pria itu. Tapi ia juga cengengesan melihat polah si pria mabuk aneh ini.

Setelah menunggu tak begitu lama, terlihat kereta yang datang dari kejauhan. Dari cepat, lalu melambat, hingga berhenti penuh seluruh.

"Kereta menuju Venezia?" tanya saya pada petugas. Ia mengangguk pelan. Saya langsung melompat menuju kereta. Hup!

Bersambung...