Sabtu, 18 Januari 2014

Sudah 4 Tahun, Bung?

Sejak dulu, saya selalu berkeinginan mempunyai tempat bekerja yang santai. Tak ada tenggat waktu. Bisa jalan-jalan. Mengobrol santai dengan beberapa kolega. Soal berat. Juga soal personal, dan juga sesekali remeh temeh.

Saya mendapatkan itu di Jakartabeat.

Saya mulai menulis di situs itu sejak tahun 2009. Perkenalan awal bermula saat seorang bernama Philips Vermonte meninggalkan jejak komentar di blog lama saya. Itu tulisan tentang konser The Brandals.

Itu sebenarnya review biasa aja. Cenderung menyampah. 

Philips meninggalkan jejak link dalam komentarnya. Menuju blognya: berburuvinyl.wordpress.com. 

Lalu saya baru tahu kalau itu adalah situs para pemburu piringan hitam. Para mahasiswa yang stress dengan kegiatan kampus, lalu berusaha membunuh penat dengan mencari pirang hitam. Ada beberapa nama penulis di sana. Selain Philips, ada juga Taufiq Rahman. Lalu Ari Perdana. Juga Rizal Shidiq. 

Cita rasa tulisan mereka sama: personal dan hangat. Mereka tidak sekedar bercerita. Mereka seakan mengajak ngobrol pembaca. Tentang hal-hal yang mereka suka: musik. Tulisan macam itu yang membuat saya betah berlama-lama nongkrong di berburuvinyl.

Tak lama berselang, saya mendapatkan email dari Philips. Isinya adalah ajakan untuk menulis di Jakartabeat, situs yang baru ia buat bareng Taufiq. Saya tengok situsnya. Wah cakep. Isinya tulisan-tulisan keren. Ada banyak penulis-penulis handal di sana.

Kebanyakan penulisnya kala itu adalah kawan-kawan lama Philip sendiri. Selain nama-nama yang menulis di berburuvinyl, ada pula nama-nama yang baru saya kenal, yang kualitas tulisannya jempolan dan bercitarasa personal yang sama. Ada Ciptadi Sukono yang tulisannya selalu gurih. Juga tulisan-tulisan Yus Arianto yang selalu menakjubkan. Ada pula Gde Dwitya yang waktu itu masih belum putus cinta dan tercatat sebagai mahasiswa jurusan Sastra Inggris UGM.

Tanpa pikir panjang, saya iyakan ajakan Philips.


Saya sedang patah hati waktu itu. Gara-gara itu, saya hobi sekali mendengarkan album Continuum, album Mayer yang sangat bernuansa patah hati. Kelak saya baru tahu kalau elegi patah hati macam saya ini juga dialami oleh beberapa penulis Jakartabeat lainnya. Saya curiga bahwa Jakartabeat menghadirkan kutukan patah hati bagi para penulisnya yang masih bujang. 

Tak kurang Gde Dwitya dan Ardi Wilda mengalami hal yang serupa. Dan yang kurang ajarnya, mas Philips (saya memanggilnya mas karena belakangan saya tahu kalau umurnya jauuuuuh di atas saya. Karena panggilan Paman atau Om terlalu tidak sopan rasanya) malah mengejek kami, para legiun patah hati itu. Saya masih ingat ejekan mas Philip pada saya.

"Hari gini masih patah hati? Lagian masa rocker patah hati."

Sialan benar. Hahahaha.

***

Jakartabeat sudah saya anggap sebagai rumah saya sendiri. Ia menghadirkan kehangatan dan kebebasan bagi saya. Saya dipersilahkan menulis tentang apapun. Juga dengan gaya menulis yang seperti apapun.

Saya suka sekali musik hair metal. Saya pun dibebaskan menulis apapun tentang hair metal. Saya jelas terkesima. Zaman sekarang, dimana musik hair metal dianggap sebagai artefak masa lalu dari era 80-an, menulis hair metal di sebuah media jelas akan menimbulkan tanda tanya.

Tapi Jakartabeat membebaskan saya. Meski kadang mas Taufiq sering cela-celaan --konteks bercanda tentunya-- dengan saya perihal hair metal ini. Bahkan, dalam suatu kesempatan mengobrol, mas Taufiq seperti membesarkan hati saya dengan berkata, "dulu gue juga suka hair metal. Gue suka Warrant, tapi kurang suka Motley Crue."

Hahahaha.

Bahkan saat saya iseng melemparkan ide untuk menulis liputan panjang tentang hair metal, mas Philips dan mas Taufiq setuju. Bahkan mereka langsung menggelontorkan dana untuk peliputan. Wah, saya bersorak sorai gembira kala itu. Berkat hibah dana peliputan itu, saya bisa ke Yogyakarta dan Jakarta (sempat mampir ke Bandung dan ditraktir bir sama kontributor Jakartabeat lain, Idhar Resmadi). Bertemu dengan orang-orang yang masih dengan gagah dan setia mengibarkan panji hair metal. Hehehe.

Jakartabeat juga tidak seperti media kebanyakan. Ia dibangun berdasarkan kerelaan. Itu artinya, Jakartabeat juga tak menetapkan deadline. Semua tulisan bergantung pada kesiapan sang penulis. Tak ada paksaan. Kalau memang belum bisa mengirim tulisan, ya tidak apa-apa.

Bahkan Awe, pria selo berkacamata itu, pernah mengelabuhi salah satu narasumbernya: Risky Sasono, frontman Risky Summerbee and the Honeythief. Awe bilang kalau ia sedang tidak enak badan. Padahal aslinya ya patah hati habis-habisan. Hahaha.

Selain itu, yang saya suka dari Jakarbeat adalah antar kolega bisa berbincang dengan santai. Saya bahkan pernah menginap di rumah mas Taufiq, lalu keesokan harinya pergi jalan-jalan bareng Mbak Nia dan Amee, istri dan anaknya. Lalu menjelang pulang, saya diberi hadiah CD Tika and The Dissident. Padahal itu adalah pertama kali saya bertemu mas Taufiq.

Kedekatan personal seperti ini juga turut menimbulkan rasa memiliki di Jakartabeat. Saya ingat, sewaktu pulang ke Indonesia, mas Philips sempat menelpon saya hanya untuk menanyakan kabar dan perihal asmara. Hahaha. Mas Rizal Shidiq, kontributor Jakartabeat yang masih nyantol di Amerika, juga seringkali rela menjadi tempat bertanya saya. Kami sering ngobrol via chat dan beliau mengajarkan saya banyak hal.

Konsep relasi hangat macam ini yang membuat saya betah berada di Jakartabeat. Di sisi yang lain, Mas Philips dan Mas Taufiq selalu menekankan pentingnya rasa personal dalam tulisan. Rasa personal macam itu bisa dibaca di banyak tulisan Jakartabeat.

Ada yang bercerita menonton konser dengan istri. Atau berbincang dengan clerk di toko piringan hitam. Juga musik-musik yang menemani bersantai bersama keluarga, atau saat menidurkan anak. Cita rasa seperti itu yang mungkin tak akan anda temukan di media-media kebanyakan.

Sekarang Jakartabeat sudah 4 tahun. Sudah dianggap sebagai media yang besar. Penulisnya makin banyak. Tulisan-tulisannya pun semakin yahud. Bahkan situs ini juga menjadi beberapa sumber polemik yang bikin hangat. Hehehe.

Tapi kadang ada beberapa rasa kehilangan. Salah satunya adalah cita rasa personal dalam tulisan yang kurang saya dapati belakangan ini. Seiring berkembangnya Jakartabeat, situs ini jelas tidak bisa lagi memuat tulisan main-main. Saya memahami itu. Tapi saya yakin, sebenarnya masih ada ruang lapang untuk tulisan-tulisan personal macam itu (belakangan mas Philips menulis esai yang seperti itu, tentang Halloween yang menemaninya tumbuh dewasa). Hanya mungkin banyak dari kami yang sudah bertambah tua dan semakin serius.

Kemarin mas Philips ngomong, "kayaknya Jakartabeat butuh penulis yang masih mahasiswa. Yang dulu masih mahasiswa, sekarang udah pada tua." Kami ngakak.

Tapi apapun itu, semoga Jakartabeat akan semakin berkembang. Semoga kelak, entah kapan, Jakartabeat bisa menjadi majalah cetak yang disegani --seperti kata mas Philips, pertengahan 2009 silam. Mungkin mas Philips perlu menghubungi Anies Baswedan biar beliau bisa turun tangan mewujudkan mimpi itu? Hehe.

Selamat ulang tahun ke 4 Jakartabeat, terima kasih karena selalu menjadi rumah bagi saya :)

post scriptum: Untuk membaca tulisan Gde Dwitya soal Jakartabeat, klik ini. Lalu untuk membaca tulisan Awe, klik ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar