Senin, 15 Oktober 2012

Che Guevara: Last Days (Bag.2)



Che diikat dan dibawa ke gedung sekolah berlantai tanah di sebuah desa dekat La Higuera pada malam harinya. Ia menolak untuk diinterogasi pejabat militer Bolivia. Ia hanya mau diajak berbicara dengan tentara Bolivia berpangkat rendah, itu pun hanya suara lirih.

Jaime Nino de Guzman, seorang pilot helikopter yang kelak mengevakuasi mayat Che adalah salah satu yang melihat saat-saat ketika Che ditangkap. Ia berkata bahwa Che terlihat "mengerikan." Che tertembak di betis kanannya, rambutnya berlumuran lumpur, bajunya robek-robek, dan kakinya hanya beralas sepatu kulit jelek.

"Tapi dia tetaplah Che. Ia menegakkan kepalanya, tak segan menatap semua orang tepat di mata, dan ia sempat meminta rokok" tutur de Guzman. Maka ia dan kawan-kawannya memberikan pipa rokok dan sejumput tembakau. Che lantas menghisap tembakau dengan tenang. Seakan tahu bahwa saat-saat ia hidup tak akan lama lagi.

Espinosa, seorang tentara Bolivia, lantas berulah kurang ajar. Ia berusaha merebut pipa yang dihisap Che sebagai kenangan terakhirnya. Che murka dan menendang tentara bodoh itu hingga terjengkang. 

Rupanya Espinosa tak memahami arti peribahasa "Jangan macam-macam dengan banteng, terutama ketika ia terluka."

Ketika pagi datang, Che ingin bertemu dengan guru sekolah dasar tempat ia ditahan. Maka ia ditemukan dengan Julia Cortez. Che berwasiat pada perempuan yang saat itu masih berumur 22 tahun tersebut. Ia berpesan agar Cortez lebih memperhatikan lagi pendidikan bagi anak-anak di desa itu. Kelak, dalam sebuah artikel, Cortez mengaku tak sanggup menatap mata Che, yang ia gambarkan sebagai "...unbearable, piercing, and so tranquil."

Pada pukul 10 pagi, tibalah pertanyaan terbesar bagi para pejabat militer Bolivia yang saat itu sedang mengelilingi Che: apa yang akan mereka lakukan pada Che? Pemerintah Amerika Serikat, konon, kala itu meminta agar Che dibiarkan hidup untuk dihadapkan dengan interogasi lanjutan dan pengadilan. Tapi Rene Barrientos, presiden Bolivia, memberi pesan berupa kode "lima ratus enam ratus" kepada Felix Rodriguez, salah satu komandan tertinggi dalam jejeran pejabat militer yang berperan menangkap Che.

Lima ratus adalah kode untuk Che, dan enam ratus adalah kode untuk perintah membunuh Che.

Rodriguez lantas memberitahu kolonel Zenteno tentang instruksi "lima ratus enam ratus" itu, tapi juga mengatakan bahwa pemerintah Amerika Serikat meminta agar Che tetap dibiarkan hidup. Rodriguez bimbang perintah mana yang harus ia turuti. Zenteno lantas menegaskannya.

"Biarkan sejarah menentukan sendiri jalannya. Pula, biarkan keputusan ada di tangan rakyat Bolivia" ujar Zenteno.

Pejabat militer Bolivia lantas menunjuk tentara berpangkat rendah untuk mengeksekusi Che. Dipilihlah Sersan Jaime Teran untuk melakukan tugas itu. 

Ketika Teran masuk, ia melihat Che sedang berusaha berdiri dengan susah payah. 

"Aku tahu apa tujuanmu kemari. Aku siap." ujar Che tenang.

Tiba-tiba keberanian Teran runtuh melihat ketenangan yang diperlihatkan Che. Ia berlari dengan gemetar, keluar dari ruangan tempat Che disekap. Sementara itu, tentara lain bernama Sersan Huacka memasuki ruangan lain: tempat Willy dan beberapa tahanan lain disekap. Ketika akan ditembak, Willy berteriak, "Aku bangga mati di samping Che!" Dor! Hidup Willy pun berakhir.

Beberapa sumber mengatakan Teran minum beberapa kaleng/botol minuman keras terlebih dulu sebelum masuk kembali ke ruangan tempat Che disekap. Itu untuk membunuh rasa grogi dan mengumpulkan kembali keberanian yang sempat tercecer. Dalam keadaan mabuk, Teran masuk ke ruangan Che lagi dan melihat El Commandante itu sudah dalam posisi berdiri tegak. Teran marah dan menyuruh Che untuk duduk. Che menolak dan bersikeras tetap berdiri.

"Tembak sekarang! Kau hanya akan membunuh seorang pria" hardik Che.

Dor! Dor! Dor! Senjata M2 Carbine di tangan Teran menyalak sebanyak tiga kali. Memuntahkan peluru ke kaki, tangan, dan dadanya.

Hari itu, 9 Oktober 1967, Che Guevara yang tersohor itu tewas di tangan seorang tentara berpangkat rendah yang sedang mabuk…



***

Ketika tulisan ini dibuat, almanac menunjukkan tanggal 9 Oktober 2012. Sudah 45 tahun semenjak Che Guevara dieksekusi. Bahkan hingga sekarang, beberapa detail kecil mengenai kematiannya, juga tentang bagaimana rinci kejadiannya, masih simpang siur. Mengingat ada banyak pihak yang terlibat atas kematiannya –pemerintah dan tentara Bolivia; pemerintah Amerika Serikat; CIA; Baret Hijau; bahkan konon seorang petinggi Nazi, Nikolaus 'Klaus' Barbie juga ikut berperan dalam pemburuan Che-- wajar jika ada banyak versi cerita tentang kematian Che.

Pada hari Che dievakuasi dari tempat eksekusi --ia diikat di skid (tempat pijakan kaki) helikopter-- saat itu pula cerita mulai tersebar, tertiup angin, dan pergi ke arah yang berbeda.

Waktu berjalan, kematian Che selalu diperingati tiap tahun. Sosok itu menjadi salah satu sosok paling popular di dunia pada abad 20. Ketika peringatan itu dihelat dan juga dibicarakan, ada pihak yang bangga karena berperan serta dalam kematian Che --yang bagi beberapa pihak adalah musuh besar dan berbahaya. Ada pula yang menyayangkan kematian tokoh besar itu. 

"Kami hanya melaksanakan tugas kami. Rakyat Bolivia ingin Che mati, dan mereka menginginkan bantuan kami. Che memang terkenal, tapi ia telah membunuh banyak sekali orang-orang tak berdosa. Dan kami bahagia sudah membunuhnya" ujar Shelton, pria yang pada tahun 1967 melatih tentara Bolivia dalam usaha menangkap Che.

Sedang selang beberapa belas tahun sejak kematian Che, dendam Villoldo ternyata lenyap tak berbekas. Ternyata Villoldo urung membawa dendam ke liang kubur.

"Aku tak pernah bertemu secara langsung dengan Che, dan aku juga tak tertarik untuk bertemu dengan dia, ataupun berbicara dengannya. Hal itu bukan masalah personal bagiku, walaupun aku selalu mengingat Che sebagai penyebab kematian ayahku. Sekali lagi, itu (memburu Che) hanya tugas" tutur Villoldo.

Villoldo dan pihak CIA berkata bahwa mereka tidak berperan dalam penyerbuan langsung terhadap Che. Mereka hanya melakukan pelatihan terhadap tentara yang akan membekuk Che. Mereka berdalih tak terjun ke lapangan penyerbuan. Karena itu pula Villoldo sama sekali tak pernah bertemu dengan Che.

Tahun 1996, Villoldo secara diam-diam mengirim surat pada Aleida Guevara, putri Che Guevara yang dikenal aktif dalam merawat kenangan public tentang ayahnya. Pria yang dianggap sebagai tokoh kunci dalam terlacaknya persembunyian Che ini menawarkan diri untuk memberitahu letak pasti makam Che.

Kala itu, letak kuburan Che memang dirahasiakan. Keberadaan kuburan itu selalu simpang siur. Tapi Villoldo berkisah bahwa ia satu dari sedikit orang yang tahu letak makam Che sebenarnya. Ia juga berkata bahwa ia sendiri yang memilih lokasi makam dan menaruh mayat Che dalam liang lahat.

Kenapa Villoldo mau membuka hal yang selama ini menjadi rahasia? Ternyata ia menganggap hal itu sebagai profound reconsideration, sebuah usaha berdamai yang teramat dalam.

"Aku tidak punya masalah personal, ideologis, maupun politis yang membuatku memusuhi Che Guevara. Selain itu, janda Che dan juga anak-anaknya berhak mengetahui dimana jenazah ayahnya." tulis Villoldo dalam surat kepada Aleida. Setelah itu, dilakukan tindakan penggalian kuburan dan penyatuan kembali kerangka Che. Pada 17 Oktober 1997, kerangka Che beserta 6 orang pasukannya dikebumikan ulang dengan hormat di Santa Clara, Kuba. Di tempat itu pula didirikan Mausoleo Che Guevara, sebuah monumen dan mausoleum untuk mengingat Che Guevara.

Alberto Granado, sahabat sekaligus partner Che ketika mengelilingi Amerika Selatan dengan motor bernama La Poderosa, sudah menduga bahwa Che akan mati diterjang peluru revolusi yang ia galakkan. Bahkan Che juga sudah menduga itu sebelumnya. Sebelum Che pergi ke Kuba, ia meninggalkan sebuah buku untuk Granado. Dalam buku itu, ada sebuah pesan pendek dari Che: 

Mimpi-mimpiku tidak mengenal batasan, setidaknya sampai peluru membatasinya. Aku akan menantimu, wahai gipsi yang tak lagi berpindah-pindah, ketika nanti bau bubuk mesiu telah memudar. Peluk untuk kalian semua, Che.”

Bagi beberapa orang dekatnya, Che tetap saja seorang Ernesto yang manis, pemalu, romantis, dan juga sayang keluarga. Sebelum kematiannya, ia menyempatkan diri untuk menulis surat untuk Fidel; istrinya; dan juga anak-anaknya yang  dititipkan kepada Felix Rodriguez. Kepada anak-anaknya ia menuliskan:

Kepada yang tersayang Hildita, Aleidita, Camilo, Celia, dan Ernesto

Jika kamu membaca surat ini kelak, itu berarti aku sudah meninggal. Kalian akan sukar mengingatku, dan yang paling muda dari kalian jelas sama sekali akan melupakanku.

Ayahmu adalah orang yang berusaha bertindak yang terbaik, dan selalu percaya terhadap keyakinannya. Tumbuh berkembang bersama banyak revolusi, belajarlah yang keras agar bisa mengenal dan menguasai alam semesta. Ingatlah bahwa revolusi adalah hal yang penting dan mengajarkan kita, bahwa hidup terasing adalah harga sangat kecil yang harus dibayar, dan itu tak berarti apa-apa. Diatas semua itu, jadilah orang yang sensitif, terhadap diri kalian sendiri, juga terhadap semua ketidakadilan yang menimpa siapapun di dunia ini.

Aku akan selalu menjadi milik kalian wahai anak-anakku. Aku berharap akan bertemu lagi dengan kalian.

Cium hangat dari ayah”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar