Jumat, 21 Desember 2012

GNR, Kiamat, Deadline


Akhirnya. Konser 3 jam itu ditutup dengan megah dan adiluhung. Ada encore hingga dua kali. Yang terakhir adalah yang paling menggetarkan. Lagu "Paradise City" dari album Appetite for Destruction (1987) dimainkan. Semua penonton melompat, bernyanyi, dan berteriak. Yah, ada beberapa yang enggak sih. Lebih sibuk dengan sabak digital dan berkicau via twitter. 

Saya jadi terlihat lebih kurus kan?

Sepulang dari konser, sisa-sisa ingatan melekat dengan kuat. Mulai dari saat mengambil tiket di kantor Rolling Stone Indonesia, bertemu Axl di hotel Mulia, ngebut menuju Ancol naik mobil bareng mas Gucap diiringi lagu-lagu dari album GNR Lies (1988) dan Chinese Democracy (2008), hingga momen sentimentil: meratap seperti orang kesasar di tempat asing dan tak bisa pulang gara-gara akhirnya bisa menonton GNR secara langsung.

Tentu ingatan bisa berkhianat. Karena itu saya menuliskan kepingan ingatan dalam sebuah  tulisan. Jadinya panjang. Kalau saya tidak salah hitung, sekitar 14 halaman. Entah kenapa, susah sekali menuliskan tentang konser ini secara pendek. Jadi maafkan kalau saya bertele-tele. Oh ya, untuk sementara tulisan itu belum bisa saya tayangkan di Foi Fun. Jakartabeat sudah menunggu tulisan ini untuk diterbitkan, dan sekarang sedang dalam proses penyuntingan. Penerbitan tulisan itu pun agak molor karena satu dan beberapa hal. Jadi harap sabar ya, hehe. Nanti kalau sudah diterbitkan di Jakartabeat, akan saya muat secara berseri di Foi Fun.

Oh ya, sekarang sudah memasuki minggu akhir di bulan Desember. Sebentar lagi almanak 2012 akan segera masuk tong sampah. Kecuali kalau kalender kalian adalah kalender bergambar perempuan seksi dengan payudara berukuran sentosa. Sayang untuk dibuang bukan? Bisa lah untuk jadi teman melewati malam-malam kalian yang kesepian. 

Oke, balik lagi ke perbicangan sok bijak. Apa yang sudah kalian lakukan selama setahun belakangan? Rasa-rasanya saya butuh waktu agak lama untuk memikirkan jawaban untuk pertanyaan itu. Tapi satu yang pasti, akhirnya salah satu mimpi masa kecil saya terpenuhi lagi: menonton GNR secara langsung. Andaikan ramalan suku Maya itu benar, hari ini akan kiamat, maka kiamatlah! Saya sudah rela. 

Kemarin ketika selesai menonton GNR, saya berujar dengan rasa puas ke Rani, "Mimpiku di dunia musik sudah selesai." Rani malah balik memarahi saya. Dia bilang harusnya saya bikin mimpi baru. Dia benar. Seharusnya, tak secepat ini saya berpuas diri. Harus ada mimpi-mimpi lain yang dipancangkan. Walau entah kapan ia akan terwujud. Nah, salah satu mimpi saya yang lain adalah menonton Rocklahoma Festival secara langsung. Tapi entah kenapa, Rocklahoma yang dulu dihelat untuk menghadirkan kembali masa kejayaan hair metal, mendadak berubah haluan. Banyak band-band di luar hair metal yang ikut masuk dalam line up penampil. Beberapa bahkan menjadi penampil utama. Lama kelamaan, bisa jadi, menonton langsung Rocklahoma Fest bisa saya coret dari daftar mimpi saya. Huhuhu.

Disini sedang hujan. Lama sekali. Sedang deadline masih menanti esok hari. Andaikan saja kiamat jadi datang hari ini, oh deadline tak perlu kutepati...

Jakarta, 21 Desember 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar