Kamis, 13 Januari 2011

Akbar (Bagian 2)


Jam 6 pagi, Ayah masih belum juga sadar. Mata saya sudah panas, belum tidur mulai kemarin. Saya yakin mamak juga merasakan panas yang sama di matanya. Saya paksa mamak buat tidur, tapi dia hanya bisa tidur sebentar.

Tak ada manusia lain selain mamak yang paling sedih atas kondisi ayah. Berpacaran sejak tahun 1977, menikah 10 tahun kemudian, menjalani segala macam pernik rumah tangga, membuat Mamak merasa ayah adalah lelaki terpenting dalam hidupnya.

Kisah ayah dan mamak bukanlah kisah Cinderella, lebih mirip Beauty and the Beast. Ayah yang tipikal pria yang dibenci calon mertua manapun, harus menghadapi kenyataan bahwa ia jatuh cinta dengan Mamak, perempuan dari keluarga yang kental suasana ketimurannya dengan segala nilai keagamaan yang dianut.

Ayah gondrong, mamak rapi. Ayah jarang mandi, mamak mandi 3 kali sehari. Ayah suka menggelandang, mamak lebih sering berdiam dirumah. Ayah sabar, mamak keras. Ayah cenderung slengean, mamak konservatif. Tak ada, dari sudut manapun, yang bisa membuat kedua manusia ini cocok.

Awal bertemunya mereka pun bisa dibilang tipikal film remaja 70-an. Teman ayah naksir mamak, membual bahwa dia pernah mencium mamak, mamak meludahi pria ini, pria malang ini lapor ke ketua gengnya: ayah. Ayah yang tidak terima anak buahnya dilecehkan, pergi melabrak mamak, dan pertengkaran terjadi. Untunglah ludah mamak atau tamparan tangannya tak pernah mampir ke muka ayah.

Beberapa hari kemudian, ada satu buah puisi norak tertulis diatas meja milik mamak. Siapa yang melakukannya? Tak ada yang tahu sampai suatu hari ayah mengajak mamak kencan. Ditolak sudah pasti. Entah apa yang membuat mamak jatuh cinta pada brandalan beradab seperti ayah. Ayah memang tipikal pria brandal tapi cerdas nun eksentrik.

Kakek saya --saya memanggilnya Mbah Co-- adalah seorang penyanyi jazz. Beliau juga guru bahasa Inggris. Ia mewajibkan semua anaknya untuk banyak membaca. Ia keras, terutama kalau menyangkut disiplin dan pelajaran. Sedang istrinya --saya memanggilnya Mbah Ti-- adalah wanita rumah tangga keturunan keluarga pondok pesantren yang halus dan tak pernah marah pada anak-anaknya. Perpaduan antara keras dan kelembutan itu yang membuat ayah menjadi brandalan beradab. Ia bukan brandalan biasa. Ia suka musik jazz --meski akhirnya musik itu kalah oleh Deep Purple atau Beatles--, membaca buku, nakal, tapi selalu bersikap lembut terhadap perempuan. Sepertinya itu yang membuat mamak jatuh cinta pada pria urakan ini.

Ada satu fakta yang mengejutkan. Bahwa ternyata mamak adalah pacar pertama ayah. Saya sempat tak percaya. Tapi mamak yang mengatakan pada saya dan Rina, beberapa hari setelah ayah meninggal.

Setelah mamak takluk, tinggal orang tua mamak yang harus ditaklukkan. Kakek dari pihak ibu --saya memanggilnya Kaik-- adalah seorang perwira angkatan laut. Beliau menanamkan disiplin tingkat tinggi semenjak anak-anaknya masih kecil. Lalu ditanamkan pula nilai-nilai keagamaan yang kental. Sedang nenek --saya memanggilnya nenek-- adalah wanita keturunan Banjar-Sulawesi yang juga turut menanamkan nilai keagamaan serta ketimuran pada anak-anaknya. Tak heran, beliau berdua tak suka orang gondrong --yang memang diasosiasikan sebagai brandalan bermasa depan suram. Itulah yang terjadi pada ayah.

Apel pertama ayah hanya berlangsung 2 menit. Urutannya begini. Ayah datang, mengetuk pintu, Kaik membuka pintu, melihat ayah dari ujung rambut sampai bawah, nanya nyari siapa, ayah menjawab nyari Endang, Kaik bilang tak ada sambil membanting pintu. Selesai.

***

24 Desember 2010, pukul 23.00 wib. Ayah masih belum sadar. Saya sebenarnya penasaran apa yang membuat ayah tak sadarkan diri, koma seperti ini. Saya menganggap ayah adalah salah satu the toughest man in the world. Ayah saya sudah 5 kali kena stroke, kalau serangan kali ini juga dihitung, maka sudah 6 kali beliau diserang stroke. Tapi ayah tak pernah sekalipun tidak sadarkan diri seperti malam ini. Dulu pernah, ketika saya sedang di Jogja, mamak telepon, meminta saya pulang. Katanya ayah anfal. Tekanan darahnya 260/150.

260? Gila! Orang yang normal mempunyai tekanan darah 120/90. Kata dokter, orang yang tekanan darahnya 260 sudah seharusnya ambruk dan lumpuh. Tapi ayah masih bisa berdiri dan menolak untuk diopname.

Beberapa menit kemudian, salah seorang dokter di ruang IGD memanggil mamak dan saya. Sembari menunjukkan hasil CT Scan berwarna hitam yang teksturnya mirip kertas mika. Disitulah terpampang gambar kondisi otak ayah. Dokter menunjukkan gambar otak, dengan warna dominan hitam, dan hanya sejumput saja yang berwarna putih.

Kata dokter, kalau orang normal, gambar otak itu seharusnya berwarna putih. Tapi punya ayah hanya secarik saja. Lantas apa yang berwarna hitam itu?

"Darah" kata dokter itu. "Pembuluh darah bapak pecah, dan darahnya membanjiri otak" sambungnya dengan serius.

Mamak menangis lagi, terisak. Saya hanya bisa menguatkannya, menepuk pundaknya dan mengelus punggungnya.

***

25 Desember, 08.00 wib. Orin dan Sasha datang dari rumah. Membawakan rantang yang penuh berisi nasi dan lauk pauk. Dua gadis remaja labil ini ditemani oleh Mbok Mus dan Mak Cik, dua orang perempuan setengah baya yang sering membantu mamak kalau mamak sedang ada order katering.

Orin dan Sasha memaksa saya dan mamak untuk makan. Mana bisa makan kalau dalam kondisi sedih gini. Beberapa menit kemudian, Pak Mul, mantan atasan ayah di Unmuh dulu datang. Beliau datang bersama istrinya. Lalu ada om Momon --adik ayah-- berserta istrinya. Suasana diluar ruangan cukup ramai. Karena tak boleh masuk, saya dan mamak membuka tirai jendela ayah agar mereka bisa melihat dari luar. Para perempuan labil nan sensitif itu terisak melihat kondisi ayah.

Sekitar jam 08.30, kondisi ayah memburuk lagi. Nafasnya yang semula sudah normal selaiknya orang biasa, kembali jadi dengkuran. Berkali-kali pula ayah bergerak sendiri. Terlonjak pelan dari kasurnya. Mamak lantas menenangkan ayah sembari membacakan beberapa ayat suci. Sepertinya ayah mulai ketakutan.

Sepertinya beliau sudah bertatap muka dengan malaikat kematian.

***

Saya sendiri merasa terbebani dengan status anak lelaki tertua dan satu-satunya saat itu. Abang saya sedang ada di Surabaya. Mamak, Orin, dan Sasha, adalah perempuan yang --tidak bermaksud seksis-- lebih gampang menangis. Saya sebenarnya iri dengan mereka. Mereka dengan mudah bisa menangis, dan tak perlu ada hinaan yang menghampiri mereka. Saya juga sebenarnya pengen nangis sekeras-kerasnya, tergugu, terisak, tersedu, tersedan, semua jenis tangisan lah, saat melihat ayah saya terbaring tak sadar begini. Tapi kondisi saat itu tak memungkinkan saya untuk menangis. Setidaknya masih belum membolehkan.

Sekitar jam 09.40, kondisi ayah makin memburuk. Berkali-kali ayah terlonjak dari kasurnya. Dua orang perawat laki-laki dan satu orang Sarjana Kedokteran mengecek kondisi ayah. Mata mamak kembali sembab. Orin sudah menangis lumayan keras di luar. Sasha sendiri berusaha untuk tegar dengan mengaji di sebelah mamak. Saya sendiri mengelus-ngelus kepala ayah yang banyak uban. Oh, betapa tampak tua dan rapuhnya ayah saya tercinta. Sumpah, saya ingin sekali menangis saat itu.

Tapi pertahanan saya mulai runtuh, sedikit demi sedikit. Awalnya ketika mamak bilang "Le, ayahnya dibisiki (ayat suci) ya". Mata saya masih berkaca-kaca saja. Tak sampai keluar air mata. Tapi akhirnya benteng kekeraskepalaan saya runtuh berantakan saat salah satu perawat bilang,

"Bapak sudah dekat bu. Tolong didoakan ya" dengan muka yang sedih. Dekat ini jelas berarti dekat dengan kematian. Oke, air mata saya tumpah saat itu.

Sasha sendiri sudah gak kuat. Dia menaruh Panduan Doa Untuk Pasien di tempatnya, dan melangkah keluar dengan cucuran air mata. Ah, dasar anak emo.

Akhirnya hanya saya dan mamak yang mendampingi ayah. Saya masih kuat, berusaha tegar dan menegarkan mamak dengan berkali-kali memarahi mamak kalau dia menangis.

Tapi lagi-lagi, saya ternyata hanya manusia biasa yang bisa menangis.

"Wis yah, aku wis ikhlas. Aku iso njogo arek-arek. Aku bisa jaga anak-anak" kata mamak terisak.

Dan air mata saya kembali mengucur. Kali ini jauh lebih deras.

Saya mencium dahi ayah. Untuk terakhir kalinya, biarkan saya memberikan aksen melankolis pada hubungan ayah-anak ini.

***
Ayah meninggal tanggal 25 Desember 2010 jam 10.00 wib. Orang pertama yang saya beritahu adalah Rina. Lalu para saudara saya, teman-teman dari Tegalboto, SMA 1 Arjasa, dan Fakultas Sastra. Saya tak memiliki waktu untuk menangis dan meratap. Melihat mamak yang terpukul dan menangis, saya lantas mengambil dompetnya dan berkas-berkas administrasi rumah sakit.

Sebelumnya saya harus menenangkan dua adik perempuan saya. Orin yang paling parah, malah sempat pingsan segala. Syukurlah setelah saya sedikit sok dewasa dan menenangkan dua adik kecil saya itu, mereka bisa mengerti dan berhenti menangis.

Saya ikhlas ayah meninggal jika itu memang yang terbaik buat beliau. Malam sebelumnya, dokter jaga di IGD menawarkan operasi pembelahan tengkorak untuk membersihkan darah di otak ayah. Tapi mamak menolak. Saya tahu kalau mamak punya firasat kalau ayah bakal meninggal. Dan kalaupun ia meninggal, biarlah ia meninggal dengan tenang dan tampan, tanpa satu sayatan pun di kepalanya.

Yang sedikit saya sesali adalah ayah pergi tanpa pamit. Bagai pergi dalam diam yang sepi, bagai rinai gerimis yang turun dalam sunyi.

Satu yang pasti, saat itu saya begitu ingin menantang berkelahi sang malaikat pencabut nyawa (hei, aku bahkan sudah lupa namanya). Kalau aku menang, aku akan meminta ia menunda sejenak tercerabutnya nyawa dari badan ayah, agar ayah bisa berpamitan pada mamak dan dua orang adik saya. Kalau dia tidak mau menuruti, saya gebukin lagi dia sampai bilang "ampun bos, ampun bos". Kalaupun saya harus kalah, saya bisa memohon dengan muka melas agar ayah jangan dibawa dulu. Sayang, malaikat pencabut nyawa sepertinya tidak bisa disogok. Andai saja dia mau jadi Kajari :p

Mengurus administrasi adalah bagian paling menyebalkan. Saya harus membagi pikiran antara ayah dan dimana saya harus fotokopi kartu Askes. Saya diharuskan untuk punya fotokopi kartu berwarna kuning itu, sementara saya kehabisan stoknya. Akhirnya saya keluar rumah sakit, mencari tempat fotokopi. Sialnya, hari itu tanggal merah, dan semua tempat fotokopi pada nutup. Saya berkeliling sampai kaki pegal dan rambut saya berbau matahari. Karena tidak dapat juga, saya mengharapkan kebaikan dan pemakluman dari para petugas administrasi. Dan di saat pasrah itulah, bantuan datang. Saudara saya yang bekerja di RSUD Soebandi datang --ia sebenarnya libur hari itu.

***

Ayah diangkut dengan ambulans disertai beberapa orang saudara. Saya sendiri naik mobil bareng Om dan adik sepupu saya. Dengan jendela dibuka, diantara desau angin yang sepoi, saya kembali nangis. Merengek bagai cowok pecinta AFI yang ditolak sebelum nembak. Saya menangis dalam senyap. Dan rasanya menyenangkan.

Menjelang sampai rumah, saya berhenti di gapura perumahan. Saya ingin memotong rambut yang memang sengaja saya panjangkan. Sueb --nama tukang cukurnya-- kaget melihat saya datang nyelonong dengan mata sembab. Saya tahu dia berduka, karena dia akrab dengan ayah. Tiap pagi ayah biasanya berjalan kaki menuju kios cukur pria yang nyambi jadi tukang ojek ini, lantas menghabiskan waktu dengan ngobrol sampai waktu sarapan tiba. Tapi melihat muka saya yang seperti gabungan antara rasa sedih dan kosong, dia jadi bingung mau berkata apa.

Akhirnya rambut gondrong saya resmi hilang pagi itu. Diantara sesak, rasa tangis, dan juga kehilangan orang tercinta.

***

"Ayah jangan dikubur dulu sebelum Kiki datang." Itu bunyi pesan pendek yang dikirim Kiki. Kakak saya itu langsung bergegas dari Surabaya begitu saya kabari kalau ayah meninggal. Kiki adalah anak yang paling sayang sama ayah. Saya ingat tanggal 23 Desember siang, Kiki membelikan sekotak es krim kesukaan ayah. Sebelum dia balik ke Surabaya pun dia pamit sembari mengelus-ngelus punggung ayah sembari berpesan agar ayah menjaga kesehatan.

Ayah akan dikubur jam 16.30 wib. Saya sedikit khawatir karena bulan Desember adalah musim penghujan. Bagaimana kalau ketika ayah akan dikubur hujan turun dengan derasnya?

Jam 16.00 sudah ratusan orang menunggu di luar rumah. Menunggu anak sulung ayah yang masih dalam perjalanan sembari terus mengirimkan pesan pendek ke handphone saya. "Jancok, wong2 kongkonen meneng cangkeme, aku iki wis ngebut cok!" kata dia marah-marah. Rupanya beberapa orang terus menelponnya, menyuruhnya agar cepat datang. Seharusnya mereka menelpon supir bisnya.

Tepat jam 16.20 Kiki datang sembari diikuti tatapan ratusan pasang mata yang sudah menantinya sejak beberapa jam lalu. Adegannya sendiri berasa sangat Raam Punjabi banget.

Saat Kiki masuk, seseorang membuka kain yang menutupi muka ayah sembari berpesan agar Kiki jangan menangis. Jelas sudah kalau pesan itu tak mungkin dituruti. Kiki menangis, saya pun juga. Begitu juga orang-orang yang mengerumuni jenazah ayah. Saat saya ingin kembali mencium dahi ayah, beberapa orang mencegah, karena saya menangis. Konon air mata yang jatuh pada jenazah, akan membuatnya tak tenang di alam kubur.

"Wis le, sing ikhlas. Ayah meninggal dengan senyum" kata mamak sambil terisak karena melihat dua anak lelakinya KO pada rasa pedih.

Saya menengok ke wajah ayah. Ayah memang tersenyum. Saya jadi tambah menangis. Brengsek.

***

Malam selepas isya, saya sudah ambruk. Tak kuat menahan kantuk dan lelah. Mamak yang sama-sama belum tidur masih menemui tamu yang terus berdatangan. Saya jelas kalah telak dalam ketangguhan menahan kantuk dan capai. Mamak baru masuk kamar sekitar jam 23.00. Malam itu, saya dan Sasha tidur di kamar mamak, seranjang bertiga.

Sekitar jam 00.21, diantara desir angin pengatur udara di kamar, terdengar isak tangis seorang perempuan bernama Endang Hidayati Masdar, yang mencintai seorang pria bernama Akbar Pradopo sampai akhir hayatnya.

Saya kembali menitikkan air mata. Kembali tanpa suara.

Malam itu dingin, dan kami bertiga menangis dalam diam...



Jember, 13 Januari 2011
Sembari mendengarkan Smoke on the Water terus menerus
Jangan lupa sampaikan salam buat Jim Morrison yah :)


3 komentar:

  1. did i ever tell, that i'm so in love with your writing :)

    BalasHapus
  2. sekuelnya bikin merinding gini ya ran, dan pastinya sukses buat saya jadi nangis dramatis.
    om akbar pasti lebih dari suka baca ini :D

    BalasHapus
  3. khoirul hidayati26 Agustus 2011 15.31

    thankz maz bro dah buat aq menangis tanpa sebab....
    salam kenal...

    BalasHapus