Sabtu, 17 Desember 2011

Sehari-hari

Pagi menjelang. Kau menggeliat, seperti melepas semua remah kantuk dan lelah sisa semalam. Kau duduk sebentar, mengacak-ngacak rambut, lalu diam termenung sejenak. Setelah semua jiwa kembali pada raga, kau bangkit, menghidupkan dispenser, mengambil sesendok kecil kopi, lalu dua sendok kecil gula, menaruhnya dalam cangkir kecil berwarna merah. Kau suka kopi yang agak manis, sedikit berbeda dengan favorit kawan-kawanmu yang pahit. Hidup itu sudah pahit, tak perlu kita tambah pahit dengan kopi tanpa gula. Itu ujarmu suatu ketika.

Setelah air di dispenser panas, kau menyeduh kopi. Meniup-niup sebentar. Bukan karena keburu-buru, tetapi kau suka melakukannya. Hanya suka, tanpa alasan. Iya, tak semua hal perlu alasan. Seperti meniup kopi, lalu menghirup aroma wanginya yang menguar.

Setelah agak hangat, kau akan menghirupnya perlahan, dengan nikmat. Lalu mulai menghidupkan netbook. Setelah itu kau mencari daftar lagu yang nikmat untuk di dengar di pagi hari. Deep Purple, Motley Crue, Guns N Roses, Poison, Black Sabbath, The S.I.G.I.T, atau GRIBS. Kau berdendang kecil sembari membaca novel atau paper kuliah.

Kamarmu memang sedikit berantakan. Baju baru sekali pakai tergantung di tembok. Ada dua saus, tomat dan sambal, yang kau taruh di dekat tempat piring. Lalu ada setoples kopi hitam, setoples gula, setoples suwar-suwir, juga ada setoples keripik tempe khas Malang. Buah tangan dari kawan yang berkunjung ke Jogja. Lalu ada juga rice cooker yang tak kau gunakan sejak beberapa hari ini. Malas, ujarmu. Lalu ada satu kotak Energen, satu kotak Coffe Mix, juga mie instan. Ada juga sajadah dan sarung kiriman mamakmu, yang sedihnya jarang sekali kau gunakan. Walau sesekali ketika kau butuh "sesuatu" untuk bercengkrama, kau menggunakannya.

Pagi semakin menua. Kau sadar ini waktunya untuk mandi. Tapi buang air besar dulu. Kau tinggalkan kamar dengan lagu menyalak kencang. Kau buang air besar, mandi, sikat gigi. Setelah mengeringkan diri dengan handuk besar berwarna coklat, kau mengoleskan deodoran, kau lalu bersiap. Memakai celana jeans, kaos dengan ham, lalu memakai kaos kaki. Kau memanaskan motor, mematikan laptop, lalu memakai sepatu boots Dr. Marten hitam pemberian seorang teman ketika bersua di Bonn beberapa waktu lalu.

Matahari bersinar terang. Udara segar. Kau memakai helm coklat pemberian kekasihmu ketika ia berkunjung ke Bali. Katanya helm itu cocok untuk dipakai dengan motor Honda CB. Sedang saat ini kau masih dipinjami motor Kawasaki Blitz oleh kawan yang sedang kerja di Kalimantan. Kau sendiri sedang menabung untuk membeli motor impian itu. Pelan tapi pasti. Walau kadang tabungan itu kau ambil sedikit demi sedikit untuk biaya hidup di Jogja.

Kau lantas berangkat sekolah. Hanya butuh waktu 10 menit menuju sekolahmu. Di kelas, para kawanmu sudah menunggu. Ada 11 orang. Semua baik, semua menyenangkan. Diskusi kecil, sembari disela oleh guyonan dan berbagi makanan. Dosen datang, kau menyimak dengan takzim. Lalu sekolah pun selesai.

Kau pulang ke kos, tapi di jalan mampir dulu beli makan siang di Burjo. Biasanya nasi telur, menu termurah yang mengenyangkan. Sampai kos kau baca beberapa paper atau bermain facebook. Menuliskan beberapa catatan di blog, untuk penanda bahwa kau pernah hidup dan melakukan sesuatu di dunia. Tidak sekedar tidur, makan, minum, berak, dan menunggu ajal menjemput.

Kau memutar lagu yang pas di dengarkan di siang hari. Shakatak, The Black Crowes, Eddie Vedder, Eric Clapton, beberapa ballad dari band hair metal macam Slaughter, Ratt, atau L.A Guns, juga beberapa komposisi blues dari Stevie Ray Vaughan, dan juga John Lee Hooker. Kau membaca dengan diiringi angin sepoi yang masuk lewat jendela kamar yang kau buka lebar. Hingga kau ketiduran.

Sore datang. Matahari sedang bersiap purna. Kau bangun, menyeduh coffe mix, lalu mematikan laptop yang sedari tadi memutar daftar lagu yang sama karena kau ketiduran. Kau beranjak dari kasur, mandi, lalu kembali membaca. Apa saja. Kalau baju kotor sudah menumpuk, kau menaruhnya di kantong plastik hitam, lalu berjalan sebentar menuju laundry. Menimbang, lalu membayar. Lalu kau kembali ke kamar, ngobrol dengan pacarmu sembari bercerita mengenai hari yang hampir usai.

Matahari lelap, kau kembali menghidupkan komputer. Memutar lagu yang cocok di dengarkan pada malam hari. The Doors sepertinya mantap. Juga Janis Joplin, Rolling Stones, The Eagles, atau The Beatles. Kau berasa kembali ke era flower generation.

Waktu makan malam tiba. Kau biasanya berjalan sebentar ke terminal depan kos. Disana ada banyak warung yang menjual berbagai jenis makanan. Dari yang halal hingga haram. Dari yang enak hingga yang rasanya biasa saja. Tapi kalau kau bosan disana, kau biasanya naik motor, pergi ke warung soto dan pecek lele langgananmu di depan Toga Mas Gejayan. Pemiliknya orang Jawa Timur, karena itu rasa soto maupun sambalnya cocok dengan lidahmu. Harganya pun murah meriah.

Kau pulang ke kos dengan perut kenyang. Puji syukur kehadirat sang pemberi rejeki. Lalu kau kembali membaca. Apa saja. Sembari sesekali diselingi bermain solitaire di netbook, atau menuliskan catatan pendek. Yang menjadi penanda kalau kau pernah hidup dan melakukan sesuatu di dunia ini. Bukan sekedar manusia menyedihkan yang tinggal menunggu jemputan sang malaikat maut sembari mengeluh dan mengaduh.

Dini hari tiba. Kau memutar lagu yang cocok di dengar pada dini hari.  Duffy, Dialog Dini Hari, Jammie Cullum, John Mayer, atau Franky Sahilatua. Kau lalu menelpon kekasihmu. Menanyakan kabar dan mengucap rindu yang tersebar dan tercecer pada jarak yang berdepa-depa.

Percakapan selesai, lalu kau bersiap tidur. Menunggu kantuk datang sembari membaca-baca sebentar, atau bermain solitaire. Malam sudah menua dan hari sudah berganti. Maka kau membunuh netbookmu, mematikan lampu kamar, lalu tidur.

Sembari berdoa bahwa besok akan jadi hari yang menyenangkan seperti hari ini.

Oh ya, pada tiap hari pasti ada hal yang tidak menyenangkan. Hal yang membuat kita memaki dan berkeluh. Hal yang membuat kita merasa bahwa hidup ini tidak menyenangkan. Tapi untuk apa kau sebutkan. Karena hidup itu indah, tergantung dari sudut pandang mana kau berdiri.

Kau harus selalu bersyukur akan apa yang kau dapat.

Kau bersyukur kau masih bisa makan, sedang di belahan dunia lain, mungkin ada ribuan orang yang kelaparan dan menanti ajal.

Kau bersyukur masih bisa sekolah, sedang di belahan dunia lain masih ada orang yang buta huruf atau orang yang ingin sekolah tapi tak punya kesempatan.

Kau masih bersyukur masih punya keluarga, kawan-kawan yang baik dan menyenangkan, juga pacar yang baik dan menerima kau apa adanya, sementara di belahan dunia lain mungkin ada orang yang kesepian dan berkawan derita.

Ketika melihat semua itu, tidak ada alasan untuk tidak bersyukur dan tidak menikmati hidup.

Shalom...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar