Jumat, 29 Juni 2012

Untuk Kawan Yang Terhempas Badai


Dialog Dini Hari pernah menulis sebuah lagu indah berjudul "Satu Cinta". Lagu ini tidak berkelakar soal kisah cinta ala sinetron atau lagu-lagu pop. Di lagu itu, terpampang kisah cinta yang dewasa. Tentang kedamaian,  tentang harapan, tentang jalan hidup, bahkan tentang kesetiakawanan. Sore ini, saya memutarnya berulang kali karena teringat kisah akan seorang teman.

Dia adalah kawan baik saya. Kami sudah pergi kemana saja, melalui banyak momen, menertawakan banyak hal, dan meringis karena hal-hal pahit yang harus kami hadapi. Hidup lantas membawa kami menempuh jalan masing-masing. Saya harus pergi ke Jogja, dan ia menyabung nasib di belantara bernama Jakarta.

Ketika saya mengunjunginya beberapa waktu lalu, ia masih saja suka menyempalkan senyum lebar di wajahnya yang jenaka. Ia masih suka memaki jancuk dan asu. Apalagi kalau saya mengerjainya. Iya, pria lucu ini seringkali jadi objek guyonan saya yang seringkali sadis. Saat itu, ia masih baik-baik saja.

Dan betapa lunglainya saya ketika beberapa hari lalu, ia bercerita bahwa ia sedang mengalami masalah --yang sepertinya-- terberat dalam hidupnya. Seumur hidup, ia tak pernah memberatkan dan memikirkan suatu masalah secara berlebihan. Ia adalah pria yang hidup bersama angin. Kalau angin mengharuskannya bertiup ke arah selatan, maka kesanalah ia pergi. Kalau angin menuju barat, maka kesana ia akan melangkahkan kaki.

Tapi kali ini anginnya terlalu keras dan kencang. Menghantam dan melantingkannya kemana-mana. Hingga ia susah untuk menapak. Ia tak berdaya. Ia sendirian di belantara Jakarta. Tak punya kawan untuk berkisah. Tak punya sanak untuk berbagi. Maka melalui jendela dunia maya, kami bertukar kisah pilu itu. Saya hanya bisa tergugu. Sesekali menengok ke langit-langit agar air mata tak tertumpah. 

Barangkali saya terlalu sensitif dan perasa.

Tapi saya menjamin, siapapun yang mendengar kisahnya, sembari membayangkan wajah polos dan jenakanya, juga akan tergugu. Kisahnya sesendu roman di ranah sastra. Mungkin juga sinetron. Kisahnya saya pikir hanya ada di layar kaca dan tak akan terjadi di dunia nyata. Tapi ternyata kisah ini menimpanya.

Di kala berat seperti itu, saya seperti ingin pergi ke Jakarta lalu memeluknya barang sejenak. Mengabarkan padanya kalau ia tak sendirian, walau saat ini ia memilih untuk bungkam dan menghadapinya sendirian.

Saat kau berjalan sendiri
Aku akan menemani
Siap memapahmu
Jika kau terjatuh

Saat kau mulai lelah
Berdiri lunglai sedikit goyah
Ku kan disampingmu
Istirahatkan pikiranmu

Saat kau mulai menangis
Aku akan bernyanyi
Siap menghiburmu
Tak perduli waktu

Saat pagi kau terjaga
Ku kan petik bunga
Beragam warna
Seperti pelangi membentang

Kita kan gembira bersama, 
tertawa bersama, bahagia bersama
Kita kan bernyanyi bersama,
Menari bersama ikuti irama

Satu pikiran, satu tujuan
Satu harapan, satu impian

Satu pandangan, satu kejayaan
Satu kejujuran, suatu kebaikan

Satu cinta untuk kebahagiaan
Satu cinta untuk kedamaian

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar