Minggu, 02 Oktober 2011

Banyak Jalan Menuju Roma (4)


Stasiun Venezia Santa Lucia ramai pagi itu. Walau stasiun ini bukan stasiun central di Venezia, tapi stasiun yang terletak di daerah Cannaregio ini cukup ramai. Stasiun pusat Venezia ada di Metre. Bagi turis yang ingin menikmati kanal Venezia yang tersohor itu, biasanya turun di stasiun Venezia Metre.

Setelah turun dari kereta, saya langsung mencari pusat informasi. Saya ditemui oleh seorang bapak baya yang ketus. Beliau lantas menunjukkan line kereta menuju Roma. 

Perjalan dari Venezia menuju Roma ditempuh dalam waktu sekitar 3,5 jam. Kalau telat, biasanya bisa molor hingga 4 jam. Nanti saya akan turun di stasiun pusat Roma, Roma Termini. Dalam mengumpulkan info mengenai Italia, saya banyak dibantu oleh Viera si ratu boker. Gadis asal Cibinong ini sekarang sedang menempuh S2 di Italia. Oh ya, kalau kalian masih asing dengan gadis kembaran Nikita Willy Dozan ini, dia adalah gadis kecil yang tampil di iklan Indomie, yang menceritakan pengalamannya pergi ke Belanda hanya untuk beli Indomie. Gelo.

Sembari menunggu kereta menuju Roma yang berangkat pukul 10.27, saya membaca peta Eropa lagi. Perjalanan saya masih panjang, dengan Paris sebagai tujuan utama saya. Di depan saya tampak seorang gadis seumuran saya sedang mondar mandir sembari menelpon seseorang. Dari tampilannya, ia sepertinya seorang atlit. Ia membawa travel bag merk Nike berukuran besar. Ia mengenakan training berwarna biru gelap dengan jaket bertuliskan "Italy" di bagian belakang. Ia tampak kebingungan. 

Tak lama kemudian sebuah kereta datang. Entah menuju kemana. Perempuan itu gamang. Lalu kemudian memutuskan naik kereta itu. Sebentar saja lalu kereta itu bergerak pelan, berangkat menuju entah kemana.

"Hoooyyyy!!!" tiba-tiba terdengar teriakan dua orang pemuda. Mereka berlari menaiki tangga, mengejar kereta yang masih bergerak lambat. Dilihat dari pakaian yang seragam, sepertinya mereka teman sang gadis yang sedari tadi kebingungan itu. 

Seperti kisah yang dituturkan oleh beberapa teks, Italiano memang ekspresif. Ketika tahu ketinggalan kereta, mereka berlagak seperti pemain opera. Menengadahkan tangan ke depan dada, menggoyangkannya ke depan berkali-kali, sembari berucap kata Italia yang saya tak paham artinya. Mimik mukanya tampak sedih dan kecewa betul, lagaknya seperti pria yang baru diputus ceweknya dengan sangat sadis. Pria yang berambut klimis sedikit menekuk lututnya, sembari tangannya tetap menengadah ke depan dada, mengomel dengan bahasa Italia. Yang satunya lagi, pria brewok, menelpon, dengan suara marah-marah ia lantas menendang kereta yang belum usai berlalu itu. Setelah kereta melaju penuh, mereka masih berlagak seperti pemain opera. Mengacungkan tangan ke udara.

Saya terhibur dengan adegan opera dadakan itu. Walau saya tahu kalau terhibur diatas penderitaan orang lain itu adalah kurang ajar, tapi saya begitu menikmati ekspresi dua orang pria Italia itu. Mereka sadar kalau kereta sudah berangkat. Jadi walaupun mereka berakting salto; kayang; lompat harimau; berdiri dengan satu kaki; atau malah berdiri dengan kepala; kereta tak akan berhenti. Walau sudah tahu hal itu, toh mereka tetap saja berakting, sendu, seakan ketinggalan kereta adalah kiamat. Impressionante! Grande!

Setelah adegan opera yang ditanggapi biasa saja oleh orang lain dan ditanggapi dengan takjub oleh saya, pemuda itu berlalu dengan kepala terkulai. Lemas. Sepertinya mereka akan mencari kereta lain. Sementara itu saya nyaris mengalami hal yang sama dengan dua pemuda itu.

Kereta menuju Roma yang harusnya ada di line 4, tiba-tiba saja berubah menuju line 3. Tak ada pemberitahuan dalam bahasa Inggris. Mereka pikir semua orang di Venezia itu orang Italia? Mereka pikir semua turis bisa bahasa Italia? Untung saya membaca papan pengumuman. Disitu terpampang kalau kereta menuju Roma Termini pindah ke jalur 3. Langsung saja saya tergopoh-gopoh pindah jalur, turun menuju ruang bawah tanah, lalu naik lagi ke atas, menuju line 3. 

Setelah menunggu sekitar 15 menit, kereta menuju Roma datang. Saya masuk menuju kereta, mencari kompartemen yang kosong, menaruh tas, lalu duduk tenang. Kemudian dengan mendadak, ada hawa aneh menjalar dalam tubuh saya. Entah apa. Yang jelas saya merasa tak nyaman.

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar