Sabtu, 17 Desember 2011

Perpisahan di Stasiun

"Saya jadi kepikiran perkataan seorang teman. Kalau stasiun kini membatasi romansa para pencinta yang berpisah di stasiun. Dari beberapa literatur klasik, perpisahan yang megah sekaligus melankoli adalah ketika sang lelaki pergi dengan kereta dan sang gadis melambaikan sapu tangan sembari mengusap air mata. Kini sepertinya hal itu tak mungkin, karena orang tanpa tiket tak boleh masuk ke dalam stasiun. Dan berakhir di sini pula fragmen kisah kasih klasik macam itu..."

(Status saya beberapa waktu lalu)
***

Stasiun Rambipuji Kala Mendung Menggelayut Manja


PT. KAI memang berbenah. Perubahan positifnya makin kentara. Kereta jadi moda transportasi yang jauh lebih nyaman. Tapi perubahan apapun, itu pasti akan melibas hal-hal lama.

Sekarang orang yang tidak punya tiket kereta tidak boleh masuk ke dalam stasiun. Tiket peron pun ditiadakan. Hal ini menyebabkan pengantar tak boleh masuk ke dalam stasiun, cukup menunggu di luar saja. Akibatnya ya itu tadi, hilangnya kisah romantik klasik.

Ingat film "Pearl Harbour"? Ada satu fragmen dimana penerbang Rafe yang dimainkan oleh Ben Affleck harus pergi ke Inggris untuk melawan pasukan Jerman. Malam sebelum keberangkatannya, Rafe berpesan pada kekasihnya, suster Evelyn (Kate Beckinsale) untuk tidak usah mengantarnya. Tapi itu adalah kedok belaka untuk menguji apakah Evelyn cinta Rave atau tidak. Kalau Eve mencintai Rafe, ia pasti akan menyusulnya ke stasiun.

Benar rupanya.

Menjelang keberangkatan kereta, Rafe menyaksikan Eve berlari tergopoh sembari menangis. Saat itu Rafe sadar kalau Eve mencintainya.

Saya sendiri punya kisah tersendiri dengan stasiun dan kereta api. Saat itu saya masih dalam masa pendekatan dengan pacar saya sekarang. Entah kenapa, tempat kencan pertama yang terpikirkan adalah sebuah stasiun kecil bernama Rambipuji. Saat itu bulan Ramadhan, sebelumnya kami pergi ke pabrik gula Semboro (Kenapa saya kencan di pabrik gula? Entahlah, kadang cinta memang membuat orang jadi sedikit gila). Setelah itu, kami menghabiskan sore di Stasiun Rambipuji. Bercengkrama sembari menanti adzan maghrib tiba.

Suasana stasiun saat itu riuh rendah oleh celoteh anak-anak kecil yang juga menghabiskan sore bersama keluarganya. Mendung bergelayut di langit. Ketika adzan maghrib berkumandang, kami berbuka puasa di sebuah warung lalapan di dekat stasiun Rambipuji. Lalu pulang sambil hujan-hujanan. 

Ah, kencan pertama yang hingga sekarang masih sering kami kenang :)

Sekarang kami sering berpisah via stasiun. Sebelum ada peraturan baru, biasanya Rina ikut mengantar hingga masuk ke dalam kereta. Tapi semenjak ada peraturan baru itu, Rina jadi agak terhalang untuk bisa mengantar saya hingga  ke kereta.

Tapi itu toh bisa diakali. Cukup membeli tiket komuter seharga 2.000 rupiah yang jam keberangkatannya mendekati jam keberangkatan kereta saya. Voila, bisa masuk! Tapi itu hanya di Surabaya. Karena di Jember tak ada komuter, maka Rina tetap tak bisa masuk.

Ah, tiba-tiba saya jadi ingat lagu "Gubeng Rendezvous" milik Greats

Suatu senja di stasiun kota/ di remang mentari yang tua
di tengah deru kereta/ dia datang tiba-tiba.

tersenyum dia dibalik jendela
melambai-lambai bercahaya dan seluruh suara senja
meredup seketika.

Aku patung tanpa kata-kata
dibius bisu Gubeng senja
di tengah deru kereta, selepas peluit pertama

perlahan, diam-diam
kereta bergerak
rindu pun muram...

kau kan menemukanku
hancur di ujung lagu
lenyap di rimba raya masa lalu

Hei/ 
berhenti kereta
berhenti disini saja bukan di Jogjakarta, Bandung, atau Jakarta
kekasih menanti di Surabaya

Sabtu, 10 Desember 2011

Lekker Je!


Sabtu malam datang. Saya baru saja selesai membaca beberapa jurnal antropologi yang berkaitan dengan pariwisata. Penat sebenarnya. Saya menengok ke luar kamar. Sepi. Semua penghuni kontrakan sudah keluar. Maklum, saatnya wakuncar.

Maka saya segera mandi, membereskan laptop, membawa kamera, lalu pergi keluar. Kemana? Awalnya tanpa rencana. Dasar manusia tanpa perencanaan. Maunya sih cari kafe yang ada wifi, lalu nongkrong sambil nulis sampai hari berganti.

Tapi di tengah perjalanan, saya tahu kemana tempat yang saya tuju: Kafe Lekker Je.

Saya tahu kafe ini dari seorang teman pecinta musik era flower generation. Ia merekomendasikan kafe yang sangat rock n roll ini. Oke, saya resmi penasaran. Dan malam ini, rasa penasaran itu tiba-tiba menyeruak diantara ramai jalanan dan bunyi berisik klakson.

Maka saya resmi menjalankan motor menuju arah Bulaksumur, lalu ke Jl. Cik Ditiro.

Disanalah kafe Lekker Je berada. Di depan kafe, ada sebuah motor tua terpasang. Antik.


Begitu saya memarkir motor, langsung terdengar Jim Morrison bersama The Doors berdendang lagu dangdut ciptaan mereka, "Break on Through". Entah kenapa, pas banget dengan pikiran saya yang akan menuliskan sesuatu tentang Jim Morrison. Mungkin sang penjaga kafe sadar kalau sekarang masih dalam rangka memperingati hari lahir sang raja kadal. Jadi ia memutarkan lagu The Doors.

Kafe ini dimiliki oleh  mas Priambodo Budiwasisto, seorang pecinta musik rock, terutama dari era baby-boomers. Kafe ini mulai ia rintis pada tahun 2005. Ia mendesain kafenya dengan sangat keren.  Banyak lampu temaram. Suasanya tenang dan syahdu. Meskipun bertajuk kafe rock n roll, suasanya jauh dari kegaduhan. Lalu ada drum di sudut kafe. Ada pula berbagai gambar band yang dipigura dengan rapi. Ada pula berbagai senjata api, kumpulan buku dan majalah yang ditumpuk seperti di banyak kamar anak laki-laki, jam antik, miniatur sepeda, dan ini yang paling sedap: ratusan piringan hitam lengkap beserta playernya.


 


Koleksi piringan hitam ini mulai dikumpulkan Mas Priambodo semenjak ia kuliah di Amerika Serikat. Ada The Doors, Rolling Stones, Beatles, CCR, Bob Marley, hingga Pink Floyd. Kalau anda mau, anda bisa memilih satu piringan hitam, lalu memutarnya pada player yang tersedia.

Ketika saya masuk, saya disodori daftar menu yang bergaya ala Pink Floyd, lengkap dengan segitiga pelanginya. Ada apa saja? Untuk menu makanan dan minuman, kafe yang dulunya berfungsi sebagai garasi ini tidak menyediakan begitu banyak menu. Dari minuman, ada Es Jelly, Es Terong Belanda, Es Markisa, Es MarTeBe (Markisa Terong Belanda), hingga berbagai bir. Harga minuman berkisar 5.000- 40.000 rupiah. Lalu makanan ada French Fries, Mie Goreng, Pisang Goreng, Ramen, Nuggets, hingga sushi . Harga makanan berkisar 10.000 - 22.000 saja.


 

Untuk mencari info mengenai kafe keren ini, silahkan pergi ke sini.

Kafe ini juga bersampingan dengan hotel Mentana, penginapan yang cocok untuk para pengelana. Harga kamarnya murah, hanya 82.500 rupiah untuk kamar single. Sedang untuk double harganya 200.000 rupiah. Ada juga kamar untuk keluarga seharga 250.000 rupiah. Info mengenai hotel ini, silahkan kunjungi situs mereka.

Maka malam ini saya memesan Es MarTeBe yang rasanya asam manis menyegarkan. Juga sepiring French Fries, lalu mulai berselancar di internet, membaca berita mengenai Sondang dan gagalnya Manchester United melaju lebih jauh di Liga Champion, sembari mendengarkan Bob Marley berkotbah mengenai pembebasan, juga cinta.

Malam minggu yang menyenangkan...