Minggu, 23 Desember 2012

Seperempat Abad Menunggu Guns N Roses (1)


Pre-scriptum: Tulisan GNR ini sudah dimuat di situs Jakartabeat kemarin. Tapi ternyata setelah dimuat, salah seorang narasumber berkeberatan namanya saya tulis, pun kisahnya untuk saya muat. Agar tak jadi aral di kemudian hari, sekaligus karena saya tak ingin hubungan personal dengan dia jadi terganggu, maka saya meminta staff redaksi Jakartabeat untuk menghapusnya. Sebagai gantinya, saya muat berseri di Foi Fun, tapi dengan nama narasumber disamarkan. Selamat membaca.

***

September 2012. Wendi Putranto mendapat kabar mengejutkan dari seorang kawannya yang merupakan seorang promotor musik. Kabar itu mengenai rencana kedatangan Guns N Roses (selanjutnya ditulis GNR) ke Indonesia. Wendi adalah Executive Editor di Rolling Stone Indonesia. Ia sudah sejak lama dikenal sebagai seorang metalhead yang tangguh. Pria berkacamata ini juga dikenal sebagai pendiri zine pertama di Indonesia, Brainwashed. Sebagai seorang petinggi di majalah musik waralaba terbesar dunia, Wenz –sapaan akrab Wendi-- memang sering mendapat kabar-kabar terbaru tentang dunia musik. Bahkan kabar yang termasuk rahasia.

"Waktu itu GNR masih belum confirmed jadi, masih rahasia" ujar Wenz.

Sang kawan menanyakan pendapat Wenz tentang tanggal konser yang sedianya akan bentrok dengan konser Sting, tanggal 15 Desember 2012. Wenz meneguhkan sang kawan. "Sikat!" tegasnya.

Wenz memang bersemangat ketika menyambut kabar baik ini. Konser GNR adalah salah satu konser yang ia tunggu sejak lama, sudah sejak 24 tahun lalu. Bagi Wenz, album Appetite for Destruction (1987) yang pertama kali ia dengar pada tahun 1988, benar-benar mengubah hidupnya. Album itu ibarat pintu gerbang yang lantas membuka wawasan Wenz ke mayapada musik rock yang lebih luas. GNR juga membawa banyak kenangan tentang masa remaja Wenz. Ketika masih duduk di kelas 2 SMP, Wenz sering melakukan air guitar dan headbang dengan sapu ijuk sembari mendengarkan lagu-lagu dari album Appetite for Destruction dalam volume maksimal. 

Sejak kerusuhan konser Metallica pada tahun 1993, konser band cadas di Indonesia dapat dihitung dengan jari. Hanya di tahun-tahun belakangan ini beberapa band rock luar negeri mau mengadakan konser di Indonesia. Animo penonton Indonesia pun ternyata luar biasa. Bisa jadi itu yang mendorong Indika Production mau mendatangkan GNR, band hard rock terbesar dunia sejak era 80-an, ke Indonesia.

Indika jelas melakukan perjudian disini. GNR nyaris tidak terlampau akrab dengan mayoritas generasi muda Indonesia yang mungkin lebih familiar dengan artis-artis K-Pop hingga bintang rock masa kini seperti Avenged Sevenfold atau Mastodon. Tapi pangsa penonton GNR juga sangat besar. Mengingat para penggemar mereka yang dulu adalah remaja sekarang sudah jadi kalangan thirty something yang sudah mapan, dan rela mengeluarkan banyak uang untuk menonton GNR. Selain itu, formasi GNR mutakhir yang sudah tidak menyertakan personel lama (Slash, Izzy, Duff, Steven) dan digantikan nama-nama baru, membuat banyak penggemar GNR bertanya-tanya: masihkan GNR bertaji, berbahaya dan layak ditonton?

"Setiap konser artis internasional apapun itu sebenarnya promotor berjudi, karena konser penuh dan ramai itu tidak pasti, tidak ada yang bisa menjamin sebuah konser bakal penuh dan laris tiketnya walau artisnya sangat populer. Pertimbangannya banyak hal, salah satunya faktor promosi. Kasusnya dengan GNR, ini adalah band rock yang sangat dikenal luas lagu-lagunya di Tanah Air, tak hanya di kalangan orang tua tapi juga anak-anak muda jaman sekarang. Ini karena lagu-lagu mereka masih sangat sering dimainkan di berbagai stasiun radio, seperti ‘Sweet Child O Mine,’ ‘November Rain,’ ‘Dont Cry,’ ‘Patience.’ Nama besar GNR (walau hanya tinggal Axl) dan berbagai cerita kontroversial tentang band ini membuat ribuan orang jadi penasaran untuk menyaksikan konsernya, disini lah hype kemudian terbentuk" terang Wenz panjang lebar.

Dan ketika GNR sudah dipastikan jadi menyambangi Indonesia, orang yang pertama kali diberitahu oleh Wenz tentang kedatangan GNR adalah Mister. "Kalau Guns N Roses jadi konser di Indonesia, pasti Mister orang pertama yang gue kasih tau" seloroh Wenz suatu ketika. 

***

Namanya Mister Brownstone (nama samaran). Tapi para karib memanggilnya dengan sebutan Mister. Sama seperti banyak remaja yang besar di era 80-an, Mister akrab dengan musik rock. Ia mengenal Metallica ketika masih duduk di bangku SD. Ia ingat, album Metallica yang ia gemari masa itu adalah Master of Puppets (1986). Ketika Metallica menyambangi Indonesia pada tahun 1993, Mister pergi menonton konser itu. Kala itu, ia masih berumur 14 tahun. Tapi sepulang konser ia malah digampar oleh sang kakak.

"Masih kecil udah sok metal lu!" 

Usut punya usut, ternyata Mister mencuri uang sang bapak. Mister kecil memang cerdik. Ia hafal dimana sang bapak yang punya usaha bengkel menaruh uang. Jadi ia mencurinya, lalu dibelikan tiket konser Metallica. Jadilah ia dihardik oleh sang kakak. Meski demikian, sang kakak lah yang mengenalkan Mister pada band yang kelak ia cintai dengan sepenuh hati: GNR.

"Bokap gue punya bengkel nih. Jadi suatu hari abang gue ngasih tau lagu keren, 'Rocket Queen' di mobil yang lagi di bengkel. Belum selesai didengerin, mobil itu diambil sama yang punya. Akhirnya abang gue nyuruh gue minta kaset GNR ke ibu" ujar Mister.

Saat itu tahun 1988. Album Appetite for Destruction baru masuk ke Indonesia. Mister baru berumur 9 tahun, masih duduk di kelas 3 SD.  Ketika album itu dibeli, sang ibunda Mister marah-marah. 

"Ini apa kok ada gambar salib dan tengkorak? Ini anti-christ ya? Musik setan ya?" seloroh Mister menirukan amukan ibunya dulu. Tapi Mister tak acuh. Setelah album debut itu dibeli dan track pertama 'Welcome to the Jungle' diputar, Mister 'meledak'. 

Sejak saat itu ia jatuh cinta kepada band dari Los Angeles tersebut. Ia sering memplesetkan namanya menjadi Axl "Mister" Rose. Atau ada pula sebutan, yang diciptakan oleh kawan-kawannya, Mister N Rombongan. Akhirnya Mister lebih dikenal sebagai Mister Rose. Itu untuk menunjukkan kecintaan terhadap Axl Rose, sang frontman GNR. 

"Itu sebutan dari si Wenz tuh!" kata Mister sambil tergelak.

Di awal bulan Oktober, kabar itu pasti sudah: GNR akan datang ke Indonesia pada bulan Desember. Konser itu akan jadi konser pertama dan satu-satunya Guns N Roses di Asia Tenggara. Wenz menepati janjinya dulu. Mister adalah orang pertama yang ia kabari tentang kedatangan Guns N Roses ke Indonesia.

"Kalo gue bisa ketemu Axl, bisa mati dengan tenang nih. Gue nggak bisa tidur neh ntar, bisa gila kepikiran terus" kata Mister perihal kedatangan GNR ke Indonesia.

***

Mister bisa jadi adalah salah satu aficionado GNR paling fanatik di Indonesia. Ia mengoleksi banyak pernak-pernik GNR. Mulai dari buku, kaos, hingga piringan hitam. Tanpa bermaksud menyombongkan diri, dia menunjukkan pada saya beberapa koleksinya. Salah satunya adalah piringan hitam langka album GNR Lies (1988) keluaran Inggris. Di album itu, tak ada garis hitam sensor yang menutupi dada perempuan telanjang di kover album. 

Selain itu ia juga punya piringan hitam Appetite for Destruction, first pressing, dengan kover asli bikinan Robert Williams. Kover kontroversial itu menunjukkan gambar absurd: robot pemerkosa, perempuan setengah telanjang, dan semacam monster alien berwarna merah yang muncul dari balik pagar. Gambar itu dianggap kasar dan brutal oleh banyak orang. Demi strategi pemasaran, gambar kover itu akhirnya diubah  dengan gambar yang lantas jadi klasik: salib bergambar tengkorak para personil GNR.  

Tapi fanatisme Mister pada GNR tidak hanya berupa barang. Mister juga tak segan mendatangi sang idola. Tahun 2010, mantan gitaris GNR, Slash, konser di Indonesia. Mister mendengar kabar itu. Selain menontonnya, Mister mengejar sang idola hingga ke bandara Juanda, Surabaya. Pertemuannya dengan Slash menjadi sangat sentimentil.

"Dia itu salah satu the most humble rock star in the world, man. Dia bahkan bawa case gitarnya sendiri" kata Mister mengenang pertemuannya dengan Slash. Waktu itu, tak ada penggemar lain yang menyambut Slash. Mister mengenang ia berlari-lari kecil di samping Slash sembari terus teriak "please sign my stuff."

Slash tak menoleh sedikit pun. Berkali-kali Mister memohon, Slash tetap bergeming. Ketika sampai di mobil, tanpa dinyana, Slash berbalik arah menuju Mister setelah menaruh gitar di mobil. Gantian Mister yang tergagap. Ia terdiam. Bahkan lupa menyodorkan buku untuk ditandatangani. Akhirnya Slash mencomot bolpoin dari tangan Mister dan menandatangani buku. Mister tak bisa menahan emosinya: ia menangis.

***

Muka Mister datar. Tapi tak bisa dipungkiri kalau ada aura marah dan kecewa yang tertahan. Sedari pagi ia kalut. Sebabnya ia mendengar kabar kalau konser GNR akan ditunda. Tempat konsernya pun akan pindah. Namun Mister masih yakin kalau konser akan berlangsung sesuai jadwal. Awalnya, konser GNR ditetapkan pada hari Sabtu, 15 Desember 2012 bertempat di Lapangan D Senayan. 

Tapi menjelang sore, Wenz mengirim sms pemberitahuan dari promotor Indika Pro tentang kepastian pembatalan. Konser akan diadakan pada hari Minggu, 16 Desember 2012, bertempat di Mata Elang Internasional Stadium (MEIS), Ancol. Mister bukan satu-satunya penonton konser yang kecewa. 

Ribuan orang lain turut merasakan geram dan kecewa yang sama. Apalagi para penggemar GNR yang datang dari luar Jawa. Ada banyak penonton datang dari Sumatera hingga Kalimantan demi menonton GNR. Konser memang hanya ditunda sehari, tapi efeknya jelas besar. Bayangkan dampaknya bagi para penonton dari luar Jawa yang memesan tiket pulang hari Minggu karena hari Senin mereka sudah harus kembali bekerja. Belum lagi para pejuang rock yang datang ke Jakarta tanpa tempat untuk menginap dan rela istirahat di emperan dan trotoar.

Ada banyak kabar burung yang berhembus mengenai kenapa konser ini ditunda. Ada yang bilang kondisi lapangan yang becek setelah terkena hujan, tidak memenuhi syarat keamanan konser skala internasional. Ada pula yang bilang “upeti” ke pihak keamanan kurang. Juga ada yang bilang kalau GNR takut hujan. Dan, ini yang paling kurang ajar, Axl takut terkena air hujan karena badannya bisa bertambah melar. 

"Tapi tak apa lah, ini mungkin ada hikmahnya. Gue jadi bisa beristirahat. Udah 2 hari ini gue kurang tidur." kata Mister legawa.

Saya menemui Mister di hotel Mulia, sebuah hotel bintang lima yang terletak di lebuh jalan Asia Afrika. Hotel itu juga menjadi tempat menginap personil GNR. Sudah 2 hari Mister menginap di hotel Mulia. Sudah bisa ditebak motivasinya: bertemu dengan para personel GNR.

"Gue udah ketemu sama semua personilnya", ujar Mister tanpa bermaksud sombong sembari memperlihatkan foto-fotonya bersama para personel GNR. Mulai dari Dizzy Reed, satu-satunya personil GNR era album Use Your Illusion (1991) yang masih tersisa; hingga Bumblefoot; DJ Ashba, dan Richard Fortus.

"Hanya Axl yang belum. He is untouchable. Dia gak keluar kamar sama sekali" sambungnya.

Meski sudah seperempat abad berlalu sejak GNR menyandang gelar sebagai The Most Dangerous Band in the World (dan sepertinya sebutan itu sudah tak valid lagi), tapi frontman paling berbahaya masih layak dikalungkan pada Axl Rose. Emosinya yang tak tertebak, juga --mungkin-- kebenciannya pada keramaian dan juga ketenaran, membuat ia sudah absen pada setiap konferensi pers GNR sejak bertahun-tahun lalu. Kalau sedang mengadakan tur, Axl juga jarang keluar dari kamarnya.

"Kalau Axl tanda tangan di buku dan piringan hitam ini, gue janji bakal jadi anak paling baik sedunia" kata Mister penuh harap. (Bersambung)

2 komentar:

  1. Balasan
    1. Hehehe, sayangnya gak bawa kamera mas, dilarang keras bawa kamera :3

      Hapus