Kamis, 06 Oktober 2011

Banyak Jalan Menuju Roma (5)


Kereta bergerak perlahan. Meninggalkan kota Venezia di belakang saya. Ketika duduk di kursi, saya sudah merasa tak nyaman. Ada hawa aneh yang menjalar. Merambat dari kaki, lalu naik ke lutut, ke pinggang, ke punggung, lalu hingga ke kepala. Alamak, saya tahu perasaan ini. Ini adalah kondisi yang disebut dengan: meriang.

Badan tiba-tiba sedikit menggigil. Meski hawa panas, tapi tubuh saya merasa kedinginan. Saya jadi ingat pesan mas Andy via telpon beberapa waktu lalu. Ketika tahu saya menghabiskan malam di jalan, ia berkata agar saya mencari hostel saja, biar bisa beristirahat dengan tenang di kasur. Karena keliling negara itu beda dengan keliling kota. Ternyata benar. Saya merasa tidak enak badan sekarang. Entah karena apa. Bisa jadi karena terlalu lelah menempuh perjalanan maraton ini. Masih ditambah hawa yang berbeda-beda di tiap negara.

Tak berapa lama kemudian ada sepasang adik kakak masuk ke kompartemen saya. Dua-duanya sepertinya atlit. Sama seperti para Italiano yang ketinggalan kereta itu (baca: Banyak Jalan Menuju Roma edisi sebelumnya). Mereka memancing senyum simpul saya dengan tingkah polah yang lucu. Saling berebutan buku, kadang saling mengusili. Sang kakak rupanya jahil juga. Melihat mereka, saya jadi kangen menjahili dua adik perempuan saya.

Karena ingin fit ketika sampai Roma, maka saya memutuskan untuk tidur. Sebenarnya sayang sekali jika waktu traveling langka ini dipakai untuk tidur. Jalan masih panjang terbentang, jadi saya tak ingin seluruh agenda traveling ini terganggu karena sakit. . Maka saya paksakan dan relakan tubuh agar beristirahat. Walau begitu, sesekali saya masih membuka mata, melongok keluar jendela. Sekedar melihat pemandangan, atau sudah sampai mana.

Entah berapa lama saya tertidur. Saya terbangun ketika pengeras suara melaporkan kalau kereta sudah sampai stasiun Firenze Rifedi. 

Firenze adalah kota yang indah. Ibu kota Tuscany ini dibelah oleh sungai Arno, sungai yang dianggap terpenting di Italia setelah sungai Tiber. Saya sih kenal kota ini dari klub sepak bola Fiorentina, pada masa saya begitu menggemari Gabriel Omar Batistuta. 

Pada tahun 1982, pusat kota Firenze dideklarasikan sebagai World Heritage Site oleh Unesco. Dari beberapa literatur yang saya baca, Firenze punya beberapa tempat yang indah nun bersejarah. Sebut saja Ponte Vecchio yang klasik, Santa Croce yang megah, hingga kapel Medici yang suci. Andai saja saya punya waktu banyak, tentu saya tak akan berpikir dua kali untuk singgah dan berkeliling kota ini. Lain kali, semoga!

Ketika terbangun, saya membuka peta Eurail. Disana terpampang selected scenic routes, yakni rute-rute pilihan yang menyajikan pemandangan elok. Italia memiliki satu rute pilihan. Rute itu terhampar dari Firenze hingga Assisi. Saya jadi penasaran. Penasaran itu akan terpuaskan karena kereta akan melewati rute ini.

Diantara tubuh yang melemah, mata yang ingin menutup lama, saya berusaha memaksakan diri untuk terjaga. Kali ini saya ingin menikmati pemandangan saja, tak ingin memotretnya. Saya yakin, kalau saya memotret pemandangan, maka saya tak bisa benar-benar menikmati pemandangan itu. Karena saya berada dalam objek yang bergerak, lain halnya kalau saya diam di tempat.

Dan benar. Jalur Firenze- Assisi memang indah. Ia merupakan lekuk-lekuk pegunungan yang hijau. Kadang pemandangan itu diselingi dengan hutan pohon cemara (atau pinus?). Pemandangan itu kadang diselingi oleh sungai kecil yang berbatu. Lalu ada rumah-rumah kayu khas pedesaan. Pemandangan cantik itu membelai mata saya. Menyadarkan bahwa dunia benar indah adanya. Saya memang harus melihat dunia lebih banyak lagi.

Dari pemandangan cantik yang hijau, muncul perlahan bayangan yang kabur. Blur. Tampak garis-garis menggurat di depan pelupuk mata. Lalu tiba-tiba semua berganti warna hitam.

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar