Kamis, 21 Oktober 2010

Putu Dahlok: Legendaris Sejak Tahun 1956

Beberapa jam yang lalu, saya sedang berada di jalan Dahlok. Keperluan utama saya adalah mengambil kamera di rumah om saya. Keluar dari Dahlok menuju jalan Sultan Agung, saya memutuskan untuk berhenti sejenak.

Saya tiba-tiba kangen makan putu.

Putu? Planet apa itu? Siapanya Putu Mayo? Oke anak-anak yang lebih akrab dengan Baba Rafi ato Pizza Hut, sini om ceritakan apa putu itu.

Putu itu kue tradisional. Terbuat dari campuran kelapa, beras ketan, dan santan. Kue ini berisi potongan gula merah, yang meleleh ketika kue putu matang.

Lihat lelehan gula merah yang sexy dan yummy itu! :D

Di Jember, penjual putu yang paling terkenal adalah Pak Suparno. Beliau sudah mulai menjual kue putu di gang Dahlok semenjak tahun 1956, dan hingga sekarang masih setia berjualan dengan istrinya. Lapaknya berjualan berada tepat di mulut gang Dahlok yang menghadap jalan Sultan Agung. Pas di depan Warung Soto Dahlok yang juga legendaris itu.


Harga sebiji putu cuman Rp. 600 saja. Selain putu, Pak Parno juga menjual Serabi Jawa. Serabi sederhana yang cuman bertopping gula pasir. Tapi ada juga yang topping-nya nangka, pisang, kismis, dan keju. Serabinya dijual Rp. 1000 per biji.


Rasanya menyenangkan melihat makanan tradisional yang mempertahankan kesederhanaan seperti ini masih bisa bertahan diantara gempuran makanan modern, atau makanan tradisional yang didandani dengan atribut modern.

Saya suka sekali melihat cara Pak Parno mengaduk adonan kue putu, memasukkan adonan ke potongan bambu sepanjang 5 cm, mengisinya hingga setengah, lantas memasukkan potongan gula merah, lantas diisi adonan lagi hingga tabung itu penuh terisi.

Setelah itu, beliau menata potongan bambu itu ke atas panci yang atasnya berbentuk datar. Ada 1o lubang kecil disana. Setiap potongan ditaruh di satu lubang yang mengeluarkan uap air itu. Beberapa menit kemudian, kue putu itu sudah matang, siap untuk disantap.



Putu tak langsung dimakan begitu saja. Masih ditaburi parutan kelapa dan gula pasir. Bagi yang memesan buat dibawa pulang, kue putu akan dibungkus dengan daun pisang dan kertas koran. Klasik! :)

Kue putu paling enak dimakan hangat-hangat di udara yang dingin sehabis hujan, ya kayak malam ini. Oh ya, bagian yang paling menyenangkan dari memakan kue putu ini adalah lelehan gula merah cair itu. Teksturnya kental dengan rasa legit yang bikin ketagihan. Tak kalah dari lelehan coklat cheese cake manapun.

Ah, saya suka kue putu!


Rumah Arjasa, 21 Oktober 2010
Sembari mendengarkan L.A Guns dengan khusyuk

4 komentar:

  1. Pengen,,,baru tahu ada putu legendaris d jember, heee,,,,

    BalasHapus
  2. Hehehe, iya, ntar sekalian beli buat papa sama mama :) Kamu sih nongkrongnya di KFC terus :p

    BalasHapus
  3. jalan dahlok tu dmna yaa..??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di Jalan Fatahilah, pusat kota Jember.

      Hapus