Minggu, 10 Oktober 2010

Hair Metal How Are You Today (Part 2)

Saul “Slash” Hudson sang gitaris, menceritakan kehidupan ala hewan itu secara gamblang dalam buku biografinya. Dalam kehidupan hair metal yang liar, apa saja menjadi mungkin. Itu termasuk meniduri pacar sahabatmu sendiri dan kembali bermain band seakan tak ada apa-apa.

“Aku dan Yvonne sempat berkencan selama beberapa saat. Tapi ketika kita break sejenak, Axl fucked her” kata Slash ketika bercerita mengenai Yvonne, salah seorang mantan kekasihnya yang juga pernah menjadi kekasih Stephen Pearcy, vokalis Ratt.

Meskipun Slash sempat marah besar, toh hal itu tak berdampak pada kerjasama mereka di Guns N Roses. Mereka berhasil menelurkan sebuah album mahakarya mereka, Appetite for Destruction, yang dirilis pada tahun 1987 dan terjual hingga 20 juta kopi.

Axl Rose sang front man GNR memang terkenal sebagai seorang pecinta ulung. Selain Yvonne, Axl juga pernah meniduri pacar Steven Adler, drummer Guns. Suara desahan ketika perempuan itu memberikan oral seks pada Axl direkam dalam lagu “Rocket Queen”, track terakhir di album Appetite.

GNR memang terkenal buas dan seringkali tak terkendali, termasuk dalam setiap gigs mereka.

“… Ada suplai ganja yang tak ada habisnya, a ton of booze, dan orang-orang yang tertidur, mabuk, or fucking in every corner. Itu suasana after party Guns N Roses… yang bahkan sudah dimulai sebelum kami memulai gigs pertama kami” kenang Slash mengenai gigs pertama mereka di Seattle, kota asal Duff Mc Kagan, sang bassist Guns N Roses formasi awal.

Para hair rocker sepertinya adalah pewaris sah dari jargon sakti sex, drugs, booze, and rock n roll yang sudah muncul sejak rock n roll lahir. Menurut saya setelah era hair rocker, tak ada lagi musisi yang secara terang-terangan menjalani dan mengabarkan pada dunia mengenai gaya hidup binatang seperti itu.

“Here, you learn to live like an animal” kata Axl Rose mengutip lirik lagu "Welcome to the Jungle".



“The rest of us were the same kind of animal: willing to take advantage of everything someone might have to offer without making any promises we'd have to keep” sambung Slash yang membenarkan bahwa mereka (dan mungkin para hair rocker lain) adalah binatang dalam wujud manusia.

Nothing Last Forever

Saya bertemu dengan Rezanov pada suatu malam yang hangat di sebuah mini market yang merangkap kafe kecil di daerah Bulungan, Jakarta Selatan. Reza –panggilan akrabnya—adalah vokalis GRIBS, singkatan dari Gondrong Kribo Bersaudara. Band ini dengan sadar memainkan musik hair metal, yang notabene sudah hampir menjadi sejarah belaka pada era millennium baru ini.

Reza bersama Dion sang gitaris, Arief sang pemain bass, dan Rashta yang memainkan drum, mengeluarkan album perdana mereka yang berjudul Gondrong Kribo Bersaudara pada tahun 2009.

Musiknya banyak terpengaruh oleh Power Metal, Stryper dan Motley Crue. Album ini sempat membuat orang terkaget dan berpikir “Wah, masih ada ya band yang memainkan lagu seperti ini?”

Album berisi 13 lagu ini berhasil masuk ke dalam 20 Album Indonesia Terbaik 2009 versi Rolling Stone Indonesia.

GRIBS dibentuk dengan banyak pengorbanan. Reza sampai rela keluar dari pekerjaannya di sebuah biro periklanan untuk serius dengan band ini.

“Waktu masih kerja, aku sering nyuri-nyuri waktu untuk latihan. Karena tak ingin menyusahkan perusahaan tempat aku kerja, ya sudah aku mengundurkan diri. Aku pengen lebih serius di musik” ujar pria yang malam itu mengenakan celana jeans ketat berwarna coklat, kaos putih, dan jaket jeans yang sudah dimodifikasi. Meriah.

“Pas aku keluar (kerja), ibuku nangis. Ya namanya juga orang tua.” Ujarnya bersemangat.

Ada sebuah titik yang membuat ia memutuskan bahwa pekerjaan kantoran bukanlah sesuatu yang cocok untuknya.

“Pas aku bawa file kerjaan di map, aku ngeliat cermin. Aku berdiri lama, ngeliat cermin. Lantas hati kecilku bilang ‘aku gak cocok kerja ginian.’ Ya udah aku keluar” kata Reza yang alumnus Universitas Pelita Harapan ini.

Malam itu rencananya saya dan Reza akan mengobrol di Wapress (Warung Apresiasi), sebuah warung terkenal yang juga basis dari para pegiat seni. Wapress adalah tempat pertama yang membolehkan GRIBS manggung memainkan lagu mereka sendiri. Di tempat lain, GRIBS selalu disuruh untuk memainkan lagu kover.

“Kebanyakan komunitas rock memang masih begitu. Kami disuruh memainkan lagu orang dulu” kata Reza.

Sayang malam itu Wapress tutup. Kebanyakan pekerjanya masih belum balik mudik. Maklum, saat itu baru sekitar seminggu dari lebaran. Maka kami memutuskan untuk berbincang di jejeran bangku yang ada di dalam mini market itu.

Percakapan saya hentikan sejenak. Saya berdiri dari kursi dan pergi menuju kulkas minuman. Saya mengambil sebotol bir untuk Reza. Saya sendiri bukanlah pengkonsumsi minuman beralkohol.

“Makasih mas, aku gak minum alkohol” tampik Reza halus ketika saya menyodorinya sebotol Heinekken dingin.

Hey? Mana bagian gila-gilaannya? Kemana perginya sex, drugs, booze, and rock n roll yang legendaris itu?

“Hahaha, GRIBS masih dalam tahap perjuangan. Kami masih harus berjuang. Senang-senangnya nanti saja” ujar Reza sembari tertawa.

Rasanya sulit dipercaya jika hair rocker seperti Reza tidak menganut gaya hidup seperti rocker pujaannya – Reza bahkan tidak merokok. Tapi memang itulah kenyataannya.

Hair metal di Indonesia tidak mati, tapi ia berubah bentuk. Ia beradaptasi mengikuti gaya hidup yang berlaku di negeri yang konon menjunjung tinggi nilai ketimuran ini. Dan Reza bukanlah satu-satunya hair rocker yang tidak menganut sex, drugs, booze, and rock n roll yang sudah dianggap sakral itu.

Dua hari kemudian saya pergi ke Universitas Nasional. Di kampus itu ada acara bertajuk Malam Sinting: A Decade for Rock N Roll. Malam itu saya berjanji bertemu dengan Arya Pradana. Saya kenal dengan dia sejak jaman Friendster menjadi situs pertemanan yang paling populer.

Arya akan bermain bersama El-C/DC, sebuah band cover AC/DC yang dia bentuk bersama El Hendrie, sang vokalis pecinta AC/DC yang juga seorang jurnalis rock di sebuah majalah musik bernama Urgensi. Arya Bimantoro mengisi posisi bass. Arya Bima adalah bassist dari grup glam metal Velvet Dogstown.

Saya merasa tertarik untuk bertemu dan ngobrol dengan Arya ketika saya tahu bahwa ia taat beribadah. Saya malah sempat tertegun ketika beberapa bulan lalu membaca pesan di wall facebook Arya.

Saat itu El mengajak Arya ber-jam session.

Arya menolaknya sembari berkata “Wah, sekarang bulan ramadhan brur, libur dulu jam session-nya. Sebulan aku full di masjid kayaknya” kurang lebih itu yang dikatakan oleh pria gondrong ini.

“Kamu naik haji itu bulan apa, Ya?” tanya saya yang sudah melihat foto-fotonya semasa di tanah suci. Saya mengira ia sudah berhaji.

“Aku masih umrah kok, baru bulan April kemaren, Ran” kata pria yang mengidolakan Van Halen itu.

Malam itu, dengan mengenakan celana blue jeans lusuh dengan banyak robekan di bagian lutut, Arya benar-benar mengguncang Universitas Nasional. Rambut gondrong sebahunya berkibar dengan jumawa. Sebuah rokok menyala ditaruh di head gitar-nya, sebuah gitar Radix SG berwarna hitam. Ketika ia bermain solo gitar dan memeragakan duck walking, applause menggema dimana-mana.

Bahkan ada penonton pria yang genit, datang maju menghampiri Arya, menyorongkan sekaleng bir. Arya meneguknya, lantas memutahkannya.

“Aku gak minum alkohol” kata Arya setelah selesai manggung. “Eh, gimana ya hukum Islamnya kalo gitu? Ngerasain di lidah tapi dimuntahin lagi. Gak tau dah gimana itu” lanjutnya sambil tertawa kecil.

Selain El-C/DC, Arya juga mempunyai band bernama Racun. Band ini memainkan lagu-lagu Poison, sebuah band hair metal yang cukup terkenal di era 80-an. Band ini ia dirikan bersama Kiki, drummer yang juga ikut bermain di El-C/ DC.

“Aku insyaallah naik haji bulan Oktober mendatang” kata Kiki. Sama dengan Arya, Kiki adalah tipikal rocker yang tak begitu perduli dengan jargon Sex, Drugs, Booze, and Rock N Roll.

Bagi Reza, Arya, dan juga Kiki, jargon itu tak relevan dengan kehidupan di Indonesia.

“Ngapain ngomongin sex, drugs, and rock n roll, kalau ada hal lain yang lebih penting buat diomongin” kata Reza serius (Bersambung)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar