Minggu, 17 Maret 2013

Republik Primata: Boleh Indie Tur Jo Lali Ngaji!


Saya pertama kali bertemu Fakhri Zakaria di Surabaya beberapa tahun silam. Kala itu ia sedang menulis sebuah laporan panjang tentang Lokananta untuk majalah Rolling Stone Indonesia. Itu kali pertama saya bertemu dengannya. Dulu hanya bisa bertukar kata melalui tulisan di blog atau percakapan di ruang maya. Ia adalah orang yang visioner. Merasa gagal jadi anak band, maka ia membentuk sebuah label rekaman: Republik Primata. Tanpa dinyana, label itu jadi label yang cult. Hits seperti "Skripsi Setan Sekali," "Honda Jess," atau yang terbaru "Lagu Opak" membuat label ini menjulang di antara banyaknya label rekaman baru yang bermunculan.

Hebatnya, label ini dijalankan oleh Jaki --panggilan akrab Fakhri-- di sela waktu senggangnya (baca: selo). Bayangkan kalau Jaki mengambil penanganan yang serius. Bukan tak mungkin Republik Primata bisa go international. Di sela hujan yang turun di Bogor dan gerimis di Yogyakarta, saya mewawancarai Jaki via chat. Ini hasil obrolannya:

***

Kiri- Kanan: Awe Mayer - Fakhri Zakaria

Kenapa memutuskan membuat label rekaman?

Soale luwih gampang timbangane gawe skripsi Ran (karena lebih gampang ketimbang membuat skripsi).

Jamput. Siapa artis pertama yang direkrut oleh labelmu?

Bandku sendiri, The Oncils. Setelah itu Irham Moses duet dengan pacarnya. Kemudian Awe Mayer. Yang paling sukses ya Awe.

The Oncils ini aliran musiknya apa toh? Siapa aja personilnya? Terus apa sudah ada single?

The Oncils ini rock Freudian. Jauh sebelum ada post rock, aku sudah bikin rock aliran alam bawah sadar. Jadi tidak sekedar lihat sepatu (shoegaze), tapi lihat alam bawah sadar juga. Jangan pernah tanya lagu ke The Oncils, karena kami sebar rilis pers dulu baru bikin lagu. Buat lagu itu gampang. Si Irham itu pintar bikin lagu, karena cuma dia satu-satunya personil yang bisa main musik. Masalahnya, kami ini bukan band setoran. Jadi kalo lagi selo baru bikin lagu. Namun sekarang belum selo.

Jadi selonya kapan?

Nanti kalau Harmoko sudah jadi presiden, sudah pasti itu.

Di tengah percakapan, muncullah salah satu artis andalan Republik Primata, Awe Mayer. Awe sedang merajuk pada saya. Karena saya sebar foto skandal dia dengan salah satu gadis incarannya. Itulah resiko jadi artis terkenal.

Hai Awe

Awe: Ngising

Menurut mas Awe, bagaimana pendapatnya tentang Republik Primata?

Awe: Aku rasa Republik Primata bagai telaga di tengah kekeringan musisi berkualitas nasional. Aku percaya label ini menjawab kebutuhan seni kontemporer Habermas pasca booming Dadaisme di dekade 20-an. Kita butuh sebuah gerakan mobilisasi musisi. Republik primata dengan penyewaan elf dan pick up bisa memobilisasi masa.

Jaki: Bagus We, omong sing apik-apik We.

Apakah Mas Awe bahagia di Republik Primata?

Awe: Saya gak bahagia sih. Gajinya kurang.

Jaki: Tolong bagian gaji off the record ya mas.

Dulu kenapa Dwik yang dipilih jadi duet menemani mas Awe Mayer dalam single "Skripsi Setan Sekali?"

Awe: Niat saya Dwik itu jadi artis tamu dua tahunan gitu mas, musisi Bienalle gitu. Tiap dua tahun sekali muncul.

Jaki: Dwik sebenarnya dadakan duetnya.

Tapi anda puas dengan hasil duet itu?

Jaki: Sebetulnya enggak. Tapi pasar justru senang karena katanya Dwik lebih seram dari demit di Dunia Lain.

Awe: Iya benar, pendengar kita sih gak senang. Tapi kritikus seni rupa senang, katanya itu hasil seni instalasi yang bagus.

Hoo, begitu ya. Oh ya, kalau dilihat dari segi musikalitas dan videografis, tampaknya artis-artis Republik Primata ini menganut falsafah Lo-fi ya? Apa ada hubungannya dengan gerakan alternatif di scene indie rock Amerika circa 90-an

Jaki: Iya lo-fi. Lo fikir aja sendiri. 

Matamu cuk.

Jaki: Kita bebaskan pemirsa berpendapat karena ini bagian dari pengamalan UUD 45 pasal 28. Kalo soal scene 90-an itu, saya memang terpengaruh sekali dengan Bondan Prakoso, si Lumba-lumba.

Republik Primata kenapa jarang terdengar kabarnya belakangan ini? Vakum atau mau memang bubar?

Awe: Kita ini kan label rekaman dan band biennale. Tapi bienalle-nya beda. Jadi pake hitungan neraka. 1 hari di neraka kan tahun di dunia. Jadi biar pendengar juga tetep ingat neraka. Kami gak mau biasa-biasa aja.

Wow, cult sekali ya.

Awe: Iya. Tagline band kita adalah "Boleh Indie Tur Ojo Lali Ngaji. (Boleh Indie Asal Jangan Lupa Ngaji)" Buat kami, ngeband itu sampingan, zakat dan sedekah itu yang utama. Konsep kami itu tiap manggung hanya ambil 2,5 persennya saja. Sisanya kami sumbangkan untuk orang tua kami. Sedekahnya jelas.

Emang pernah dapat honor?

Awe: Kami gak mau kalo gratis mas. Jangan main-main dengan seni lho. Mosok band bienalle gratisan.

Jaki: Kalau honor manggung sih gak enak buat disebutin mas, kasihan band-band yang seret job.

Terus sekarang siapa saja artis dari Republik Primata ini?

Awe: Terakhir sih Darto Helm mau gabung. Sayang helmnya KYT, kita pinginnya INK helmnya, jadi ya kita tolak

Wah sayang sekali, padahal KYT kan juga SNI mas bro?

Awe: Karena KYT itu belum ada sertifikasi indienya mas makanya kita ndak mau. Eh sik, aku tuku nasi goreng sek go ibuku cuk. (Eh bentar cuk, aku mau beli nasi goreng dulu buat ibuku).

Setelah itu percakapan terhenti sejenak. Awe Mayer sang superstar yang sayang ibu, minta ijin beli nasi goreng buat makan malam ibunya. Jaki entah kemana. Saya mengajukan pertanyaan lagi, tapi dibalasnya agak lama.

Jaki selaku founding father RP, apakah terganggu dengan pernikahannya? Ini kemana ya mas Jaki kok lama balesnya?

Oh maaf,  barusan ditilpun Log Zhlebour. Kalo soal nikah sih saya gak terganggu. Bisnis is bisnis love is cinta 

Dari semua artis Republik Primata, siapa yang punya paling banyak grupis?

Kita anti grupis mas, lebih baik disalurkan ke kegiatan yang lebih positif di dharma wanita Republik Primata

Oh ada dharma wanita ya? Bagaimana dengan yang jomblo macam Awe atau Dwik?

Kalo itu kita serahkan ke dinas sosial untuk dibina. Jomblo kan soal jodoh, itu domain Yang Kuasa bukan domain kita

Falsafah artis republik primata ini apa sih? Sex, drugs, rock n roll?

Iman, Ilmu, Amal

Hooo, lalu siapakah yang paling beriman diantara kalian?

Ada, kru gitar, namanya Iman Solihin. Sudah beriman, soleh lagi

Iya ya, sangar tenan. Terus rencana ke depan apa mas?

Memasyarakatkan selo dan menselokan masyarakat

Kalo soal rilisan label? Kan sudah 2 tahun sejak Awe sama Dwik duet, apa ada duet lagi selanjutnya?

Awe: Ada mas (tiba-tiba nongol dan menjawab pertanyaan).

Wah sudah datang dari beli nasi goreng ya? Dimana kalo beli nasi goreng mas Awe?

Awe: Di Kemang mas. Agak susah kalau gak makan di Kemang. Repot, sudah kaya sejak lahir. Oh ya, ngomong-ngomong soal duet tadi, duet itu urusan hati mas. Jadi proyek sekarang saya mau nyari cewek mas, biar bisa kaya Endah N Rhesa mas.

Hoooo, mantap. Saya bantu aminin.

Mungkin nanti saya bisa megang bedug sementara dia yang adzan

Dia ini siapa mas?

Dia ini ya lagi saya buka sayembaranya mas. Yang bisa hapal bilangan prima dari 0-250 dia berhak jadi si dia

Jaki: bentar ya mas istriku njaluk kelon. Sori banget

Founder label dan artisnya sama-sama gila! Wawancara ini saya sudahi sampai disini!

Awe: Mas, saya punya satu permintaan.

Apa?

Awe: Tulung wawancara ini jangan dikirim ke Pitchfork ya mas. []

7 komentar:

  1. Kalimat penutupnya nya epic sekali :D

    BalasHapus
  2. opo tho iki... jasik ngakak cuk...

    BalasHapus
  3. hahahaha, wawancara yang absurd

    BalasHapus
  4. pertama kali ketemu jaki, waktu kita dijemput di gubeng bukan? hahahah :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Meng, itu pas kita dari Jember itu :D

      Hapus