Kamis, 28 Oktober 2010

Ceker Lapindo: Kena Mata Bisa Buta

Jujur, saya terprovokasi oleh tulisan Fajar Ndud soal ceker super pedas yang dimuat di blog Suket-teki milik Nurul. Saya penasaran seperti apa rasa pedasnya. Karena itulah, bareng Rina, saya bersepeda motor ke Sidoarjo. Rina ini mengklaim dirinya sebagai pecinta makanan pedas. Are you tough enough girl? Kita lihat saja nanti.

Warung Ceker yang bernama Ceker Lapindo ini terletak di depan alun-alun Sidoarjo, tepatnya disamping Lapas Sidoarjo. Tak Susah menemukannya.

Setelah sampai, saya segera memesan 1 porsi ceker Lapindo, dan Rina memesan 1 porsi ceker Mentega. Plus 2 porsi nasi, 2 buah sate usus, 2 buah sate telur puyuh, dan 2 gelas es jeruk. Ya, kami memang dua manusia omnivora yang kelaparan siang itu :D


Tak beberapa lama, pesenan kami datang.

Uh, kuah ceker Lapindonya berwarna merah tua. Keruh. Dan terlihat banyak potongan cabe rawit. Sial, ini pasti pedas sekali. Kalau kecipratan ke mata, bisa-bisa saya buta permanen, pikir saya.


Sedang kuah ceker mentega teksturnya bening, namun berminyak. Rasanya enak, hampir mirip sop, namun lebih kental rasa serainya. Rasa menteganya juga berhasil membuat kuah ceker mentega ini terasa gurih.


Tak perlu menunggu lama, saya segera menyendok kuah ceker lapindo saya. Sluurrrp. Cesss! Rasa pedasnya langsung menyengat. Terasa panas, terutama di tenggorokan.

Namun pedasnya rupanya masih bisa saya tolerir. Pedas dari masakan ini masih belum sanggup membuat saya kelabakan. Hanya sekedar membuat saya mandi keringat. Kadar pedas masakan yang ditulis di menu dengan huruf merah menyala ini masih kalah ketimbang nasi Tempong ala Banyuwangi.

Yang lebih edan justru Rina. Dia dengan tenang terus mengambil potongan ceker dari mangkok saya. Sepertinya ia memang penggemar masakan pedas. Dan sepertinya ia lupa kalau ia memesan ceker mentega :p

"Gak pedes ah. Masih pedes ikan sili-nya Nasi Buranan" katanya tenang sembari menyeruput kuah ceker lapindo yang keruh dan pedas itu.

Nasi Buranan ini adalah masakan khas Lamongan. Rina terus-terusan merengek minta diantar ke Lamongan buat makan nasi ini. Suatu hari nanti kami akan mencobanya.

Siang itu Rina sama sekali tidak kepedasan, tidak meneteskan keringat sedikit pun, dan tidak minum es jeruknya sebelum makanan habis. Sedang di belakang saya tampak seorang anak muda yang bahkan sampai nambah es teh untuk menetralkan rasa pedas dari ceker lapindo itu. Sial, saya kalah telak :D

"Ikan sili jauh lebih pedas. Mungkin sili itu plesetan dari chilli ya? Hehehe" kata dia sotoy.

Ah, enakan ikan kudu kok :D *ini joke internal, hanya akan membuat terbahak saya, ayos, putri, dan rina saja :D*

Oke boss, makanan berikutnya: Nasi Buranan :)


Jember, 2.41 wib
Sembari mendengarkan Van Halen dan Europe

2 komentar: