Jumat, 30 Desember 2011

Kado Dari Rina


Saya tak pernah menganggap ulang tahun adalah sesuatu yang pantas dirayakan. Sejak dulu, saya nyaris tak pernah menggelar pesta ultah. Seingat saya hanya sekali ulang tahun saya dirayakan. Waktu umur 7-8 tahun dan mengundang teman-teman di perumahan saya.

Saya juga tak pernah berharap kado. Juga merasa tak perlu repot-repot mencari kado untuk siapapun yang ultah. Bahkan, saya tak pernah memberikan kado untuk keluarga saya yang sedang berulang tahun.

Tahun ini pun saya menjalani ritual yang sama. Cukup membalas dan mengamini berbagai macam ucapan ultah. Tak berharap kado. Walau saya tahu, Rina pasti akan repot-repot mencari kado untuk saya meskipun saya beritahu agar tak usah membelikan kado untuk saya.

"Coba tebak apa kado buat kamu?" tanya Rina. 

Siang itu terik, tertanggal 23 Desember 2011. Kami sedang berada di Surabaya dan sedang akan pulang menuju Jember.

Saya mengernyitkan dahi. Saya memang tak mahir dalam urusan tebak menebak.

"Petunjuknya adalah suatu yang kamu pengen" ujar Rina lagi.

Saya masih bingung. Saya menginginkan banyak hal. Dan saya harus menyebutkan satu persatu.

"Motor CB?" jawab saya setengah tidak yakin. Kalau Rina bisa membelikan motor CB buat kado, pasti ia tak akan repot-repot merengek ingin beli I-Pad. Dan benar dugaan saya, jawaban itu salah.

Lalu saya mulai menyebutkan benda yang saya inginkan. Semua salah. Hingga  akhirnya saya capai sendiri dan akhirnya menyerah.

Lalu Rina mengeluarkan satu buah bungkusan. Isinya mengejutkan saya: stempel!

Jadi begini awal mulanya. Saya sudah dari dulu ingin beli stempel yang tak perlu bantalan tinta. Itu untuk koleksi buku-buku saya. Sayang, ketika saya dan Rina menanyakan harga stempelnya di salah satu toko buku di Jember, harganya lumayan mahal. Saya urung membeli dan mulai melupakan stempel itu.

Tapi ternyata Rina ingat. Saya jadi sedikit terkejut plus terharu. Rina adalah orang yang sangat pelupa. Jangankan kejadian yang sudah lama berlalu. Kejadian 5 menit  yang  lalu, ia bisa lupa. Tapi ternyata ia bisa ingat kalau saya pengen punya stempel sejak lama. Ia bisa ingat keinginan yang bahkan saya sendiri sudah lupa.

Stempel itu bertuliskan "Nuran Wibisono Collection", juga tempat dan tanggal dibeli. Warna tintanya ada dua: merah dan biru.

Ternyata hadiah untuk saya tak cuma itu saja.

Sejak dulu Rina ingin sekali membelikan saya sebuah buku. Tapi sayang ia tak tahu buku apa yang saya suka. Jadi ia bertanya pada karib saya, mahasiswa sangat senior yang juga merangkap jadi maling buku: Arman Dhani. Pria kribo ini menyarankan Rina membeli buku "On The Road" karya Jack Kerouac di salah satu toko buku online. Sayang, stok buku itu nihil. Pilihan lantas dialihkan.

Opsi kedua dari Dhani adalah buku "The Art of Travel" karya Alain de Botton. Ketika dilihat, ternyata buku ini tersedia. Rina langsung memesan. Lalu bagaimana pengirimannya? Di kosan saya jarang sekali ada orang. Rina takut kalau paket buku itu tak sampai dan hilang. Maka ia minta tolong Dhani untuk mencarikan alamat kawan-kawan saya di Jogja. Pilihan jatuh pada Cahyo yang memang penduduk asli Jogja.

Siang tadi saya bertemu dengan Cahyo di ujian skripsi Yandri. Ia membawa buku itu.

Buku itu tebal, dengan hard cover dan sampul yang elegan. Dengan seketika saya jatuh cinta dengan buku ini. Apalagi setelah membaca isinya sekelebat. Isinya berkisar mengenai "a journey through the satisfaction and dissapointments of traveling. Dealing --among other things-- with airports, exotic carpets, holiday romance, and hotel humours". Buku ini adalah sebuah antidote dari buku-buku panduan traveling (what to do, where to stay, bla bla bla). Buku ini berusaha menjelaskan "Why we really wanted to go there in the first place, and modestly suggest how we could learn to be happier on our journey".

Dua benda ini jelas hadiah yang menyenangkan. Buku travel yang tidak biasa, dan stempel yang memberikan identitas pemilik buku. Jadi 10 atau 20 tahun lagi, ketika membuka sebuah buku dan ada meta data mengenai buku itu, kenangan mungkin akan muncul tentang bagaimana buku itu dibeli. Selain itu, stempel buku ini saya harapkan bisa melindungi koleksi buku-buku saya dari para begundal perampok buku macam Arman Dhani itu.

Hei Rina, makasih ya kadonya :)

2 komentar:

  1. asu. aku meh nyileh hingga batas waktu yang tidak ditentukan.

    BalasHapus
  2. cieeeeee....

    hahaha, anw nice to meet you ya mas! :D

    BalasHapus