Selasa, 29 November 2011

GRIBS With Eben Andreas

Foto oleh Ryan AR, diambil dari facebook GRIBS


25 Oktober lalu. Malam masih saja sama seperti biasanya. Saya online facebook dengan fasilitas chat on. Tiba-tiba ada chat masuk. Dari Rezanov GRIBS. Bagi yang belum tahu siapa itu GRIBS, mereka adalah band pengusung glam rock yang sekarang sedang merintis jalan untuk jadi band rock papan atas di Indonesia. Mereka mengeluarkan album perdana bertajuk Gondrong Kribo Bersaudara (Ya, mereka terdiri dari 2 orang gondrong dan 2 orang kribo, dan mereka bersaudara) pada tahun 2009 dan masuk dalam 10 Album Terbaik Indonesia 2009 versi Rolling Stone Indonesia. Rezanov adalah nama vokalisnya.

Perkenalan saya dengan Reza terjadi pada setahun lalu. Saat itu saya dapat assignment dari Jakartabeat untuk menuliskan skena hair metal di Indonesia. Saat itu kami bertemu di daerah Bulungan. Kami menjalani sesi obrolan yang menyenangkan. Selain Reza orangnya menyenangkan dan lepas dari segala macam kesengakan ala rock star, dia juga berasal dari Jawa Timur. Jadi kami bertambah akrab dan sesekali mengobrol dengan bahasa Jawa Timur-an.

Malam itu Reza sekedar bertanya kabar. Awalnya sekedar small talk biasa. Ngobrolin soal kesehatan, kabar keluarga, dan lain-lain. Lalu obrolan semakin hangat, padahal di luar sedang dingin. Obrolan beralih ke masalah yang lebih serius: band.

Reza beberapa kali bercerita beratnya perjuangan GRIBS. Sudah bukan rahasia kalau musik glam rock bukan musik yang laku dijual. Intensitas gigs GRIBS tergolong rendah. Hanya sesekali saja. Padahal Reza sudah keluar dari pekerjaannya dan bertekad untuk berjuang di GRIBS. Selain itu masih ada masalah manajemen yang amburadul.

Dan malam itu, saya mendapat kabar yang mengejutkan. Dion Blues, sang gitaris, mengundurkan diri dari band. Saya sempat shock. Bagi saya, Reza dan Dion itu ibarat Vince Neil dengan Mick Mars. Anda bisa membayangkan Motley Crue tanpa Mick Mars? 

Inti masalahnya tak perlu diceritakan disini. Karena percakapan mengenai kenapa Dion keluar sudah saya janjikan untuk  off the record. Saya hanya ingat Reza berkeluh satu hal.

"Yo wis ngene iki ran ibukota. Membuat tak kenal sanak saudara". 

Saat itu Reza memberi tahu dua alternatif nama untuk jadi pengganti sementara Dion. Eben Andreas, dan satu gitaris yang sempat saya wawancarai untuk proyek hair metal dari Jakartabeat itu. Saya tak tahu mana yang akan dipilih GRIBS.

***
Beberapa hari lalu, saya ditandai dalam sebuah foto milik GRIBS. Foto itu ada di album berjudul GRIBS with Eben Andreas. Ah, akhirnya Eben terpilih menjadi gitaris sementara GRIBS. Mungkin saja akan berlanjut dalam jangka waktu yang lama, melihat betapa cocoknya Eben dengan GRIBS. Mungkin ini hanya insting saya saja. Tapi ketika melihat GRIBS dengan Eben, rasanya seperti melihat band yang sudah lama bergabung. Eben terasa cocok dengan aura glam rock GRIBS. Ia gondrong, kurus tapi gagah, dengan attitude dan looks yang oleh Motley Crue disebut dengan "looks that kill".

Eben Andreas sendiri bukan nama yang asing dalam skena rock/ metal di Indonesia. Ia dikenal sebagai gitaris yang pernah aktif lama dalam skena penggemar Japanesse Rock. Ia sempat memperkuat Black Lavender yang memainkan repertoar dari Laruku, Gazzette, maupun X-Japan. Ia juga sempat bergabung dalam Mama Rocker, sebuah band glam rock yang cukup populer di Jakarta. Dan berdasar dari desas-desus di Friendster (iya, saya tahu dia dan Mama Rocker sejak jaman Friendster masih berjaya), band itu bermasalah dengan masalah kepemimpinan, yang membuat Eben keluar dari Mama Rocker.

Saya masih belum pernah melihat penampilan live GRIBS sekalipun. Baik ketika Dion masih bergabung, maupun ketika Eben menjadi gitaris baru mereka. Tapi dari album foto di facebook GRIBS, tampaknya live performance GRIBS menjadi semakin liar. Memang benar: sebuah foto bisa bercerita ribuan kata. Simak saja album foto di facebook GRIB. Rasakan keliaran band dan penonton, dan kau akan merasakan panasnya performa GRIBS.

Tapi saya pikir perjalanan masih panjang. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk menciptakan chemistry dalam band. GRIBS yang sudah berdiri sejak tahun 2006, harus beradaptasi dengan Eben yang baru masuk pada 2011. Untuk memainkan lagu-lagu lama GRIBS, saya pikir Eben pasti bisa melakukannya dengan baik. Tinggal menanti lagu-lagu baru GRIBS. Apakah Eben bisa memberi karakter kuat pada lagu-lagu baru GRIBS? Mari menunggu. Merupakan tugas yang berat untuk menciptakan lagu-lagu berkarakter kuat macam "Lawan" maupun "Serangga Kecil". Selain itu, saya pikir Reza juga perlu memperluas spektrum penulisan liriknya. Reza juga harus memperkaya diksi dan kekuatan merangkai katanya agar liriknya tak melulu monoton.

Itu pekerjaan rumah mereka. Semoga berhasil dengan tuntas dan baik.

***

Baru saja saya mengirim pesan pendek kepada Reza. Bertanya apakah boleh menulis soal GRIBS dan Dion. Karena meskipun sudah mengeluarkan pengumuman via jejaring sosial, masih banyak orang yang tak tahu kemana perginya Dion. Reza tak keberatan saya menulis soal bandnya. Ia juga bercerita kalau kembali tancap gas merekam lagu setelah beberapa waktu lalu proses rekaman sempat tertunda oleh masalah keluarnya Dion.

Ah, tak sabar menunggu!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar