Senin, 28 Februari 2011

Tentang Cinta

Apa yang bisa kamu katakan tentang cinta? Apa pula yang bisa saya katakan mengenai cinta? Mungkin kalau kita bicara soal cinta, maka yang muncul adalah hal standar tentang cinta. Mengenai cinta yang menerima apa adanya, setia sampai mati, rindu bertubi-tubi, dan sakit yang menjadi adiksi.

Tapi Ugoran Prasad bukanlah manusia biasa. Dia bisa berbicara mengenai cinta dari berbagai sisi. Salah satunya adalah hilangnya sakralitas cinta. Plus, hanya kesederhanaan yang dibutuhkan dalam cinta.

Iya, dia berbicara Tentang Cinta.

Tentang Cinta adalah lagu dari Melancholic Bitch, band dimana Ugoran menjadi vokalis dan penulis liriknya. Album pertama mereka berjudul Anamnesis, berisikan 11 lagu berdaya ledak tinggi. Dengan kombinasi lirik filosofis dan permainan gitar yang mengawang-ngawang, serta suara vokal Ugoran yang berat dan khas. Cholil ERK menyebut Melbi sebagai Efek Rumah Kaca tingkat lanjut.

Sayang album pertama mereka kurang begitu terekspos oleh media. Pun, konon katanya bentuk fisik dari album ini hanyalah berupa kaset. Nihil CD (tolong koreksi jika saya salah). Baru pada album kedua, Balada Joni dan Susi, Melbi dapat perhatian luas dari para pecinta musik.

Berbicara mengenai Anamnesis, lagu favorit saya adalah Tentang Cinta. Menurut saya, lagu ini jauh berbeda dari 10 sisa lagu di Anamnesis. Lagu ini easy listening --atau radio friendly, atau apalah sebutannya--, dengan kesederhanaan aransemen, namun liriknya begitu membunuh.

Ugoran berbicara mengenai cinta yang seakan keluar dari relnya. Di bait awal, pria yang sekarang sedang melanjutkan studi di Amerika ini berbicara mengenai cinta yang sudah menjelma jadi rasa takut. Entah rasa takut apa. Bisa jadi rasa takut yang berawal dari ketidakpercayaan. Yang lalu berujung pada ketakutan seperti: apa pacar saya setia, apa pacar saya selingkuh? dan lain-lain. Lalu Ugoran berbicara mengenai cinta yang bisa membuat kita membunuh --kalau anda tidak percaya bahwa cinta bisa membuat seseorang menjadi pembunuh, silahkan baca koran-koran lampu merah--, atau cinta yang menjadi pengikat. Cinta tidak lagi menjadi sesuatu yang membebaskan.

Pada bait kedua, pria berambut ikal ini berbicara mengenai cinta yang sudah jadi barang dagangan. Ugoran berbicara pelan namun lantang "tentang cinta yang membusuk di lagu-lagu; yang “betapa ku merindukanmu”;" Iya, cinta sudah jadi barang obral yang bisa kita dapatkan dengan murah.

Lantas apa yang diperlukan oleh cinta? Hanya kesederhanaan. Kesederhanaan itu berupa sebuah jendela dan segelas soda. Dua benda itu sungguh sangat multi interpretasi. Kalian bisa menafsirkannya dengan apapun.

Saya sendiri memiliki interpretasi bahwa jendela adalah tempat kita melihat keluar ketika jenuh. Jendela ibarat sebuah eskapis dimana kita bisa bersantai sejenak, melupakan masalah, dan memandang masa depan. Bersantai bersama orang terkasih, memandang senja sembari meminum segelas soda bersama. Iya, sesederhana itu.

Baidewai, ini ada video klip Tentang Cinta yang begitu surealis. Atau jika kalian sinis, sebut saja video ini weird and non sense. Oh ya, ini juga saya beri liriknya. Silahkan berkontemplasi Tentang Cinta.

Salam :)

***

tentang cinta yang menjadi rasa takutmu;

yang mengejan dalam mimpimu;

yang sengit dan selalu menikammu;

yang setajam kebencianku padamu;

yang tlah memaksamu membunuh;

yang mengejar dan terus mengikatmu:



tentang cinta yang membusuk di lagu-lagu;

yang “betapa ku merindukanmu”;

yang dengki dan kelam membisu;

yang tak juga habis-habis, tak kan juga habis-habis.



jika saja ada jendela dan jika saja ada jendela:

kau akan mengerti dan tetap mengerti;

ku akan mengerti dan tetap mengerti.

kau akan di sini dan tetap di sini,

ku akan di sini dan tetap di sini.

jika saja ada jendela dan jika saja ada segelas soda

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar