Minggu, 18 Desember 2011

Tentang Makanan Sentimentil Itu

Ayah dan Saya.

 Dalam satu dan beberapa hal, saya ternyata orang yang sentimentil.

Beberapa hari lalu saya menuliskan sebuah artikel untuk lomba menulis. Kebetulan, saya mengambil cerita mengenai ayah saya. Sejak saat itu pula saya jadi kangen ayah. Hingga sekarang. Dan seperti tetes hujan di bulan Desember yang rapat dan pekat, kenangan mengenai ayah lantas terus menerus jatuh. Karena saya sedang berada di Yogyakarta, saya jadi mengingat kembali sebuah perjalanan yang kami lakukan berdua beberapa tahun silam. Tepatnya ketika saya masih duduk di kelas 2 SMP.

Saat itu ayah masih menjadi ketua pasar burung Gebang. Selain sibuk mengadakan acara lomba burung berkicau, ayah juga berdagang beberapa perlengkapan peternakan burung. Salah satunya sangkar.

Suatu hari ayah mengajak saya untuk kulakan sangkar. Salah satu sentra sangkar burung kualitas terbaik ada di Solo. Saya lupa apa nama daerahnya. Maka berangkatlah kami ke Solo dengan menggunakan kereta api.

Kepingan kenangan itu masih saya ingat hingga sekarang.

Kami naik becak mencari hotel untuk bermalam. Dan si tukang becak bertanya dengan polos pada ayah, "Pak, gak butuh selimut hidup?". Ayah menjawab tidak sambil ketawa kecil. Sedang saya masih belum paham apa itu selimut hidup. Lantas ayah menjelaskan pada saya apa itu selimut hidup. Sesampainya di hotel saya nonton sepak bola. AS Roma sedang bermain, saya lupa siapa musuhnya. Yang saya ingat, salah satu pencetak gol adalah Assuncao. Ia mencetak gol dengan tendangan bebas, spesialisasinya.

Setelah beberapa hari di Solo, kami pergi ke Yogya. Mengunjungi sepupu ayah yang biasa saya panggil Mbak Vivi. Waktu itu rumah mbak Vivi ada di sebuah pabrik es batu. Mbak Vivi juga membuat saya betah dirumahnya, karena beliau punya Playstation. Ayah dan Mamak tidak pernah membelikan video game apapun, karena mereka berdua percaya game itu tidak membawa pengaruh positif. Anak-anak mereka lebih sering disuruh bermain di alam terbuka. Akibatnya sampai sekarang saya dan saudara-saudara saya kurang suka main game. Tapi saat itu, namanya juga anak kecil, saya girang melihat seperangkat alat game.

Selain kenangan-kenangan kecil berharga seperti itu, satu hal lagi yang saya ingat: makanan.

Ketika waktu makan malam tiba, Mbak Vivi dan suaminya mengajak ayah dan saya untuk berwisata kuliner. Rencananya adalah makan sop kaki kambing. Nah, berhubung saya tidak suka kambing,maka mereka mencari alternatif lain. Pilihan jatuh pada burger.

Saat itu saya diajak ke sebuah warung tenda yang menjual berbagai makanan khas Italia, seperti burger atau spaghetti. Saat itu saya melongo. Katrok karena tak pernah lihat burger dijual di pinggir jalan. Di Jember, burger hanya bisa di dapat di warung roti tertentu, bukan di pinggir jalan. Saya girang dan memesan satu buah burger.

Setelah membungkus burger, kami pun melaju ke warung sop kaki kambing. Saat itu ayah masih belum terkena stroke. Masih muda, bugar, sehat. Karena itu beliau enteng-enteng aja ketika menyantap sop kaki kambing. Beliau malah menyayangkan saya yang lebih memilih makanan western ketimbang makanan khas Indonesia. 

Ah ayah, namanya juga selera.
***

Waktu berlalu dengan cepat. Sudah nyaris 11 tahun lalu perjalanan itu dilakukan. Banyak yang sudah berubah. Ayah terkena stroke, lalu meninggal tahun 2011. Saya lulus SMP, SMA, lalu akhirnya lulus kuliah. Mbak Vivi beberapa kali pindah domisili karena ikut pekerjaan suaminya. Dari Yogya ia ke Solo, lalu ke Bekasi, dan sekarang ke Balikpapan. Tapi ia tetap suka makan-makan. Beberapa waktu lalu ia mengiming-imingi saya kuliner khas Balikpapan.

Malam ini entah kenapa, saya tiba-tiba ingin melacak wisata kuliner yang pernah saya lakukan bersama dengan ayah dan Mbak Vivi. Karena saya lupa dimana kami berwisata kuliner, maka saya mengirim SMS pada mbak Vivi. Mencari tahu dimana sop kaki kambing dan burger yang pernah kami makan beberapa tahun silam.

"Itu Sop Kaki Kambing Tiga Saudara. Nang sebelah kiri, ngarep Bethesda, seberange Novotel" ujar Mbak Vivi dengan ingatan yang tajam.


Lalu bagaimana dengan burger? Burger yang saya makan itu kan burger di warung tenda. Sekarang pasti sudah tidak ada. Tergerus persaingan. Apalagi banyak burger franchise khas Yogya macam Mister Burger dan Big Burger yang bertebaran dimana-mana. Ternyata warung burger itu masih ada!

"Iku burger Monalisa, ngarepe BNI UGM, sebelahe Mandiri. Mak Nyus tenan" ujar Mbak Vivi yakin.


Maka saya bergegas mandi, menghilangkan gerah. Lalu menyandang kamera, dan berangkat mencari kuliner sentimentil itu. Kuliner kenangan yang pernah saya santap dengan orang-orang terkasih saya. Saya akan menuliskan mengenai kuliner sentimentil ini pada dua postingan yang terpisah nanti.

Ayah, disana ada Sop Kaki Kambing gak? :)

Apakah Saya Berada di Italia Atau Nanamia Pizzeria?


Kalau sedang berkunjung ke Yogyakarta dan ingin makan pizza khas Italia, silahkan berkunjung ke Nanamia Pizzeria. Restoran pizza ini sudah terkenal seantero Yogya. Pizza-nya tipis, crunchy, berbeda dengan pizza khas Amerika yang "gemuk" dan mengenyangkan. Ciri khas lain pizza Italia adalah dibakar dalam tungku berbahanbakar kayu pohon buah. Sehingga rasanya pun berbeda, ada harum yang khas yang menyeruak samar-samar. Tapi efek samping dari proses memasak tradisional ini adalah kita harus menunggu lebih lama. Terlebih lagi, Nanamia hanya punya satu tungku saja. Tungku ini diletakkan di depan restoran. Penerapan konsep open kitchen ini termasuk jarang di Yogya.

Arsitektur Nanamia yang khas arsitektur Mediterania membuat saya betah berlama-lama di tempat ini. Walau begitu, tempatnya terlalu sempit. Kalau makan berdua saja sih gak papa, tapi agak kurang nyaman kalau makan rame-rame. Untuk menanggapi keluhan itu, beberapa saat lalu pizzeria ini diperluas. Bagus deh.
 
Oh ya, bagaimana menunya? Ada banyak. Mari kita dedah satu-persatu.

Untuk antipasti (makanan pembuka), ada "Pane Aglio" yang merupakan 4 potong roti baguette dengan topping saus bawang putih. Ada juga "Bruschetta" yang merupakan 4 potong roti baguette dengan topping tomat, basil, dan minyak zaitun. Harganya antipasti berkisar antara 10-18 ribu.

Pada pasta, ada "Sphagetti Napoletana" yang merupakan spaghetti dengan campuran tomat, bawang bombay, zaitun hitan, dan juga basil segar. Coba juga "Spaghetti Marinara" yang merupakan spaghetti dengan saus tomat yang bercampur dengan aneka hasil laut. Untuk yang agak pedas, silahkan coba "Penne al Arrabbiata" yang merupakan penne (sejenis pasta berbentuk silinder) yang berpadu dengan saus tomat bercampur bawang bombay, cabai, dan basil segar. Lalu ada pula  "Lasagne Classica" yang merupakan lasagna home-made yang bercampur dengan daging cincang, saus tomat, basil, mozarella, dan juga krim keju. Untuk harga pasta, kisarannya antara 25-29 ribu.

Untuk pizza, ada banyak sekali pilihannya. Mulai "Mexicana" (pizza dengan topping saus tomat, mozarella, cabai jalapeno, bawang bombay, parika, jagung, dan kacang merah), "Quattro Stagioni" (pizza dengan toping saus tomat, mozarella, jamur, paprika, peperono, dan daging cincang) hingga "Nanamia Speciale" (pizza dengan topping saus tomat, mozarella, bawang bombay, nanas, cabai, dan ayam pedas). Semua tersedia dalam ukuran sedang dan besar. Harganya berkisar antara 35-59 ribu.

Untuk dolci (makanan penutup), ada "Gelato Con Cioccolato" (es krim dengan topping lelehan coklat), "Piatto Di Fruta" (seporsi potongan berbagai buah), hingga "Tiramisu". Banderolnya berkisar antara 15-17 ribu.

Siang itu saya ingin memesan "Diavola", pizza dengan rating 3 cabai yang berarti pedas, yakni pizza dengan topping saus tomat, mozarella, daging asap, paprika, cabai, dan juga jalapeno. Sayang, hari itu stok jalapeno di Nanamia sedang kosong. Akhirnya saya mengalihkan pesanan ke "Capriciossa." Pizza ini merupaan pizza dengan topping saus tomat, keju mozarella, jamur, daging asap, dan capers (pucuk bunga dari Capparis Spinosa, tanaman yang sering dijumpai di daerah Mediterania. Rasanya sedikit asam dan pahit. Buahnya kecil berwarna hijau, mirip cersen kalau di Indonesia).

Selain itu, saya memesan "Spaghetti al Tonno Picante", sphagetti saus pedas dengan campuran paprika, bawang bombay, dan juga tuna.

Kami memang menunggu agak lama untuk pesanan kami. Seperti yang saya bilang tadi, itu efek dari proses masak khas Italia yang memasak pizza dengan tungku, bukan oven listrik.

Spaghetti datang dulu. Tanpa banyak babibu, kami bertiga langsung menyantap. Satu porsi dibagi bertiga. Sphagetti licin tandas dalam waktu singkat. Walaupun memiliki dua tanda cabai, rasanya tak begitu pedas. Rasanya? Ya standar spaghetti lah :) Sausnya enak, ada campuran rasa pedas dari paprika dan rasa agak manis dari bawang bombay.


Setelah menunggu selama nyaris 30 menit, pizza pesanan akhirnya datang. Ukurannya besar. Tampilannya menggiurkan. Lelehan keju mozarella nyaris menutupi permukaan pizza. Diatas lelehan keju itu bertaburan potongan daging asap. Selain itu beberapa buah capers menyembul dari lelehan keju itu. Dan sama seperti spaghetti, nasib pizza ini tak jauh beda. Ludes dalam waktu singkat dimakan oleh 3 orang barbar yang kelaparan.


Pizzanya sendiri bercita rasa unik. Pinggiran pizzanya crispy. Selain itu buah capers memberikan aksen asam pahit yang unik, mengimbangi rasa asin dari keju dan gurih dari daging asap.

Oh ya, pizza ini memang harusnya dimakan pakai tangan. Di Italia, orang memakan pizza dengan tangan, bukan dengan pisau dan garpu. Dan finger licking seusai makan itu memang nikmat tiada tara :)


p.s Selain Nanamia, ada lagi sebuah pizzeria di daerah Gejayan. Namanya Mondo. Saya juga pernah mencobanya beberapa waktu lalu. Nanti akan saya tulis reviewnya.