Rabu, 19 Oktober 2011

Lost in Torino! (1)

Saya terbangun tiba-tiba keesokan harinya. Sudah pagi. Kawan satu kompartemen saya sudah bangun. Oh ya, saya punya 3 orang kawan kompartemen. Satu orang pria paruh baya yang tak banyak cakap, satu orang pemuda backpacker asal Kanada bernama Mike, dan satu orang pria berambut necis yang tengah malam kabur karena paspornya hilang. Jadi ketika saya bangun, kawan kompartemen saya tinggal 2 orang saja.

Mike
Stasiun Milan ramai hari itu. Mungkin seperti ini keadaan tiap hari. Sebenarnya, lagi-lagi, kalau tak dikejar waktu, saya begitu ingin menghabiskan waktu keliling kota Milan. Mengunjungi San Siro atau Giussepe Meazza, sekedar untuk berfoto dan mengimingi Panjul, Yandri, atau Dafi yang fans A.C Milan, atau Didik dan kak Rizal yang fans dari Inter Milan. Tapi apa lacur, waktu begitu pendek dan sangat berharga. Jadilah saya hanya menumpang kentut di kota fashion Italia ini.

Milan Central Yang Selalu Riuh
Menurut itenerary yang sudah saya buat, jam 7 pagi saya harus naik kereta menuju Torino. Lama perjalanan sekitar 1 jam. Nanti saya akan lanjut naik kereta dari Torino Porto Susa menuju Paris Gare de Lyon pada pukul 8 lewat 10 menit.

Tepat jam 7 kereta datang. Saya meloncat ke dalam kereta, menaruh tas, lalu bersender pada kursi yang empuk. Membaca buku selama perjalanan, tertidur ayam, menikmati pemandangan, lalu tertidur ayam lagi, begitu seterusnya. Entah karena apa, saya tak sadar kalau 1 jam sudah lewat. Ketika saya menengok jam di handphone, sudah jam 7 lewat 30 menit. Walah, rupanya kereta ini terlambat. Benar saja. Saya baru sampai jam 9 pagi. Terlambat 1 jam dari jadwal. Kalau begini apa bedanya dengan kereta Logawa atau Sri Tanjung?

Saya jelas kelimpungan. Begini ini tak enaknya jalan-jalan dengan menggunakan itenerary. Selama ini saya tak pernah menggunakan itenerary ketika melakukan sebuah perjalanan. Saya berusaha untuk menikmati setiap kejutan yang terjadi, yang nantinya ia akan melahirkan yang namanya improvisasi. Dan improvisasi itulah hal yang paling menyenangkan, juga menegangkan, dalam sebuah perjalanan.

Tapi karena waktu yang pendek, juga skala prioritas harus disusun, maka mau tak mau saya memakai itenerary. Menyusun jadwal kereta, memutuskan naik kereta apa, lalu biayanya berapa. Perencanaan yang lantas menurut saya menghilangkan kejutan dalam perjalanan. Jadi benar saja, ketika satu rencana gagal, maka saya seperti kehilangan daya untuk berimprovisasi. Saya cek jadwal kereta di Torino Porto Susa. Ternyata kereta menuju Paris hanya ada dua kali dalam sehari. Jam 8 pagi, dan jam setengah 5 sore.

Alamak!

Lalu saya berusaha memeras otak. Melupakan semua jadwal dan rencana, berusaha melakukan improvisasi seperti biasa. Ada dua ide yang terlintas. Pertama adalah rencana kebut waktu. Rencana ini berupa naik bis dari Torino hingga Paris. Lalu rencana kedua adalah membunuh waktu. Rencana ini berupa berjalan-jalan keliling kota Torino untuk menghabiskan waktu menunggu yang lumayan lama.

Ah, pilihan yang mudah. Dan pilihannya jelas sudah.

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar