Selasa, 04 Desember 2012

If...


Alkisah, pada awal 90-an, ada seorang lelaki yang sedang kasmaran. Dengan segala usaha, ia berusaha mendekati sang perempuan idaman. Sayangnya, usahanya kandas. Cintanya karam. Memang, seringkali cinta tidak bertepuk dengan kedua tangan. Sang lelaki yang cintanya kandas itu lantas membuang gundah dengan berbotol-botol bir. Kawan-kawannya gembira karena mendapat bir gratis.

Konon, sang lelaki itu mendekati perempuan incarannya dengan lagu Tracy Chapman, "Baby Can I Hold You." Lagu itu sangat booming pada awal 90-an. 

Tapi sepertinya ada yang salah disini. Kalau semisal lelaki itu menjadikan lagu ini untuk merayu sang perempuan incaran, ia jelas salah besar. Lagu Tracy ini berkisah tentang rasa penyesalan. Menyesal karena rasa sayang yang tak sempat terucap. Ketika ia sadar, semua terlambat. Sang gebetan sudah jadi milik orang lain. Jadi sebenarnya, "Baby Can I Hold You" lebih pantas jadi soundtrack patah hati ketimbang lagu untuk merayu perempuan.

Itu adalah kisah yang diceritakan Yus Ariyanto pada tulisan "7 Lagu Cinta Paling Anu"yang ia tulis pada medio Agustus 2010. Saat itu saya dan Philips Vermonte sedang iseng-iseng menulis 5 lagu paling romantis. Virus itu ternyata menular ke mas Yus --begitu saya memanggil sang bapak dua anak itu. Dalam salah satu daftar, tercantumlah lagu Tracy Chapman beserta kenangan mas Yus perihal cinta sang kawan yang kandas.

***
Tracy Chapman adalah seorang penyanyi berkulit hitam yang sangat populer pada akhir 80-an hingga pertengahan 90-an. Perempuan yang dibesarkan dalam keluarga pekerja ini sudah menulis lagu semenjak masih berumur 8 tahun. Ketika remaja, musisi kelahiran Cleveland ini sering mengamen di kawasan Harvard Square yang tersohor itu. Sesekali, ia menyandang gitar dan pamer suara di beberapa kafe di seputar Cambridge.

Ia lantas merilis album self titled pada tahun 1988. Perempuan lulusan Universitas Tuft ini lantas mulai dikenal semenjak itu. Album pertamanya memenangkan tiga buah penghargaan Grammy, termasuk kategori Artis Pendatang Baru Terbaik. Sarjana Antropologi dan African Studies ini juga mulai rutin mengadakan konser. Tracy memang penyanyi yang punya karakter. Suaranya berat. Penampilannya maskulin. Karena paduan suara macam bas dan penampilan yang maskulin itu, orang seringkali bingung mengenai jenis kelamin Tracy. Selain itu, Tracy memang bukan sekadar penyanyi semenjana. Ia maestro dalam menulis lirik.

Lagu-lagu Tracy banyak berkisah tentang perlawanan terhadap penindasan. Ia juga berkisah tentang kehidupan kaum proletar. Sebagai seorang yang sangat paham tentang African Studies, Tracy menjelma menjadi penyanyi yang punya kesadaran politik. Pada "Talking 'Bout Revolution" misalnya. Ia berkelakar tentang revolusi yang, walau hanya terdengar lamat-lamat, pasti akan terjadi.

They're talkin' about a revolution// It sounds like a whisper //While they're standing in the welfare lines/Crying at the doorsteps of those armies of salvation//Wasting time in the unemployment lines/Sitting around waiting for a promotion.

Pada "Fast Car", Tracy bercerita tentang drama kehidupan rumpil ala Amerika yang sepertinya hanya bisa terjadi di negara dunia ketiga: ayah pemabuk, ibu minggat, sedang sang ia harus keluar sekolah karena harus kerja untuk bertahan hidup. Menyimpan sedikit demi sedikit uang. Sembari tetap memeram keinginan untuk kabur dari semua kondisi hidup yang begitu masyakarah.

You got a fast car/And I got a plan to get us out of here//I been working at the convenience store/Managed to save just a little bit of money//We won't have to drive too far/Just 'cross the border and into the city//You and I can both get jobs/And finally see what it means to be living

Tapi Tracy juga perempuan normal. Di sela-sela kesadaran politik dalam album pertamanya, ia masih tetap berbicara hal yang universal: cinta.

Tapi tetap, cintanya adalah cinta berbalut tragedi. Salah satu lagunya yang paling terkenal adalah "Baby Can I Hold You", sebuah lagu yang berkisah tentang luka yang tertakik karena terlambat menyatakan perasaan. Rasa penyesalan itu lantas menahun dan mengeras. Semacam rasa sesal yang membatu dan susah untuk luruh. Dengan petikan gitar yang sendu, Tracy bernyanyi dengan lirih:

Forgive me
Is all that you can't say 
Years gone by and still 
Words don't come easily 
Like forgive me forgive me 

But you can say baby 
Baby can I hold you tonight 
Maybe if I told you the right words 
At the right time you'd be mine 



***
Pernah dalam suatu masa saya menuliskan: perasaan yang tak disampaikan adalah perasaan yang gagal. Saya lupa kapan menuliskan itu. Tapi beberapa kawan lantas menjadikan kalimat itu sebagai pegangan. Entah pegangan untuk apa. Bisa jadi sebagai pendorong untuk berani menyatakan perasaan.

Saya punya beberapa kawan yang hatinya begitu besar. 

Sebut saja kawan saya itu sebagai Nur Fahmi (bukan nama sebenarnya). Ia pernah mengejar seorang perempuan yang ia kasihi. Sedemikian rupa usahanya. Kalau saja sang perempuan menyaratkan ia untuk mendaki Semeru dan memetik Edelweis untuknya, Fahmi akan senang hati melakukannya. Fahmi mungkin sadar kalau ia bakal ditolak oleh sang perempuan. Tapi keberanian menyatakan perasaan adalah kewajiban. Ditolak atau diterima adalah lain persoalan. 

Akhirnya, pada suatu siang sepulang sekolah, Fahmi menyatakan perasaan. Jawabannya seperti yang sudah ia duga sebelumnya. Tapi ia tak patah hati. Eh, patah hati sih iya. Tapi rasa lega karena telah mengungkapkan perasaan mengalahkan rasa sakit karena patah hati.

Tapi ada pula beberapa orang kawan yang lebih memilih untuk memendam perasaan. Bagi mereka, cukup tuhan dan dia sendiri yang tahu perasaannya.

Maka ketika sang perempuan idaman tak tahu perasaannya dan menerima uluran tangan orang lain, rasa sesal adalah satu-satunya hal yang tertinggal. Akan ada perasaan seperti yang ditulis oleh Tracy: Maybe if I told you the right words, at the right time you'd be mine. Kata kuncinya ada pada: if.

If...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar