Selasa, 09 November 2010

Tuhan Selalu Melindungi Hambanya Yang Traveling

Tuhan selalu punya cara yang misterius untuk membantu hambanya yang pergi traveling. Saya mengamini itu ketika mulai rutin traveling sejak kelas 2 SMP. Berkali-kali saya dibantu orang tak dikenal di jalan, ketika kehabisan uang, atau kelaparan. Saya percaya itu adalah perpanjangan tangan dari tuhan.

Yang paling bikin saya geleng-geleng kepala adalah pengalaman saya pergi ke Derawan, Kalimantan Timur. Saya memimpikan pergi ke pulau kecil dengan underwater view yang indah ini semenjak kelas 1 SMA. Semua karena saudara saya mengirimi saya foto pulau ini. Juga foto-foto Sangalaki dan Kakaban. Pantai dengan pasir putih, air laut yang biru nan bening, pemandangan bawah laut yang menakjubkan, angin laut yang sepoi, serta penduduk yang ramah. Apalagi yang bisa diimpikan oleh seorang pejalan pecinta pantai seperti saya?

Saya berusaha mengumpulkan uang setelah menerima foto itu. Apa saja saya kerjakan. Mulai dari mengamen, mengumpulkan botol dan koran bekas untuk dijual lagi, hingga mengerjakan penerjemahan lintas bahasa. Sayang, uang saya tak pernah cukup untuk pergi ke Derawan.

Hingga saya duduk di bangku kuliah, semester 5.

Ketika saya sudah mulai sedikit pesimis, saya mulai rajin sholat. Curhat dengan tuhan. Padahal saya bukanlah orang yang taat beragama. Doa saya Cuma satu waktu itu, “Tuhan, buatlah saya pergi ke Derawan. Aku tahu engkau ada dan selalu terjaga, meski kita tak pernah bersua. Maka tunjukkan kebesaranmu dengan membuatku pergi ke Derawan.”

Percaya atau tidak, beberapa hari kemudian, saudara saya yang ada di Berau tiba-tiba melontarkan ajakan pergi ke Derawan! Saya terkaget. Sedikit tak percaya. Tak ada angin, tak ada hujan, tiba-tiba ajakan ini terlontar. Ketika saya sudah mengusahakan segala cara semenjak SMA, dan diakhiri dengan doa.

Ketika mengiyakan ajakannya, beberapa hari kemudian, tiket pesawat Joga-Balikpapan-Berau sudah ditangan. Gila! Saya membayangkan perjalanan ke Kalimantan dengan naik kapal laut ekonomi bersama ribuan penumpang lainnya, terhimpit di dek, dan tidur berdesakan. Ini kok malah saya disuruh naik pesawat. Gila! Saya menggilakan situasi menyenangkan yang serba mendadak ini untuk kedua kalinya.

Keesokan siangnya saya sudah berada di Berau yang panas dan berangin kering itu. setelah bertemu saudara dan mengucap banyak terimakasih, saya pun beristirahat. Dua hari kemudian, barulah saya pergi ke Derawan. Kali ini saya ditemani Didi, anak buah saudara saya, untuk menemani ke Derawan. Saya sebenarnya agak malas, karena saya ingin menikmati Derawan sendirian saja.

Berdua kami pergi naik sepeda motor menuju Tanjung Batu, pelabuhan pintu masuk ke Derawan, sekitar 90 km dari Berau. Saya menikmati perjalanan ke Tanjung Batu, terutama karena aspal hot mix yang baru saja selesai. Dibangun karena beberapa waktu lalu PON diadakan di Kalimantan Timur.

Sesampainya di Tanjung Batu dan menitipkan motor, saya kebingungan karena ternyata tak ada transportasi massal untuk ke Derawan. Adanya speedboat yang waktu itu disewakan dengan tarif Rp. 300. 000.

Saat saya sedang kebingungan, tiba-tiba ada kapal nelayan yang sepertinya akan angkat sauh.
Setelah tanya-tanya ke nahkoda, ternyata nelayan itu pergi ke Derawan! Saya meminta izin untuk numpang. Tapi saya disuruh untuk meminta izin ke seorang laki-laki yang menyewa kapal itu. Ternyata pria berkacamata itu angkuh sekali. Dia bilang hanya akan memancing dan tidak pergi ke Derawan. Dia berbohong tentu saja. Dan dia melakukannya bahkan dengan tidak memandang muka saya sama sekali. Sialan.

Tak dinyana, tiba-tiba Didi dipanggil oleh seorang perempuan. Perempuan muda ini ternyata teman saudara saya, dan dia sudah tahu perihal kedatangan saya. Hanya saja ia tak tahu kalau saya pergi ke Derawan hari itu. setelah ngobrol sejenak, perempuan berkerudung coklat itu mengajak saya pergi ke Derawan bersama dia dan teman-temannya yang akan pergi memancing dan mampir ke Derawan. Yeah!

