Senin, 21 Maret 2011

Hikayat Kelahiranmu, Perempuanku


Aku tak tahu kapan kamu lahir di dunia. Bisa jadi dini hari di kala semua orang terlelap. Bisa juga pada pagi hari, saat adzan subuh berkumandang dan semua orang bertandang ke masjid. Atau bisa juga saat siang hari, saat semua pegawai negeri menguap dan berharap waktuistirahat cepat datang. Atau bisa juga saat hari menua, senja merayap perlahan dan gegana memerah. Malah bisa juga menjelang malam, ketika Dunia Dalam Berita baru saja mengudara.

Perempuan setengah baya itu mengejan. Dengan badan berpeluh keringat. Bernegosiasi dengan malaikat kematian. Lantas bertempur dengan nasib dan takdir yang serupa neraca kehidupan dan kematian. Perempuan itu yang lantas akan kau panggil ibu, bunda, mamak, atau mama. Sama saja. Semua adalah panggilan untuk perempuan yang paling kamu hormati. Paling kamu sayangi.

Di luar, seorang lelaki menanti dengan cemas. Badannya juga penuh peluh. Entah khawatir, entah lelah. Meski yang dinantinya bukanlah penantian yang pertama kali. Sudah keempat kalinya ia menanti berkawan dengan cemas. Lelaki tersebut kelak akan kau panggil dengan sebutan bapak, ayah, abah, atau papa. Sama saja, tak ada bedanya. Semua adalah panggilan untuk lelaki yang paling kamu hormati. Paling kamu sayangi.

Kamu lahir dengan doa di telinga. Dengan harapan yang dihembuskan dan ciuman lembut di dahi. Berharap kamu menjadi anak yang diberkati. Juga dicintai.

Kalau sekarang kamu merayakan kehidupan, rayakanlah dengan bahagia. Karena semua orang yang telah menitipkan doa, menitipkan ciuman lembut, juga menghembuskan harapan padamu, boleh jadi bangga padamu. Tapi jalan masihlah panjang. Bisa jadi tak berujung. Hikayat kelahiranmu dan kehidupanmu belum juga selesai tertulis. Masih banyak lembar kosong yang harus kau tulisi cerita. Tulislah cerita dengan makna dan harapan.

Sekali lagi, aku tak tahu kapan tepatnya kamu dilahirkan. Bisa jadi dini hari saat para garong memasuki rumah orang kaya, dan berharap ada yang ia ambil sehingga bisa untuk membeli susu buat anaknya yang merengek kelaparan. Bisa juga di kala subuh menjelang, dimana para kupu-kupu malam mulai menguap dan bersiap pulang ke rumah sembari diiringi requim adzan subuh. Atau bisa juga siang hari, ketika para tukang becak bermandikan peluh dihantam srengenge sembari mengayuh becak berisikan anak-anak kecil sepulang sekolah. Atau ketika senja mulai naik, dan dijadikan inspirasi para penyair amatir untuk membuat sajak rayuan bagi perempuan mereka. Atau bisa saja ketika malam hari dan Harmoko masuk tipi sembari beretorika.

Bisa kapan saja. Aku tak tahu, dan aku lupa tak menanyakan padamu.

Tapi yang pasti saat ini adalah hari dimana hikayat kelahiranmu dituliskan, dan aku menyelamatimu untuk itu.

Selamat hari lahir Rina Fariana...

2 komentar:

  1. Seumur-umur kenal sama Rina, belum ada yang bisa membuat ucapan ulang tahun seindah ini buat dia. Seumur-umur kenal sama Nuran, rasanya belum ada yang bisa bikin dia potong rambut secepak ini selain Pak Fatah. Ehehehe...
    Dear brother and sister, I pray for you both, may God always bless you in every single step you take :)

    BalasHapus