Rabu, 18 Februari 2015

Kunci

Rainy Day Cafe Oleh Sue Birkenshaw

Hujan baru saja usai, di sebuah malam nan dingin di kota yang tak perlu disebut namanya. Tokoh Kita punya janji dengan kekasihnya. Sebuah kafe disepakati sebagai tempat bertemu. Mereka tidak bareng. Sang Tokoh Kita yang punya senyum cemerlang, mengingatkan khalayak pada Rizal Ramli muda, membawa motor sendiri dari bilik kosnya. Begitu pula kekasihnya yang membawa motor dari tempat tinggalnya.

Hubungan mereka sedang memburuk belakangan ini. Frekuensi pertengkaran meningkat. Sang Tokoh Kesayangan Kita berharap pertemuan ini bisa menjadi titik penting untuk memperbaiki hubungan dengan sang kekasih.

Sayangnya begitu berserobok, dengan beberapa argumen yang bisa dianggap sebagai omong kosong tingkat tinggi, si kekasih malah minta putus. Sang tokoh terhenyak. Bingung mau bereaksi apa. Ia impulsif. Dengan cepat bangkit dari tempat duduk. Menyambar kunci motor, meninggalkan selembar uang biru di meja.

"Untuk kopi dan hidangan yang kita pesan."

Meski kalut, ia sama sekali tidak membuang sikap gentleman-nya. Sang gadis cuma bisa terdiam sembari menatap nanar selembar uang di meja. Kurang mas, begitu batinnya.

Tokoh kita yang berkacamata, menandakan hobi baca, keluar kafe. Langkahnya gontai. Saat ia menghidupkan motor, hujan kembali turun. Sang tokoh kita menyetir motor dengan masygul. Baru beberapa ratus meter meninggalkan kafe, suara dering telepon seluler menerabas dari saku celananya. Semula ia biarkan saja. Tapi panggilan itu terus berulang. Membuatnya tak tenang. Tapi sekaligus membikinnya senang.

Pasti ada yang minta balikan. Harga dirinya membuncah. Hidungnya kembang kempis. Insting pejantannya melarang untuk mengangkat panggilan itu. Biarlah ia yang memohon dan merasa kehilangan, pikirnya.

Maka ia biarkan telepon mati. Berdering lagi. Lalu mati lagi. Hingga akhirnya ia tak tahan juga. Detik itu, ia membuat keputusan: kalau si kekasih ingin minta balikan, ia akan menyanggupi. Lagipula ia masih sangat mencintainya. Ia meminggirkan motor dan mengangkat panggilan itu.

"Ada apa, Dek?" sapanya, tenang dan hangat. Seperti angin musim panas di Hokkaido yang turun perlahan dari lereng gunung Fuji.

"Anu mas, kunci motorku kebawa sampean."

Sang tokoh kesayangan kita, dengan muka masam menutup panggilan sialan itu, lantas memutar motor. Kalian sudah tahu kemana ia pergi. []


Post-scriptum: Cerita yang sekilas tak bisa dipercaya ini saya ceritakan ulang dari legenda pemuda penyayang, yang awalnya diceritakan secara oral oleh Pamanda Yusi Avianto Pareanom.

Selasa, 17 Februari 2015

Bahagia

Gambar dari situs Dezeen

Percaya atau tidak, hewan ternak yang bahagia cenderung punya rasa daging yang lebih enak. Sapi Kobe dikenal sebagai salah satu daging terbaik di dunia. Pakannya rumput kelas tinggi. Mereka bahkan rutin dipijat. Kalau itu belum cukup, mereka juga diberi minum bir kualitas yahud. Hasilnya? Daging yang lembut dan konon lumer di lidah.

Tentu hal ini bisa dijadikan perdebatan, apakah mereka benar-benar bahagia? Bagaimana mereka bisa bahagia kalau tak lama lagi akan disembelih dan menjadi pengisi perut para karnivora? Tapi biarkan saja perdebatan itu, dan anggap saja mereka bahagia.

Tahun 2003, para peneliti dari Penn State University, punya gawean selo. Mereka meneliti para ayam dengan kandang yang nyaman, juga ayam yang dibiarkan bebas berkeliaran di pekarangan. Hasil penelitiannya: telur ayam yang dihasilkan mengandung zat Omega 3 lebih tinggi. Juga lebih kaya vitamin A dan E.

Mungkin berangkat dari penelitian-yang-sekilas-tampak-selo-tapi-penting ini, para arsitek mulai dilibatkan untuk membangun kandang hewan ternak. Kenapa kandang? Karena rumah yang nyaman adalah salah satu pemasok kebahagiaan. Makanya ada istilah sandang, pangan, papan sebagai kebutuhan utama kita.

Proyek kandang tidak main-main. Riset dilakukan dengan serius. Bentuknya pun tak kalah dengan proyek arsitektur yang dibuat untuk manusia.

Arsitek asal Swedia, Torsten Ottesjö, misalkan. Membuat kandang ayam berbentuk sayap ayam. Ini penuh makna filosofis. Diharapkan, kandang ini bisa berlaku sebagai sayap induk yang selalu melindungi.

Tak kurang, Torsten membuat desain kandang ayam ini dengan sangat detail. Ia mengatur jarak antar kayu, supaya ayam tetap mendapat pasokan cahaya alami yang cukup. Kalau masih merasa kurang atas keseriusannya, bayangkan: kandang ini dibangun di atas bebatuan pantai barat Swedia. Langsung menghadap ke laut.

Bahkan mungkin seumur hidup, saya tak akan mampu membangun rumah di daerah itu. Mahal jeh.

Proyek kandang ayam juga dikerjakan oleh arsitek asal Belanda, Frederik Roije. Ia membuat desain kandang yang diberi nama Breed and Retreat.

Desain ini ia pamerkan dengan bangga di Galeri Ventura Lambrate di pagelaran Milan Design Week 2010. Kala banyak arsitek memamerkan desain rumah mewah, atau gedung dengan desain yang rumit, meneer Belanda ini dengan bangga memamerkan kandang ayam.

Tak sekedar bangunan biasa, kandang ayam buatannya mengandung makna filosofis. Ia mengharapkan kandang ayam ini bisa mengingatkan kita untuk 'menghormati' ayam yang sudah berjasa memasok protein bagi umat manusia.

"Kandang ini untuk menghilangkan keasingan dari asal usul kita. Menghormati alam itu sangat perlu. Dengan mendesain tempat yang istimewa, ini artinya memberi ruang bagi alam, bahkan di masyarakat urban sekalipun," katanya. Filosofis bukan?

Baru-baru ini, biro arsitek terkenal asal New York, Architecture Research Office (ARO) membuat kandang ayam yang memadukan lempengan logam dan kayu. Lagi-lagi, desain dan detailnya pun dibuat dengan serius.

Lantainya saja, selain dilapisi jerami, tanah, dan serbuk kayu, juga diberi penghangat di lapisan terbawahnya. Ini untuk menjaga ayam tetap hangat.

Sebelum mendesain kandang yang cukup bagi 8 ekor ayam indukan untuk berkejaran ini, ARO sampai merasa perlu melakukan riset dan kebiasaan ayam. Ini dilakukan untuk mendapatkan data semisal berapa luas ideal ruang yang diperlukan ayam, bagaimana panas yang baik, atau seperti apa ventilasi yang dibutuhkan ayam agar bisa berkembang dan bereproduksi dengan baik.

"Kami mengawasi segalanya, dari ukuran kandang yang cocok untuk ukuran ayam, lokasi kotak untuk telur ayam, dan akses untuk memanen telurnya," kata Stephen Cassell, arsitek kandang ini sekaligus salah satu pendiri ARO.

Kandang ayam ini dibuat dari papan kayu, yang membentuk cembungan seperti busur. Penutup dinding dibuat dari kayu cedar. Sirapnya terbuat dari alumunium, dengan ujung yang ditekuk. Selain memberi ruang untuk masuknya cahaya, tekukan ini menghasilkan bayangan yang indah saat kandang diterpa sinar matahari.

Kandang ini punya dua pintu di ujung. Satu untuk ayam, dan satu lagi untuk manusia. Di dalam kandang, tiap sisi dinding diisi oleh delapan kotak tempat ayam bertelur dan mengeram. Selain itu, ada beberapa tiang untuk tempat menclok si ayam.

Selama masa pembuatan dan riset, tim ARO juga mengindentifikasi enam jenis predator yang bisa membahayakan ayam dan juga telurnya. Mulai dari musang, hingga burung pemangsa. Tim ARO lantas membuat pondasi dari beton, supaya pemangsa tidak bisa menggali tanah untuk masuk dalam kandang.

Segitu perhatiannya. Mengharukan sekali.

Kandang ayam ternak seperti ini seolah menyindir dan memukul telak peternakan ayam industrial yang mengorbankan kenyamanan ayam demi untung yang lebih besar.

Dalam film dokumenter Food, Inc. kita bisa menyaksikan betapa kejam peternakan ayam industrial itu. Kandang besar, namun menampung ayam dalam jumlah yang berlebihan. Ayam berdesakan, banyak yang mati karena kekurangan nafas. Para peternak yang menjual ayam mereka untuk restoran waralaba ini juga menutup celah untuk masuknya cahaya. Konon, ini cara cepat untuk menggemukkan ayam.

Namun hasilnya bisa kita rasakan sama-sama. Daging ayam yang kita makan di restoran waralaba internasional itu memang tebal. Namun sonder rasa, meskipun konon sudah dibumbui dengan "resep rahasia turun temurun".

Bisa jadi ini karena hidup ayam itu sama sekali tak bahagia.

Kandang yang dibuat oleh beberapa arsitek di atas itu seharusnya membuat kita sadar, hewan ternak tak jauh beda dengan manusia: sama-sama membutuhkan rumah yang nyaman. []