Selasa, 29 Januari 2013

Kami Penulis, Bukan Peneliti: Tanggapan Untuk Arman Dhani Perihal Travel Writer

Beberapa hari lalu, kawan baik saya, penulis hebat alumnus Pantau, Arman Dhani, menuliskan sebuah artikel berjudul "Responsible Travel Writer." Tulisan itu bernas sekali. Lebih berisi dan layak dibaca ketimbang tulisan "5 Buku Tidak Layak Terbit" yang menghebohkan itu.

Dalam "Responsible Travel Writer," Dhani mengkritik para penulis perjalanan. Baginya, mereka ikut andil dalam memberikan ekses negatif pada sebuah destinasi. Ia lantas memberikan beberapa contoh hal-hal yang tak sepatutnya dilakukan, tapi ditulis dengan bangga oleh para penulis perjalanan. Misalnya, berwisata ke Sempu, padahal itu daerah Cagar Alam dimana kawasan itu seharusnya tak boleh dimasuki manusia. Atau menuliskan kegiatan yang melanggar hukum seperti mengganja di sebuah daerah wisata.

Dalam tulisan panjangnya itu, Dhani menuliskan banyak keluhan. Saya sendiri agak bingung apa saja inti kritik dari Dhani. Kebingungan ini muncul karena beberapa sebab. Yang pertama, Dhani tampak terlalu emosi dalam menuliskan keluhannya. Tulisannya terkesan berapi-api sehingga melebar kesana kemari, lupa pada inti permasalahan. Lalu kedua, Dhani terlalu sibuk mengutip sana-sini ucapan para pemikir maupun para pejalan, tanpa terlebih dahulu menyatakan dimana sebenarnya posisi Dhani atau apa yang ingin Dhani sampaikan. Karena terlalu banyak mengutip itu lah, saya jadi merasa kutipan itu bukan sebagai penguat argumen Dhani. Melainkan argumen Dhani yang didasarkan pada ucapan para pesohor itu.

Terlepas dari dua faktor itu, Dhani memang memulai tanpa tedeng aling-aling. Ibarat sebuah pertandingan bela diri, Dhani tak memberikan salam hormat dulu. Ia langsung melepaskan jurus dengan cepat pada awal mula tulisan: kritik terhadap acara "Hidden Paradise" di Kompas TV. Sembari mengkritik, Dhani juga bertanya, "...Para traveler tanah ini sedang sibuk berburu mencari tempat eksotis dan perawan untuk ditampilkan. Sampai kapan tindakan ini akan terus terjadi? Apakah mereka tidak akan berhenti sampai surga terakhir dieksploitasi?"

Kalau Dhani bertanya pada saya, saya dengan tegas akan menjawab: pencarian tempat-tempat yang tersembunyi dan eksotis itu TIDAK AKAN pernah berhenti sampai kapan pun. Manusia adalah mahluk yang diberkahi otak. Dengan otak pula, muncul imajinasi. Bukankah Ibn Battuta, Marcopolo, atau Colombus mengelilingi dunia karena berimajinasi? Mereka berimajinasi bahwa dunia ini tidaklah datar. Mereka juga berimajinasi tentang tanah surga, tempat dimana kamu melempar kayu akan jadi tanaman.

Bayangkan kalau manusia hidup tanpa imajinasi, atau hidup tanpa ada keinginan untuk mencari sesuatu yang baru (dalam hal ini, destinasi perjalanan). Hidup akan monoton. Bahkan hingga sekarang, ratusan tahun sejak era pejalan itu, orang masih saja ingin mencari tempat yang mereka beri label eksotis, tersembunyi, atau tanah surga. Tentu motivasinya berbeda-beda. Ada yang melakukan untuk kepuasan pribadi, ada pula yang melakukan itu untuk tujuan ilmu pengetahuan.

Selain itu, pada dasarnya, melakukan perjalanan itu adalah hal pertama yang dilakukan oleh manusia pertama. Iya, nabi Adam adalah pencetus perjalanan. Ia yang --mengutip Duo Kribo dalam lagu "Neraka Jahanam"—dihukum dengan cara diturunkan dari surga ke dunia, harus mencari Hawa yang terpisah darinya. Maka ia melakukan perjalanan, mencari tulang rusuknya yang terpisah, menuju tempat yang sama sekali asing baginya. Adam memang tidak menuliskan catatan perjalanannya. Namun kisahnya itu termaktub pada kitab suci.

Selepas Adam dan Hawa, para manusia purba juga melakukan perjalanan. Mereka bermigrasi. Mencari makanan. Mencari daerah yang subur. Mencari daerah yang hangat. Ini semakin menegaskan bahwa melakukan perjalanan adalah sebuah keharusan.

Pada masa posmodern (saya memakai istilah ini biar terdengar intelek, he-he-he), perjalanan menjadi semakin vital. Perjalanan menjadi sebuah bentuk pelarian paling ideal dari rutinitas dan segala macam kesibukan dunia modern lainnya. Perjalanan menjaga manusia modern agar tetap waras.

Dengan adanya internet dan jejaring sosial, para pejalan itu bisa dengan mudah mengabarkan perjalanannya pada dunia. Internet dan social media menjadi sarana ideal untuk memuaskan naluri dasar manusia: narsis. Foto dipajang, kisah dituliskan.

Dhani mengkritik mereka. Ujarnya, "...Di Indonesia para pegiatnya sibuk pamer eksotisme dan promosi daerah-daerah terpencil. Saya pikir ada yang salah di sini. Banyak pelancong negeri ini lebih sibuk mengunggah foto panorama via Instagram daripada memotret realitas kemiskinan di daerah destinasi wisatanya."

Pada poin ini, Dhani melakukan kesalahan fatal. Dengan menuliskan, "...Di Indonesia para pegiatnya sibuk pamer eksotisme dan promosi daerah-daerah terpencil," ia sudah terjebak pada generalisasi. Ia berpikir semua pelancong atau pejalan seperti itu. Sebuah bentuk kesesatan berpikir? Bisa jadi. Dari argumennya itu, saya yakin kalau Dhani kekurangan referensi para penulis perjalanan yang menuliskan sisi lain dari sebuah perjalanan.

Di Indonesia, ada banyak penulis perjalanan yang tak sekedar bergenit-genit ria memaparkan keindahan sebuah destinasi. Norman Edwin misalnya. Dia bercerita tentang asyiknya naik gunung, tapi ia juga tetap memberikan edukasi tentang pentingnya unsur safety dalam kegiatan alam bebas. Atau Don Hasman yang sangat peduli terhadap kehidupan Suku Baduy di Banten. Baru-baru ini, Wiwik Mahandayani bahkan menuliskan buku berjudul "The Green Traveler," sebuah buku tentang ekowisata dan juga pentingnya menjadi pejalan yang bertanggung jawab.

Namun seakan tak belajar dari kesalahannya itu, Dhani kembali melakukan kesalahan fatal ketika menuliskan "...Banyak pelancong negeri ini lebih sibuk mengunggah foto panorama via Instagram daripada memotret realitas kemiskinan di daerah destinasi wisatanya." Kenapa saya sebut fatal? Karena penulis perjalanan itu harusnya memang menuliskan tentang perjalanan, bukan tentang kemiskinan.

Ketika seorang penulis perjalanan berbusa-busa menuliskan tentang kemiskinan, saya takut ia bukan lagi seorang penulis perjalanan. Ia lebih pantas disebut sebagai peneliti ekonomi. Kalau kamu lebih sibuk menuliskan kemiskinan ketika melakukan perjalanan, saya rasa kamu lebih cocok menjadi peneliti ekonomi yang lantas menuliskan proposal pada bank dunia untuk mengentaskan kemiskinan.

Dalam pikiran saya, perjalanan adalah sebuah perjalanan. Ia tidak melulu berisi tentang kemiskinan, sama halnya perjalanan tak terdiri dari hedonisme belaka. Tulisan perjalanan bisa berisi banyak hal. Seni, budaya, atau kuliner, misalnya.

Jika ada kemiskinan yang dilihat mata ketika melakukan perjalanan, memang hal itu sebaiknya dituliskan. Tapi tak perlu dalam setiap tulisan perjalanan harus ada tentang kemiskinan. Tak perlu juga perihal kemiskinan mengambil porsi banyak dalam tulisan. Bayangkan jika seorang penulis perjalanan sedang melancong di negara dunia ketiga macam Indonesia, Ethiopia, atau India, dan terpaku pada konsep penulis pejalan ideal ala Dhani. Bisa-bisa yang dituliskan adalah tentang kelaparan, anak putus sekolah, anak jalanan, angka harapan hidup, atau orang yang hidup di bantaran sungai, bukan lagi tentang perjalanannya.

Para penulis perjalanan memang seharusnya lepas dari beban moral nan mulia tentang menuliskan kemiskinan dalam setiap perjalanan. Karena penulis perjalanan bukanlah seorang peneliti. Apalagi peneliti kemiskinan.

Tentang Perdebatan Nan Tak Kunjung Usai

Ada beberapa hal dalam dunia pariwisata yang memang memicu debat tak berkesudahan. Salah satunya tentang efek dari pariwisata itu sendiri. Saya pernah beberapa kali menanyakan pada beberapa pakar pariwisata: bagaimana cara menanggulangi dampak negatif yang diakibatkan oleh pariwisata? Saya melihat, dampak negatif pariwisata ini paling kentara dalam kerangka sosial budaya.

Tak pernah ada jawaban yang memuaskan bagi pertanyaan itu. Hanya ada jawaban-jawaban yang normatif. Namun saya paham, berbicara mengenai manusia dan perubahannya itu teramat pelik. Perubahan, entah itu disebabkan pariwisata atau hal lainnya, adalah hal yang nisbi. Mungkin itu sebabnya, belum ada solusi konkrit untuk mengatasi perubahan sosial budaya yang diakibatkan oleh pariwisata. Saya malah berpikir, sedikit mustahil untuk mencegah dampak negatif pariwisata. Pariwisata, sama seperti uang koin, selalu mempunyai dua sisi yang berbeda. Yang bisa kita lakukan bukan menihilkan dampak negatif pariwisata, melainkan berusaha mencegah agar dampak negatif itu tak teramat buruk atau tak berkembang menjadi lebih buruk.

Salah satu poin penting dalam dalam tulisan Dhani adalah kritik tentang perubahan ekologis yang terjadi di Sempu. Bagi yang belum tahu, Sempu adalah cagar alam di daerah Malang. Untuk menuju kesana, para pengunjung harus menyewa perahu untuk menyeberang dari Sendang Biru. Setelah itu mereka masih harus berjalan kaki sekitar 2-3 jam dengan medan yang amat berat.

Di Sempu ada sebuah danau alam yang indah dan sepi. Namanya Segara Anakan, sebuah danau yang langsung terhubung dengan Samudera Hindia. Banyak orang menyebut Sempu sebagai surga tersembunyi. Entah dimulai sejak kapan, Sempu lebih dikenal sebagai destinasi wisata, bukan cagar alam. Akibatnya jelas, Sempu berubah. Ia tak lagi sunyi, tak lagi bersih seperti dulu.

Dhani menulis, "...kerusakan Cagar Alam Pulau Sempu dan menjamurnya tiket pesawat murah adalah bukti terkini dan paling nyata akibat travel writer yang kurang riset dan tak mau tahu."

Dhani bisa jadi benar dalam hal ini. Namun pernyataan itu masih bisa diperdebatkan.

Pengertian mengenai cagar alam yang disebutkan oleh Kementerian Kehutanan adalah, "...suatu daerah hutan suaka alam yang di terapkan sebagai daerah perlindungan bagi keadaan alamnya yang khas, termaksud flora, fauna, dan factor abiotik yang perlu di lingdungi untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan kebudayaan."

Saya sengaja menebalkan kalimat "dilindungi untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan kebudayaan." Dalam hemat saya, kalimat itu berarti manusia boleh masuk asal untuk tujuan ilmu pengetahuan dan  kebudayaan.

Di negara maju seperti Amerika Serikat, cagar alam dan taman nasional sudah dijadikan kawasan wisata. Tentu dengan batasan-batasan yang teramat tegas. Nah, disini harusnya pemerintah bekerja. Mereka harus mengatur dengan jelas --atau lebih tegas-- tentang keberadaan, fungsi, dan juga ketentuan cagar alam atau taman nasional. Namun saya tidak akan berbicara banyak tentang hal ini karena saya tak punya kapasitas untuk membicarakan hal ini.

Mengenai sampah? Itu bukan hal yang tidak bisa ditanggulangi kok. Mungkin ini terdengar normatif, tapi Departemen Kehutanan harusnya sudah mulai mengatur perjalanan ke pulau Sempu. Misal: Wisatawan boleh datang, namun harus ditemani oleh pemandu lokal atau petugas dari Kementerian Kehutanan.

Guna pemandu lokal, selain mencegah kemungkinan tersesat, adalah untuk memberikan ilmu pengetahuan tentang flora dan fauna kepada para wisatawan. Bukankah itu tujuan utama cagar alam? Para pemandu maupun petugas itu juga bisa mencegah para wisatawan berbuat sesuatu yang dapat membahayakan ekosistem cagar alam Sempu.

Selain itu bisa dibuat aturan tambahan semisal para wisatawan tidak boleh menginap di Segara Anakan. Jika demikian, biasanya para wisatawan akan menginap di masjid atau rumah penduduk di sekitar Sendang Biru. Hal ini jelas bisa bermanfaat bagi penduduk lokal. Selain tenaga diserap untuk jadi pemandu, penduduk juga bisa dapat tambahan penghasilan dari penginapan, warung makan, atau fasilitas amenitas lain. Ini jelas lebih bermanfaat ketimbang menutup total Sempu untuk para wisatawan bukan?

Selain itu Dhani mungkin juga lupa kalau kita hidup di negeri sulap. Saking ajaibnya, bahkan beberapa perusahaan tambang mendapatkan izin usaha di kawasan cagar alam. Kawasan Cagar Alam Seluma, Bengkulu, sudah lama jadi kawasan penambangan pasir besi. Begitu pula cagar alam Morowali, Sulawesi Tengah, yang dijadikan sebagai lokasi penambangan nikel.

Kalau ini jelas-jelas salah, karena pemanfaatannya bukan untuk ilmu pengetahuan maupun kebudayaan.

Namun Demikian...

Seperti yang saya tulis diatas, kelemahan fatal dalam tulisan Dhani adalah ia terlalu terburu-buru dalam mengambil kesimpulan. Ia terlalu sering melakukan gebyah uyah (menggeneralisir). Mungkin itu disebabkan oleh emosinya yang meledak-ledak ketika menulis kritik. Dalam tulisannya itu, Dhani seakan-akan merasa bahwa perjalanan maupun pariwisata itu adalah monster yang bisa melahapmu ketika kamu lengah. Padahal tidak demikian adanya.

Di Indonesia sendiri, belakangan marak gerakan wisata hijau, green tourism. Atau sering juga disebut eco tourism. Pemerintah juga sadar akan pentingnya eco tourism ini. Karena itu mereka membuat konsep besar pariwisata Indonesia sebagai pro poor (bisa membantu rakyat miskin), pro job (memberikan lapangan kerja), pro growth (bermanfaat bagi perkembangan suatu daerah), dan pro environment (menjaga lingkungan).

Lebih lanjut lagi, empat konsep ini adalah purwarupa dari konsep sustainable tourism development, alias pembangunan pariwisata yang berkelanjutan. Dimana pariwisata tak lagi sekedar melancong, berfoto ria, atau bersenang-senang. Melainkan pariwisata seharunya bisa memberikan edukasi atau manfaat, baik untuk wisatawan maupun masyarakat lokal. Karena itu dikenal pula yang namanya community based tourism (CBT), alias pariwisata berbasis masyarakat. CBT ini turut melibatkan penduduk lokal dalam mengelola pariwisata, jadi mereka bisa turut merasakan langsung efek positif pariwisata.

Meski saya tidak setuju beberapa hal pada tulisan Dhani, tapi saya juga menganggukkan kepala kepada beberapa kritiknya. Antara lain tentang penulis perjalan yang harusnya lebih dewasa dalam menulis.

Penulis perjalanan harusnya tidak lagi sekedar mengedukasi pembaca, melainkan juga harus bisa mengedukasi dirinya sendiri. Dengan cara apa? Ya membaca dan mencari tahu.

Penulis perjalanan adalah turis, terlepas dari cara mereka melakukan perjalanan. Mau backpacking kek, flashpacking kek, numpang truk kek, naik pesawat kek, ngesot kek, tetap saja mereka harus sadar satu hal: mereka adalah turis! Jangan sampai, mentang-mentang kamu adalah backpacker atau travel blogger terkenal, lalu bersikap seenak udel seperti merokok ganja atau mabuk di tempat yang tak seharusnya.

Mereka, para turis itu,  haruslah membekali diri dengan informasi. Mereka harus sadar dan mawas diri. Harus tahu apa yang boleh dilakukan, dan apa yang tidak boleh dilakukan. Bersikap seenaknya sendiri dan tak tahu aturan itu bukan cerminan wisatawan yang dewasa dan bertanggung jawab. Kritik Dhani adalah sebuah tamparan yang bagus  dan diperlukan bagi para penulis perjalanan.[]

9 komentar:

  1. Membaca nya seolah membuka lembar demi lembar hikayat yg mencerahkan. Terima kasih kaka nuran.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Senang kalau tulisan ini bisa mencerahkan, hehehe. Terima kasih mas :)

      Hapus
  2. tulisan yang mencerahkan sekali :) apapun pasti ada positif negatifnya. tugas penulis yang juga belajar dan mengedukasi pembacanya. Tetap menulis untuk Indonesia *numpang saya share* :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah mampir mas Fahmi :)

      Hapus
  3. Ah menyejukkan sekali. *kibas-kibas rambut

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ceile, mentang-mentang rambutnya keren nih :))))

      Hapus
  4. Nah! Membaca tulisan mas nuran ini seakan mewakili semua apa yg saya pikirkan ketika membaca tulisan mas dhani. Ya intinya sepemikiran..

    Kan ngga bisa juga dong semua pejalan dipukul rata atau di generalisir kalau kelakuannya tidak dewasa dan seenak jidatnya.. :)

    Tulisan pada bagian peneliti ekonomi membuat saya tertawa. Haha

    Salam kenal, Adit.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, terima kasih sudah mampir mas. Salam kenal juga :)

      Hapus