Jumat, 06 April 2012

Roadhouse Blues


Malam masih muda. Legian masih saja pikuk oleh turis yang lalu lalang, kendaraan yang berjalan lambat karena macet, dan musik-musik yang dimainkan di bar sepanjang Legian. Saya, Rayis, dan Zein sedang menuju sebuah kafe tempat kawan kami bekerja sebagai homeband.

Hanya sepelemparan batu dari Monumen Bom Bali, terdengar suara "Santeria" dimainkan. Lagu dari band Sublime ini sering saya dengar ketika masih SMA. Saat itu ada band yang tengah naik daun, K2 Reggae. Mereka memainkan repertoar lagu-lagu reggae terkenal. "Santeria" selalu dimainkan sebagai lagu pamungkas yang pasti mengundang dansa massal. Sejak beberapa tahun silam, K2 Reggae sudah tidak terdengar kabarnya. Ternyata 3 orang personil band itu yang sekarang bermain di kafe ini. Mereka yang akan kami temui.

Rayis, sahabat saya semenjak SMA, mengenal para personil K2 Reggae itu semenjak masih kecil. Anton sang biduan cum gitaris, dan Feri sang gitaris, adalah dua kawan akrabnya. Malam itu kafe tempat mereka bermain penuh dengan bule-bule yang setengah tipsy. Mereka terlihat riang.

Lagu-lagu terkenal dimainkan. Mulai "Hotel California", "I Shoot the Sherrif", hingga "Roadhouse Blues". Suara Anton sangat prima walau keringat terus membanjiri sekujur wajah. Ia berkali-kali menebar senyum ke para bule sembari berujar standar "are you ready for rock n roll?". Anton juga berkali-kali menghajar fret gitarnya. Memainkan solo gitar "Hotel California" yang rumit dan menarikan solo gitar "Roadhouse Blues" yang magis serta kental nuansa blues rock.

Saya dan kedua orang kawan hanya duduk di bar sembari ngobrol. Mau beli bir, tapi duit menipis. Jadi cukup duduk dan sesekali bercakap dengan bule-bule mabuk.

Karena mabuk, beberapa bule sempat lepas kontrol. Ada seorang pria bule bertubuh besar tiba-tiba mengangkat kursi kafe yang terbuat dari rotan. Dengan sempoyongan ia berjalan ke arah kerumuman kawan-kawannya yang sedang berjoget, dan menimpakan kursi itu ke kepala seorang kawannya. Yang ditimpa kursi lalu menoleh, memasang tampang marah, lalu ngomel. Tapi keributan ini cepat dinetralisir oleh para waitress yang berpakaian seksi. Dua orang waitress memisah mereka dan mengajak mereka berdansa. Suasana kembali gembira. Lalu seorang bouncer berbadan kekar mengembalikan kursi.

"I think enough for tonight, we'll see you tomorrow" ujar Anton dengan wajah merah karena lelah. Waktu sudah menunjukkan satu jam selepas tengah malam.

Kerumunan massa tidak terima dan meneriakkan encore. Para anggota band lantas berdiskusi.

"Okay, one more song" teriak Anton. Dan para bule itu bersorak gembira.

Lalu "Paint It Black" milik Rolling Stone berkumandang memecah udara Legian yang hangat.

                                                                           ***

Rayis dan Zein

Selepas beramah tamah di luar kafe, kami pun berpisah dari rombongan band yang tampak lelah. Saya, Rayis, dan Zein pun bergegas pulang. Tapi malam belum terlalu tua, terlalu dini untuk pulang. Maka kami mengarahkan motor di sudut pantai Kuta yang gelap. Sekedar bercengkrama. Hanya bercengkrama? Teryata tidak.

"Biasanya disini banyak bule mesum. Tunggu aja" timpal Zein. Rupanya predikat mesum pada pria asal Tembaan ini masih belum jua luntur.

Dan tebakannya benar. Tak berapa lama, datang 3 pasangan bule. Mereka mabuk, tampak dari jalannya yang sempoyongan. Dua pasangan duduk selonjor di pantai, dan satu pasangan lain menjauh, mencari tempat yang tak tersinari cahaya.

"Wah, sudah mulai. Setelah ini pasti mesum" tambah Zein.

Saya terkekeh pelan. Menyaksikan adegan mesum secara live bareng kawan SMA ini seperti membawa kenangan ketika masih sekolah dulu. Saat itu kami sering bolos ke rumah seorang kawan yang transgender, lalu menonton film biru ramai-ramai. Biasanya sekali bolos, ada 9 hingga 10 orang. Jadi bisa dibayangkan rumah sang kawan itu ramai sekali. Penuh dengan asap rokok dan celotehan mesum. Hahaha.

Tapi tontonan kami agak terdistraksi dengan minimnya cahaya. Meski begitu, mata Zein seperti mata kucing. Ia bisa melihat sesuatu (baca: kemesuman) bahkan di tempat yang minim cahaya.

"Itu pasti posisi sang cowok begini... sang cewek begini..." ujar Zein, yang sekarang bekerja sebagai barista, menjelaskan dengan khidmat mengenai tebakan posisi mesum sang pasangan bule itu.

Tanpa dinyana, sebuah mobil melintas, dan lampunya menyorot pasangan itu. Gila, tebakan Zein benar! Posisi bule itu persis seperti yang ditebak oleh Zein. Saya ngakak sekeras-kerasnya. Rayis juga terkekeh. Zein memang raja mesum dari dulu. Dan sekarang ia membuktikan bahwa gelar itu masih saja susah direbut darinya.

Malam lalu menua. Saatnya pulang. Perjalanan saya resmi saya akhiri sampai disini. Besok tinggal pulang menuju barat. Menuju Banyuwangi, lalu Jember yang sudah saya rindukan.

"I'm coming home" ujar saya lirih, berbisik pada pantai Kuta yang gelap...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar