Jumat, 04 Januari 2013

Pelopor Tahu Kupat Ala Kabupaten

Ceritanya, tanggal 1 Januari saya, Rani, dan Wana bervakansi ke Magelang. Di kota itu, kami dijamu oleh Farchan Noor Rahman. Pria berkacamata itu memang asli Magelang. Walau sekarang ia bekerja sebagai abdi pemerintah di Garut. Pas saat matahari bertengger diatas kepala, kami diajak makan siang di salah satu tempat kuliner legendaris di Magelang. Namanya Tahu Kupat Pelopor. 

"Sudah berdiri sejak tahun 1965" kata Farchan.


Ini pertama kalinya saya makan tahu kupat asli Magelang. Dulu sekali saya pernah makan tahu kupat ini di Bandung dan Jakarta, juga di Surabaya. Kali ini saya berkesempatan makan di kota asalnya.

Ketika kami sampai, antrian sudah mengular. Kami harus menunggu sebanyak 23 bungkusan. Oke lah tak apa. Selagi menunggu pesanan kami selesai, saya membunuh waktu dengan memotret dan menengok proses pembuatan kuliner khas ini.

Prosesnya sederhana saja. Tahu digoreng deep fried dalam sebuah wajan berukuran gigantis. Setelah itu, pelayan yang lain merajang bumbu untuk kuah. Bahannya adalah kacang tumbuk dengan tekstur sedikit kasar, lalu diuleg dengan cabai atau non cabai (terserah permintaan pembeli). Setelah selesai diuleg, tinggal menambahkan sayur. Mulai dari toge rebus hingga kol goreng. Nah ini yang menarik. 



Kol goreng ini harus digoreng di minyak yang sudah menghitam karena dipakai untuk menggoreng tahu. Tak perlu digoreng terlalu lama, hanya untuk membuat kol jadi setengah layu, tapi masih menyisakan sedikit kerenyahan. Minyak bekas menggoreng tahu ini rupanya masih menyimpan jejak kegurihan juice dari tahu, melekat erat pada kol goreng itu.

Setelah semuanya dicampur, tinggal potong kecil tahu yang berukuran besar itu. Ditumpukkan ke bumbu kacang dan sayur, lalu setelah kupat yang dipotong kecil-kecil dimasukkan, pesta ditutup dengan guyuran kuah kecap yang manis. Jangan lupa garnish cacahan selederi dan taburan bawang goreng.

Rasa kupat tahu ini menarik. Sudah jelas terekam jejak rasa manis yang sudah menjadi karakter masakan ala Jawa Tengah. Rasa manis dari kecap lantas bercampur dengan gurih kacang yang juga menyisakan remah-remah kerenyahan kacang sangrai yang ditumbuk. Lalu ada krenyes dari sayuran.

Menurut penuturan Farchan, ada dua jenis kupat tahu di Magelang. Sebutan lokalnya adalah kupat tahu kota dan kupat tahu kabupaten. 

"Kupat tahu kota itu bumbunya pake bumbu kacang, seperti gado-gado. Kalau kupat tahu kabupaten kayak Pelopor ini bumbunya pake kecap" ujar Farchan. Masih menurutnya, kupat tahu gado-gado ada di pusat kota Magelang, sekitar 5 km dari tempat kami berada. "Itu langganannya SBY" tambah pria berbadan subur itu.

Ternyata menunggu 23 bungkus itu cukup menjenuhkan. Memotret dan ngobrol ngalor ngidul ternyata tak cukup ampuh untuk membunuh kebosanan. Sampai saya dan Wana iseng-iseng berlagak mendedah dan menganalisa kupat tahu berdasar pendekatan gastronomi. Apa pula itu?! Tentu saja kami ngaco.

Tapi penantian kami terbayar lunas, impas. Tahu kupat Pelopor itu enak sekali. Rani sampai memuji berkali-kali. Yah, walaupun dia memang pada dasarnya rakus dan bakal bilang semua makanan itu enak. Tapi berdasar penilaian personal, kupat tahu Kabupaten ini memang enak. Harganya pun sangat ramah di kantong. Wajib coba bagi para pelancong yang sedang berlibur di Magelang.

Nyus!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar