Senin, 17 Oktober 2011

Tora-Tora!

Ketika Miyamoto Musashi berduel dengan Sasaki Kojiro, Musashi sengaja datang terlambat. Di pulau Garnyu, Kojiro menunggu dengan geram. Ketika Musashi tiba, Kojiro sudah dalam keadaan  tak bisa mengendalikan emosi.Entah benar atau tidak, emosi itulah yang menjadi andil terbesar kekalahan Kojiro. Jadi pelajaran dari duel di pulau Garnyu itu adalah kesabaran adalah kunci dari segalanya.

Kesabaran itulah yang sedang saya pakai di warung Tora-tora. Warung ini adalah warung tenda yang menyajikan masakan khas Jepang. Sang chef, Mas Andri (tadi saya baru berkenalan dengannya) pernah menjadi koki di sebuah rumah makan Jepang selama 4 tahun sebelum ia memutuskan membuka warung sendiri pada tahun 2006 di daerah Kaliurang. Warung ini terletak beberapa meter dari lampu merah gedung MM UGM, tepatnya disamping Fakultas Peternakan UGM.





Saya datang malam itu dengan perut yang lapar dan rasa penasaran. Panjul bilang warung ini enak dan harganya terjangkau. Akhirnya demi memuaskan rasa penasaran saya, maka berangkatlah saya menuju Tora-tora, kata Jepang yang berarti harimau. Tora-tora sendiri merupakan sandi pasukan Jepang ketika PD II terjadi.

Oke, kembali ke masalah makanan. Panjul benar, harga makanan disini relatif murah. Karena itu banyak banget yang makan disini. Menunya pun beragam. Dari daging sapi, ada varian Yakiniku yang dibandrol 11.000, lalu Teriyaki yang harganya sama, Katsu yang harganya 12.000, dan Wafuyaki yang seharga 12.500. Varian ayam pun sama dengan varian sapi, hanya harganya lebih murah 1000 rupiah. Selain itu ada menu Cumi Ikayaki, Cumi Tempura, Udang Tempura, Nasi Goreng Yakimeshi, Mie Goreng, juga sayur seperti Tauge Goreng. Semua harganya terjangkau.

Saya sendiri memesan Beef Wafuyaki yang terdengar asing sama sekali, dengan seporsi nasi putih dan segelas es teh.

Seperti yang saya tulis diatas, saya harus sabar menunggu agak lama sebelum pesenan saya datang. Selain pembeli sedang ramai, hanya ada dua kompor yang digunakan. Jadi masaknya pun harus bergantian.

Setelah menunggu sekitar 15 menit, akhirnya pesenan saya datang. Beef Wafuyaki ini adalah potongan daging sapi panggang yang disajikan bersama tumis tauge yang dimasak dengan bawang putih, bawang bombay dan shoyu (kecap asin Jepang), lalu juga ada cacahan kol dan wortel yang diberi mayonaise. Sebagai pelengkap dan penambah rasa, disertakan satu mangkuk kecil berisikan shoyu.


Karena kelaparan dan menunggu lama, ketika pesanan datang saya langsung menyantapnya. Sampai saya lupa memotret. Saya baru ingat untuk memotret ketika sudah tiga kali menyuap. Jadi maaf kalau tatanan hidangan Wafuyaki ini tak lagi indah, hehehe.

Tekstur daging sapi yang dipotong dadu ini kenyal, memberikan perlawanan khas daging sapi yang tak terlalu empuk. Saya suka tekstur daging yang seperti ini walau kadang menyisakan kerat daging di sela gigi. Lalu oseng taugenya juga guring dengan rasa khas tauge yang menguar kuat. Guyuran shoyu yang saya siramkan pada nasi membuat nasi bertambah gurih dan sedap.

Oishii! Kapan-kapan saya akan mencoba menu lain yang tampaknya tak kalah enaknya.

Setelah selesai menyantap seporsi Beef Wafuyaki, saya baru sadar petuah Miyamoto Musashi bahwa sabar akan membawa kita kepada hasil yang baik. Yeah.

10 komentar:

  1. http://www.google.co.id/#sclient=psy-ab&hl=id&source=hp&q=miyamoto+musashi+sabar&oq=miyamoto+musashi+sabar&aq=f&aqi=&aql=1&gs_sm=e&gs_upl=294256l304543l2l304904l22l22l0l18l0l1l760l2288l4-2.1.1l4l0&bav=on.2,or.r_gc.r_pw.,cf.osb&fp=7fc0ee9e9f6e5dc4&biw=1024&bih=484

    lihat, aku googling "miyamoto musashi+sabar" hanya karena penasaran dengan kuotasinya. Dan hasilnya, blog ini hadir sebagai runner-up di daftar hasil pencarian. Hasyem

    BalasHapus
  2. mentang mentang macan mangane nang warung sing artine macan. Tora kui artine macan.

    BalasHapus
  3. nggarai kangen Djogdja koen Ran...

    BalasHapus
  4. hehehe, kangen surabaya gak? :)

    BalasHapus
  5. Bayu: Hehehe, iseng sekali si google itu :D

    Dhani: Aku yo, macan yo, medeni yo, eaaaaa :D

    BalasHapus
  6. ahhhh, sing pgn tak coba ket biyen ga sempet2 :|

    BalasHapus
  7. wah klo kangen Surabaya mah tiap hari huehehehe

    BalasHapus
  8. Indra Widianto21 Oktober 2011 01.59

    Cen jancuk iki warung. Entek es teh sak gelas, mbek rokok siji yo durung teko-teko panganane. Plus akon nunggu 20 menit bar iku kok piye. Ning enak panganane :D
    Cocok nggo wong sek agek pdkt, lumayan, injury time yang lama tuk berdua, berdekatan. :p

    BalasHapus
  9. Sabar membawa berkah ya.... :)

    BalasHapus
  10. maaf boleh koreksi itu bukan samping fakultas peternakan tapi geografi...

    BalasHapus