Jumat, 30 Desember 2011

Menengok ke Belakang Sejenak

“You can't change the past, but you can ruin the present by worrying about the future”

(Anonymous)

Tanpa terasa, waktu terbang begitu cepat, bagai Concorde yang melesat nyaris mengalahkan bouraq. 2011 akan segera berakhir dalam hitungan dua hari saja. Sekarang dan besok. Apa yang sudah saya lakukan? Apa yang sudah saya capai? Sudah jalan-jalan kemanakah saya? Sudah baca buku apa saja? Sudah dengar musik bagus apa saja? Sejuta pertanyaan itu berkecamuk. Memporak-porandakan gubuk ingatan yang seringkali rapuh.

Maka akhirnya saya berusaha keras untuk menelusuri tiap jengkal rumah reyot bernama ingatan. Berusaha mengingat lagi apa yang sudah saya perbuat, apa yang sudah saya capai, dan tentunya apa yang akan saya lakukan di tahun yang baru. Maka ini dia, hal-hal yang saya temukan tercecer di sepanjang tahun 2011.

1. Januari Yang Mengejutkan

Januari membawa kejutan yang menyenangkan dan juga mendebarkan. Saya mendapat telepon dari Jakarta, memberitahu kalau saya menang lomba menulis esai yang diadakan oleh Historia, Tempo, Goethe Institut, dan juga FES. Hanya saja saya tak tahu dapat juara berapa. Akhirnya saya pergi ke Jakarta dan menghadiri acara pemberian hadiah. Ketika nama saya disebut menjadi juara 1, saya langsung lemas. Antara senang dan tak percaya. Hadiahnya pun menggiurkan: summer course di Jerman selama 1 bulan. Lalu tanpa diketahui oleh siapapun, saya sempet mewek barang sejenak. Pasalnya adalah saya mencari bahan tulisan bareng ayah saya, beberapa hari menjelang deadline, di akhir bulan November. Beliau meninggal pada bulan Desember 2010. Beliau tak sempat tahu kemenangan saya. Tapi semoga ia melihat dari atas sana.

2. Mei: Ujian Besar

Ini semua adalah hukum sebab akibat. Sebab: saya dapat hadiah ke Jerman dan harus berangkat bulan Juni, sedang saya belum juga lulus kuliah. Akibat: Saya harus ngebut menggarap skripsi dan ujian sebelum bulan Juni. Sepanjang bulan Februari hingga Mei adalah bulan yang penuh kelokan tajam dan tanjakan serta turunan yang memompa adrenaline. Saya harus merombak ulang skripsi saya karena format skripsi yang berubah, lalu bolak balik Jember- Jakarta untuk mengurus visa, hingga menanti dosen datang di kampus.

Ketika sekarang diingat, semua rasanya menyenangkan, walaupun dulu saya sempat mengeluh. Setiap pagi, selepas jam 9, saya sudah nangkring di Kantin Sastra bareng kawan-kawan seperjuangan macam Budi, Taufik, atau Robith. Sekedar ngopi, bercengkrama, sembari menanti dosen datang. Dosen datang, saya kasih draft skripsi, revisi, lalu saya pulang ke rumah, garap skripsi lagi. Begitulah alur kehidupan saya selama Februari hingga Mei.

30 Mei adalah hari penentuan. Ujian skripsi. Saya ingat, malam sebelum ujian saya mengalami nervous yang sepertinya berlebihan. Maka saya mengajak Ade, Umbar, dan juga Dika untuk nongkrong di Alun-alun. Ngopi sambil ketawa-ketiwi. Nervous sedikit enyah. Terima kasih kawan-kawan.

Ujian lancar, walau ada beberapa pertanyaan yang  membuat saya sedikit kebingungan menjelaskan. Ketika saya dinyatakan lulus, dalam sekejap beban yang menghimpit di pundak langsung hilang. Terbang lalu lenyap dihempas angin. Kawan-kawan di kampus menyambut saya dengan suka cita. Ada Budi dan Taufik, duo yang tersisa dari Pathetic Four setelah Alfien dan saya lulus. Mereka berdua yang sering menemani saya waktu menunggu dosen, dan memarahi saya kalau malas sudah menjangkit.

Dan yang paling setia menunggu saya: Rina, sang dosen pembimbing istimewa saya. Dia yang tak pernah  lelah cerewet mengingatkan saya agar segera menyelesaikan skripsi. Ia, meskipun tak paham apa isi skripsi saya, masih mau menyempatkan baca dan bertanya-tanya, semacam simulasi menjelang ujian. Dia juga yang menemani saya ketika menunggu jadwal ujian. Ah, dalam tiap lembar skripsi ini, namamu tertulis disana.

Ketika saya pulang, mamak menangis dan memeluk saya. Saya tahu perasaannya. Antara terharu dan bangga karena anaknya sudah jadi sarjana. Juga sedih karena sang suami yang sejak Juni 2010 menanyakan kapan anaknya lulus, tak bisa menyaksikan langsung anaknya lulus. Ayah, Mamak; kelulusan ini untukmu.
3. Juni Yang Merubah Hidup

Juni adalah waktu keberangkatan saya ke Jerman, tanah Eropa yang menjadi idaman banyak orang. Termasuk saya yang sedari kecil mengidolakan Karl May, penulis Winnetou dan Old Shatterhand yang berasal dari Jerman.

Menjelang saya berangkat, Mamak lagi-lagi menangis. Rina pun menangis sesenggukan. Ada banyak doa yang terucap. Ada banyak ucapan selamat yang tersampaikan.

Perjalanan ke Eropa ini sedikit banyak mengubah saya. Saya melanglang sendirian. Menemui banyak orang baru dan teman baru. Mendapatkan kisah baru yang kelak akan saya ceritakan pada anak cucu saya. Hilang di Belanda, bertemu hippie berwajah mirip Chris Robinson yang menenteng buku Jack Kerouac, berkawan dengan duo Meksiko pecinta pesta, dianggap anak oleh seorang perempuan baya yang baik dan ramah, menyaksikan dan bersimpuh di pusara Jim Morrison, melek merem  karena mencicipi lezatnya pizza di Torino, terkagum akan indahnya Menara Eiffel, dan sederet pengalaman berharga lainnya.

Saya berjanji pada diri sendiri. Kelak saya akan kesana lagi...

4. Juli Yang Biru
Biru identik dengan kesedihan. Karena itu ada musik blues. Musik yang menggambarkan kegetiran para budak kulit hitam di Mississipi. Musik yang getir namun memikat. Dan bulan Juli adalah bulan kesedihan.

Nenek dari pihak mamak meninggal dunia pada bulan Juli. Maka saya resmi tak punya kakek atau nenek lagi, karena semua sudah dipanggil oleh yang mempunyai nyawa mereka. Yang meniupkan roh dan menurunkan mereka ke bumi. Tapi nenek meninggal dengan senyum. Karena didampingi oleh semua keluarganya, anak, cucu, dan cicit. Meninggal dengan bahagia karena sempat mencicipi sop buntut sebelum selamanya ia tak akan bisa mencicipinya lagi. Entah kalau di surga ada sop buntut.

Selamat jalan nek. Sampai ketemu lagi nanti :)

5. September, Kisah Baru Dimulai

Iya, saya mulai sekolah lagi. Dengan banyak pertimbangan. Karena kepentingan sekolah ini, saya pindah domisili di Jogja. Memulai hidup baru dari nol. Layaknya mahasiswa perantauan lain. Mencari kamar kos, membeli perabotan, menata kamar, memasak sendiri, dan banyak lagi. Saya bertemu dengan teman-teman baru. Saya menganggap ini adalah sebuah petualangan baru. Fase hidup yang harus saya lalui. Petualangan yang harus saya jalani. Karena hidup adalah petualangan yang harus dijalani dan dinikmati. Ahoy!

Bulan ini adalah bulan dimana hubungan saya dengan Rina memasuki umur yang ke 1 tahun. Bagi saya, hubungan ini terasa istimewa karena sebelumnya saya tak pernah bisa berkomitmen dalam jangka waktu yang lama. Sebelumnya, komitmen paling lama adalah 9 bulan beberapa hari.

Tapi Rina bisa tahan menghadapi saya selama 1 tahun. Itu adalah hal yang luar biasa. Tak banyak perempuan yang bisa bertahan menghadapi saya yang keras kepala, pongah, begajulan, dan egois. Untuk itu, saya memberikan salut saya yang terdalam. Hubungan ini memang tak hanya berisi tawa belaka. Ada tangis, ada marah, dan juga ada benci. Tapi itulah segala tentang hidup. Hidup harus penuh warna bukan?

Bersamanya pula, saya mulai merangkai mimpi masa depan. Seperti mengajar di universitas di kampung halaman, mempunyai pizzeria yang akan memberikan space manggung kepada band-band di kota kami, punya taman baca kecil, dan lain-lain. Ah, saya jadi melantur. Maafkan.

Semoga, ketika ia bisa bertahan 1 tahun dengan saya, ia bisa juga bertahan hingga kelak kami tua nanti. Seperti kata John Lennon dalam lagu "When I'm 64",


When I get older losing my hair,
Many years from now,
Will you still be sending me a valentine
Birthday greetings bottle of wine?

If I'd been out till quarter to three
Would you lock the door,
Will you still need me, will you still feed me,
When I'm sixty-four?

oo oo oo oo oo oo oo oooo
You'll be older too, (ah ah ah ah ah)
And if you say the word,
I could stay with you.

I could be handy mending a fuse
When your lights have gone.
You can knit a sweater by the fireside
Sunday mornings go for a ride.

Doing the garden, digging the weeds,
Who could ask for more?
Will you still need me, will you still feed me,
When I'm sixty-four?

Every summer we can rent a cottage
In the Isle of Wight, if it's not too drear
We shall scrimp and save
Grandchildren on your knee
Vera, Chuck, and Dave

Send me a postcard, drop me a line,
Stating point of view.
Indicate precisely what you mean to say
Yours sincerely, Wasting Away.

Give me your answer, fill in a form
Mine for evermore
Will you still need me, will you still feed me,
When I'm sixty-four?

6. Desember Untuk Mereka Yang Terkasih


“Time goes by so fast, people go in and out of your life. You must never miss the opportunity to tell these people how much they mean to you.”
(Anonymous)

Saya sadar, ada banyak orang yang datang dan pergi di hidup saya. Ada yang memberikan tawa, namun tak sedikit pula yang menorehkan luka. Bagi saya, mereka adalah orang-orang yang berharga. Seringkali kita abai pada orang-orang dekat kita. Kita selalu menunda untuk memberikan semacam prasasti bagi kehadiran mereka dalam hidup kita. Seolah-olah hidup adalah abadi dan kita akan bersama selamanya. Ding dong, anda salah.

Karena waktu berlalu begitu cepat, orang-orang datang dan pergi. Dan kita tidak boleh melewatkan kesempatan untuk memberitahu mereka betapa mereka sangat berharga dalam hidup kita.

Maka saya mulai menggali lagi sisi melankolia saya. Dan benar, saya menyadari banyak orang dekat saya yang bahkan tak pernah saya sebutkan namanya atau saya tulis kisahnya. Saya bukan orang kaya yang memberi penghargaan via uang atau barang. Saya hanya punya sedikit kemampuan menulis, maka saya berusaha menuliskan kisah mereka. Pun, menulis adalah bekerja untuk keabadian. Itu kata Pram. Maka, tulisan akan mengabadi.

Saya lalu jadi sadar satu hal: ketidakmampuan saya mengucap sayang secara langsung. Bagi saya, mengucap sayang secara langsung itu sedikit memalukan dan membuat canggung. Seumur hidup, saya tak pernah bilang "aku sayang ayah", atau "aku cinta mamak". Dan mereka pun sepertinya tak pernah berucap hal itu. Mereka menunjukkannya dengan perbuatan. Karena itu pula saya lebih sreg menulis daripada mengucapkan langsung.

Di penghujung tahun pula saya mengulang hari kelahiran, untuk yang ke 23. Saya beranjak semakin tua daripada saya yang sebelumnya. Saya jelas ingin merubah banyak hal yang mengganggu. Saya ingin memulai hidup sehat. Olahraga secara teratur, makan sayur, atau tidur tepat waktu. Tapi apa daya, merubah kebiasaan itu tak segampang melontarkan gombalan ultra-norak ala OVJ.

Lalu? 2012 mau apa? Masih belum tahu. Karena seperti kutipan paling atas, kita bisa merusak masa kini dengan terlalu khawatir mengenai masa depan. Maka biarlah waktu berjalan, sementara saya melakukan apa yang saya bisa. Sekolah, membaca, menulis, menggojlok kawan-kawan, nongkrong, dan mencicil mimpi-mimpi yang sedianya masih banyak...

“We all have our time machines. Some take us back, they're called memories. Some take us forward, they're called dreams.”
(Jeremy Irons)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar