Selasa, 28 Januari 2014

Gempa

Dua hari lalu Yogyakarta kena gempa. 6,5 SR. Cukup besar, hingga membuat banyak orang keluar dari rumah. 

Saat itu matahari sedang berada pas di atas kepala. Titik gempa itu berpusat di 104 kilometer barat daya Kebumen. Gempa itu tak hanya dirasakan di Kebumen dan Yogya. Solo, Semarang, bahkan Wonosobo pun merasakan gempa itu. Konon getaran gempa terasa sampai Malang.

Saya sedang di depan laptop waktu itu. Wisnu, kawan saya,  juga sedang mengerjakan pekerjaannya. Kami berbagi meja panjang yang sama. Di tengah ruangan kantor. Sedang Nody sedang asyik tiduran sembari mendengarkan musik Gandrung Banyuwangi. Pekerja rumah tangga di kantor kami, Mbah Pah, sedang menyapu di halaman depan.

Waktu gempa baru berjalan dua detik, saya dan Wisnu baru sekedar berpandangan. Ah, palingan bentar doang, pikir kami dalam hati. Tapi kami mulai panik saat gempa masih menggoyang 5 detik kemudian.

"Gempa yo?" kami sama-sama saling bertanya. Kami akhirnya berlari keluar rumah karena gempa berlangsung cukup lama.

Saya masih sadar dan berusaha tidak panik. Saya masih sempat berpikir untuk membawa laptop turut serta. Meski itu laptop murah, tapi ia satu-satunya harga berhargaku. Semua data ada di sini. Sedang Wisnu meninggalkan laptopnya di meja. Ia mungkin lupa. Hehe.

Beberapa orang tetangga sudah keluar dari rumah sembari sedikit panik. Gempa tak berlangsung lama. Getaran besar hanya berlangsung sekitar 15-20 detik, tapi getaran kecil terasa hingga 2 menit. Setelah meyakinkan diri kalau gempa tak akan datang lagi, barulah kami masuk ke dalam rumah.

Saat itulah Nody baru keluar rumah. Ia sadar ada goyangan, tapi ia mengira Mbak Pah yang menggoyang jendela.

"Tapi kok goyangane tambah kenceng, tibake gempa," kata Nody sembari cengengesan.

Setelah keadaan tenang, saya membuka twitter. Benar saja. Ada banyak cuitan tentang gempa. Kawan-kawan saya di Bantul banyak yang panik. Takut ada tsunami. Untung tak kejadian.

Dari banyaknya twit tentang gempa, benang merahnya adalah tentang trauma gempa tahun 2006. Saat itu gempanya berskala 6,2 SR. Namun getaran keras berlangsung hingga nyaris satu menit. 

Efeknya benar-benar dahsyat dan mengerikan. Semakin mengerikan karena episentrum gempa berada di 25 km selatan-barat daya Yogyakarta. Gempa yang pertama terjadi pada jam 5 lebih 30 menit, dan disusul oleh tiga kali gempa berikutnya: mulai dari jam 6 pagi, 8, hingga jam 11 siang. Akibat bencana ini, korban tewas tercatat 5.700 orang, puluhan ribu orang luka, dan menyebabkan ribuan bangunan lantak.

Dengan efek yang semengerikan itu, pantas kalau penduduk Yogyakarta trauma dengan gempa. Bahkan saya sempat mencuri pandang: tetangga depan rumah mukanya tempias dengan istighfar yang tak kunjung berhenti dari bibirnya.

***

Tadi malam saya keluar dengan Panjul. Sehabis mengambil buku, kami makan malam dan ngobrol ngalur ngidul seperti biasa. Salah satu topiknya adalah gempa kemarin.

"Lu bisa bayangin gak kalau kena gempa pas lagi tidur?" tanya Panjul sembari setengah bergidik.

Saya menggelengkan kepala sembari melihat tembok penyangga besar nan kokoh yang berada tepat di atas kami berdua. Meski ia kelihatan kokoh, tapi ia tak ada apa-apanya dibandingkan gempa. Saya mendegut ludah. Membayangkan kalau tiba-tiba saat itu ada gempa dan tembok penyangga itu jatuh menimpa kepala saya.

Saya merinding.

Ndilalah, sekitar pukul 11 malam, saat saya sedang asyik menonton serial The Newsroom, kasur tempat saya rebahan tiba-tiba bergoyang keras. Sial, gempa lagi! Saya terbangun dari posisi tidur. Duduk sembari mengambil ancang-ancang untuk lari sembari membawa laptop. Untunglah gempa hanya berlangsung sekitar 5-6 detik.

Meski hanya berlangsung singkat, efeknya tetap bikin saya tak bisa tidur. Apalagi sehabis obrolan dengan Panjul soal gempa tadi. Saya menengok asbes di atap kamar. Lalu tembok kamar yang sepertinya juga kokoh. 

Saya tersenyum pahit. 

Itu kelakuan bodoh tentu saja. Karena saya seperti orang yang takut mati. Kalau memang saya harus mengalami kecelakaan, tentu tak harus menunggu gempa. Dulu, sewaktu saya masih tergila-gila dengan mitos rockstar-mati-mulia-di umur-27-, saya pernah punya keinginan mati muda. Di umur 27 tepatnya. Biar seperti Jim Morrison atau Brian Jones. Tapi sekarang saat umur saya merambat ke angka 27, keinginan mati muda itu memudar. Terkalahkan oleh betapa menyenangkannya hidup.

Ternyata saya tak cukup siap mati muda. Apalagi mati karena kejatuhan tembok saat gempa. Sungguh sebuah kematian yang tak elok. Tapi hei, siapa yang bisa memilih cara terlepasnya sukma?

Semoga semua arwah yang meninggal saat gempa diberikan tempat yang tenang dan indah di sisiNya. Amin.

Ngomong-ngomong soal meninggal saat gempa, ada sebuah kejadian yang membuat saya menyunggingkan senyum.

Saat itu malam hari, di tahun 2009. Ada gempa kecil yang terasa di rumah kami. Orang Jawa Timur menyebutnya lindhu. Beberapa menit sebelum gempa terjadi, ayah dan mamak saya sedang tidur-tidur ayam.

Waktu gempa terjadi, mamak, yang dasarnya memang gampang panik, tentu saja panik sembari berteriak gempa. Ia sudah mau meloncat dari kasur, saat tangan ayah memegangnya lembut.

"Laopo mlayu, lek wis wayae mati yo pasti mati kok." Buat apa lari, kalau sudah waktunya mati ya pasti mati kok, kata ayah saya kalem. 

Ayah sudah kena stroke waktu itu. Ayah sudah pasrah. Ia tahu, meski mamak menariknya untuk berlari, ayah akan kesusahan untuk sekedar bergerak. Mungkin, kala itu, kematian hanya berjarak sejengkal dari ubun-ubun kepala.

Untung lindhu itu hanya berlangsung beberapa detik. Tapi setelahnya mamak sewot.

"Dadi wong kok pasrah tenan," omelnya.

Ayah hanya tertawa kecil.

Saya tentu tak sesiap dan setenang ayah saya dalam menghadapi segala macam bahaya. Apalagi kematian.

Setelah gempa pukul 11 malam tadi, hingga jam 5 pagi ini saya tak bisa memejamkan mata. Selain karena kebiasaan, saya berusaha bersikap waspada. Teringat pertanyaan Panjul tentang gempa yang terjadi saat tidur. Apalagi gempa Yogyakarta terjadi sewaktu orang sedang asyik terlelap. Maka saya memutuskan untuk tak tidur hingga matahari naik nanti.

Rani sudah mewanti-wanti agar menyiapkan barang dalam tas. Berjaga kalau harus evakuasi. Saya sudah menaruh beberapa barang dalam tas, seperti pakaian dan celana. Tapi itu barang yang memang belum saya keluarkan dari tas semenjak datang dari Jakarta beberapa waktu lalu. Hehehe.

Mengingat bencana, tiba-tiba saja saya teringat doa yang diajarkan saat SD dulu. Doa menjauhkan diri dari bencana. Iya, seringkali saya hanya ingat tuhan sewaktu sedang susah saja.

Bismillahil lazi la yadurru ma’asmihi syai’un fil ardi wa la fis sama’i wa huwas sami’ul ‘alimu.

Dengan menyebut nama Allah, sesuatu itu tidak berbahaya di bumi dan di langit. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Amin. []

Minggu, 26 Januari 2014

Laki-Laki Pemalu

Saya selalu menganggap "Laki-Laki Pemalu" dari band Efek Rumah Kaca adalah sebuah ode untuk Nody Arizona. Nody, pria berambut andan dengan senyum yang terkulum sering, adalah lelaki pemalu dalam lagu itu.

nanti malam kan ia jerat rembulan
disimpan dalam sunyi hingga esok hari

Nody jarang berbicara banyak. Kalaupun berbicara, kata-kata seakan tersedak dalam tenggorokan. Ia susah mengutarakan sesuatu dengan baik dan lancar. Puthut EA, sang mentor Nody dalam pekerjaan, seringkali meledek Nody.

"Kalau mau jelasin sesuatu, jangan Nody yang ngerjain."

Nody, sang lelaki yang sering tersipu itu hanya bisa tertawa kecil jika diledek demikian.

Sudah sekitar satu bulan saya tinggal bareng Nody. Obrolan kami pun tak terbilang banyak. Hanya sesekali saja. Selebihnya ledek-ledekan. Tapi saya sering mengamati tingkahnya.

Ia biasanya baru berangkat tidur saat matahari pas diatas kepala. Ia bisa tidur 6 jam. Kadang 9 jam. Tapi sering pula tidurnya terganggu. Nody betah sekali berada di depan laptop. Dengan headset menempel, ia betah menulis atau mengedit kerjaan. Kadang ia ke dapur. Menjerang air, membuat kopi. Ia suka kopi dengan sedikit gula. 

Kadang kalau tak bisa tidur dan bingung melakukan apa, ia tiba-tiba datang ke kamar. Lalu duduk di sebelah saya. Tapi tak bicara apa-apa. Semacam minta ditanya, "kenapa Nod?"

Biasanya kalau saya melakukan itu, ia hanya akan bilang "gak kenapa-kenapa" sembari bangkit dari kasur dan pergi lagi. Dasar aneh.

Kadang ia hanya melongok saya di kamar sembari meledek, "galau Can?" Lengkap dengan cengengesnya yang seringkali membuat saya tertawa. Ia memanggil saya Can, singkatan dari Macan. Saya juga memanggil Nody dengan sebutan yang sama.

Macan adalah julukan kami, anak-anak Jember, untuk pria yang punya banyak sejarah dengan perempuan. Itu mengacu pada Sandi Macan, bocah kecil yang dengan bangga menasbihkan dirinya sebagai macan kimpet, alias women conquistador. Sang penakluk perempuan.

Tapi Nody tak demikian. Ia tak punya banyak sejarah dengan perempuan. Setidaknya, tak banyak yang diketahui oleh kawan-kawannya.

Arys Aditya, karib Nody, pernah berkata pada saya suatu ketika. "Nody gak pernah pacaran seumur hidupnya." Saya terkekeh.

Entah ada hubungannya atau tidak dengan sifat pemalu Nody. Saya rasa ada. Perempuan Indonesia, terutama mereka yang besar dengan kultur konservatif, akan selalu bersikap menunggu. Bergerak lebih dulu dalam hal cinta, bagi mereka, adalah hal yang tabu.

Kebiasaan macam ini lah yang menyulitkan Nody dalam mencari kekasih. Nody, sepertinya, bukan tipikal pria yang akan lancar mengucap kata cinta. Menjelaskan letak rumah seorang kawan saja ia kesusahan, bagaimana mungkin ia bisa mengucap kata cinta dengan lancar.

Kelu pasti akan terkumpul di ujung lidah. Dari titik ini pula saya semakin yakin kalau "Lelaki Pemalu" adalah lagu untuk Nody.

berharap gadis mengerti hatinya
tetes keringat mengalir mencoba melawan ragu

Nody sedikit mengingatkan saya dengan Cholil Mahmud, sang penulis lirik lagu itu sekaligus yang menyanyikannya. Saya tak kenal Cholil. Hanya pernah bertemu dan ngobrol satu kali selepas Efek Rumah Kaca manggung di depan perpustakaan Universitas Indonesia.

Bagi saya, Cholil juga sama pemalunya dengan Nody. Ia kalem, tenang, irit bicara, namun punya stok senyum yang melimpah. Namun Cholil, pria dengan tatanan rambut belah pinggir 80-an itu, punya kata-kata dan musik sebagai senjata.

Para perempuan tak perlu mendengar kalimat cinta dari Cholil. Ia menuliskannya. Dan para perempuan akan berebutan untuk berusaha memahami Cholil.

Sedangkan Nody sebaliknya. Ia tak pandai menulis kata cinta. Pria berkulit putih ini jauh sekali tertinggal dengan para kawan-kawan baiknya di Jember, semisal Halim Bahriz atau Arys, yang fasih merangkai kata-kata romantis nan lembut.

Nody terlampau sibuk dengan tulisan ekonomi, sepertinya

Tapi di beberapa kesempatan, Nody seperti melempar sinyal kalau ia menyimpan jiwa harimau dalam dirinya. Pemburu yang ulung.

Saya tahu ada beberapa perempuan yang dekat dengannya. Tapi Nody tak kunjung juga punya pacar. Mungkin karena ia pemalu. Mungkin juga ia sedikit takut menjalani hari dengan perempuan yang mengikatnya.

Sebenarnya tak punya pacar itu adalah hal biasa yang tak perlu dibesar-besarkan. Tapi entah kenapa, kami, para kawan-kawan Nody, suka sekali meledeknya perkara remeh macam itu. Senjata terbaru kami adalah: bahkan adik Nody sudah menikah.

Nody punya satu orang adik. Perempuan. Beberapa waktu lalu sang adik menikah. Nody yang jadi walinya, karena sang ayah sudah lama tiada. Biasanya kami meledek Nody, "adiknya saja sudah nikah, kakaknya belum pernah pacaran sama sekali." Nody biasanya hanya bisa mesem-mesem malu kalau diledek demikian. 

Sebenarnya tak terhitung berapa kali Nody dijodohkan. Pernah mas Puthut dengan sengaja menyuruh Nody untuk mengambil sebuah undangan. Sebenarnya bisa saja undangan itu dititipkan. Tapi mas Puthut sengaja menyuruh Nody yang mengambil. Ternyata undangan dipegang oleh seorang perempuan. Nody sadar akan usaha penjodohan itu. Tapi sayang, perjodohan tak lancar.

"Opone, wong mbake lemu," kata Nody bersungut-sungut. Kami tertawa. Nody rupanya tak suka perempuan yang sentosa.

Belakangan ini, Markaban Anwar, senior kami di kantor, turut serta meledek Nody. Mas Anwar sedang berusaha menjodohkan Nody dengan perempuan kenalannya. Tapi Nody, lelaki yang selalu menunduk kalau sedang berbicara dengan orang lain, hanya bisa tersenyum malu. Sepertinya perjodohan kali ini akan menemui kuldesak lagi.

Sebentar lagi bulan Februari. Beberapa orang menyebutnya sebagai bulan kasih sayang. Mas Puthut, setengah meledek setengah serius, seperti mengultimatum Nody agar segera punya pacar.

"Duh, marine Februari. Kudu nduwe pacar iki," kata Nody sembari tertawa-tawa kalau mengingat perkara itu.

Carilah perempuan yang tak pemalu juga Nod, saran saya suatu ketika. Entah ia ingat atau tidak. Repot kalau Nody jatuh cinta dengan perempuan pemalu, yang bahkan sekedar melempar tanda-tanda pun segan. Kalau begitu, bisa-bisa mereka hanya bersandiwara dan menunggu.

lelah berpura pura bersandiwara
esok pagi kan seperti hari ini
menyisakan duri, menyisakan perih
menyisakan sunyi... []

Post scriptum: Lha pas saya unggah tulisan ini, Efek Rumah Kaca gaya baru (baca: Pandai Besi), mengeluarkan official video clip "Laki-Laki Pemalu", lihat di sini.