Jumat, 23 Januari 2015

Pelindung Datuk-Datuk Terakhir



"Namanya Mul," kata Rahmad Wahyudi memulai ceritanya.

Berdasarkan cerita masyarakat di sekitar Taman Nasional Bukit Tiga Puluh, Mul berasal dari Palembang. Kerjanya masuk dan keluar hutan mencari burung langka. Terutama Murai. Sekali masuk, ia bisa berminggu-minggu tinggal dalam hutan. Kalau perbekalan habis, atau butuh sesuatu, Mul akan turun di desa terdekat untuk belanja.

Menurut Rahmad, Mul dikenal sebagai pemburu Murai hutan. Tiap ekor yang ditangkap, Mul mendapat Rp 1 juta. Biasanya, saat keluar hutan, Mul membawa hingga 10 ekor murai hutan. Dulu, banyak penangkap murai tak mau menangkap murai betina. Alasannya: murai betina akan bertelur dan menghasilkan murai baru. Sekarang, karena semakin banyaknya permintaan, murai betina pun turut ditangkap.

"Gara-gara itu, sekarang tiap saya masuk hutan, sudah jarang ada suara Murai. Dulu kan nyaring banget," kata Rahmad gemas.

Suatu hari, Rahmad mendapat laporan dari warga sebuah desa. Mul sedang singgah di desanya. Rahmad pun buru-buru pergi ke desa yang dimaksud. " Tapi pas saya sampai, dia sudah hilang," kata Rahmad yang merupakan pimpinan Yayasan Penyelamatan dan Konservasi Harimau Sumatera (PKHS).

Mul menghilang dengan cepat. Namun Mul selalu meninggalkan jejak yang macam ejekan kepada para awak PKHS maupun polisi hutan: coretan namanya di pohon. Mul sudah lama dianggap sebagai residivis rimba.

Kelicinan Mul dan hilangnya berbagai satwa di Taman Nasional Bukit Tiga Puluh hanya beberapa cerita saja yang dialami oleh para anggota PKHS. Ia adalah lembaga nirlaba yang berfokus pada perlindungan dan konservasi harimau Sumatera. Lembaga ini resmi dibentuk pada tahun 2007. Sebenarnya lembaga ini adalah terusan dari lembaga Sumateran Tiger Project yang lantas berubah nama.

Penyandang dananya adalah Sumateran Tiger Trust yang bermarkas di Inggris. Namun sejak tahun 2012, PKHS mendapat hibah dari Tropical Forest Conservation Action Sumatera (TFCA Sumatera). Ini adalah skema pengalihan hutang untuk lingkungan antara Pemerintah Amerika Serikat dan Indonesia. Hibah ini adalah mekanisme untuk mengurangi hutang luar negeri bagi negara-negara yang punya kekayaan hutan tropis, termasuk Indonesia. PKHS dianggap sebagai salah satu lembaga yang secara konsisten melakukan restorasi dan perlindungan spesies.

Sejak mendapat tambahan dana hibah dari TFCA Sumatera, PKHS pun berlari semakin kencang. Salah satu kegiatan rutin mereka adalah pemantauan harimau sumatera dalam jangka panjang. Cara yang selama ini dipakai adalah memasang camera trap, alias kamera jebakan, di pohon untuk memantau harimau Sumatera. Kamera ini tersebar di berbagai titik.

Memasang kamera ini bukan pekerjaan mudah. Para awak PKHS harus mengetahui lebih dulu jalur yang dilewati oleh harimau.

"Tahunya ya dari tanda sekunder. Mulai jejak kaki, sampai kotoran. Lalu menentukan kordinat. Dari sana kita bisa memperkirakan jalur yang dilewati harimau," kata Rahmad.

Setelah kamera dipasang, bukan berarti masalah selesai. Kamera yang dipasang oleh PKHS adalah kamera dengan tingkat sensitivitas gerak yang tinggi. Bahkan daun yang bergerak kena angin pun bisa otomatis terekam. Karena dianggap benda aneh, banyak orang lokal yang memandangi kamera ini lama-lama.

"Mereka merokok di depan kamera. Seharian. Dan itu kamera terus merekam," kata Rachmad sembari terbahak.

"Yang paling lucu ya anak-anak dari Talang Mamak atau Anak Dalam. Mereka joget-joget di depan kamera. Tapi mereka gak pernah merusak kamera. Mereka hanya penasaran. Yang berusaha merusak itu biasanya pemburu ilegal."

Masalah klise lain adalah beratnya medan yang harus dilalui. Punggungan buki di Taman Nasional Bukit Tigapuluh memang kejam luar biasa. Ada yang menanjak nyaris 90 derajat. Lalu turun dengan tajam. Medan berat seperti ini rawan bikin rontok fisik maupun mental.

Burhan Lahai adalah salah satu awak PKHS yang pernah jalan dengan 'empat kaki'. Alias merangkak, saking tak kuat menahan lelah.

"Dulu pas awal tes, saya sangat percaya diri," kata Burhan.

Lelaki berusia 24 tahun ini memang atletis. Maklum, pemain futsal antar kecamatan. Betisnya keras dan penuh otot. Fisiknya jelas bisa diandalkan. Apalagi waktu tes fisik untuk masuk PKHS, Burhan berhasil lolos dengan gemilang. Rasa percaya diri itu bertahan. Hingga akhirnya tiba misi pertama Burhan melakukan pemeriksaan kamera.

"Aduuuh, ampun mak. Gak mau lagi mak," kata Burhan menirukan erangannya waktu pertama kali naik bukit.

"Rasanya mau berhenti langsung waktu itu."

Tapi akhirnya Burhan bisa bertahan. Sekarang mantan supir truk pengangkut sawit ini sudah terbiasa dengan medan yang kejam. Ibaratnya, jalan dua-tiga bukit belum membuatnya berkeringat.

Selain memasang, pemeriksaan kamera juga merupakan kegiatan rutin awak PKHS. Dalam pemeriksaan itu, mereka mengganti memori kamera, hingga mengecek pelindung kamera yang terbuat dari besi. 



Sekali tim PKHS masuk hutan, mereka bisa bertahan seminggu, atau lebih. Mereka membawa perbekalan sendiri. Memasak sendiri. Digigit lintah sudah biasa.

Yang membuat mereka tersiksa adalah kehabisan air. Kalau masa sulit itu datang dan sungai tak kunjung ditemukan, mereka memotong akar pohon yang mengandung air. Kalau lebih apes tak dapat akar pohon, mereka terpaksa minum air dari kubangan.

"Air itu sebenarnya bersih di permukaannya. Makanya harus pelan-pelan ngambilnya. Kalau buru-buru, wah lumpurnya kecampur sama air," kata Burhan.

Yang paling ditunggu oleh tim patroli ini adalah penghujung hari. Waktunya mereka beristirahat. Memasak, makan, lalu tidur. Tempat tidur mereka beralas tanah dan beratap terpal. Mereka memang membuat tenda sederhana berbahan terpal. Tenda ini terbuka. Kalau kena hujan air bisa tempias.

"Yang paling gak enak ya kalau hujan ditambah angin. Enak-enak tidur, hujan. Eh dikasih angin kencang. Bubar semua," kata Burhan cengar-cengir.

***

Harimau menempati posisi paling atas dalam rantai makanan di hutan. Juga, menempati posisi terhormat dalam kultur masyarakat Melayu. Suku Talang Mamak, suku asli yang masih banyak mendiami Taman Nasional Bukit Tigapuluh, menyebut harimau dengan sebutan Datuk (kakek). Mereka bahkan mengajari anak-anak dan cucu mereka: tak boleh menyebut kata "harimau". Harus "datuk".

"Kami percaya kalau harimau itu tak akan mengganggu kalau tidak diganggu," kata Ahmadsyah, Kepala Dusun Sadan.

Dusun Sadan bisa dibilang dusun terpencil. Masih dikelilingi hutan hujan yang lebat, habitat utama harimau Sumatera. Dusun ini punya 6 sub-dusun yang semuanya dipimpin oleh Ahmadsyah. Di Sadan, mayoritas penghuninya adalah suku Talang Mamak. Sisanya adalah suku Melayu Tua.

Menuju ke Sadan memerlukan usaha yang berat. Kalau dari Pekanbaru, masih harus naik kendaraan darat ke kelurahan Pematang Reba selama 5 jam. Dari sana, perjalanan berlanjut dengan kendaraan berpenggerak 4 roda (4WD) menuju desa Tolangsat. Dari sana, masih harus naik perahu kayu selama 5 jam.



"Tapi kalau orang sini ya jalan kaki mas," kata Ahmadsyah sembari tersenyum.

Jalan kaki dari Tolangsat menuju Sadan memang lebih cepat. Hanya sekitar 2 jam saja. Tapi medannya, alamak. Bisa bikin betis bengkak. Ahmadsyah sudah terbiasa jalan kaki melintasi bukit sejak kecil. Otot kakinya liat. Betisnya kekar. Jalan Ahmadsyah pun cepat dan lincah.

Karena itu, penduduk yang ia pimpin memanggilnya dengan nama Pak Kijang. Tapi Ahmadsyah buru-buru menambahkan, 2 jam itu waktu yang ditempuh oleh penduduk lokal.

"Kalau bukan orang sini, ya bisa seharian dan nginap di jalan," kata pria berkepala empat ini sembari tertawa iseng.

Suatu malam, saat sedang masuk hutan, Ahmadsyah pernah berpapasan dengan harimau dewasa. Ukurannya besar. Mata sang datuk nyalang. Namun Ahmadsyah berusaha tak gentar. Ia hanya membalikkan badan dan berjalan kembali ke arah desa. Saat menengok ke belakang, harimaunya sudah hilang.

"Ya itu tadi, asal kita gak ganggu, ya gak akan diganggu sama Datuk," kata Ahmadsyah.

Tapi pernah, satu dua kali dalam jangka waktu yang lama, harimau memangsa manusia. Itu pun, masyarakat tak mau menyalahkan harimau. Manusia yang dianggap bersalah karena memasuki habitat harimau. Atau dianggap punya dosa besar.

Ahmadsyah menceritakan soal pedagang kemenyan yang menipu penduduk desa. Pulangnya, pedagang menyan itu dimakan harimau. Atau juga kisah tentang remaja perempuan yang dimangsa harimau. Usut punya usut, selain ia melanggar aturan jam mencari kayu --yang artinya harimau sedang turun dari hutan untuk mencari mangsa--, ayah anak itu ternyata poligami sedarah, yakni mengawini dua orang perempuan sedarah. Ini adalah aib bagi masyarakat lokal.

Suatu hari di dekat dusun Sadan, ada seorang yang dimangsa harimau lalu diseret menuju bagian dalam hutan. Para penduduk desa yang berjumlah sekitar 50 orang bermaksud mengevakuasi jenasah korban. Evakuasi ini harus menempuh jarak yang normalnya ditempuh selama 8 jam. Tapi kali ini hanya ditempuh dalam 2 jam saja!

"Soalnya pada lari semua, gak ada yang mau di belakang," kata Ahmadsyah sembari tertawa lantang.

***

Suku Talang Mamak dan Melayu Tua memegang teguh prinsip bahwa harimau adalah datuk, dan hutan adalah rumah mereka bersama. Tak seharusnya saling mengganggu. Andai keyakinan serupa juga dipegang oleh para perambah hutan, pasti habitat harimau tak akan menghilang.

Saat ini laju deforestasi Indonesia semakin kencang. Berdasarkan riset dari Universitas Maryland, laju deforestasi di Indonesia merupakan yang tertinggi di dunia. Antara tahun 2000 hingga 2012, Indonesia sudah kehilangan hampir 16 juta hektar hutan. 

Di Sumatera, rusaknya hutan turut andil dalam mengurangi populasi Harimau Sumatera. Berdasarkan data yang dirilis oleh Center for International Forestry Research, populasi Harimau Sumatera turun drastis. Dari awalnya 500 ekor pada 1997, jadi 400 ekor saja pada 2007.

"Kebanyakan harimau Sumatera ada di Aceh, Riau, Jambi, dan Lampung," kata Rahmad.

Menurut penuturannya, di Taman Nasional Bukit Tigapuluh sendiri, diperkirakan ada sekitar 54 ekor harimau Sumatera yang tersisa.  Tiga ekor diantaranya masih anak-anak.

Hilangnya hutan ini membuat banyak binatang turun ke pemukiman warga untuk mencari makan. Hewan-hewan itu lantas dianggap hama. Seperti nangui, sebutan penduduk lokal untuk babi hutan berjanggut yang biasanya hidup berkelompok. Dulu, dimana ada koloni nangui, bisa dipastikan ada harimau di sekitarnya. Sekarang nangui dan spesies babi hutan lain sudah semakin sedikit karena ditumpas oleh manusia. Padahal babi hutan adalah mangsa utama harimau Sumatera.

"Di beberapa tempat yang sudah dirambah, harimau sudah kehilangan makanan. Harimau di daerah itu kurus- kurus. Saya sedih kalau melihat mereka," kata Rahmad.

Saat ini, berdasarkan pantauan dari camera trap, ada sekitar 8 ekor harimau yang menempati hutan sekunder. Alias hutan yang dekat dengan hunian manusia.

"Ini artinya, habitat mereka rusak. Sampai harus mencari makan di sekitar tempat tinggal manusia," kata Rahmad.

Karena itu, visi utama PKHS adalah konservasi harimau dengan melindungi habitat harimau. "Ya kalau melindungi suatu spesies, ya harus lindungi juga habitatnya. Wajib itu," kata Rahmad.

Menurut Rahmad, masyarakat dari suku lokal, seperti Talang Mamak atau Melayu Tua tak pernah merusak hutan. "Mereka punya tanah ulayat yang masih sangat luas."

Masyarakat adat ini sebenarnya sudah sadar konservasi sejak dulu tanpa perlu diberi penyuluhan. Menurut Rahmad, hanya para pendatang yang suka merambah hutan untuk membuat hunian atau menebang pohon secara ilegal. Dan sedikit merepotkan berbicara soal konservasi dengan para pendatang itu. Mereka biasanya tak perduli dengan konservasi.

Masalah semakin bertambah kala tak ada tapal batas yang jelas. Mana daerah konservasi, mana daerah desa. Padahal tapal batas ini sangat penting agar tak terjadi lagi konflik antara penduduk di sekitar taman nasional dengan orang balai Taman Nasional Bukit Tigapuluh.

"Ini mungkin karena taman nasional ini masih muda. Butuh bantuan. Karena itu kami jadi mitra mereka," kata Rahmad.

Selama PKHS berdiri, usaha konservasi ini termasuk lumayan berhasil. Mereka tak sekedar melindungi harimau dan habitatnya saja. Tapi terus menerus memberikan penyuluhan kepada penduduk di sekitar Taman Nasional mengenai pentingnya konservasi dan melindungi alam. PKHS juga berkali-kali melakukan penanganan konflik antar manusia dan harimau Sumatera. Tapi tentu usaha itu belum cukup.

"Konservasi harimau Sumatera sudah lumayan berhasil. Walau sebenarnya tak signifikan jika dibandingkan dengan laju perambahan," kata Rahmad gamang. []

4 komentar:

  1. tumben ini ngobrol ttg konservasi, peneliti darik maryland ttg deforestasi itu mbak2 ahli GIS yg orang Indonesia itu bukan ya ? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan mas. Aku lali sopo jenenge. Tapi bukan orang Indonesia kayaknya :D

      Hapus
  2. Wih obrolane seru ki, dulu neng daerah transmigrasi SPD pemenang jeh akeh datuk, bahkan pernah ketemu datuk di pinggir Kali pas lagi nyari kayu bakar. Emang sih waktu itu dah hampir magrib.

    http://lostpacker.com/waktu-itu/

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaah, menegangkan tenan kuwi mas :| :| :|

      Hapus