Tampilkan postingan dengan label Jerman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jerman. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Mei 2012

Menyusuri Lorong Dunia: Joyce, Bir, dan Lumpia Babi

"Nuran, jam berapa kira-kira kamu sampe Bonn?" tanya suara dalam telpon.

Itu mas Andy Budiman, seorang kawan dunia maya yang sekiranya akan menampung saya di Bonn. Saya bilang mungkin sekitar 20 menit lagi. Kereta saya akan berangkat dari Koln. Saya baru saja sampai Koln beberapa menit lalu, dan akan segera naik kereta menuju Bonn. Koln- Bonn tak begitu jauh. Bisa ditempuh dengan kereta selama 15-20 menit saja.

Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Tapi langit musim panas di Bonn masih benderang. baru saja gerimis usai. Saya turun dari kereta dengan carrier yang tampak makin menggembung. Udara dingin. Saya merapatkan jaket jeans. Di saat seperti ini saya mengutuk kecerobohan diri. Mengira musim panas di Eropa adalah nihil hujan dan dingin.

Mas Andy gampang dikenali. Badannya tinggi, tegap, dan sedikit tambun di bagian perut. Wajahnya ceria. Senyumnya selalu terkembang. Matanya sedikit sipit, dan ia memakai kacamata. Saya kenal dia dari jejaring pertemanan antar kontributor di Jakartabeat. Mas Andy adalah kawan dekat mas Yus Ariyanto dan mas Philips Vermonte, yang juga dekat dengan saya. Begitu tahu saya sedang ada di Jerman, ia menawarkan mampir. Selain itu, sebagai pecinta makanan enak, ia juga memberi beberapa saran bertahan hidup di Jerman yang makanannya --konon-- merupakan makanan paling tidak enak sedunia.

"Hoiii Nuran" teriak mas Andy dari kejauhan. Ah, rupanya saya juga gampang dikenali.

Mas Andy tak sendiri. Ia membawa kawannya, dua orang perempuan yang sepertinya seumuran. Saya berkenalan dengan mereka. Yang berambut pendek dan memakai topi bernama Mbak Ayu. Ia suka sekali tertawa. Lalu yang gopoh ingin membeli tiket pulang ke Munich bernama Mbak Dina. Ia berambut panjang keriting. Malam itu ia kangen suaminya.

"Duh, pokoknya gue harus pulang besok. Gue udah kangen laki gue" katanya sembari sibuk membeli tiket pulang di mesin penjual tiket.

Saya hanya tersenyum. Apalagi setelah mendengar guyonan mas Andy dan Mbak Ayu yang memprovokasi Mbak Dina agar jangan buru-buru pulang.

"Mau kemana ini enaknya? Ngebir di Joyce?" tanya mas Andy. Mbak Ayu mengiyakan. Saya dan Mbak Dina yang tamu jelas ikut apa kata tuan rumah.

Lalu kami melangkahkan kaki menuju tempat minum bir yang disetujui. Bonn kota kecil. Penduduknya hanya sekitar 324 ribuan. Meski begitu, kota yang dibelah oleh sungai Rhine ini sempat menjadi ibu kota Jerman Barat mulai tahun 1949 hingga 1990.

Bonn memiliki beberapa objek wisata yang banyak dikunjungi turis. Yang paling banyak dikunjungi tentu rumah kelahiran musisi klasik besar, Ludwig van Beethoven. Rumah itu sekarang dijadikan museum.

"Eh, kayaknya penuh deh" celetuk mbak Ayu sembari celingukan di pintu Joyce yang tadi disebut.



Joyce yang dimaksud ternyata sebuah bar Irlandia. Irish Pub. Nama lengkapnya: James Joyce Irish Pub. Gambar di plangnya adalah seorang lelaki dengan kacamata bundar, memakai jas berkancing dua, bertopi, memakai sepatu pantofel, menyilangkan kaki, dan memegang tongkat di tangan kanannya. Sepertinya itu potret dari James Joyce, sastrawan yang masyhur dengan Ullyses.

Saya ikut melongok ke dalam. Benar, penuh. Orang-orang duduk sembari bercengkrama. Pelayan berseliweran membawa baki berisi gelas-gelas besar bir. Setelah memastikan bahwa tak ada tempat lagi, kami beranjak pergi ke pusat kota. Ada bir yang enak disana, kata mas Andy. Selaku tamu, lagi-lagi saya cukup mengiyakan.

Mas Andy tidak berdusta. Birnya enak. Rasa pahitnya tak begitu kentara. Dan yang paling penting: baru dua tiga teguk, kepala saya langsung sedikit pening. Saya merasa seperti terangkat-angkat. Kepala berasa goyang.

Sepertinya saya bakal tidur nyenyak malam ini...

                                                                                    ***

Dunia, atau mari bilang takdir, punya cara khusus untuk mengembalikan kenangan yang mungkin sudah lama minggat dari benak.

Beberapa jam lalu saya bertemu dengan Wana dan Kinkin, dua orang traveler dari Jogja. Wana adalah penggagas majalah Travelist, media traveling dua bulanan yang di share gratis di dunia maya. Sedang Kinkin adalah sahabatnya yang kebetulan suka traveling. Mereka sedikit banyak mengingatkan saya pada Ayos dan Putri, dua orang sahabat saya yang juga sama-sama pecandu jejalan.

Kinkin memberi saya buku "Menyusuri Lorong-lorong Dunia 2" karya Sigit Susanto. Buku ini menceritakan traveling dari sudut pandang yang berbeda. Sang penulis selain traveler, adalah pecinta sastra. Tujuan perjalanannya kebanyakan ke tempat yang berkaitan dengan dunia sastra.

Dalam buku jilid 2 itu, di bab pertama, ia bercerita kalau ia tanpa sengaja "tersasar" ke sebuah gedung di Zurich, Swiss, yang ternyata merupakan sekretariat Yayasan James Joyce.

Sang sastrawan legendaris itu ternyata meningalkan banyak kesan dan jejak. Bahkan ada sebuah pub di Zurich yang diberi nama sama dengan sang sastrawan asal Dublin, Irlandia itu. Dalam pub itu biasanya diadakan diskusi membahas karya-karya Joyce. Mungkin sama dengan James Joyce Pub di Bonn. Atau malah mereka adalah satu jaringan waralaba? Entahlah.

Membaca cerita petualangan Sigit ke gedung Yayasan James Joyce itu melanglangkan ingatan ke Bonn. Padahal sudah nyaris setahun saya meninggalkan Bonn. Di kota kecil itu pun saya tak tinggal lama. Hanya 3 hari 2 malam saja. Selain ingat Joyce Irish Pub, keramahan kawan-kawan baru: mbak Dina, Mbak Ayu, dan seorang kawan perempuannya (asal Indonesia juga) yang saya lupa namanya, saya tentu teringat dengan kebaikan mas Andy.

Dan juga keisengannya...

                                                                                        ***

Suatu sore yang hangat di beranda apartemen mas Andy, pria lulusan Unpad itu menyodorkan sepiring lumpia hangat berukuran kecil. Uap masih mengepul. Warna lumpianya sempurna, emas kecoklatan.

"Baru beli kemarin dari bazaar" katanya singkat.

Tanpa babibu, saya sikat lumpia itu. Dengan cocolan saus berwarna coklat, lumpia itu makin menjadi rasa lezatnya. Kulitnya garing. Isi dalamnya berupa cacahan daging dengan rasa gurih. Daging sapi sepertinya. Seingat saya, 4 potong lumpia masuk dalam perut dengan tenang dan nyaman.

Beberapa menit setelahnya, sembari mengaso, mas Andy bertanya, "Nuran, kamu gak masalah kan makan lumpia tadi?".

"Ha? Maksudnya?" saya balik bertanya. Tidak paham dengan maksud pertanyaan mas Andy.

"Iya, lumpia tadi itu isinya daging babi" kata mas Andy tenang.

Saya terperanjat kaget! Tapi lumpia sudah tergilas oleh usus, masuk dalam lambung. Saya hanya bisa mengumpat sembari tertawa-tawa. Sialan. Hahaha.

"Aku pikir kamu gak ada masalah sama halal haram" sambung mas Andy, lebih tenang dari sebelumnya. Mukanya jahil sekali. Saya hanya bisa tertawa lebih keras.

Ah, lumpia babi dan bir? Dosa saya di Bonn tampaknya jauh lebih banyak ketimbang dosa saya selama 10 tahun di Indonesia. Hahaha. Kelak tragedi lumpia babi ini akan diceritakan ulang pada mas Yus dan mas Philips. Dengan segera, kisah ini menjadi klasik.

Sama klasiknya seperti Ullyses atau A Potrait of The Artist as a Young Man mungkin?

Senin, 16 Januari 2012

Hamburg Part 3: Die Sündige Meile?

Jika di siang hari aktivitas bisnis dan perdagangan mendominasi kesibukan di pusat kota dan pelabuhan, maka di malam hari geliat itu berpindah ke Red Light District. Kawasan khusus dewasa ini disebut-sebut banyak turis sebagai yang terbesar di Eropa, mengalahkan pesaingnya di Amsterdam.

Kemunculan Red Light District terkait erat dengan suburnya bisnis distribusi barang di pelabuhan. Para pelaut, yang terus merangsek bak lebah di musim semi, rupanya tak cukup terpuaskan oleh hiburan dari The Beatles. Peluang inilah yang diambil rumah-rumah bordil. Kawasan prostitusi paling kondang di St. Pauli saat ini adalah Reeperbahn. Publik menjuluki jalan ini “die sündige meile” atau kurang lebih berarti “ jalan penuh dosa”. Saya bisa menemukan barisan bar, kasino, bioskop gay, hingga klub penari.

Neon-neon mereka berpendar tiap malam untuk menggoda serangga serangga yang lapar. Seksi, liar, dan sangat berbahaya bagi mereka yang lemah iman tentunya. Tapi St. Pauli dan Reeperbahn tak melulu soal seks. Masih ada ruang untuk jiwa-jiwa yang damai. Kita bisa menemukan St. Pauli Theater yang rutin mementaskan drama musikal. Berjalan beberapa menit ke arah barat, terdapat Gereja St. Michaelis, landmark berusia ratusan tahun yang didesain bergaya Baroque. Gereja ini pernah menjadi saksi gerakan reformasi gereja yang dilancarkan kaum penganut Protestan di Jerman pada periode 1500-an. Tak heran, Martin Luther begitu dipuja hingga dibuatkan patung di depan gereja.

St. Pauli dengan segala warnanya adalah tempat yang aman bagi wisatawan. Angka kejahatan terbilang minim. Lain waktu saya melihat seorang gelandangan tua yang menuntun anjing Rottweiler berbadan tambun; anak-anak punk yang bergerombol sembari berdiskusi soal pasar bebas dan ide-ide Chomsky; serta wanita mabuk bertatanan rambut sangat buruk yang menyeret bebek karet mainan berwarna kuning menyala. Pelaut haus hiburan, musisi asal Inggris, penggemar teater, hingga anak punk yang membenci pialang saham. Semua orang punya tempat di rumah besar bernama St. Pauli.


 


“Coba kamu susuri kanal di Hamburg.Kamu akan jatuh cinta,” ujar Marianne Bruchert, perempuan paruh baya yang mengizinkan saya tinggal di apartemennya di bilangan Issestr. “Saya percaya kanal-kanal di Hamburg lebih indah ketimbang di Venesia" ujarnya sembari tersenyum simpul. Tangannya memegang gelas yang berisi red wine. Fortin Plaisance, Saint- Emilion tahun 1995.

Saya kini hendak membuktikan ucapannya. Marianne meminjamkan perahu berwarna merah miliknya. Perahunya lumayan besar, cukup untuk mengangkut empat penumpang. Sebelum berangkat, Marianne menyodorkan peta dan merekomendasikan rute terbaik, lalu memberikan wejangan: “Hati-hati, angin sedang keras. Kalau angin menghantam, jangan melawan, biarkan saja angin membawa perahumu. Kalau sudah tenang, baru kamu bisa mendayung lagi.”

Prediksinya akurat. Sore ini, angin berembus kencang. Saya menjejakkankaki ke perahu dan mulai mendayung. Rencananya saya akan menelusuri kanal kecil yang membelah Klosterstern dan Eppendorfer Baum, lalu ke pelabuhan wisata Streekbrucke, terus ke pelabuhan wisata Krugkoppelbrucke, hingga akhirnya mencapai Danau Ausenalster. Tapi agenda ini sepertinya sulit diwujudkan. Angin terus melabrak
perahu. Saya harus berjuang keras seorang diri mendayung perahu berkapasitas empat orang. Tak lama, stamina tubuh terkuras. Untungnya, perjalanan ini tak sepenuhnya berakhir bencana.



Pemandangan kota Hamburg terlihat menawan dari kanal. Mungkin ini sebabnya banyak Hamburger (sebutan untuk penduduk Hamburg, bukan nama makanan) gemar menghabiskan senja di atas air—berperahu, berkano, atau menaiki kapal feri. Saya melewati Streekbrucke, lalu Krugkoppelbrucke. Jika merujuk pada peta, maka sebentar lagi perahu akan memasuki tepian Danau Ausenalster. Tapi berhubung energi sudah habis, saya membelokkan perahu ke kanal kecil Bellevuebrucke. Kanal ini teduh dan tenang.

Pohon-pohon memayungi jalan, angsa mengapung di samping perahu, dan anak-anak di taman melambaikan tangan dengan wajah sumringah. Suasananya seperti gambar di kartu-kartu pos wisata. Saya menaruh dayung dan membiarkan angin mendorong perahu. Tak jelas sudah berapa lama saya melaju. Di tempat sedamai ini, lupa waktu adalah tindakan yang bisa dimaafkan.

***
Getting there:
Penerbangan Jakarta- Hamburg dilayani antara lain oleh KLM ($1.324), Emirates ($1.292), dan Cathay Pacific ($1.329)—semua harga pp di Januari. Dari Bandara Internasional Hamburg, Anda bisa naik kereta bawah tanah S-Bahn dan U-Bahn yang melayani rute ke pusat kota (€1-3). Transportasi lain di dalam kota adalah bus, kapal feri, dan taksi.

When to go  :
Arus turis terbanyak di Hamburg berlangsung di periode Mei hingga Oktober, yakni saat cuaca cerah dan warga menggelar banyak festival, mulai dari Kathleen Mass hingga Full Moon Festival. Hamburg International Short Film Festival juga lazim digelar di pertengahan tahun. Musim dingin di akhir tahun bukanlah waktu berkunjung yang ideal, karena tubuh Anda akan tersiksa saat harus menyusuri jalan dan kanal.

Where to stay:
Berdiri di kawasan Bugenhagenstrasse, Hotel bintang lima ParkHyatt Hamburg menawarkan panorama taman hijau dan Danau Alster [Bugenhagenstrasse 8, T.49 40 3332 1234, hamburg.park.hyatt.com, mulai  dari $312]. Radisson Blu Hotel, yang berada cukup dekat dari pusat perbelanjaan, menaungi 556 kamar dengan tiga konsep desain berbeda [Marseiller Strasse 2, T.49 40 35020, www.radissonblu.com, mulai dari $171]. Hotel bintang empat Lindner Park- Hotel Hagenbeck terletak di dekat pusat olahraga [Hagenbeckstrasse 150, T.4940 800808, www.lindner.de/en, mulai dari $104].

What to do:
Naik perahu adalah salah satu cara alternatif menikmati keindahan Hamburg. Kota ini memiliki lebih banyak jembatan dibandingkan gabungan jumlah jembatan di Amsterdam, Venezia, dan London. Kanal-kanalnya pun tak kalah menarik dibandingkan di Venezia atau Amsterdam. Layak dicoba adalah tur Alsterrundfaht yang mengarungi Danau Alster (www.alstertouristik.de, tarif €15). Untuk belanja, ada dua pilihan: pasar ikan tradisional di Pelabuhan Landungsbrucken yang beroperasi tiap Minggu pagi, atau kawasan Mönckebergstraße yang dikenal sebagai distrik belanja tertua di Hamburg.





 Tapi jika Anda tidak suka pasar atau butik modern, kunjungi saja Flohmarkt (pasar loak). Berbagai penganan tradisional Jerman dan barang antik dijajakan, mulai dari gelas, cangkir, buku, kamera, hingga sepatu bot. Penting diingat, pasar loak ini selalu berpindahpindah (cek jadwal di www.hamburg.de/flohmarkt).

Minggu, 15 Januari 2012

Hamburg Part 2: Dari Pelabuhan Hingga Sepak Bola

Kota terbesar kedua di Jerman ini memiliki pelabuhan terbesar kedua di Eropa. Eratnya hubungan Hamburg dan air tecermin dari nama resmi kota ini, Freie und Hansestadt Hamburg, yang dalam bahasa Inggris berarti: Free and Hanseatic City of Hamburg. Selain perdagangan, pariwisata adalah sektor ekonomi andalan Hamburg.

Di 2008, kota ini berhasil memikat 7,7 juta wisatawan, lebih banyak dari jumlah turis Indonesia di 2010. Tapi sejarah kota ini tak selalu menampilkan kisah manis. Sejumlah babad mengenai tanah Eropa menuturkan, pada 845, 600 kapal Viking menginvasi Jerman melalui Sungai Elbe dan meluluhlantakkan Hamburg. Di masa Perang Dunia II, kota ini kembali rata dengan tanah akibat hujan bom. Peran Hamburg sebagai kota pelabuhan internasional dimulai pada 1189 saat Raja Jerman kala itu, Frederick Barbarossa, menerbitkan aturan bebas pajak.

Menaiki kereta bawah tanah U-Bahn, dengan menenteng sebotol bir dingin saya meluncur ke Landungsbrucken,  kawasan di pelabuhan yang tersohor sejak 300 tahun silam. Kawanan camar berkicau di bawah langit cerah musim panas yang baru saja dimulai. Klakson kapal bersahutan memenuhi udara. Di sudut yang lain, orang-orang bersantai di tangga pelabuhan, menenggak bir dingin, atau mengudap baguette ikan. Landungsbrucken lebih terlihat sebagai sarana tetirah ketimbang area pelabuhan yang sibuk. 




Saya kembali ke daerah St. Pauliuntuk menyatroni pasar ikan. Beroperasi sejak 1703, pasar ini merupakan salah satu yang tertua di dunia. Yang dijual bukan cuma ikan, tapi juga sayur dan buah. Suasananya sangat riuh. Tak jauh berbeda dari pasar ikan di Jepang. Para pedagang berteriak-teriak mempromosikan dagangannya. Mereka dijuluki “Marktschreier vom Hamburger Fischmarkt” alias “Penjual Tukang Teriak dari Pasar Ikan Hamburg”. Butuh usaha ekstra untuk menyambangi pasar ini, sebab pasar ini hanya buka di Minggu pagi, mulai pukul lima hingga pukul sepuluh pagi.


Balai Pelelangan Ikan di Landungsbrucken


St. Pauli juga memiliki tim sepakbola: FC St. Pauli. Jarang ada yang mengenalnya di tingkat internasional, tapi di kalangan warga lokal, klub ini sangatlah legendaris. Dengan lambang tontenkopf (tengkorak plus dua tulang femur yang melintang), klub yang berdiri pada 1910 ini menyandang julukan “The Pirates of the League”. Terdengar ganas memang, tapi sayang prestasinya melempem. Ia justru lebih terkenal berkat basis penggemarnya yang fanatik, yakni kelompok sayap kiri yang antirasis, antifasis, dan antiseksis. Tak jarang, mereka berseteru dengan kaum Neo Nazi. Yang juga unik, klub FC St. Pauli memiliki pendukung perempuan terbanyak di seantero Jerman. 

Hamburg sendiri memiliki dua buah klub sepak bola profesional. Yang pertama adalah Hamburg FC, klub yang prestasinya lebih mentereng ketimbang FC St. Pauli. Banyak pemain top yang bercokol disana, sebut saja Ruud Van Nistelrooy, mantan penyerang Manchester United dan tim nasional Belanda. Tapi bagi para penduduk Hamburg, terutama daerah pelabuhan, FC St. Pauli adalah klub yang lebih pantas dibanggakan. Saya melihat banyak anak muda dengan jumawa memakai jersey atau jumper dengan lambang tontenkopf yang sangar itu.

(Bersambung)

Sabtu, 14 Januari 2012

Hamburg Part 1: The Beatles Were Here!

Kanal, pasar loak, distrik merah, dan kisah-kisah grup musik legendaris asal Inggris. 
Hamburg menawarkan sensasi city tour yang sulit ditemukan tandingannya di Jerman.
Inilah pesona kota pelabuhan di utara Jerman.

***

Baru saja saya keluar dari stasiun bawah tanah St.Pauli, seorang pemuda setengah mabuk menghampiri. “The Beatles masih hidup Bung!” katanya sambil melenggang pergi. Saya tak mengerti apa maksudnya, sebab grup musik kondang itu sudah bubar sejak 1970. Seolah bisa membaca pertanyaan saya, si pemuda tadi menoleh, lalu mengatakan: “Di Hamburg Bung.”

Ia setengah mabuk, tapi tidak setengah gila. Kata-katanya ada benarnya. The Beatles, band legendaris asal Liverpool, sempat berlabuh di Hamburg sebelum kemudian merajai dunia. John Lennon dan kawan-kawan eksodus ke Hamburg pada 1960, saat kota pelabuhan di utara Jerman ini sedang giat berbenah selepas Perang Dunia II. Banyak pengamat musik bahkan mengklaim justru Hamburg, dan bukan Liverpool, yang berperan dalam membentuk karakter musik The Beatles. Dan di kota ini pula John, Paul McCartney, serta George Harrison, pertama kalinya bertemu Ringo Starr sang penabuh drum.

Pangsa pasar utama The Beatles adalah kaum pelaut yang haus hiburan usai menjelajahi samudra. Mereka biasa manggung di distrik St. Pauli yang mengoleksi beragam klub malam, diskotek, juga kasino. Layaknya grup perantauan yang sedang membangun reputasi, The Beatles rajin tampil di banyak tempat, mulai dari yang terkenal seperti Kaiserkeller, Top Ten, dan Mambo, hingga klub kecil semacam Indra, Chugs, dan Sacha’s.

The Beatles memang sudah bubar, tapi Hamburg belum merelakannya pergi. Di St. Pauli, persisnya di persimpangan Reeperbahn dan Große Freiheit, terdapat tempat wisatapopuler bernama Beatles-Platz. Daya tarik utamanya adalah patung-patung para personel The Beatles. Tak jauh dari Beatles-Platz ada Beatlemania Hamburg Museum (www.beatlemania-hamburg.com) yang dibangun pada 2009 dan menyimpan memorabilia seputar The Beatles, terutama dari masa-masa awalnya meretas karir di Hamburg. Beatlemania Museum mematok tarif masuk 12 Euro (setara Rp145 ribu). Usai membeli tiket, saya menerima“The Beatles Passport” berwarna cokelat yang memuat data pribadi saya.


Tur dimulai di lantai paling atas yang diberi nama “Port of Entry”. Area ini seolah menarik saya setengah abad ke belakang. Koleksinya mencakup data pribadi para personel The Beatles, artefak klub-klub di Hamburg yang pernah menampilkannya, hingga koleksi video yang dapat diputar menggunakan kartu khusus. Lantai empat yang tak kalah atraktif memajang beragam instrumen musik, amplifier, kostum, hingga ruang karaoke kecil. Dindingnya dihiasi foto-foto keseharian The Beatles yang sebagian diambil oleh fotografer Klaus Voorman. Lantai tiga menampilkan replika interior kapal selam yang diberi tajuk“Yellow Submarine” (judul album yang dirilis pada 1969), sementara lantai dua cenderung mengeksplorasi sisi musikalitas The Beatles.

Port Entry

Replika Jejeran Klub Malam

Tembok Coretan


Replika Drum dan Gitar The Beatles

 


The Beatles Ketika Masih Berlima




Yellow Submarine
 

Semua kenangan itu tak cuma bisa dilihat, tapi juga dibawa pulang dalam bentuk cenderamata. Di lantai dasar terdapat toko suvenir yang menjajakan pernak-pernik bertema The Beatles, mulai dari kaus, syal, cangkir, piring, poster, kalender, hingga cakram digital. Tur ziarah menggali memori The Beatles di museum telah memikat banyak orang dari penjuru bumi. Bersama saya, hadir pengunjung dari kota-kota di Jerman seperti Munich dan Bremen, serta dari luar negeri seperti Belgia dan Swiss. Wajah-wajah mereka umumnya terlihat antusias. Ucapan si pemuda mabuk di gerbang stasiun kian terasa kebenarannya.

Di Hamburg, The Beatles memang masih hidup...

(Bersambung)

Jumat, 13 Januari 2012

Hamburg di JalanJalan Januari 2012

Rejeki awal tahun datang dalam bentuk dimuatnya artikel saya tentang Hamburg di  rubrik Globe Trotting majalah JalanJalan. Hamburg juga dijadikan cover untuk edisi ini, mengambil tema Hamburg Hypnosis. Oh ya, menulis disini merupakan salah satu impian lama saya yang dulu pernah saya obrolin dengan mas Romdhi di sela-sela jam curhat. Akhirnya kesampaian juga sekarang. Yak, satu mimpi telah tercentang.

Saya menuliskan beberapa sisi soal Hamburg. Mengenai The Beatles yang begitu di dewakan disana, dunia malam di St. Pauli dan Reeperbahn, soal suporter bola St. Pauli yang begitu legendaris, hingga naik perahu menyusuri kanal-kanal di Hamburg. Nanti saya akan tuliskan versi panjangnya di blog ini.







 Oh ya, beberapa saat lalu ketika pergi mencari film, saya menemukan sebuah film yang membuat saya senang. Judulnya "Soul Kitchen", sama dengan judul lagu The Doors. Tapi ini bukan film soal The Doors. Ini adalah sebuah film komedi mengenai perjuangan seorang imigran Yunani untuk mempertahankan restoran kesayangannya. Ceritanya bagus dan terikat dengan baik. Yang membuat saya makin menyenangi film ini adalah setting-nya yang diambil di Hamburg. Pemandangan pelabuhan ketika malam, dan kanal-kanal yang cantik membuat saya sejenak merindukan Hamburg.

Tapi Jacob, teman saya di Jerman, malah ngece kerinduan saya. Dia bilang "screw Hamburg, go for Berlin" sambil ketawa di chat beberapa hari lalu. Ia memang pecinta pesta, karena itu dia tidak betah di Hamburg dan lebih suka tinggal di Berlin.

Ya sudahlah, besok atau dua hari lagi saya akan aplot tulisan mengenai Hamburg secara berseri, sambil sesekali diselingi oleh tulisan mengenai kuliner dan juga musik. Tapi sekarang saya harus mengerjakan 3 paper untuk pengganti ujian akhir. Damn.

See you!

Minggu, 14 Agustus 2011

Banyak Jalan Menuju Roma (2)

Villach Hauptbanhof, Dari sini saya naik kereta menuju Venezia

Hawa semakin menyengat. Saya merapatkan jaket berwarna coklat yang saya beli di pasar loak Altona. Kereta menuju Venezia sudah datang. Orang berkerumun, menyemut menuju kereta. Sebenarnya kereta ini bukan kereta yang langsung menuju Venezia, melainkan menuju Austria dan Slovenia. Saya akan turun di stasiun Villach, Austria. Dari sana saya baru naik kereta menuju Venezia.

Setelah mencari kompartemen yang kosong, dan tak ada, saya akhirnya duduk satu kompartemen dengan Chufta, seorang hippy asal Ljublana, Slovenia; yang kisahnya sudah pernah saya tulis disini.

Yang belum saya ceritakan adalah Sulaiman. Seorang pria keling yang baru saja kecopetan. Ia naik di tengah perjalanan, tepatnya di Salzburg. Ia datang dengan satu koper berukuran raksasa. Katanya ia baru saja dari Turki, pergi ke Munchen, lalu kecopetan. Semua dokumen penting dan uang hilang semua. Pria gundul ini akan turun di Villach, tempat tinggalnya.

Begitu mengetahui saya dari Indonesia, Sulaiman kegirangan. "Kakak saya pernah bekerja di Jakarta", ujarnya, "Dan rencananya saya akan kerja di Jakarta bulan depan".

Sulaiman ini begitu ceriwis. Saya dan Chufta yang sudah sama-sama teler karena ngantuk (dan Chufta teler karena menenggak banyak bir), harus mendengarkan cerita tentang kecopetannya. Tapi Sulaiman ini mukanya ceria. Bahkan dalam kesusahan pun ia masih bisa memasang tampang yang berbinar.

Sekitar jam 4 pagi, kereta sampai di Villach Hauptbanhof. Saya berpamitan dengan Chufta, mengambil tas, dan beranjak turun. Begitu juga Sulaiman.

"Kamu tinggal di Indonesia mana? Boleh saya minta kontakmu?" tanyanya sembari mengambil kertas dan bolpoin di tasnya. Saya ngobrol dengannya sembari mencari toilet. Kelenjar kemih sudah penuh, menyebabkan rasa nyeri di selangkangan.

Ternyata toilet di stasiun ini rusak. Sial. Masa saya harus menunggu kereta menuju Venezia yang masih 45 menit lagi datangnya? Mengetahui saya yang gelisah menahan kencing, Sulaiman menggandeng saya.

"Ayo, saya tahu toilet terdekat" katanya sembari memegang pundak saya. Saya ikut saja. Ternyata ia menuju bar yang terletak di bawah stasiun. Lampunya gemerlap, meriah. Ada pria mabuk yang menelungkupkan kepala di meja bar. Di sebelahnya ada satu gelas panjang berisi bir yang sudah nyaris tak bersisa, hanya buih. Saya sedikit segan kencing di bar. Bukan apa, setahu saya bar itu tempat untuk nongkrong atau minum bir. Bukan tempat untuk numpang pipis. Tapi Sulaiman bilang tak apa. Ya sudah saya masuk dan melaksanakan hajat.

Selepas saya pipis, saya melihat Sulaiman tampak kebingungan. Ia mengeluarkan serenteng kunci yang isinya begitu banyak. Benar-benar banyak.

"Kenapa man?" tanya saya.

"Ini lagi nyari kunci rumah saya, hehehe" jawabnya sembari cengengesan.

"Aha, untung kunci rumah saya cuma ada satu" jawab pria mabuk yang tadi saya lihat sembari menunjukan satu buah kunci. Lalu dengan tolol, ia menggoyang-goyangkan kunci itu, seakan meyakinkan saya dan dirinya kalau kuncinya benar-benar cuma satu. Mukanya sudah merah. Ia cengar-cengir macam orang bego. Mabuk berat. Berdiri saja sudah seperti berdiri di kapal, oleng tak karuan.

Akhirnya kunci rumah Sulaiman ketemu. Saya pun memutuskan pamit. Tiba-tiba si pria mabuk berwajah tolol itu memeluk saya, erat.

"Katanya kamu mau jalan-jalan jauh. Jaga diri ya saudaraku. Semoga selamat sampai tujuan, hiks" ujarnya sendu sembari ditingkahi cegukan. Saya tak kenal pria ini. Tapi ia memeluk saya erat, seolah saya adalah saudaranya yang akan pergi jauh. Entah karena dia ramah atau karena dia sedang mabuk. Saya yang pertama kali dipeluk oleh orang mabuk hanya bisa ketawa-ketiwi sendiri.

Pria mabuk itu melambaikan tangan. Saya membalasnya. "Hoyyy, tunggu aku" ujar pria mabuk itu sembari mengejar Sulaiman yang berjalan ke pintu keluar. Sulaiman juga tak kenal pria itu. Tapi ia juga cengengesan melihat polah si pria mabuk aneh ini.

Setelah menunggu tak begitu lama, terlihat kereta yang datang dari kejauhan. Dari cepat, lalu melambat, hingga berhenti penuh seluruh.

"Kereta menuju Venezia?" tanya saya pada petugas. Ia mengangguk pelan. Saya langsung melompat menuju kereta. Hup!

Bersambung...

Banyak Jalan Menuju Roma (1)

Depan Munchen Hauptbanhof Yang Ditingkahi Gerimis


Munchen Hauptbanhof ramai sekali malam itu. Banyak orang berseliweran di stasiun salah satu kota terbesar di Jerman ini. Tampak juga beberapa kelompok pemuda yang memanggul backpack berukuran besar. Setelah turun dari kereta IC yang membawa saya dari Passau, saya mencari toko yang menjual kopi. Hawa dingin sekali, dan segelas kopi panas pasti bisa sedikit meredam hawa tak sopan itu.

Selesai membeli kopi, saya ingin keluar stasiun. Sejenak berkeliling Munchen sepertinya menyenangkan. Tapi begitu sampai di pintu stasiun, olala, ternyata sedang gerimis. Pantas saja hawa begitu dingin. Akhirnya saya bergabung dengan beberapa orang traveler, duduk di tangga pintu stasiun sembari menyeruput cappucino yang asapnya masih mengebul.

Kereta menuju Venezia masih sekitar 1 jam lagi. Saya berencana menghabiskan 3 hari di Italia. Kota tujuan utama saya adalah Roma. Roma yang tua dan klasik itu tak pernah terlihat dan terdengar biasa. Roma adalah sinonim untuk kata luar biasa. Lalu saya juga akan ke Milan. Mungkin berfoto di stadion Giuseppe Meazza atau San Siro dan mengimingi foto itu ke Miko dan Niko yang Internisti atau ke Panjul dan Yandri yang Milanisti. Rencananya juga saya akan melanglang ke Sicilia, tanah suci para mafia.

Mafia juga selalu menarik perhatian saya. Ayah mengoleksi banyak film tentang mafia. Mulai Godfather, Scar Face, Carlito's Way, hingga Good Fellas. Lalu saya juga baru tahu kalau ada penggolongan mafia, klasik dan modern. Kata beberapa sumber, mafia klasik tak pernah menjual obat bius. Mereka hanya menjadi tenaga keamanan, mengambil iuran dari para pedagang, dan menekankan hidup mereka pada kehormatan. Sedang mafia modern lebih ke kebalikannya. Saya sendiri tahu awal kata Mafia dari komik Master Keaton. Keaton suatu ketika menjelaskan bahwa ketika ada perang antara Perancis dan Italia, seorang wanita terbunuh oleh tentara Perancis. Sang calon suami yang mengetahui hal itu, menangis menggerung dan menyumpahi tentara Perancis, "Morte Alla Francia, Italia Anela", yang kalau diterjemahkan menjadi "Death to France, Italy cries!". Kata Mafia diambil dari huruf depan sumpah serapah itu.

Tapi semua rencana itu berubah ketika saya menelpon seorang teman. Katanya, 3 hari di Italia itu terlalu lama. "Apalagi", lanjutnya, "kamu bakal menempuh perjalanan jauh dan lama. Mending 3 hari di Paris aja ketimbang 3 hari di Italia."

Segera setelah telpon ditutup, saya langsung mengambil peta, juga kalender, beserta notes. Saya mencorat-coret, mengotak-atik lagi itenerary saya. Sret sret sret! Akhirnya saya mendapatkan itenerary yang pas. Sepertinya bakalan cocok.

Jadi malam ini saya pergi ke Venezia. Hanya untuk transit saja. Entah kenapa, kanal-kanal Venezia yang tersohor itu tak menggoda saya sama sekali. Mungkin karena saya sudah tahu bentuk rupa wisata air di Venezia. Juga karena saya sudah mengalami wisata air yang menakjubkan di Hamburg.

Nah, dari Venezia, saya akan mengambil kereta menuju Roma. Di Roma saya akan berjalan-jalan hingga malam. Malamnya saya akan mengambil kereta menuju Milan. Dari Milan saya akan menuju Turin. Dari Turin saya langsung naik kereta menuju Paris.

Sepertinya rencana itu akan sempurna :)

Bersambung...

Sabtu, 13 Agustus 2011

Passau: Dangerously Beautiful

Perjalanan panjang saya bermula dari Hamburg menuju Ingolstadt. Di Ingolstadt itu saya ada janji dengan Afni, pacar karib saya Yandri. Saya janji membawakan sale pisang dan sandal jepit untuk Afni yang sudah hampir 1 tahun tinggal di Ingolstadt. Saya di Ingolstadt tak sampai 1 jam, karena harus mengejar kereta menuju Passau.

Di Passau saya akan menemui Fathun Karib. Pria ini adalah salah seorang kontributor Jakartabeat. Saya mengenalnya ketika ia menulis tentang sejarah punk Jakarta dengan tajam dan rinci. Ia benar-benar penulis punk yang tangguh. Kecintaannya pada punk juga berwujud dalam musik. Semenjak SMP ia menjadi vokalis Cryptical Death, yang hebatnya band itu masih bertahan hingga sekarang dengan personil yang nyaris tak berubah. Saat ini ia sedang bersekolah lagi di Universitas Passau, mengambil jurusan Southeast Asian Studies.

Maka berangkatlah saya dari Ingolstadt menuju Passau. Sempat transit di Regensburg, lalu kereta langsung melaju. Sesampai di Passau, cuaca sedang dingin. Masih tampak sisa hujan yang baru saja usai. Di luar awan terlihat kelabu. Lengkap dengan embun-embun yang masih menempel di kaca stasiun Passau Hauptbanhof.

Beberapa menit setelah saya sampai, mas Fathun datang. Ia tak jauh berbeda dengan foto yang pernah saya lihat. Orangnya tampan. Dengan brewok dan jenggot yang tipis serta rambut pendek yang rapi. Ia tinggi dan tegap. Senyumnya selalu mengembang apik. Tipikal orang-orang yang ramah.


Selesai ngobrol sebentar, kami langsung pergi menuju apartemen mas Fathun. Setelah menaruh tas, kami pun memutuskan untuk berkeliling kota Passau yang kecil saja.

Passau memang tak seberapa besar. Penduduknya hanya sekitar 50.000. Dan 10.000 diantaranya adalah mahasiswa di Universitas Passau. Kota yang berbatasan dengan Austria ini dikenal dengan julukan Dreiflüssestadt, alias kota tiga sungai, karena ada tiga sungai yang membelah Passau. Ada Danube dan Inn dari selatan, dan Ilz dari utara. Kalau dilihat dari udara, akan tampak tiga warna sungai yang berbeda. Cantik sekali. Karena letaknya yang berbatasan dengan tiga sungai besar itu, banjir menjadi kejadian yang tak jarang lagi. Walau tak tahunan seperti di Jakarta. Karena itu, di balai kota, ada selarik garis memanjang yang mengukur tinggi banjir. Banjir paling parah terjadi pada tanggal 15 Agustus 1501. Tinggi air mencapai setengah dari tinggi balai kota. Sekarang Passau sudah nyaris tak pernah mengalami banjir lagi.






Walau menyimpan kecantikan yang tiada tara, Passau juga menyimpan bahaya yang nyaris laten. Kota ini sudah terkenal sebagai kota suci para Neo Nazi. Pasalnya, Hitler yang kelahiran Austria itu, masuk ke Jerman melalui Passau. Pemimpin besar Nazi ini lantas tinggal di Passau selama 2 tahun. Sudah bukan rahasia kalau kaum Neo Nazi yang xenophobic ini benci pendatang atau imigran. Kadang ada kasus imigran yang dipukuli oleh para Neo Nazi ini.

Sepertinya Passau adalah kota yang tepat untuk idiom dangerously beautiful :)

***

Passau adalah sebuah kota tua yang sangat cantik. Banyak bunga beraneka warna yang tumbuh di taman-taman yang tersebar di sepanjang jalan. Sayang saya datang pada musim panas. Kalau musim semi, Passau akan jadi lebih indah. Tujuan utama para pelancong tentu saja adalah Katedral St. Stephan. Gereja yang dibangun pada tahun 1668 ini memiliki organ katedral terbesar di dunia. Organ yang ukurannya memang gila-gilaan ini menjadi yang terbesar di dunia hingga tahun 1994, sebelum akhirnya dikalahkan oleh organ di First Congregational Church di Los Angeles. Biasanya ada konser organ yang diadakan pada bulan Mei dan September. Gereja bergaya baroque ini dibangun oleh arsitek asal Italia, Carlo Lurago.

Organ terbesar di dunia hingga 1994



Cuaca hari itu tak menentu. Kadang mendung. Tak sampai selemparan batu, mendung hilang, berganti matahari yang kembali berarak. Panas. Karena panas itulah, banyak orang Passau yang berbahagia. Mereka keluar rumah. Sekedar bercengkrama di taman, menyulam, jogging, atau bersepeda. Juga banyak turis yang datang dengan biro wisata. Rata-rata mereka sudah baya. Sebagian besar mereka pergi ke St. Stephen. Ziarah agama, tak jauh beda dengan ziarah para wali di Indonesia. Sedang yang muda lebih memilih pergi ke toko suvenir atau minum bir di kafe-kafe kecil di Steinweg Gr. Messergrasse atau di Fritz-Schaffer-Promenade. Sedang kami lebih menyusuri lorong-lorong kecil yang bagai labirin.








Karena terlalu asyik melanglang Passau, kami tak sadar kalau sore menjelang. Saya harus buru-buru mengejar kereta ke Munich. Setelah mengambil tas di apartemen, kami langsung berlari ke halte untuk mengejar bus menuju stasiun. Ketika sampai di halte bis, mas Fathun baru sadar kalau bis sudah tidak beroperasi. Hari itu akhir pekan, sudah terlalu sore pula. Jadi kami memutuskan untuk berjalan kaki saja. Saya kepayahan. Memanggul carrier dan perut yang lebih berat ketimbang carrier. Tapi karena takut ketinggalan kereta, tenaga saya seperti tak berbatas. Terus berjalan. Sepertinya tinggal cari tukang pijat saja nanti.

Akhirnya setelah berjalan hampir 5 km, sampai juga di stasiun. Kaki pegal. Kereta sudah stand by. Perut keroncongan. Karena saya rasa tak cukup waktu untuk membeli makanan, saya pun langsung menuju kereta. Padahal saya pengen sekali lagi makan kari bebek nomer wahid di restoran Jepang yang terletak di belakang stasiun Passau. Tapi ya sudahlah, lain kali semoga bisa berkunjung ke Passau lagi dan mencicipi kari bebek yang aduhai lezatnya itu.

Selesai berpamitan dengan mas Fathun, saya pun duduk di kursi. Aih, perut kelaparan tampaknya. Ditambah hawa dingin jadi tambah lapar. Passau- Munich masih sekitar 2 jam. Tampaknya saya akan menahan lapar barang sejenak. Tapi lamunan saya buyar karena suara ketukan di jendela. Ternyata mas Fathun yang mengetuk.

Saya langsung keluar lagi dari kereta. Ternyata mas Fathun membawa sebungkus kotak berwarna coklat yang berisi dua buah roti. "Ini dibuat bekal, kamu kan belum makan tadi", ujarnya sembari tersenyum.

Ah, ternyata orang baik memang ada dimana-mana. Tak berapa lama kemudian kereta pun berangkat. Senja sedang bersiap menjelang. Di sebelah kiri jendela tampak sungai Inn yang berwarna kecoklatan. Gegana memerah. Di sebelah saya ada dua orang yang dimabuk asmara, berceloteh riang sembari meminum bir. Lain kali saya harus ke Passau lagi. Kota yang benar-benar pantas menyandang gelar dangerously beautiful.