Tak disangka, ternyata pria angkuh berkacamata itu adalah teman sang perempuan muda itu. Lebih tepatnya: bawahan. Sekonyong-konyong iseng saya kumat.

“Loh mbak, tadi kata mas ini perahunya gak pergi ke Derawan” kata saya sambil menunjuk pria angkuh yang ternyata bukan boss itu.

Lelaki berkacamata itu hanya cengengesan saja. Saya malah tertawa dalam hati. Rasakan itu sok jagoan!

Cerita berikutnya adalah bagian senang-senang. Naik kapal kecil yang penuh canda tawa, menginap di bungalow murah meriah, snorkeling seharian, lantas dilanjut dengan bermain bersama anak-anak kecil di pulau itu, yang diakhiri dengan melihat senja di dermaga. Matahari yang memerah dan tergelincir perlahan itu menjadi saksi bisu betapa sempurnanya sore itu.








Gara-gara kesempurnaan itu, saya lupa diri. Bahkan saya tak mengucap syukur. Dan saya tidak sholat. Iya, saya tipikal manusia yang mengadu pada tuhan ketika susah, dan meninggalkanNya ketika senang datang.

Bisa jadi saya diberi pelajaran karena kebiasaan buruk itu.

Keesokan harinya, saya yang janjian numpang pulang bareng perempuan muda itu, bangun kesiangan. Mbak itu akhirnya pergi dengan rombongannya, meninggalkan saya dengan Didi. Karena kita beda bungalow, dan dia tak tahu dimana kami menginap, maka ia tak bisa mencari saya. Ditambah sinyal handphone yang jelek. Saya sih santai saja, berharap ada tumpangan menuju Tanjung Batu lagi.

Ternyata setelah menunggu hingga tengah hari, tak ada kapal nelayan yang berlayar ke Tanjung Batu. Saya mulai cemas. Akhirnya saya memutuskan untuk pulang dengan menyewa speed boat. Di dompet, uang saya tinggal RP. 280.000 saja. Dengan muka memelas, saya berhasil membuat iba sang pemilik kapal cepat itu. Maka saya menyewa speedboat-nya dengan harga Rp. 250.000 saja.

“Harga saudara mas, karena mas datang jauh-jauh dari Jawa” kata sang pemilik dengan ramah.

Pergi ke Derawan menjadi bukti bahwa tuhan bekerja dengan cara yang misterius. Saya sendiri masih tidak percaya saya bisa pergi kesana. Setelah dikalkulasi, ternyata biaya pergi kesana sangatlah besar untuk mahasiswa seperti saya. Dan saya bisa pergi kesana dengan cara yang terbilang ajaib. Tuhan telah mengabulkan doa saya melalui perpanjangan tangan saudara saya.

Tuhan juga menolong saya melalui Didi. Andaikan saya bersikeras untuk pergi ke Derawan sendirian, mungkin saya tidak akan berkenalan dengan perempuan muda yang mengajak saya naik kapalnya. Dan saya tak akan bisa pergi ke Derawan. Meski berakhir dengan mengeluarkan uang yang cukup banyak untuk menyewa kapal cepat, saya tak menyesal. Karena salah satu impian saya tercapai.

Ya, saya selalu percaya bahwa tuhan selalu melindungi hambanya yang pergi traveling. God save the traveler!

Terimakasih buat Om Awam dan Tante Fachriyah atas kedermawanannya, membayari saya untuk perjalanan ini :) Buat Kak Rizal juga untuk pinjaman kameranya, jadi momen hebat ini bisa terekam tak pernah mati *The Upstair mode: on!*

Sabtu, 06 November 2010

Cium Pantat Saya, Asisten Dosen!


we've got the right to choose and
there ain't no way we'll lose it
this is our life, this is our song
we'll fight the powers that be just,
don't pick our destiny 'cause
you don't know us, you don't belong

oh you're so condescending
your gall is never ending
we don't want nothin', not a thing from you
your life is trite and jaded
boring and confuscated
if that's your best, your best won't do

On your uniform
we're not gonna take it anymore

(Twisted Sister - We're Not Gonna Take It)

***

Sore tadi adik saya merengek minta diantar praktikum. Katanya sih minta berangkat jam 13.30 WIB. Okelah pikir saya, saya bisa rada santai setelah jumatan. Dari jam 13.00, hujan deras turun. Sangat deras, dan dibarengin petir, dhuar dhuar!

Menjelang keberangkatan, adik saya sudah siap, eh perut saya mulas. Kebelet mendadak.

"Bentar rin, aku mau beol dulu" kataku sembari rada panik.

"Duh kak, gak usah wis! Aku takut telat" kata adikku tak kalah panik.

"Halah, masa dosenmu gak bisa toleransi sih? Lagian masih hujan diluar" kata saya yang menahan mulas. Diluar tetep hujan. Dhuar dhuar, petir berbunyi kencang.

Dari dulu saya paling benci sama manusia yang tak kenal toleransi. Tak punya toleransi itu adalah ciri orang picik, ciri orang yang bisa membikin tekanan darah naik drastis seketika. Sayangnya, dosen yang berpendidikan itu, yang seharusnya menjunjung tinggi toleransi, ternyata ada saja yang tidak kenal kata toleransi. Jangkrik pokoknya! Saya punya beberapa ekor dosen yang tak kenal toleransi, dan mengingat mereka, saya ingin mencabuti bulu ketek mereka dengan dua keping uang logam.

"Ini bukan dosen kak" kata adikku. "Tapi asisten" sambungnya.

"Hah? Asisten dosen gitu maksudmu?" tanyaku.

"Iya, gak boleh telat. Kalo telat kena hukuman. Gak boleh masuk, denda 50. 000, ngerjain tugas, dan bla bla bla" kata adikku menjelaskan alasan kenapa ia takut terlambat praktikum.

Jancuk! Seketika saya langsung marah dan ngomel. Saya tahu tindakan ngomel tanpa juntrungan itu adalah tindakan bodoh. Tapi saya marah dan ngomel itu ada alasan jelas. Bayangkan, baru jadi asisten dosen aja udah songong, sengak, sok berkuasa, dan tak kenal toleransi. Apalagi kalau sudah jadi dosen. Apalagi kalau sudah jadi gubernur Sumatera Barat. Apalagi kalau sudah jadi anggota DPR. Apalagi kalau sudah jadi Presiden. Bisa-bisa kita protes, malah ditinggal ke Jerman. Bisa-bisa lihat tari perut di Yunani. Bisa-bisa pergi ke Vietnam buat makan Pho dan ngopi. Jancuk kali lah!

Yang bikin saya makin marah adalah ketika tahu bahwa para asisten itu berasal dari angkatan 2007. Iya, 2007! Baru juga kuliah 3 tahun udah sengak dan sok berkuasa. Saya yang angkatan 2005 dan sudah kuliah 5 tahun saja tak pernah sombong dan selalu rendah diri (entah saya harus bangga atau bersedih hati dengan masa studi itu :p)

Iya, saya tak tahu apakah peraturan telat berakibat denda, tak boleh masuk, dan bikin makalah itu berasal dari fakultas atau otoritas asisten. Saya juga tak perduli cuk. Tapi kebijakan idiot itu jelas membuat saya membenarkan satu fakta: kuliah di Indonesia itu menyedihkan. Disiplin sih boleh saja, asal logis su! Disiplin bukan berarti kita menihilkan arti kata toleransi kan? Tak heran kalau Dee Snider dan gerombolannya di Twisted Sister selalu mengolok-ngolok sekolahan dan guru kolot, serta mendorong para murid --dan para mahasiswa pasif nun gampang dijajah itu, iya kalian-- untuk berani kritis dan memberontak.

Selain di fakultas adik saya, di fakultas saya yang katanya penuh dengan dosen yang menyenangkan dan toleran, ternyata ada juga beberapa dosen busuk yang sepertinya anti toleransi. Seakan-akan dia hidup di hutan. Seperti dia tak pernah jadi mahasiswa saja.

Ah sudahlah, kalau dipikir-pikir buat apa juga saya ngomel. Ngabisin tenaga. Mending makan saja. Lagipula ayah saya juga ketawa-ketawa ketika melihat saya ngomel masalah kebijakan di fakultas adik saya. Maklum, almamaternya sih :p Kalau ternyata ayah saya pernah jadi asisten yang seperti itu, saya janji akan mencukur habis rambutnya biar kayak biksu shaolin. Sekalian jenggotnya ya yah? Daripada dikira FPI :p

Penutup:

Akhirnya saya mengantar adik saya dengan memakai jas hujan. Adik saya memakai jas hujan full body, jadi dia tidak basah. Sedang saya? Terpaksa memakai jas hujan kelelawar, dan basah di beberapa bagian. Jangkrik.

Pas saya jemput adik saya, dia cerita kalau ada temannya yang telat beberapa menit. Seperti yang sudah kita duga, dia tidak diperbolehkan masuk, harus membayar denda 50.000, dan mengerjakan setumpuk "konsekuensi" karena telat praktikum. Poor you kid. You should listen to this! Dan lagi, gara-gara ngantar si adik dan ngomel, saya gak jadi beol. Sialan.