Kamis, 21 April 2011

Kematian Yang Sunyi

Kematian, seperti halnya nasib, adalah kesunyian masing-masing. Tak ada siapapun yang bisa menggugat ketika kematian datang menjemput, meski tanpa permisi. Tak perduli umur yang masih terlampau ranum untuk dipetik.

Kemarin menjelang maghrib saya mendapat kabar duka yang mengejutkan. Seorang kawan semasa SD dulu, Mohammad Jauhar Fuadi, meninggal dunia karena kecelakaan di daerah Sumber Baru. Saya sempat tercenung beberapa lama. Entahlah, rasanya saya begitu getun karena kembali mendengar kabar duka tahun ini. Padahal tahun ini baru berjalan 4 bulan.

Pakdenya berkisah, Fuad baru saja pulang dari Lumajang menuju Jember. Ia berpamit akan mengunjungi kawan lama. Sekitar 3 km sebelum Jatiroto, bermaksud menghindari lubang, Fuad malah terpelanting karena jalanan licin sehabis hujan. Ia lalu dibawa ke rumah sakit Sumber Baru. Karena tak sanggup, pihak RS Sumber Baru menyarankan Fuad dibawa ke RSUD dr. Soebandi, Jember. Saat itu Fuad masih sadar. Malahan ia sempat bangkit dari brankar tapi dilarang oleh dokter. Rupa-rupanya, Fuad menderita gagar otak sedang. Tapi yang "sedang" itu ternyata mampu mematikan batang otak. Ketika bagian dari otak ini tak berfungsi, maka tak ada instruksi terhadap tubuh untuk melakukan gerakan, pun untuk memompa oksigen ke otak. Fuad koma selama 1,5 jam sebelum akhirnya ia berpulang.

Saya memang tidak punya kenangan yang teramat khusus dengan Fuad. Tapi dulu sekali saya sempat sering bermain bersamanya. Kebetulan rumah Fuad berada hanya sepelemparan batu dari rumah tante saya. Dulu setiap malam minggu, saya menginap di rumah tante saya itu. Minggu paginya saya selalu bertandang ke rumah Fuad. Sekedar main nintendo dan minum es sirup buatan ibunya. Game kesukaan kami waktu itu adalah Mortal Combat. Kami selalu terkekeh ketika ada salah satu dari kami yang kalah, dan jagoannya terlempar masuk lubang yang penuh besi tajam di bawahnya. Mati bersimbah darah.

Selain itu tak ada kenangan lain yang membekas. Pria berambut andan ini begitu pendiam. Tipikal lelaki cool yang digemari banyak perempuan. Mungkin itu juga yang bikin saya segan dekat dengannya. Saya yang cerowak akan terlihat semakin cerowak kalau berada di dekat orang pendiam, hahaha. Seingat saya sahabat karib Fuad adalah Fathul Ikhsan dan Irsyad Hidayatullah. Ikhsan sekarang berada di Amerika, sedang Irsyad berdomisili di Surabaya. Dari update status Ikhsan beberapa jam lalu, terlihat duka mendalam dari kata yang ia tulis.

Selepas SD, Fuad pergi melanjutkan studi ke Gontor. Kalau saya tak salah hitung, hampir 7/ 8 tahun dia disana. Setelahnya, ia melanjutkan kuliah di jurusan Kesejahteraan Sosial, FISIP Universitas Jember. Dia masuk angkatan 2007 atau 2008, saya lupa. Saya jarang bertemu dengannya. Pertemuan pertama dan terakhir saya dengannya ketika ada acara reuni SD beberapa tahun silam. Ia tak banyak berubah. Tatanan rambutnya, gaya berbicaranya, sampai gaya ia tertawa. Tetap tipikal pria baik hati yang cool nun pendiam.

Setelah itu saya sepertinya tak pernah bertemu dengannya. Sampai kemarin maghrib kabar duka berhembus, dan yang saya lihat hanya jenazahnya. Itupun sudah disangai oleh kain lurik berwarna coklat.

Pepatah lama pernah berkata "only good die young." Hanya orang baik yang mati muda. Jim Morrison, Jimi Hendrix, Janis Joplin, Brian Jones, Kurt Cobain, Gie, hingga Chairil Anwar, adalah segelintir contoh. Fuad rupa-rupanya menyusul mereka dalam usia yang baru seperempat abad.

Ya, kematian nyaris tak ubahnya seperti nasib. Ia mempunyai kesunyian masing-masing. Di siang hari yang mendung ini saya mengucap, selamat menempuh kesunyian itu kawanku.

Have a nice and safe trip...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar