Rabu, 08 Januari 2014

Di Balik Anyer 10 Maret

Ada beberapa lagu yang sangat multi interpretasi. Karena itu, seringkali para pendengar salah sangka terhadap maksud lagu, arti lirik, dan sebagainya. Tapi wajar, sebab lirik memang ada supaya (seharusnya) diinterpretasikan berbeda. 

Salah satu lagu yang demikian itu adalah "Anyer 10 Maret" milik Slank. Lagu ini masuk dalam album ketiga Slank, Piss, yang dirilis tahun 1993. Bahkan tak hanya lirik yang menimbulkan aneka ria dugaan dan terkaan, bahkan sejarah pembuatannya pun sedikit misterius.

Bimbim, dalam suatu wawancara dengan majalah HAI, pernah mengatakan kalau lagu itu dibuatnya bersama Kaka. Saat itu mereka baru saja putus cinta. Untuk melampiaskan kekesalannya, mereka berdua pergi ke Anyer. Mabuk-mabukan sampai pagi.

"Trus botolnya gue buang ke tengah laut," kata Bimbim saat itu.  

Jika mencermati liriknya, sekilas memang tampak bahwa itu lagu tentang putus cinta. Kehilangan kekasih. Ya semacam itu lah. Saya pikir saya tak sendirian dalam mengartikan lagu itu sebagai lagu cinta.

Namun saya mendapat cerita yang berbeda dari Iffet Sidharta, sang ibunda Bimbim, sekaligus manajer Slank. 

Siang itu, 24 September 2013, Jakarta sedang panas. Saya datang ke Potlot untuk melakukan wawancara dengan Bunda --panggilan Iffet. Obrolan itu berlangsung lebih dari 1 jam. Sangat menyenangkan. Bunda orangnya sabar, suka sekali bercerita, dan ramah. Sama seperti apa yang saya bayangkan sebelumnya.

Dari obrolan itu pula saya mendapat versi berbeda mengenai proses penciptaan lagu "Anyer 10 Maret" yang sekarang jadi lagu legendaris.

Bunda mengatakan bahwa lagu itu adalah ciptaan Kaka. Itu bukan lagu cinta biasa. Itu adalah lagu cinta Kaka kepada sang ibunda, Hiruna.

Hiruna, yang merupakan adik dari Bunda Iffet, meninggal pada tahun 1980. Saat itu Kaka masih berumur 6 tahun. Kaka lantas diasuh oleh Bunda Iffet.

Kehilangan sang ibu di umur yang masih terlampau muda, membuat Kaka merindukan kasih sayang seorang ibu. Rasa rindu itu semacam abadi, membekas hingga Kaka beranjak dewasa.

Maka saya membayangkan, Kaka remaja (ia baru berumur 19 tahun saat album Piss dirilis), di antara sadar dan mabuk "... bergelas-gelas arak", menuliskan lirik lirih untuk sang ibunda.

Malam ini
Kembali sadari aku sendiri
Gelap ini
Kembali sadari engkau telah pergi

[...]

Tanpa dirimu dekat dimataku
Aku bagai ikan tanpa air
Tanpa dirimu ada disisiku
Aku bagai hiu tanpa taring
Tanpa dirimu dekap dipelukku
Aku bagai pantai tanpa lautan

Rasa-rasanya saya tak perlu lagi menceritakan betapa magisnya aura lagu ini. Setiap lagu ini dimainkan di konser-konser Slank, rasanya tak ada penonton yang menjerit histeris. 

Di pagelaran Soundrenaline 2013 di Yogyakarta, Slank tampil dengan formasi reuni. Saat Indra Q, mantan keyboardis mereka, menekan tuts dan memainkan intro "Anyer 10 Maret", semua penonton berteriak. Para penonton yang berusia 30-an pasti tersergap haru akan nostalgia. Saya pun demikian. 

Merinding bukan buatan.[]

Post scriptum: Ngomong-ngomong, selain menciptakan lagu "Anyer 10 Maret", Kaka juga menuliskan lagu berjudul "Bisikan Mama" yang muncul di album 999 + 09. Berbeda dengan lagu "Anyer 10 Maret", lagu "Bisikan Mama" ini dengan jelas menceritakan tentang kehilangan Kaka akan sosok sang ibunda. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar