Sabtu, 03 November 2012

Nyen di 26

Wis tambah tuek le? :)


Anak itu berjalan pelan menuju gerbang sekolahan. Rambutnya keriting. Wajahnya tirus. Badannya kurus. Memakai tas punggung dengan sepatu berwarna biru. Tapi yang paling mencuri perhatian: tinggi badannya yang minimalis untuk ukuran anak SMA. 

Nama anak itu adalah Angga Pribadiyono.

Saya tak akrab dengannya di awal masuk SMA. Pasalnya, kelas kami berjauhan. Saya di 1.2, Angga di 1.5. Tapi pernah satu kali kami bertemu di Pasir Putih.

Saat itu saya dan beberapa kawan masa kecil menghabiskan waktu dengan berkemah di Pasir Putih Situbondo. Tak dinyana, disana saya bertemu dengan Deni Hamzah, kawan saya semasa SD. Dia juga bareng kawan-kawannya semasa kecil. Ada wajah yang saya kenal, wajah Angga.

Sejak saat itu saya akrab dengan Angga. 

Kami sering bertukar sapa di kantin. Memergokinya merokok sembunyi-sembunyi di kantin. Hingga ia yang sering disetrap di halaman sekolah karena sering terlambat masuk.

Kami akhirnya sekelas ketika naik ke kelas 2. Karena sudah akrab, kami memutuskan duduk sebangku. Saat itu, saya mulai makin mengenalnya.

Ada banyak hal yang bisa diceritakan tentang pria berwajah imut itu. Tapi yang paling terkenal adalah julukannya sebagai bandar bokep. Oke, bukan dia saja, tapi saya juga. 

Kami sering membawa CD bokep (saat itu belum ada flashdisk dan tidak ada softcopy seperti sekarang) yang diselempitkan di tengah-tengah halaman buku pelajaran. Dan kurang ajarnya, dua buku favorit sebagai tempat persembunyian bokep adalah buku PPKn dan Agama. Hahaha.

Bendol, ketua kelas kami saat itu, menjuluki Angga dengan sebutan Nyen. Semua juga gara-gara rutinitas Angga dalam mendistribusikan VCD bokep. Nyen adalah singkatan dari Onyen, bahasa prokem Madura untuk bersetubuh. Ternyata, panggilan Nyen itu bertahan lama. Hingga sekarang, mulai teman SMA, teman rumah, hingga teman kuliahnya, memanggil Angga dengan sebutan Nyen. Bisa jadi hingga ia meninggal kelak, orang akan tetap mengingat Angga sebagai Nyen.

***

Selain jadi bandar bokep, Nyen juga diingat sebagai pria bertinggi badan minimalis di angkatan kami. Tapi itu semua berubah semenjak Nyen bertemu dengan Bu Ismi.

Bu Ismi adalah guru matematika kami di kelas 2. Beliau orangnya suka iseng. Kalau nilai ujian matematika kami rendah, beliau suka menghukum kami. Kalau ada dari kami yang ketahuan tak tertib --baju seragam keluar, atau tak memakai sabuk--, hukuman juga dilayangkan. Jenis hukumannya macam-macam. Yang paling lucu tentu balapan merangkak di depan kelas. Sialan.

Tapi beda kasus untuk Nyen. Bu Ismi menyuruh Nyen melompat dan menyentuh ujung bagian atas pintu kelas kami. Nyen tak suka hukuman itu. Setiap dapat hukuman itu, wajahnya selalu merengut. Ia kesal. Tapi sekarang ia harus berterimakasih pada bu Ismi. Sejak rutin melakukan 'lompat tinggi' itu, Nyen bertambah tinggi. 

Kami berpisah ketika naik kelas 3. Saya masuk kelas sosial 2, dan Nyen masuk kelas sosial 1. Tapi sebagai kaum minoritas (kelas sosial hanya ada 2, kelas eksakta ada 4), nyaris setiap hari kami berkumpul. Entah itu di terminal depan sekolah kami, warung nasi pecel depan sekolah, sungai belakang sekolah, atau di kantin.

Ketika lulus dan masuk dunia kampus, kami pun kembali berpisah. Saya masuk Unej dan Nyen di Unmuh. Tapi kami masih sering berkumpul. Nyaris tiap akhir pekan kami cangkruk bareng kawan-kawan SMA. Siang hari, ketika sepulang sekolah, juga jadi waktu yang menyenangkan untuk minum segelas joshua sambil berkelakar mengenai kuliah.

***

"Ayo melu aku, nggepuki arek" 

Saya tergeragap. Pagi itu, matahari bahkan masih belum jua terik, Nyen sudah menghampiri saya di Warkop Toyib. Secangkir kopi saya bahkan masih mengepulkan uap panas. Tapi Nyen sudah datang berkalang kemarahan. Ada apa ini?

Usut punya usut, Nyen sedang sakit hati. Sama seperti remaja lainnya, Nyen pun tak luput dari sakit hati. Ini menarik bagi saya dan kawan-kawan lain. Pasalnya, ketika SMA, Nyen tak pernah melirik cewek. Tak pernah menitipkan hati pada perempuan mana pun. Ia termasuk pria yang kedap dengan ritual naksir perempuan. 

Kalau ada novel berkisah tentang cerita cinta remaja SMA, sudah pasti bukan Nyen yang jadi inspirasi. Nyen, kala itu, adalah remaja yang paling kuat menahan godaan naksir perempuan.

Tapi ketika duduk di bangku kuliah, ia memutuskan untuk menitipkan hati pada seorang gadis. Olala, siapakah gadis yang beruntung itu? Nyen ternyata menganut prinsip lokalitas. Ia jatuh cinta dengan gadis tetangga. 

Tapi pagi itu, ketika asap kopi masih mengebul, Nyen sudah tersulut amarah. Tak pernah saya melihat Nyen murka, apalagi perkara perempuan. Ia lantas bercerita kisah kasihnya. Ya bisa dibilang kisah standar percintaan. Tapi karena Nyen tak pernah mengalaminya, kisah itu lantas jadi duri yang merajam. Perih.

Hingga sekarang, kisah kasih purba milik Nyen itu masih saja dijadikan gojlokan tiap kawan-kawan SMA berkumpul. Dan seperti biasa, Nyen --yang sudah sembuh karena waktu-- hanya bisa berlagak cool dan terkekeh kecil. Ia sudah tumbuh dewasa.

Memang, seringkali luka dan waktu yang akan mengajarkan kita untuk tumbuh dewasa. Nyen belajar itu dengan baik, dan lulus dengan baik pula.

Oh ya, sampai sekarang hati Nyen masih belum berpunya. Kalau ada yang punya nyali mencoba, bisa dicoba untuk merebut hatinya Nyen :)

***

Malam ini, disela deadline kerjaan yang sudah di urat leher, saya menengok siapa saja yang berulang tahun hari ini. Ternyata Nyen ada dalam daftar. Untuk mengingatnya, saya menuliskan sesuatu tentangnya. Kelak, ketika Nyen punya anak, sang anak bisa tahu kisah sang bapak. Termasuk yang tabu dan lucu seperti menyembunyikan VCD bokep di buku Agama atau PPKn.

Nyen, sama seperti saya dan kawan-kawan lain, sudah masuk ke dalam tahap yang rawan: lulus kuliah dan harus menghadapi realitas hidup. Semoga ia tak patah arang dan tetap nyalang menghunus pedang. Semoga ia tetap santai, sesantai ketika ia menabrak anjing ketika sedang "tinggi" dan tetap menjadikannya sebagai guyonan. 

Umur memang boleh bertambah. Tapi kemudaan jiwa tetap harus dipertahankan. Semoga ketika angka di KTP semakin bertambah besar dan kerut semakin tampak dalam wajah, semakin anak-anak jiwa kita. 

Seperti yang ditulis Joko Pinurbo:

"Ya, hari ini saya ulang tahun ke-50.
Tahun besok saya akan ulang tahun ke-49.
Tahun lusa saya akan ulang tahun ke-48.
Sekian tahun lagi usia saya akan genap 17.
Kemudian saya akan mencapai usia 9 tahun."

Selamat ulang tahun Nyen!

Minggu, 28 Oktober 2012

Lost in Translation

Gambar dari mana lagi kalau bukan Google


Bekerja menerjemahkan itu berat.

Saya pernah menceburkan diri dalam dunia penerjemahan. Awalnya karena saya butuh uang untuk bertahan hidup. Itu periode 2008-2010. Dan begitu banyak masa muda saya yang tergadaikan karena terjemahan. Bayangkan, di saat orang tidur, saya masih terjaga. Menatap layar monitor, berusaha memahami makna kalimat, dan menuliskannya dalam bahasa yang berbeda. Itu berat. Akhirnya saya memutuskan untuk berhenti bekerja dalam dunia penerjemahan setelah saya bisa mendapat uang dari hasil menulis.

Saya tak pernah punya teman akrab yang full bekerja sebagai penerjemah. Biasanya, para penerjemah yang saya kenal adalah para penerjemah paruh waktu, yang mencari uang saku tambahan dari menerjemahkan, disamping aktivitas utama mereka: kuliah.

Hingga saya kenal Pitoresmi Pujiningsih. 

Awalnya saya kira Pitoresmi adalah nama panggilan yang diplesetkan dari Sitoresmi (nama bangsawan wanita Jawa. Istri W.S Rendra bernama Sitoresmi Pujiningsih). Ternyata Pitoresmi adalah nama aslinya. Saya memanggilnya dengan sebutan Kak Pito.

Kak Pito bekerja full sebagai penerjemah. Sama seperti saya dulu, siklus hidupnya juga terbalik. Baru tidur ketika orang beraktivitas, dan bekerja ketika orang sudah pergi menuju lelap. Itu yang membuat saya berpikir: jadi penerjemah itu berat.

Maka, melalui surel saya bertanya beberapa hal kepada kak Pito. Tentang seluk beluk hidup seorang penerjemah. Di sela-sela kesibukannya sebagai penerjemah penuh waktu, Kak Pito masih mau menyempatkan diri menjawab pertanyaan saya. Thanks Kak! :)

So, here we go:


Kenapa menceburkan diri ke dunia penerjemahan?

Karena menyenangkan! Nerjemahin itu seperti menyelesaikan puzzle supergede yang kepingannya banyak dan cuma kita yang “pegang” gambar gedenya kayak apa. Dengan nerjemahin juga kita ngasah “sense” bahasa, memperkaya kosa kata nggak cuma bahasa ibu tapi juga—dalam hal ini karena gue nerjemahin ke Inggris dan vice versa—bahasa Inggris. Ngobrol di dua bahasa itu jadi lebih luwes. Lagian, bisa ngelatih kemampuan nulis gue yang berantakan.   

Sejak kapan kecebur disana?

Sejak SMP! Haha! Suka penasaran sama lirik lagu terus ngartiin sendiri. Terus bikin semacam game, hasil terjemahan itu gue bandingin sama temen yang kursusan serius (gue sih nggak kursus. Nggak punya duit! Haha!). Kalo sekarang sih mungkin istilahnya comprehension kali ya…   

Apa teks pertama yang diterjemahkan secara profesional, alias dapat honor? Itu berapa lembar?

6 apa 10 lembar gitu, tentang gigi geraham. Haha! Gue kelas 2 SMA. Ngerjainnya ditulis tangan pake pensil di kertas. Gara-gara temen sebangku gue, kakaknya kuliah di Kedokteran Gigi Trisakti dan bagian geraham itu dia nggak ngerti sama sekali. Honornya dikit sih waktu itu, dua puluh ribu atau berapa lah. Tapi lumayan buat jajan. 

Santer terdengar, kak Pito sudah menerjemahkan Satanic Verses. Dari semua karya kontroversial yang ada di dunia Sastra, kenapa Satanic Verses yang dipilih?

Bukan sudah, tapi sedang. Kepending nih gara-gara males *nunduk, pilin-pilin ujung kaos* Kenapa? Karena setau gue belom ada yang berjemahin. Itu juga gara-gara dikomporin Zen (Zen RS, penulis lepas, kawan karib kak Pito). Dia udah pernah baca hasil terjemahan Satanic Verse-nya orang anonim, bentuknya buku hasil nge-print dari format word. Katanya bahasanya kacau. Panas dong gue! Ya awalnya dari situ sih. Gue gampang panasan. Haha!

Tapi alasan sebenernya sih ya… karena “don’t judge the book by its cover”. Dalam kasus Satanic Verse, don’t judge the book by its title. Salman Rushdie, penulisnya, kan masih difatwa mati sampe sekarang. Itu the pinnacle of stupidity sih kalo kata gw. Emang udah pada baca bukunya?! Gue nggak yakin itu orang-orang yang udah memfatwa mati dan semua orang yang ikut-ikutan benci Rushdie udah pada baca. Ya gimana mau baca, wong masuk ke tempat mereka aja nggak. 

Lagian yang dikritik Rushdie itu bukan Islam-nya per se, tapi gegar budaya para imigran India berkulit coklat di Inggris. Iya, dia emang beberapa kali bawa-bawa simbol Persia, Iran, tapi itu cuma bumbu. Nama tokoh yang dia pake juga rada rese sih, Jibril. Tapi mbok semeleh dikit gitu. Di Meksiko banyak yang namanya Jesus, seperti di sini bajingan juga banyak yang namanya Muhammad. Nggak usah serius-serius banget gitu lah sampe konteksnya, intinya, nggak keliatan. Cuma simbol doang yang dipusingin, kulit doang yang belum tentu ada isinya.        

Diakui atau nggak, di setiap kitab suci ada kok “satanic verse” versi masing-masing. Di Quran sendiri sering kan ayat-ayat tertentu dijadiin rajah atau isim buat disimpen, ya kalo gue bilang sih semacam placebo untuk ilmu kebal atau tolak bala. Gue tau karena dulu pas SD rumah gue di LA (Lenteng Agung, tempat orang-orang Betawi dan kebun durian masih buwanyak banget) dan gue sempet belajar silat Betawi. Kelas 5 tuh. Ya gue dikasih juga, gelang kuningan yang biasa gue pake karena ada ID gue “diisi” doa-doa. Ya gitu deh. 

Nggak berasa ada manfaatnya juga sih, wong lebih sering ID di gelang itu yang nyelametin kalo gue kepisah pas ikut nyokap ke swalayan. Tinggal ke bagian information, bilang sama mbak/mas petugasnya, “Ibu saya ilang, ini nama saya (sambil ngasih gelang kuningan gue itu) bisa dihalo-halo nggak?” terus si petugasnya halo-halo deh. Terus nyokap gue dateng. Haha!

Oke. Barusan OOT, cuma pengen curhat. Maksud gue  gini:

Salman Rushdie itu karya-karyanya indah. Dia dekat sekali dengan budaya dan Bahasa India sekaligus Inggris. Itu dua budaya tua yang masih ada sampai sekarang. Ya sama lah seperti tetua-tetua kita dulu dekat dengan budaya dan bahasa Belanda dan Indonesia lokal. Amat sayang sekali kalo kita nggak mau baca dan nggak kenal keindahannya hanya karena fatwa kampret yang ayatollah-nya juga udah almarhum sejak kapan tau. Open your mind, broaden your view. Kalo nggak mau baca dan nggak mau cari tau, ntar kayak FP lu… Jangan mau. FPI juga superkampret.  
   
Apa yang dibutuhkan agar menjadi penerjemah yang baik?

Sama seperti mempelajari hal apapun: banyak latihan dan rajin-rajin baca. Di kasus penerjemahan, sering-sering lah nonton film pop. Biar tau ragam bahasa lisan itu seperti apa. 

Pertanyaan klasik: bisa gak sih menghidupi diri dari penerjemahan?

Bisa bangeeet! Asal punya banyak koneksi. Makanya jangan males nongkrong bareng orang agency. Hihi. Dulu selepas dari PR agency, gue sempet nongkrong di advertising agency yang sering dapet orderan bikin company profile dan annual report, ada yang emang translate dan ada yang nulis ke Bahasa Inggris (copywriting). Satu project diratain tiga setengah juta. Lumayan lah, kalo satu quarter (4 bulan) dapet sampe 4 project udah bisa foya-foya tuh!

Apa menariknya dunia penerjemahan?

Ini subjektif banget. Menarik karena gue suka. Baru beberapa jam yang lalu temen gue ngusulin supaya gue kencengin aja di copywriting. Kerjaan translate bisa gw limpahin ke orang lain. Gue nggak mau. Urusan terjemahan, gue perfeksionis, karena even my perfectionist sense isn’t good enough. Iya, gue sadar terjemahan gue nggak bagus-bagus banget. Masih suka ngambang nggak jelas ke mana. Waktu gue jawab gue lebih milih nerjemahin daripada copywriting karena gue suka, komentarnya: kalo “suka” itu lebih dekat ke “bahagia” ya daripada “kaya”. Gue ngakak jaya, karena itu bener banget! 

Kalo alasan kerennya sih, nerjemahin itu seperti ngasih lampu di jalanan gelap. Orang yang nggak ngerti bisa jadi ngerti karena kita yang ngejembatanin itu. Buat gue kalo ada yang baca terjemahan gue dan ngerti atau bahkan sampe suka, itu udah semacam multiple braingasm nggak berenti seumur idup! Ampe pegel dah nggak papa gue terima! Haha!  

Apa yang tidak enak dari dunia penerjemahan?

Orang yang nggak menganggap kerja nerjemahin itu bukan profesi dan bisa dikerjain sambil merem. Semua berawal dari translating tools semacam Google Translate. Sebenernya itu ngebantu gue banget buat garap kerjaan. Tapi gara-gara itu juga orang sering bilang “yah elah, rate lu mahal amat. Kan hari gini udah ada Google Translate!” 

Nyeeet! Kalo entri Bahasa Indonesia lu rapi dan sesuai sama “otak robot”nya Google mah elu bisa langsung ngerti hasil terjemahannya. Tapi kalo lu ngentri kalimat pasif aja, subject dan object-nya suka ketuker-tuker. Artinya bisa jauuuh banget, kayak Jakarta-Jember keabisan ongkos nggak bisa pulang. 

Oh, satu lagi yang nyebelin: waktu nemu sesama penerjemah dan dia merasa lebih “dewa” dari kita. Ya gue bukan “dewa” juga sih, dan mungkin ini juga subjektif. Beberapa kali gue pernah ketemu mas penerjemah yang katanya udah pernah nerbitin terjemahannya. Dia tertarik kerja bareng gue. Gue tes, translate kata pengantar Awareness-nya Mello. 

Hasilnya? Man… kayak hasil terjemahan jurnal ilmiah. Maksud gue, itu kan semacam prosa. Hambok yang diterjemahin tuh konteks sekaligus konten, jangan cuma kalimatnya aja. Pake rasa. Pada nggak terima gue kritik gitu. Ya nggak tau sih, mungkin cara penyampaian gue dianggap belagu. Yo wes to. Kalo ngadepin gue begitu aja mereka cupu, gimana gue nyinyirin masalah kerjaan besok-besok?!    

Hingga saat ini, teks apa yang paling susah diterjemahkan? 

Ya Satanic Verse itu! Banyak Googling-nya! Haha! Tapi lebih ke Googling konteks sih, karena India banget. Oh, sama waktu itu nerjemahin Arab-Israel for Beginner buat Resist Books. Masih kuliah tuh. Dan nebeng di warnet temen karena nggak punya komputer sendiri. Gue bilang itu teks paling menggerus emosi yang pernah gue garap. Pas bagian tengah, bisa dipastikan tiap satu paragraf gue nangis. Sedih. Kok ya ada orang mau hidup aja susah banget, padahal itu tanah dari nenek moyangnya yang udah ditempatin selama bergenerasi. Dan semua itu cuma karena akal-akalan dan lobi-lobian orang yang sama sekali belom pernah nginjek daerah itu. 

Buat yang pengen belajar menjadi penerjemah, seharusnya mulai dulu dari mana? 

Selama gue masih idup mending nggak usah lah. Sana cari profesi laen! Haha!

Mulai aja dari apa yang lu suka. Kalo misalnya suka film apa gitu, cari subtitle Inggrisnya. Buka pake notepad, timpa aja kerjain di situ. Jangan lupa ganti nama file pas saving-nya. Atau suka cerpen apa, hajar aja. Kalo belajar nerjemahin dari film, lu belajar ngerti bahasa lisan dan percakapan. Sementara kalo lu nerjemahin dari cerpen atau artikel, lu belajar ragam bahasa tulisan. Dua-duanya sama menyenangkannya. Dua-duanya sama-sama bikin lu nyadar sama perbedaan struktur bahasa. Itu bisa bikin otak kita nyusun tesaurus sendiri secara nggak langsung. Jadi, kalo misalnya nemu kata apa gitu, meskipun kita nggak tau artinya tapi kita masih bisa ngeraba maknanya.      

OOT bentar, kenapa jarang mau masang gambar wajah di profile picture facebook dan twitter? Hahaha

Karena tulisan gue lebih “menjual” daripada muka gue! Powas kamoh, powas?! =P

Honor tertinggi yang pernah diterima?

Laporan Human Rights Watch. Dollar rek! Nggak perlu lah gue sebut berapa. Ntar pada minta lagi lu =P

Buat yang pengen baca tulisan-tulisan kak Pito, bisa menuju kemana?

Kalo tulisan bisa ke http://pitopoenya.blogspot.com dan http://bithclit.wordpress.com. Untuk terjemahan Satanic Verse bisa dilihat di http://learnerwithoutborder.wordpress.com/tag/salman-rushdie/. 

Bacanya dari bawah ya. Baru 4 batch, maaf. Tapi blog itu juga blog keroyokan sih. Saya dan beberapa teman iseng-iseng bikin karya terjemahan. 

Silakan dinikmati. Semoga nggak lost in translation banget. Hihi.