Minggu, 29 Agustus 2010

Silampukau di Coffe Corner: Dan hilangnya Percakapan Suroboyoan Pada Anak Muda


Eh, ada Silampukau bernyanyi tanggal 28/8 di Coffee Corner. Maka bergegaslah saya naik kereta api tut tut tut dari Jember, untuk melihat dua biduan folk ini berdendang. Sehari sebelumnya saya juga melihat Silampukau minus Kharis di acara Musik Garasi.

Maka pada tanggal 28/8 malam, Putri menjemput saya. Kami berangkat dari Klampis, tempat kos si Ayos. Jam sudah menunjukkan angka 7 malam, sepertinya penampilan Silampukau akan dimulai sebentar lagi. Sedang Ayos belum juga mandi.

"Oke, 10 menit lagi kita ketemu di Coffee Corner" janji Ayos.

Ya sudah, saya dan Putri meluncur duluan ke venue, takut ketinggalan acara.

Sampai di venue, ternyata acara belum mulai. Acara yang diadakan di lantai 2 ini ternyata adalah acara yang diselenggarakan majalah Provoke yang membuka jaringan baru di Surabaya.

Selagi menunggu Silampukau, saya dan Putri mengedarkan pandangan ke sekitar kami.

Di bangku penonton tampak puluhan anak muda kisaran SMA yang duduk dengan rapi. Ada game --yang entah apa namanya-- yang membuat mereka memainkan segala macam mimik muka anak gaul dengan latar belakang banner Provoke.

Saya sendiri merasa berada di Jakarta atau Bandung di tengah crowd yang seperti ini. Saya malah sering mendengar kata lo gue, lantas beberapa bahasa anak gaul yang tak saya mengerti artinya.

Ketika ada yang pamitan pulang, saya mendengar "Eh, gue pulang dulu bro, ada urusan nih." Jancuk, saya benar-benar merasa kehilangan percakapan ala Suroboyoan. Dulu kalau saya berpamitan sama teman, saya mengucapkan kalimat, "Eh dulur, aku tak mulih disek. Ojo ngenthu wae manukmu iku." Sebuah kalimat perpisahan yang sarkas, jorok, sekaligus mengisyaratkan keakraban antar teman.

Ah, lupakan racauan saya. Saya terdengar seperti orang tua yang hanyut dalam nostalgia dan tak bisa ikut gelombang kegaulan serta modernisme. Tapi saya berharap semoga tak semua anak muda Surabaya seperti anak gaul yang ada di acara Provoke malam ini.

"Ran, ketimbang kamera itu dipake foto narsis, mending dikasihkan aku ya" kata si Putri melas. Lantas saya melihat dua orang gadis belia yang memainkan DSLR untuk berfoto narsis. Saya sih cuma bisa ketawa melas, mengingat kenyataan bahwa saya dan Putri yang ngotot nabung buat beli DSLR aja masih belum sanggup beli DSLR itu. Lha kok anak SMA ini udah dengan jumawa meneteng DSLR, dan dipakai untuk foto narsis pula, huhuhu.

Kami menunggu sekitar 30 menit untuk menyaksikan duo Eki Trisnowening dan Kharis Junandharu keluar dengan aura gipsi mereka yang magis. Eki seperti biasa, ramah dan penuh senyum. Kharis melambaikan tangannya pada saya, dan saya membalas dengan senyum. Putri sendiri sepertinya langsung naksir pria gipsi berkumis tipis ini.

Ketika Kharis lewat di depan saya, saya menepuk pundaknya dan berkata, "Ris, temenku mau ngomong" kata saya sembari menunjuk Putri yang hanya bisa bengong dan malu-malu kucing serta pipinya memerah, hahaha. Kalau saja tidak dikuasai oleh rasa malu yang merongrong ganas, Putri mau bertanya kenapa Greats --band Kharis sebelum membuat Silampukau sebagai side project-- tak pernah manggung. Akhirnya saya yang bertanya. Kharis menjawab mereka ingin menyelesaikan rekaman untuk LP dulu. Setelah Kharis berlalu, Putri terlihat sedang senyum-senyum sendiri.

Akhirnya, tepat pukul 19.35 acara penutupan yang menampilkan Silampukau pun dimulai. Saya dan Putri mulai cemas, karena Ayos tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Kami sih tak perduli Ayos nonton atau tidak, tapi masalahnya dua buah kamera (satu milik Putri, satu milik Ayos) ada di tangan Ayos .

Silampukau duduk di kursi kecil berwarna merah. Eki tampak lucu dengan gitar kecil berwarna coklat muda, kontras dengan tubuhnya yang besar dan muka yang brewokan. Tak tampak gitar tua berwarna coklat tua penuh stiker yang dulu biasa dipakainya buat manggung. Lalu Kharis tetap setia dengan gitar akustiknya yang berwarna hitam.

Lagu pertama, mereka memainkan "Hey Anak Muda", sebuah ode buat para anak muda --mayoritas penonton di gig malam ini. Eki sendiri selalu berusaha bercakap-cakap dengan penonton. Sayang, suaranya tak begitu jelas terdengar. Putri berkali-kali tanya kalimat apa yang diucapkan Eki. Hal itu masih diperparah dengan suara ribut yang dikeluarkan oleh para Abege di samping dan sebelah kami.

Lagu kedua, mereka memainkan "Bola Raya", sebuah lagu yang menyindir siapapun itu yang menyebabkan hilangnya ruang untuk sekedar bermain bola. Suasana lagu ini sungguh sangat sendu, sama sendunya dengan lagu Iwan Fals yang berjudul "Mereka Ada di Jalan". Lagu Bang Iwan ini juga memotret anak-anak kecil yang tak punya ruang bermain bola.

"Berbenah", lagu andalan Silampukau dimainkan di urutan ketiga. Dimana suara yang ditimbulkan oleh para kimcil --istilah yang dikenalkan oleh Bandenk pada saya untuk menggambarkan anak muda gaul-- makin mengganggu. Tapi untunglah lagu ini seperti hujan di bulan kemarau. Menyejukkan, diantara riuh rendah yang memanaskan kuping.

Naiknya harga miras dipotret oleh Silampukau dalam lagu berjudul "Sang Juragan." Lagu ini bercerita tentang seorang penjual alkohol yang bingung dengan naiknya harga miras dan mencari cara agar ia tetap bisa bertahan. Di lagu keempat ini, Kharis mengganti gitarnya dengan gitar mini --besarnya seperti ukulele, namun yang ini senarnya enam. Lagu ceria ini sedikit berhasil menghapuskan kekesalan saya dan Putri yang baru dikabari kalau si Ayos baru mandi.

"Si Ayos gak bakal bisa nonton" kata si Putri dengan muka sinisnya yang khas. Dan itu berarti, postingan gig malam ini tak akan dilengkapi oleh foto.

Dan benar, Silampukau memainkan lagu terakhirnya beberapa detik setelah Putri mengucap petuah itu.

"Sampai Jumpa" adalah lagu yang memang pantas dijadikan closing dalam setiap konser Silampukau. Kadar lagu ini bisa disamakan dengan "Kamu Harus Cepat Pulang"-nya Slank. Cuman bedanya, lagunya Slank terdengar lebih slengean, dan lagu Silampukau terasa lebih manis karena lirik dan harmonisasi vokal.

Dengan melantunnya Sampai Jumpa, maka gig kali ini resmi berakhir. Saya dan Putri kesal karena Ayos beneran gak datang, dan kami tak dapat foto gig malam ini. Kami juga merasa bahwa konser ini berlalu terlalu cepat, masih lebih lama waktu yang kami habiskan untuk berdiri dan menunggu Silampukau bermain.

Kami juga kesal dengan kimcil-kimcil yang berisik melulu pas Silampukau main, mereka terlalu asyik sendiri. Hey kiddos, Silampukau is too worthy to ignored. Lain kali, kalau kalian punya banyak waktu, tapi gak mau denger musik bagus, ya pulang saja, minum susu, dengarkan musik-musik band pagi hari dan garap PR kalian.

Yet, still another great performance by the next big thing :)


Surabaya, 03.10
Sembari berkemas buat ke Jogja besok
Oh ya, tolong ingatkan saya untuk beli
CD Ode Buat Kota-nya Bangkutaman...


* foto diambil dari FB Provoke

5 komentar:

  1. Mas...'gig' iku opo?aku baru dengar istilah itu, maklum, bukan 'orang musik'...:D

    BalasHapus
  2. Hehehe, gayamu :D

    gig iku istilah untuk menyebut konser kecil-kecilan dari band-band so-called independence. Biasane gig iki sederhana, sing penting rasa kebersamaan dan senang-senangnya :)

    BalasHapus
  3. segera pulang garap PR dan minum susu. hahaha :D
    Silampukau is too worthy to ignored.


    *sesama kalompok kicau (sebutan penggemar silampukau yang saya dan temen2 ciptakan)

    BalasHapus
  4. Saya langsung terpukau ketika mendengarkan lagu berbenah mereka, posting yang menarik, cak! :)

    BalasHapus