Jumat, 16 Mei 2014

Soto Ambengan ala Cikini

Apa syarat soto ala Jawa Timur yang baik? 

Memang tak ada peraturan baku. Cuma saya berpendapat, soto gagrak Jawa Timuran yang baik tentu berkuah keruh dan menyertakan serbuk koya. Di Jakarta lumayan susah mencari soto ayam berkoya yang lumayan enak. Beberapa waktu lalu sempat mencoba soto bangkong di Mampang bareng Budi, kawan baik saya yang juga seorang food hunter. Rasanya lumayan sih, dengan tendangan kemiri yang intens.

Kebetulan sejak awal memulai hidup di Jakarta tiga bulan lalu, saya sering melihat gerobak soto Ambengan yang mangkal di Cikini Raya, tepat di depan restoran Bumbu Desa. Ambengan sendiri adalah nama sebuah ruas jalan yang lantas menjadi terkenal berkat Soto Ayam Ambengan Pak Sadi.

Ciri khas soto Pak Sadi ini kuahnya yang kuning pekat, berkat pengaruh kunir. Sejak mencuatnya Soto Pak Sadi ini, banyak soto yang melabeli diri dengan embel-embel Ambengan. Soto Pak Sadi, setelah semakin mahsyur, lantas membuka banyak cabang. Di Jakarta pun ada. Sayang, di beberapa cabang kualitas rasanya merosot drastis. Resiko rumah makan dengan sistem waralaba: susah mengontrol kualitas rasa.

Saya belum sempat mencoba soto ayam Ambengan ala Cikini, hingga malam ini. Sekitar satu jam selepas adzan maghrib berkumandang, saya membulatkan tekad makan di sana.

Namanya juga warung gerobak, tempatnya ya diatas trotoar. Namun kurang puitis apa, kita makan soto dengan tenang sementara di sebelah kita orang-orang lain berjibaku dengan kemacetan. Hehe. Oh ya, jangan khawatir, tempatnya bersih kok. Yang juga asyik, tak ada lampu terang di sana. Hanya ada satu buah petromaks yang berpendar ragu, menyuluhi sekitar 4 buah meja yang bisa menampung sekiranya 15-17 orang.

Ada banyak pilihan sotonya. Mau soto ayam biasa, ada. Bisa juga pesan soto ayam plus kulit. Tambah rempela hati juga boleh. Kalau suka telur muda, alias uritan, juga dipersilahkan. Mau komplit, monggo. Harganya berkisar antara 12 ribu untuk soto ayam biasa, sampai yang paling mahal, yakni soto komplit, 17 ribu rupiah. 

Karena saya sudah menasbihkan diri sebagai penggemar uritan garis keras, maka tak afdol kalau tak memesan uritan sebagai pelengkap soto ayam.

Ada kejadian lucu di sini. Saya menunggu cukup lama hingga pesanan saya datang. Ini kok lama benar ya, pikir saya. Hingga saya gak sabar. Saya datangi penjualnya, orang Surabaya asli.

"Cak, sotoku wis gurung?" 

"Astagfirullah, lali aku cak!" katanya agak panik. 

Saya tertawa melihat ia meracik soto dengan tergesa. Saya sudah menduga. Jika menunggu lebih dari 15 menit untuk semangkok soto yang tinggal diracik, pasti sang penjual lupa membuatkan.

Rasa soto ayam Ambengan ala Cikini ini ternyata melebihi ekspektasi saya. Waktu soto datang dengan asap mengepul, saya melihat kuah kuning yang keruh, lengkap dengan potongan daging ayam dalam jumlah yang banyak; uritan yang generous; dan ini yang penting: koya yang melimpah, hingga membentuk gumpalan di pinggir mangkok. 

Wah, ini pasti yahud, tebak saya. Benar saja, rasanya sip markusip! Eco! Karena koya yang melimpah itu pula, kuahnya jadi kental. Menambah gurihnya jadi dobel. Mantap tenan!

Mungkin ini soto ala Jawa Timuran terenak yang pernah saya makan di Jakarta hingga saat ini. Ada rekomendasi lain yang patut dicoba?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar