Kamis, 07 Juni 2012

Dialog Dini Hari dan Rumah



Dadang "Pohon Tua" Prananto adalah gitaris Navicula, band yang sering disebut sebagai The Last Grunge Gentlemen. Dia bermain gitar dengan garang, lengkap dengan rambut dread-nya yang berkibar gagah setiap kali ia menggoyangkan kepala. Walau saya tak begitu menyimak grunge dengan taat, saya tetap sesekali menyimak Navicula. Grunge mereka bukan grunge ala Nirvana yang --in my humble opinion-- gelap dan murung. Mereka lebih cenderung ke Pearl Jam yang walau bercerita tentang kemarahan dan kemuakan, tapi juga sering berkisah mengenai alam.

Dankie --panggilan akrab Dadang-- juga mendirikan sebuah kelompok folk bernama Dialog Dini Hari (DDH). Disana ia benar-benar menampilkan sisi yang berbeda. Ketika di Navicula ia begitu gahar, di DDH ia berlaku seperti Pohon Tua yang meneduhkan. Pula bijak bestari.

Lagu-lagu DDH memang representasi dari keteduhan pohon tua. Liriknya filosofis. Musiknya sederhana namun tepat guna. Seakan tak ada irama dan lirik yang tak perlu. DDH --dengan Dankie sebagai penulis lirik utama-- bercerita mengenai pagi, bumi yang semakin menua, pesan hati-hati di jalan, juga cerita mengenai rumah dan ibunda.

Kisah tentang ibunda jelas terangkum dalam lagu berjudul "Ku Kan Pulang". Ketika mendengar lagu itu, ingatan saya tak bisa menolak untuk diajak kembali pulang. Ke rumah kecil tempat saya tumbuh besar. Tempat mamak, perempuan terkasih yang melahirkan saya, bertambah ubannya setiap hari.

Dimana, di kamarnya, saya selalu menikmati beliau mengaji dengan suara pelan sehabis sholat subuh, dan saya terlelap lagi di sebelahnya. 

Dimana saya selalu dimasakkan masakan terenak di dunia ketika pulang. 

Dimana beliau tak pernah lelah mengomel, mengingatkan saya untuk sholat. 

Itu yang saya rindukan ketika saya jauh dari rumah. Dan mamak selalu paham bahwa lelaki harus pergi, jauh dari rumah. Agar lelaki itu bisa jadi lelaki yang diandalkan.

"Pergi jauh, jauh dari Jember. Dunia luas. Jangan di Jember saja" kata mamak suatu ketika.

Air mukanya perpaduan antara rasa pahit karena ia paham: kerelaan melepas anak lelakinya jauh dari rumah adalah suatu keharusan. Tapi ia juga pasti akan khawatir: akan tidur dimanakah anakku ketika malam datang, makan apakah ia, atau apakah ia tetap akan mengingat tuhan walau jauh dari rumah?

Lamakah aku pergi
Hingga tak sadar rambutmu makin memutih

Banyak waktuku yang terbuang rugi
Lamakah aku pergi
Hingga tak sadar beribu kisah ingin ku bagi

Berilah aku waktu sebentar lagi
Ku kan pulang
Pulang ke rumah
Berilah waktu
Sabar menunggu

Doamu slalu untukku
Slalu untukku, hingga kini ku tak ragu
Biarkanlah aku sujud di kakimu

Lukisanmu slalu indah
Seperti doamu
Sepanjang masa tak putus asa

Sementara waktu merubah kita
Sementara waktu merubah kita
Ku kan pulang

Pulang ke rumah
Berilah waktu
Sabar menunggu
Ku kan pulang
Pulang ke rumah
Bawa cerita
Indah Dunia

Dan semalam, saya seakan diingatkan akan hangatnya rumah oleh Dialog Dini Hari. Iya, semalam saya menonton mereka live di Pasar Festival. Di acara Radio Show. Bareng beberapa kawan lama: Lydoz, Fargie, dan Deedee. Juga Rani. Hujan baru saja tumpas. Hawa dingin. Aspal masih basah, di beberapa sudut masih tampak genangan air. Penampilan mereka sungguh sangat keren. Lagu-lagu macam "Pagi", "Satu Cinta" "Beranda Taman Hati", hingga lagu terakhir "Senandung Rindu"  (yang juga berkisah sekelebat tentang kerinduan akan rumah) dibawakan dengan nyaris sempurna. 

Para penonton yang hanya sejumput tampak begitu menikmati. Ketika lagu terakhir pungkas, penonton tak rela. Encore! Dan DDH mengabulkan permintaan sederhana itu: mereka memainkan "Renovasi Otak".  Penonton bertempik sorak. Ketika lagu itu selesai, encore masih terus berkumandang. Tapi Dankie menolak dengan halus.

"Kasihan yang udah mau pulang" katanya merujuk pada para pekerja acara itu yang sepertinya sudah mengantuk dan ingin segera mencecap hangatnya rumah 

Ah, rumah...

6 komentar:

  1. mantap banget gan artikelnya

    BalasHapus
  2. nice posting, lagu ddh lirik dan musiknya sejalan dengan indah

    BalasHapus
  3. Dan saya senang, berkesempatan untuk duet sama Dankie. (terharu)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi, itu kamuuuu? Fakk, bikin iri aja :D btw, suaramu ternyata merdu lhooo :)

      Hapus
    2. asli suara lo kemaren bagus bngt. mirip penyanyi aslinya (Sari) gw ampe lupa jg salaman ama lo n foto bareng krn lo udh menghibur gw bngt...:)

      Hapus