Selasa, 26 Juni 2012

Beirut dan Keinginan Membentuk Band




Band yang baik, adalah band yang membuat pendengarnya ingin membentuk band.

Itu adalah prinsip yang saya pegang teguh. Beberapa band berhasil melakukannya pada saya. The Doors, Guns N Roses, KIX, The Brandals, hingga The S.I.G.I.T adalah beberapa diantaranya. Ketika melihat mereka, baik dalam video maupun konser, saya merasakan perasaan, "Cuuk, aku pengen buat band dan jadi keren seperti mereka."

Tapi seumur-umur, belum pernah ada band folk yang membuat saya ingin membentuk band. Hingga saya bertemu dengan... Beirut.

Saya tak pernah tahu tentang keberadaan band ini, hingga seorang hipster guru Taufiq Rahman menyebutkan nama band ini beberapa kali di Jakartabeat. Ia juga menuliskan resensi album terbaru Beirut yang berjudul The Rip Tide

Disana ia menuliskan, musik yang dihasilkan Beirut adalah tipikal musik "...Balkan, musik Prancis 1960-an, Mariachi—terutama di "March of the Zapotec". Musik mereka adalah musik yang begitu mudah membangkitkan nostalgia dan pelarian diri ke sebuah masa dan tempat yang sederhana tanpa Facebook, YouTube dan Twitter, dan yang paling penting sebuah masa tanpa krisis ekonomi."

Saya mengernyitkan dahi. Referensi musik saya sepertinya memang hanya terhenti di Los Angeles, tepatnya di ruas Sunset Strip, dimana The Doors dan band-band hair metal pernah merintis karir dan meretas nama mereka disana. Musik Balkan? Musik Prancis 1960-an? Mariachi? Bahkan membayangkannya saja saya kesusahan.

Tapi saya dan mas Taufiq memang punya kebiasaan yang nyaris sama: sarkas dan suka saling mengejek selera musik satu sama lain. Mas Taufiq seringkali mengejek selera musik saya yang menurutnya dangkal dan tak bermutu. Dan saya seringkali mengunduh musik-musik yang ia puja hanya untuk kemudian menyebutnya, "membosankan", "gelap", dan "tak menikmati hidup." Maka saya mengunduh album The Rip Tide yang ia hormati sedemikian rupa. Untuk kelak saya cela dan hina tentu saja --walau akhirnya niat jelek saya itu harus tumpas seiring waktu.

Cukup lama album itu mendekam di folder komputer. Hanya sesekali saya putar ketika malam sudah benar-benar menua. Ketika suara nyaris tak ada, maka Beirut terdengar sangat pas. Musik mereka memang syahdu. Hanya itu saja. Musik Beirut saya dengar ketika mengerjakan tugas kuliah, atau saat mengerjakan pekerjaan yang memang butuh konsentrasi, dan musik yang tepat diputar adalah musik "yang bisa kau acuhkan", mengutip Rob Gordon dalam film High Fidelity.

Tapi entah kenapa semua berubah. Semuanya bermula ketika beberapa minggu lalu saya iseng mencari video milik Beirut. Saya mencari video live performance "A Candle's Fire", lagu favorit saya di album The Rip Tide tapi hasilnya nihil. 

Gagal mendapatkan video itu, saya malah mendapatkan video live performance lagu "Postcards From Italy" dari album debut berjudul Gulag Orkestar. Ketika saya memutarnya, wusss! Musik itu langsung membawa saya melanglang. Terbang menuju Tuscany, atau berjalan-jalan di lorong kota Florence. Menikmati musim panas yang dibalur hangat matahari Mediterania. 

Lengkap dengan festival alunan ukulele, akordion, terompet, hingga French horn dan alat-alat musik aneh bernama lebih aneh macam glockenspiel, flugelhorn, euphonium, dan tuba. Anehnya, alat musik yang ramai dan riuh itu tak lantas menjadikan musik mereka berisik.

Ada satu kepaduan, semacam toleransi yang erat antara alat musik itu. Tak ada tindih menindih. Semua menghasilkan harmonisasi yang aduhai indahnya. Bayangkan kau sedang berjalan di lembah-lembah Tuscany yang penuh dengan bunga matahari yang sedang mekar. Angin laut Mediterania yang hangat membelai rambutmu. Hidup lantas seperti tak pernah mengenal kata susah.

Sejak saat itu, saya menyimak Beirut lebih intens. Mencari beberapa lagu di album awal. Dan menyimak lebih khusyuk album The Rip Tide.

Ada beberapa lagu favorit saya. Yang pertama tentu "A Candle's Fire" yang megah dan indah. Track ini begitu tepat ditaruh di urutan pertama. Sebuah lagu yang langsung menjelaskan identitas musik Beirut: penuh dengan horn section, bunyi ukulele serta suara bariton vokalis Zach Condon yang berat dan begitu mudah melekat di ingatan.

"East Harlem" juga indah luar biasa. Beirut seperti merombak imej Harlem di kepala saya. Dari yang dulunya daerah hitam, menjadi daerah yang indah. Tempat dimana, "another rose wilts."

Kalau mas Taufiq begitu menggemari "The Rip Tide", lagu favorit saya justru yang terletak di akhir: "Port of Call". Lagu itu sungguh... Sial, saya susah mengungkapkannya. Kata yang tepat mungkin: indah. Aduh, kata itu sudah saya pakai di lagu "East Harlem". Let me try once more... Tetap tak bisa!

Saya coba gambarkan perasaan saya saja ketika mendengar lagu ini, juga imaji yang timbul. Ketika saya mendengarkan lagu ini, saya seperti merasakan hubungan romantika pria dan wanita yang sederhana dan tak saling menuntut, juga kebiasaan para lelaki untuk mengembara dan meninggalkan sang wanita barang sejenak --dan berharap sang wanita akan mengerti dan mau menunggu.

Di pagi yang masih tunas, saya memutar lagu terakhir ini. Suara terompet dan french horn mengalir renyah melalui headset. Masuk ke dalam kuping, dan menarik tangan saya lembut: menuju pelabuhan dimana wanita yang mencintai saya melambaikan tangan. Kapal membunyikan klakson, bergerak, dan daratan semakin jauh...

And I, I called through the air that night
A calm sea voiced with a lie
I could only smile, I've been alone some time
And all, and all, it's been fine

And you, you had hope for me now
I danced all around it somehow
Be fair to me, I may drift a while
Were it up to me, you know I'd

I, I called through the air that night
The faults were swarming inside
Was it infantile, that which we desired?
Were it up to me, all from your eyes

And I, I called through the air that night
My thoughts were still buried inside
We were closer then, I've been alone some time
Filled you glass with gin
Filled your heart with pride
And you, you had hope for me now
I danced all around it somehow
Be fair to me, I may drift a while

If there's a plan for me
Would it make you smile?
No, don't want to be there for no one
I can see 

***

post-scriptum: Band ini sudah membuat saya merasakan perasaan "saya ingin membuat band seperti ini!". Thus, they're a great band!

8 komentar:

  1. saya baru pernah dengar nih nama band ini.... coba cari cari ah... kelihatannya bagus sekali nih dari tulisan ini...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bung, enak lagu-lagunya. Relaxing. Semoga cocok :)

      Hapus
  2. Vagabond keren sekali videoklipnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, iya bung. Itu udah lagunya bagus, video klipnya juga bagus :)

      Makasih sudah berkunjung. Salam :)

      Hapus
  3. Postcards from Italy aq sring main nganggo kecruke kncoq plus kncoq nyulingi,ha... Gulag orchestra iku aq sneng pisan,btw kog musik folk kental skli yo akhir2 iki postingane

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maine nggawe jurus mabuk gak? Hahaha :))

      Hapus
  4. Horeeeee Nuran suka Beiruuuuut!! Akhirnyaaaaaa ada referensi lain selain hairbands dan metaaaaal.. :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah, kamu aja yang gak tahu selera musikku :p

      Hapus